
Perempuan yang seperti lelaki itu langsung saja menyerang Ur Wel dan Drun dengan lebih agresif dan masif daripada yang tadi. Karena ia sadar, melawan mereka berdua yang merupakan orang terkuat pertama dan kedua pada masa itu adalah sebuah kesulitan besar. Walaupun mereka sedang terluka dan hanya memiliki 70% shen dari aslinya. Tetap saja dirinya yang merupakan orang terkuat keenam pada masa itu. Akan memerlukan kerja keras untuk mengalahkan Ur Well dan Drun sekaligus. Dan mungkin juga sebuah keberuntungan.
Pertarungan di udara pun terus terjadi. Serangan Dewi Api sebenarnya tak membuat mereka berdua kesulitan. Akan tetapi mereka berdua selain ingin menghemat shen mereka. Mereka berdua tak ingin melukai Dewi Api dan Dewi Angin. Karena guru mereka dan guru dari pasangan sejenis itu pernah memiliki hubungan yang istimewa sebagai sepasang kekasih di masa lalu. Walaupun harus berakhir karena sebuah kesalahpahaman di antara mereka berdua.
Dan Dewi Api pun menyadari akan hal itu. Ia sudah merasa Ur dan Drun tak serius melayani dirinya bertarung. Hingga membuat dirinya benar-benar kesal.
"Kalian!, benar-benar tidak menganggap diriku. Bertarunglah serius dengan diriku!" ujar Dewi Api menghentikan serangannya itu.
"Kami menghargai hubungan guru kita di masa lalu," sahut Ur Well.
"Hubungan macam apa yang kalian bicarakan itu?" tanya Dewi Api seolah lupa akan kisah cinta di antara guru mereka.
"Tentu saja hubungan percintaan mereka berdua," timpal Ur Well.
"Masih saja diingat. Guruku pun mati, karena cintanya terhadap guru kalian itu," tutur Dewi Api dengan nada penuh emosi.
Dewi Api lalu merogoh kantong celananya. Dan mengambil 2 pil berwarna merah. Yang merupakan pil peningkat shen untuk sementara waktu dengan peningkatan shen 1 tingkat di atas shen normal mereka. Dengan efek akan kehilangan shen selama 1 bulan penuh. Itu adalah harga yang harus dibayar oleh pengguna pil merah yang bernama pil api neraka.
Dewi Api lalu melirik ke arah Dewi Angin yang segera melesat ke arahnya. Setelah mendapat kode dari kekasih sejenisnya itu.
"Apakah kita harus menggunakan pil pemberian guru kita itu?" tanya Dewi Angin dengan sedikit meragu.
"Ya. Karena dengan kekuatan kita saat ini. Kita tidak mungkin dapat mengalahkan mereka berlima. Ini adalah jalan terbaik bagi kita," sahut Dewi Api.
"Tapi risiko itu?" tanya Dewi Angin dengan keraguannya.
"Risiko itu kecil, jika dibandingkan dengan sangat bernilainya pil shen milik mereka berlima. Dengan menelan pil shen milik mereka berlima. Kekuatan kita akan meningkat dratis secara permanen," tutur Dewi Api lalu memberikan satu pil api neraka kepada Dewi Angin.
"Kalau itu keputusannya. Baiklah akan kuturuti keinginanmu itu," timpal Dewi Angin sembari menerima pil berwarna merah menyala itu dari tangan Dewi Api.
__ADS_1
Pasangan sejenis itu lalu menelan pil itu secara bersamaan. Saat pil dari guru mereka itu sudah tertelan di dalam tubuh mereka berdua. Tiba-tiba saja kekuatan shen mereka meningkat secara dratis hingga mencapai level S+. Aura merah shen Dewi Api pun semakin membesar. Begitu juga dengan aura kuning milik Dewi Angin yang semakin membesar hingga membuat 5 guru dari Gura-Gura Lama terkejut.
Mereka berlima tak mengira sama sekali. Jika mereka berdua memiliki pil seperti itu. Pil yang dapat meningkatkan shen mereka secara cepat.
"Kau urus mereka berdua. Dan ambil pil shen mereka dari Marandra. Biar mereka berdua menjadi urusanku," perintah Dewi Api kepada Dewi Angin.
Mendengar perintah itu. Dewi Angin lalu melesat ke arah Marandra dengan kecepatan tinggi. Dan langsung menyerang Marandra untuk mengambil pil shen yang ada pada Marandra.
