
Matahari masih begitu terang menyinari Bumi. Seakan ingin mengiringi kepergian Kasandra, Pusia dan Clerk ke Gunung Well. Padahal petang sudah hampir tiba. Gunung Well yang menjulang di daratan Sundaland bagian selatan telah terlihat dengan jelas. Gunung api soliter itu begitu angkuh berdiri di penglihatan mereka bertiga.
Akan tetapi tiba-tiba saja mereka menghentikan lari mereka. Ketika mereka merasakan adanya ledakan pancaran shen dari guru mereka yang berjarak 7000 km dari tempat itu. Tempat di mana para guru dari 5 legenda Gura-Gura Lama, Mosa dan 2 kepang bersaudara mati dan lebur di dalam bola pengurung raga milik Marandra.
"Apakah kalian merasakan juga pancaran shen para guru kita?" tanya Pusia sembari menghadap ke arah barat daya, yang diikuti oleh 2 rekannya itu.
"Ya, aku merasakannya. Tapi ini aneh, bukannya para guru kita sudah menghilang tanpa jejak sejak 80 tahun yang lalu," sahut Clerk.
"Itu yang jadi pertanyaannya?" timpal Pusia.
"Kasa, apa kau tidak bisa menggunakan mata langitmu itu?" tanya Clerk kepada Kasandra yang telah menggunakan mata langitnya sejak daritadi.
"Aku sudah menggunakannya sejak tadi, Dewa Racun. Tapi sayangnya mata langitku bukan mata langit super. Dengan kekuatan shenku saat ini, aku hanya mampu melihat jarak 1000 km," jelas Kasandari sembari memperlihatkan mata langitnya kepada Clerk.
"Kalau begitu aku akan membantu memperpanjang jarak pandangan mata langitmu," kata Pusia lalu menempelkan tangannya ke tangan Kasandra. Hingga jarak pandangannya menjadi 2000 km.
"Aku pun akan membantumu!" Clerk lalu menempelkan tangannya ke tangan Kasandra sembari menyalurkan shennya ke Kasandra. Hingga jarak pandangannya mata langitnya menjadi 3000 km.
"Kalau kita sudah terhubung seperti ini. Lebih baik aku berbagi penglihatan mata langit dengan kalian," sahut Kasandra. Lalu membagi penglihatan mata langitnya itu kepada kedua rekannya. Hingga Pusia dan Clerk dapat melihat dengan apa yang dilihat oleh mata langit milik Dewi Peramal itu.
Dengan jangkauan penglihatan yang menjadi 3000 km. Mata langit Kasandra dapat melihat jauh lebih jelas dari jangkauan aslinya yang hanya dapat melihat sejauh 1000 km. Di penglihatan mereka terlihat pancaran shen dari 5 guru mereka, Mosa dan 2 kepang bersaudara yang masih terlihat jelas di langit. Walaupun para pemiliknya sudah mati menjadi partikel debu.
"Itu benar pancaran shen para guru kita. Kita harus mempercepat diri kita pergi ke Gunung Well," seru Clerk lalu melepaskan tangannya dari tangan Kasandra. Hingga penglihatan mata langit Dewi Peramal berkurang menjadi 2000 km.
"Tapi aku ingin terbang langsung ke Puncak Well. Aku tak ingin bertemu dengan para kloningan kakek aneh itu," sambung Pusia sembari melepaskan tangannya dari tangan Kasandra, hingga penglihatan mata langitnya menjadi normal. Kasandra lalu mengarahkan dirinya ke arah puncak Gunung Well dengan masih dalam mode mata langit.
"Kebetulan sekali. Si Rambut Merah itu sedang ada di patung kepala kesayangannya bersama kloningan kesayangannya itu," jelas Kasandra lalu menonaktifkan mata langitnya.
"Kalau begitu, kita tak perlu membuang waktu lagi. Kita temui Kakek Aneh itu," kata Clerk lalu terbang memelesat ke arah puncak Gunung Well.
"Sepertinya dia sudah tak sabar bertemu dengan saingan di masa mudanya dalam memperebutkan dirimu..., ucap Pusia sembari melayang di udara yang diikuti oleh Kasandra.
"Tetap saja, pemenangnya adalah dirimu," sahut Kasandra lalu terbang bersama kekasihnya menuju puncak Gunung Well menyusul Clerk.
****
Sementara itu di puncak Gunung Well. Or Well dan Er Well sedang berbincang serius di atas kepala patung Or Well muda. Mereka menatap ke arah sisa ledakan pancaran shen dari 5 guru Gura-Gura Lama, Mosa dan 2 kepang bersaudara.
