
Perkataan Or Well yang frontasi kepada pasangan raksasa dari Sundaland itu. Telah membuat Ded dan Hay murka begitu besar. Bagaimana tidak, gunung yang mereka dapatkan secara susah payah dari seorang petarung kuat di Sundaland 24 tahun yang lalu itu. Ingin direbut oleh Or Well yang langsung mengganti nama gunung itu menjadi Gunung Well. Yang notabene adalah para bocah bagi pasangan gendut itu. Tanpa melakukan kompromi terhadap mereka berdua terlebih dahulu.
Hay dan Ded sebenarnya hanya diberi tugas untuk menjaga gunung api soliter raksasa bersalju itu. Yang telah membantu mereka mengalahkan majikan dari Gunung Hayded sebelumnya. 24 tahun yang lalu, 1 tahun setelah mereka dikalahkan oleh guru dari para Gura-Gura Lama, yang mereka kenal sebagai Dewa 5 Warna.
Pasangan Raksasa gendut dari Sundaland itu. Dijanjikan akan ditingktkan shennya hingga level S. Oleh orang yang memberi tugas mereka, untuk menjaga gunung api raksasa soliter bersalju. Yang saat ini bernama Gunung Hayded, dan di masa depan akan bernama Gunung Well.
"Kalahkan kami dulu. Jika kau menginginkan gunung kami!" tantang Ded dengan kerasnya, hingga suaranya pun menggelegar ke segala arah.
Tanpa diduga sama sekali oleh Or Well. Ded dengan tubuh raksasanya itu, langsung bergerak cepat dan mendaratkan pukulannya ke perut Or Well yang sama sekali tak siap menerima pukulan itu. Hingga tubuhnya pun terpental menabrak sebuah pohon raksasa yang langsung roboh di tempat itu. Dengan sangat kerasnya, hingga pohon-pohon besar yang ada di sekitarnya ikut tumbang juga. Efek domino dari tumbangnya pohon raksasa itu.
"Berani-beraninya kau menyerang aku seperti ini!" teriak Or Well. Lalu melesat dan menyerang Ded. Tanpa mempedulikan hal apapun. Termasuk saling berjatuhannya pohon-pohon besar di tempat itu. Yang menimbulkan kebisingan tingkat tinggi di tempat itu.
"Itu bayaran atas kelancangan mulutmu!" teriak Ded tak mau kalah. Lalu melesat menyambut serangan fisik dari Or Well muda.
Baku hantam pun terjadi di antara mereka berdua dengan sengitnya, hingga area hutan di sekitarnya menjadi berantakan efek dari pertarungan fisik itu. Yang seakan tiada akhirnya itu.
Kasandra dan Pusia berniat membantu Or Well. Karena mereka berdua merasa, lelaki berambut merah itu tak akan menang melawan lelaki raksasa dari Sundaland itu Akan tetapi sebelum mereka berdua melakukan keinginannya itu. Hay langsung mencegah dua petarung muda itu untuk membantu Or Well muda. Perempuan raksasa itu segera menghampiri mereka berdua. Tanpa maksud yang diketahui oleh Kasandra dan Pusia sama sekali.
"Daripada kalian membantunya bertarung dengan suamiku. Lebih baik kita bicara saja," kata Hay tanpa berniat menyerang Kasandra dan Pusia dengan serangan fisik maupun shennya yang mencapai level A+++. Sebuah level akhir dari level A, yang akan menuju level S. Setara dengan shen para guru dari Gura-Gura dalam mode dasarnya.
__ADS_1
Dengan shen sebesar itu. Mereka bertiga bukanlah lawan yang seimbang, bagi salah satu dari mereka berdua. Kasandra menatap Hay dengan mata langitnya. Seakan ingin mengetahui tujuan dari perempuan raksasa gendut yang ada di hadapannya itu. Hingga Hay pun mengetahui jatidiri dari mereka berdua. Akibat diaktifkannya mata langit milik Kasandra yang sama dengan milik Marandra.
"Oh mata langit. Ternyata kau dan lelaki bertato bulan merah itu, orang dari Koloni Bulan. Jangan khawatir, diriku yang cantik dan seksi ini. Tidak memiliki niat jahat kepada kalian. Menggunakan mata langitmu untuk membaca pikiran dan hatiku itu percuma saja. Kekuatan mata langitmu masih rendah. Belum setinggi mata langit milik Marandra," tutur Hay berkata apa adanya. Dengan mengingat wajah Marandra yang setipe dengan wajah milik Kasandra.