Melihat akan hal itu. Clirk dan Punka pun tak tinggal diam. Mereka berdua menghadang Dewi Angin. Punka menggunakan 4 cambuknya untuk membelenggu Dewi Angin, yang malah berputar untuk menciptakan pusaran angin.
"Ambil, kalau kau mampu!" sahut Marandra lalu ikut menyerang Dewi Angin dengan menggunakan jarum-jarum peledak yang keluar dari telapak tangan kanannya.
Jarum-jarum peledak milik Marandra terus melaju dengan kecepatan tinggi dan masuk ke dalam pusaran angin Dewi Angin. Hingga terjadilah ledakan yang terus menerus di dalam pusaran angin itu.
"Apa kau ingin membunuhnya, Mara?" tanya Punka yang melayang di samping kanan Marandra dengan penuh keterkejutannya.
"Aku tidak lupa dengan amanat guru, dulu. Lagipula tidak mungkin dia dapat mati dengan serangan kecil seperti itu, dengan kekuataanya sekarang ini," sahut Marandra sambil terus menyerang Dewi Angin dengan jarum-jarum peledaknya itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, kalau membunuh mereka itu sebuah larangan dari guru?" tanya Drun dengan penuh kekesalannya.
"Pilihan kita hanya 2. 1 menunggu mereka terkena efek dari pil api neraka itu. Kedua mencari cara melumpuhkan mereka berdua," papar Marandra. Yang membuat Punka teringat akan sesuatu hal.
__ADS_1
"Clirk, bukannya kau memiliki racun untuk membuat tertidur para gadis dengan matra kutukan?" tanya Punka yang membuat Clirk mengerutkan dahinya. Tak menyangka jika saudara seperguruannya akan mengatakan hal itu di saat seperti ini.
Perkataan Punka itu juga membuat Marandra terkejut bukan main. Dewi Peramal Jingga itu tak menyangka sama sekali jika Clirk memiliki racun seperti itu.
"Aku saja hampir lupa dengan racun itu. Yang merupakan racun kolaborasi aku dan Iblis Racun di saat muda dulu," jawab Clirk apa adanya.
"Ternyata kau itu diam-diam nakal Dewa Racun. Hingga memiliki racun seperti itu. Tapi kalau kau menggunakannya, aku pun akan terkena efeknya," kata Marandra, lalu tersenyum tipis.
"Tenang saja Mara, Kau sudah kuberikan serumku. Kau akan aman dari semua racunku," jelas Clirk.
"Kalau begitu lakukan sekarang," ujar Marandra masih menyerang Dewi Angin denga jarum-jarum peledaknya dengan jarak 20 meteran.
"Masalahnya aku perlu syarat yang harus dipenuhi."
"Katakan saja," kali ini Punkalah yang bicara.
"Pertama racun ini hanya dapat bekerja didekat tanah. Kedua aku konsentrasi selama 20 menit tanpa ada yang mengganggu sama sekali. Ketiga racun ini akan lebih efektif di ruangan tertutup," jelas Clirk.
"Akan kugunakan jurus pengurung raga. Untuk memenuhi semua syaratmu itu," sambung Marandra terus menyerang Dewi Angin dengan jarum-jarum peledaknya.
"Kalau begitu, kita temui Ur dan Drun untuk menjalankan rencana kita," kata Punka.
"Baiklah, kita akan segera lakukan itu," jawab Marandra. Lalu menghentikan serangan jarak jauhnya itu.
Dewi Peramal Jingga lalu melesat dengan kecepatan tinggi menuju Ur Well dan Drun yang berjarak 200 meter dari tempat mereka bertarung. Clirk dan Punka pun lalu melakukan hal yang sama, meninggalkan Dewi Angin yang masih berada di dalam pusaran anginnya. Hingga ia pun menyadari jika ketiga lawannya sudah meninggalkan dirinya.
"Kurang ajar!. Berani-beraninya mereka bertiga meninggalkan diriku. Baik akan kubuktikan, betapa hebatnya kekuatan pil api neraka yang telah aku telan ini!" teriak Dewi Angin seorang diri.
Dewi Angin lalu menciptakan kipas berbentuk kerucut gunung api dengan shennya. Yang ada di tangan kanannya, entah untuk tujuan apa. Hingga ia pun melesat ke arah musuhnya pergi dengan kecepatan tinggi. Seakan seekor harimau yang sedang mengejar mangsanya. Untuk ia makan.
__ADS_1