"Ayah benarkah itu tadi pancaran shen guru kalian berlima?" tanya Er Well.
"Benar Er. Tapi yang 3 lagi tak kukenali pancaran shen siapa?" timpal Or Well dengan tanda tanya besar dibenaknya.
__ADS_1
"Yang satu lagi itu pancaran shen Mosa. Tapi shen yang begitu hitam dan yang paling kuat. Aku pun tak mengenalinya," sahut Er Well dengan penuh kebingungannya.
"Apa mungkin mereka bertiga tahu tentang itu?" kata Or Well mulai menyadari ketiga rekannya yang sedang menuju puncak Gunung Well.
"Aku rasa, mereka pun tak tahu. Makanya mereka datang kemari," sahut Er Well.
Selepas perkataan Er Well. Clerk, Pusia dan Kasandra pun di belakang mereka berdua.
"Akhirnya kita sampai juga di atas kepala patung si tampan Well," ujar Kasandra mencandai Or Well.
"Kasa, kau masih saja seperti dulu. Masih suka mengolok-olok diriku," Sahut Or Well sambil berbalik arah ke arah mereka bertiga," timpal Or Well lalu tertawa lepas.
"Ya, memang begitu diriku," kata Kasandra.
"Aku tahu kalian kemari, karena masalah cahaya merah-putih yang menuju ke Buoan. Dan pancaran shen para guru kita?" ujar Or Well langsung the to point kepada ketiga rekannya.
"Ya. Kau benar. Kami datang karena masalah itu," sahut Pusia.
"Ini masalah serius. Tapi kenapa si gila Dran tidak kemari?" tanya Or Well entah kepada siapa?.
Seiring dengan berakhirnya perkataan majikan dari Gunung Well itu. Tiba-tiba memelesat seberkas cahaya kuning dari arah Bulan yang mulai terlihat di langit senja. Cahaya kuning yang merupakan shen pelindung tubuh Dran itu. Akhirnya menghantam puncak Gunung Well dengan begitu hebatnya. Hingga mencipkan lubang berdiameter 10 meter dengan kedalaman 5 meter.
"Orang yang kau bicarakan sudah datang langsung dari Bulan," ujar Kasandra yang sudah mengaktifkan mata langitnya. Hingga ia dapat melihat orang yang di dalam lubang itu. Di mana Dran terlentang seperti kecoa yang tak dapat membalikan tubuhnya untuk keluar dari dalam lubang itu.
"Dran, Dran kau itu seperti penerbang amatiran saja. Hingga dapat jatuh seperti ini," ejek Or Well saat telah berada di bibir lubang itu.
"Dasar Kakek Aneh!. Bukannya menolong diriku, malah mengejek diriku!" seru Dran masih belum bisa bangkit dari dalam lubang itu.
"Memang ada untungnya menolong dirimu, Kakek Gila?" Or Well masih mengejek Dran. Hingga Pusia pun harus turun tangan.
"Sudahlah, kalian berisik sekali," kata Pusia sembari memanjangkan cambuk yang ada di tangan kirinya itu.
Tampak cambuk itu terus memanjang dan memanjang, masuk ke dalam lubang di mana pemilik Pulau Gura-Gura berada. Cambuk dari suku bulan sabit merah itu akhirnya mengikat tubuh dari ketua Gura-Gura Baru itu. Hingga Pusia menariknya dengan kekuatan shennya. Dengan cepatnya cambuk itu menarik tubuh Dran. Hingga Dran pun telah berdiri di hadapan rekan-rekannya. Saat Si Rambut Kuning telah lepas dari cambuk milik Pusia. Ia pun segera berteriak dengan lantangnya kepada Drun.
"Kakek Aneh mari kita bertarung!" mendengar tantangan itu. Or Well segera menghampiri Drun. Tapi bukan untuk bertarung. Majikan Gunung Well itu malah memeluk pemilik dari Pulau Gura-Gura itu dengan eratnya. Yang disambut hangat oleh Dran.
" Dran, Dran ternyata waktu tidak bisa merubah sifat kita," kata Or Well.
"Ya, karena kita tetap muda dan tampan," sahut Dran dengan lantangnya.
"Kalian berdua seperti bocah saja. Dran lebih baik kau ceritakan kepada dirimu bisa terjatuh seperti itu?" tanya Clerk yang dari tadi hanya terdiam saja.
__ADS_1
Mendengar Dewa Racun menanyakan tentang hal itu. Dran lalu melepaskan diri dari pelukan Or Well.