"Lalu kau ingin bicara apa?" tanya Pusia kali ini. Karena Kasandra tak merespon perkataan dari Hay.
"Bukannya kalian ingin memiliki gunung milik kami?" tanya Hay dengan nada serius. Yang langsung dijawab oleh Kasandra.
"Sebenarnya yang menginginkan gunung milik kalian itu, si rambut merah itu. Sedangkan kami berdua, jujur saja tak menginginkan gunung milik kalian itu sama sekali," timpal Kasandra dengan jujurnya.
"Siapapun yang menginginkannya. Kami akan memberikannya. Karena kalian adalah orang yang diramal akan datang untuk merebut gunung ini dari tangan kami berdua, oleh orang itu. Bisa dibilang kami hanya menjaganya untuk kalian," jelas Hay dengan panjang lebarnya.
"Pasti ada syaratnya. Di dunia ini tak ada gratis, Nyonya Cantik...," lanjut Pusia. Merayu Hay, hingga wajahnya pun menjadi memerah menahan malu dari rayuan Pusia itu.
"Dasar Bocah Perayu. Tidak ada syarat apapun dari kami. Jujur saja setelah menyelesaikan tugas ini. Kekuatan shen kami akan ditingkatkan hingga level S. Sesuai janji dengan orang itu. Bisa dibilang kalian mendapatkan keuntungan dari kami. Sedangkan kami mendapatkan keuntungan dari orang itu," tutur Hay, lalu tersenyum manis kepada mereka berdua.
"Baik kami terima penawaranmu itu. Tapi si Rambut Merah itu tak mungkin dapat menerima gunung itu begitu saja. Harga dirinya terlalu tinggi, untuk menerima sesuatu hal yang gratis," ujar Kasandra lalu tertawa lepas.
"Lalu kaliannya, maunya bagaimana?" tanya Hay dengan penuh kebingungannya.
"Kita akan pura-pura bertarung, bertarung untuk merebutkan gunung itu: Yang menang akan mendapatkan gunung itu," jelas Kasandra. Yang segera disetujui oleh Hay begitu saja, tanpa berpikir lagi.
"Baiklah aku setuju," sahut Hay.
__ADS_1
"Tapi kalian jangan menggunakan kekuatan penuh kalian," pinta Kasandra. Karena bila mereka berdua menggunakan kekuataan penuhnya. Sudah dipastikan mereka bertiga akan kalah telak di dalam pertarungan yang sesungguhnya.
"Tentu saja Gadis Cantik. Tapi kalian berdua harus ikut bermain-main denganku. Agar sandiwara ini sukses,' kata Hay lalu tersenyum dan menggoyang-goyangkan tubuh raksasanya itu. Hingga terciptalah angin kecil dari tubuh perempuan raksasa itu.
"Ya, tentu saja kami berdua akan menemanimu bermain-main," sahut Kasandra lalu tersenyum.
"Baiklah, sekarang aku akan melakukan telepati kepada suamiku itu," kata Hay dengan suara lembut.
Hay lalu memejamkan sepasang mata sipitnya. Untuk berbicara kepada suaminya itu.
Tak memerlukan waktu lama, hubungan telepati itu segera terjadi bersama Ded yang terus menghajar Or Well dengan serangan fisiknya.
"Suamiku, apakah kau mendengarku?" ujar Hay di dalam telepatinya.
"Ya, aku mendengarnya Istriku. Ada apa kau berbicara telepati seperti ini?" sahut Ded sembari menangkis pukulan Or Well. Yang serasa begitu lembek bagi ukuran dirinya.
"Kita sudah menemukan orang dalam ramalan itu. Ternyata bocah rambut merah itu, adalah orangnya," ungkap Hay.
"Baguslah kalau begitu. Kita tidak perlu waktu lama lagi menunggu gunung ini untuk menunggu majikan aslinya. Lalu kita harus bagaimana sekarang?" tanya Ded, terus bertarung dengan Or Well.
"Kita akan bertaruh dengan mereka atas kepemilikan gunung itu. Dan kita pura-pura kalah dalam pertaruhan itu," jawab Hay. Membeberkan rencananya kepada suaminya itu.
"Baiklah aku mengerti. Sepertinya kau dan teman bocah rambut merah ini sudah berkompromi. Sekarang aku akan bicara kepada bocah merah itu," sahut Ded, masih di dalam telepatinya.
__ADS_1
Ded lalu menghentikan telepatinya sekaligus menghentikan pertarungannya dengan Or Well. Yang nampak kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh pria raksasa gendut itu.