Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 115. ( Kekhawatiran Anak Terhadap Ayahnya)


__ADS_3

Matahari nyaris tenggelam di ufuk barat. Saat Mark Well dan teman-temannya telah tiba di tanah lapang. Di pinggir sebuah hutan di timur laut Sundaland. Yang begitu lebat.


Mereka semua merasa kelelahan, kecuali ean Kecil yang memang bukan manusia sejati. Yang merupakan manusia buatan dari teknologi kloning dan robot, yang dikembangkan oleh Jean.


Mereka kelelahan setelah mengejar keberadaan Patung Budha Giok yang terus berpindah-pindah dengan kecepatan tinggi. Tanpa sebab yang tak diketahui oleh mereka sama sekali. Hingga mereka pun sepakat untuk beristirahat di tempat itu.


Jean dan Clark bertugas untuk membuat api unggun. Sedangkan Franco dan Nack bertugas mencari daun pisang untuk alas tidur mereka nanti. Sementara itu ketiga mantan anggota Gura-Gura Baru bertugas untuk mencari makanan apa pun yang ada di dalam hutan di sekitar tempat itu. Sedangkan Mark hanya duduk terdiam di depan api ungun yang sudah selesai dibuat oleh Jean dan Clark. Dengan Jean Kecil berada di pundaknya. Jean paham apa yang sedang dirasakan oleh Mark. Hingga akhirnya ia pun berbicara. Walaupun hanya sekedar untuk menghibur sahabatnya itu.


"Aku tahu, apa yang kau rasakan itu sangat perih Mark," ucap Jean yang duduk di samping Mark, yang sedang duduk di depan api unggun berhamparan daun pisang, yang diambil oleh Nack dan Franco yang tumbuh di dalam hutan itu.


"Perih yang aku rasakan, hanya aku yang merasakannya...," timpal Mark lalu tersenyum kecut.


"Apa mungkin patung budha giok, dapat membunuh orang-orang dari masa lalu itu? Kalau bisa, akan kuucapkan keinginanku itu kepada patung itu,"tanya Franco akhirnya berbicara juga. Untuk melepaskan rasa sepi di tempat itu yang begitu terasa.


"Aku tidak tahu, apakah patung itu memiliki batasan untuk mengabulkan sebuah permintaan. Andai saja ada Tuan Syam ada di sini, pasti pertanyaanmu itu ada jawabannya," sahut Jean. Yang membuat Franco terdiam.


"Tapi permintaanku untuk menghidupkan orang-orang yang sudah dibunuh oleh pasukan robot bulan dan Mars dapat dikabulkan oleh patung itu. Walaupun ada batasannya, sebelum melewati 1 tahun. Orang-orang itu dapat dihidupkan olehnya," tutur Nack. Mengingat saat dirinya mengucapkan permintaannya. Yang langsung saja dikabulkan oleh Patung Budha Giok, beberapa waktu yang lalu.


"Kalau begitu harapan kita hanya kepada patung itu. Lebih baik sekarang kita tidur, untuk memulihkan stamina kita. Untuk mencari patung itu besok," ucap Mark, lalu merebahkan tubuhnya untuk tidur.

__ADS_1


"Hay, kalian jangan tidur dulu. Kami sudah membawa makanan," ujar Axel yang mendengar perkataan dari Mark. Yang akhirnya tiba di tempat itu bersama Abel dan Adel.


Axel membawa 3 ekor ayam hutan dewasa, yang sudah ia bakar dan siap untuk disantap. Sedangkan Abel dan Adel membawa buah-buahan yang tumbuh di dalam hutan itu. Axel lalu memberikan ketiga ayam kampung dewasa kepada Clark, Franco dan Nack ysng segera menyantapnya dengan lahapnya. Sedangkan Jean dan Mark lebih memilih untuk tidur bersama Jean Kecil.


 


Dan ketiga mantan anggota dari Gura-Gura Baru lebih memilih untuk memakan buah-buahan yang mereka bawa. Setelah perut mereka kenyang. Mereka pun ikut tertidur, ditemani oleh bulan purnama di langit.


Mereka terus tertidur dengan lelapnya. Hingga pagi pun menjelang. Mengantarkan matahari kembali kepada tahtanya di cakrawala sebagai raja langit yang menerangi Bumi.


 


 


Mereka semua segera terbangun. Karena getaran bumi yang mereka rasakan semakin terkuat. Mereka langsung saja berdiri menghadap ke arah utara dari sumbet getaran itu.


"Aku rasa, ini bukan gempa bumi biasa. Jean coba kau lihat dengan mata langitmu itu," perintah Mark kepada Jean.


Jean segera mengaktifkan mata langitnya menatap ke arah sumber dari getaran bumi itu. Di penglihatan mata langitnya itu. Jean melihat ada dua orang yang sedang bertarung. Satu orang berkepang satu yang merupakan Chin. Sedangkan satu orang lagi memiliki sosok seperti seorang biksu berjubah hijau, yang terlihat kewalahan menghadapi Chin.

__ADS_1


"Ya, gempa bumi tadi merupakan efek dari pertarungan dua orang dengan pancasaran HS lebih," jelas Jean yang membuat semuanya tak mempercayainya. Karena kekuatannya melebihi orang berkepang tiga yang disaksikan oleh Jean, Clark, dan ketiga mantan anggota Gura-Gura Baru saat mereka merasakan pancaran shen dari Chen yang sudah menghancurkan Pulau Gura-Gura dan Gunung Well.


Kekuatan pertarungan ini pun jelas jauh melebihi pertarungan dari Mosa dan Syam. Saat mereka semua sedang berada di Gunung Well.


"Lebih baik kita berbagi penglihatan mata langit dengan Jean. Agar kita mengetahui,apa yang sebenarnya sedang terjadi di tempat itu," ujar Clark lalu memegang tangan Jean. Hinggi anak angkat dari Er Well itu dapat melihat, apa yang sudah dilihat oleh mata langit milik Jean.


Yang lainnya pun lalu menyentuh bagian tubuh Jean. Hingga mereka dapat melihat jelas, apa yang dilihat oleh mata langit Jean walaupun berjarak sejauh 100 km dari tempat itu. Mereka semua terkejut melihat pertarungan 2 orang yang tak dikenal oleh mereka sama sekali. Apalagi Jean Kecil, saat melihat monitor radarnya. Asal dari getaran bumi itu, merupakan asal dari Patung Budha Giok berada.


"Asal dari getaran itu. Sama persis dengan keberadaan Patung Budha Giok," kata Jean Kecil. Yang membuat semuanya semakin terkejut mendengarnya.


Mereka semua lalu melepaskannya pegangannya pada tubuh Jean. Lalu terfokus pada layar radar Jean Iecil ysng melayang se dada mereka. Yang melihat titik berwarna merah terus bergerak ke sana-kemari. Di tempat asal dari getaran bumi itu.


"Kalau begitu, lebih baik kita ke sana sekarang!" ucap Mark lalu melesat berlari dengan kecepatan tinggi ke arah utara.


"Ya, lebih baik kita ikuti Mark sekarang," kata Jean Kecil yang segera menyusul Mark.


"Ya, kita sudah tak memiliki pilihan lainnya," ujar Jean lalu melesat berlari menyusul Mark dan Jean Kecil.


 

__ADS_1


Nack, Franco, Clark dan ketiga mantan anggota Gura-Gura Baru pun segera melesat berlari ke arah utara dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2