"Aku harus bercerita darimana ya?" ujar Dran sembari menggarukan kepalanya yang tak gatal dengan penuh kebingungannya. Dan Pusia pun mengetahui kelemahan Dran, yang selalu kebingungan di saat harus bercerita panjang lebar. Apalagi kejadian yang bisa membuat dirinya sangat terkejut. Seperti kejadian dimana ia bertemu dengan Kenia-Keneo di Bulan. Pusia lalu memanjangkan kembali cambuk yang ada di tangan kirinya itu.
"Kalau kau kesulitan menceritakannya. Lebih baik kau berbagi ingatan dengan kami saja," Pusia lalu menyentuhka ujung dari cambuk yang ada di tangan kirinya ke kening Dran. Sedangkan cambuk yang ada di tangan kanannya memanjang dan bercabang menjadi 3. Yang di mana ketiga cabang cambuk itu memanjang dan menyentuh masing-masing kening dari Kasandar, Clerk dan Or Well.
Saat hal itu terjadi. Terlihat di ingatan para rekan Dran. Tentang kejadian yang dialami oleh Dran. Di mulai dari ia meninggalkan Pulau Gura-Gura, pergi ke Bulan dan bentrok dengan Kenia-Kenio. Mereka berempat sangat terkejut dengan kekuatan dari si kembar hybrid itu. Yang mereka ukur melebihi kekuatan para guru mereka. Namun mereka lebih terkejut lagi. Jika leluhur dari robot mars dan bulan. Ternyata satu perguruan dengan para guru mereka. Apalagi Kasandra, saat melihat mata Kenia berubah jadi ungu dan melemparkan Dran sesuai dengan tempat yang diinginkan oleh pemilik mata langit super itu.
"Mata langit super pun, Ia miliki. Apa mungkin mereka berdua dari klan peramal sepertimu Kasa?" tanya pusia sembari menarik kedua cambuknya dari kening teman-temannya. Bersamaan dengan itu. Ingatan Dran pun lenyap dari pikiran keempat temannya.
"Aku tidak tahu. Kalau memang mereka berdua segenerasi dengan guru kita. Maka guruku yang mengetahuinya?" jawab Kasandra apa adanya.
"Apa gurumu pernah bercerita tentang pemilik mata langit super atau tentang saudara seperguruan mereka selain para guru kita?" selidik Pusia.
Nampak Kasandra berpikir lama. Sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.
"Tentang saudara seperguruan guru kita. Guruku tidak pernah bercerita apa-apa?. Tapi tentang pemilik mata langit super. Dia pernah bercerita, jika ia memiliki seorang kakak yang memiliki mata ungu itu," jelas Kasandra semakin membuat Pusia penasaran.
"Lalu apakah gurumu pernah bercerita tempat kakaknya tinggal?" tanya Pusia kembali.
"Dia mati muda," sahut Kasandra singkat.
"Mati muda?"
"Ya, karena itu mata kutukan yang muncul setiap 1000 tahun sekali di klan kami. Pemilik mata ungu itu akan mati saat berusia 20 tahun," jelas Kassndra ingin mengakhiri ceritanya itu. Akan tetapi Pusia malah bertanya kembali.
"Kalau begitu seharusnya gadis itu mati muda. Dan kenapa ia hanya memiliki satu mata langit super?"
Sebelum Kasandra menjawab pertanyaan itu. Or Well pun ikut campur dalam perbincangan itu.
"Pusia, kau itu cerewet sekali. Masalah cahaya-cahaya putih dan merah sudah terjawab. Masalah mata langit super itu bukan urusan kita. Sebaiknya sekarang kita pergi ke arah asal shen para guru kita. Sebelum keadaannya benar-benar menghilang," ucap Or Well seakan pemimpin di antara mereka berlima.
Pusia pun trdiam. Tapi giliran Dran yang bersuara.
"Apa kau bilang, shen para guru kita?" tanya Dran dengan penuh kebingungannya. Karena saat bola pengurung raga. ia sedang berada di bulan.
"Jangan banyak bertanya. Lebih baik kita pergi sekarang," ujar Or Well lalu mengeluarkan shen berwarna merahnya dan melayang di udara yang diikuti oleh keempat rekannya dengan mengeluarkan shen mereka masing-masing.
"Er, aku titipkan Gunung Well kepadamu!" seru Or Well lalu memelesat dengan kecepatan tinggi meninggalkan Er Well dan Gunung Well.
"Entah ini firasat atau bukan. Tetapi aku harus membawa benda-benda itu untuk meningkatkan kekuatanku," kata Er Well lalu melompat dan meninggalkan puncak Gunung Well dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1