Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 54 (Serangan keputus-asaan)


__ADS_3

Marandra dan Punka terlihat memperhatikan Dewi Api dan Dewi Angin yang sedang mengawasi mereka berlima dari atas. Mereka tahu, saat kubah pengurung raga dibuka. Mereka berdua bisa saja langsung menyerang dengan serangan jarak jauh, dengan shen mereka. Atau Dewi Api dan Dewi Angin, langsung saja menyerang mereka berlima secara fisik dengan membabi buta. Karena pasangan sejenis itu sedang dikejar oleh waktu oleh efek dari pil api neraka yang sudah mereka telan beberapa waktu yang lalu. Walaupun efek negatif yang dirasakan oleh Dewi Angin dan Dewi Api belum begitu parah mereka rasakan. Efek yang dirasakan oleh pasangan sejenis itu barulah tahap awal.


"Clirk apakah kau sudah siap dengan racunmu itu?" tanya Marandra kepada Clirk yang masih bersila dan memejamkan kedua matanya, dengan masih didampingi oleh Ur Well dan Drun di samping kiri dan kanannya itu.


"Tinggal 20% lagi. Racun ini benar-benar merepotkanku, dan memakan banyak waktuku" sahut Clirk bersama gerutuannya itu.


"Kalau begitu, aku akan membuka sedikit kubah pengurung raga, agar mereka berdua masuk ke dalam jebakan kita," kata Marandra, menanti persetujuan dari Dewa Racun Hijau.


"Terserah kau saja," jawab Clirk lalu terdiam kembali. Fokus pada tujuannya itu.


Maranda lalu mengarahkan jari telunjuk kanannya ke langit. Yang segera mengeluarkan cahaya jingga yang bergerak sendiri, membuat lubang di atap kubah pelindung raga dengan diameter 5 meter.


 


Setelah membuat lubang untuk Dewi Api dan Dewi Angin masuk. Cahaya jingga itu pun menghilang dengan sendirinya, dari pandangan mata.


Dewi Angin dan Api yang melihat lubang itu. Segera menyerang dengan shen mereka. Dewi Angin menggunakan kipas shennya yang mengeluarkan angin besar berbentuk tornado besar yang langsung masuk ke dalam lubang itu. Sedangkan Dewi Api mengeluarkan panah-panah api yang keluar dari telapak tangan kanannya, yang masuk ke dalam lubang itu, mendamping angin tornado besar milik Dewi Angin.


Akan tetapi semua serangan itu sia-sia saja. Lubang itu seperti masih terikat dengan kubah pengurung raga. Hingga serangan mereka pun berbalik arah, ke arah mereka berdua yang dapat mereka hindari dengan begitu mudahnya. Padahal serangan mereka berdua sudah masuk ke dalam lubang yang dibuat oleh Marandra.


Melihat akan hal itu, Marandra lalu berbicara kepada pasangan sejenis itu.

__ADS_1


"Kalian berdua tak akan mampu menyerang kami dari luar kubah pengurung raga. Lebih baik kalian masuk melalui lubang itu untuk bertarung dengan kami," ujar Marandra dari dalam kubah pengurung raga.


"Jangan-jangan ini jebakan?" ujar Dewi Api dengan penuh curiga.


"Biarpun ini jebakan. Aku akan tetap masuk. Aku masih kesal dengan mereka!" Dewi Angin langsung saja melesat ke bawah dengan kecepatan tinggi. Yang mau tak mau diikuti oleh Dewi Api. Karena ia tak ingin terjadi apa-apa dengan Dewi Angin.


Saat melewati lubang yang terbuka itu. Mereka berdua tak menemukan rintangan apapun. Hingga mereka berdua mendarat di hadapan Punka dan Marandra dengan jarak 3 meter.


"Ternyata kalian berani juga masuk ke dalam jebakan kami," kata Marandra sambil menatap ke arah lubang yang tertutup kembali. Yang disadari oleh Dewi Api dan Dewi Angin.


"Sudah kuduga ini adalah jebakan. Tapi kami tak peduli," sahut Dewi Api sembari menciptakan api berwarna dari shennya.


Perempuan berpakaian laki-laki itu langsung saja menyerang Punka dengan ganasnya. Seakan sedang diburu oleh Waktu.


"Diam!, kau cerewet!." Dewi Api menyerang Punka dengan pukulan tangan yang dilapisi oleh shen berwarna merahnya yang mengandung kekuatan api tingkat tinggi.


Punka pun tak tinggal diam. Ia pun menerima serangan Dewi Api dengan melapisi kedua tangannya dengan shen berwarna biru yang mengandung unsur air. Hingga terjadilah pertempuran antara Api dan Air di tempat itu.


"Berikan pil shen kalian kepadaku, Mara!" teriak Dewi Angin kepada guru dari Kasandra itu.


Dewi Angin pun menyerang dengan shen yang dilapisi oleh Angin yang bergemuruh di seluruh tubuhnya. Dewi Angin terlalu bernafsu ingin nendapatkan 5 pil shen yang ada di diri Marandra. Hingga serangannya pun dapat dibaca dengan mudah oleh Marandra. Sehingga ia pun mendapat beberapa kali pukulan dari guru Kasandra itu.

__ADS_1


Menyadari bertarung dengan tangan kosong dari jarak dekat ia akan kalah karena secara pelan-pelan shennya mulai menurun. Ia merasakan jika shennya sudah berada di level normalnya, dan akan terus menurun hingga titik nol efek negatif dari meminum pil api neraka beberapa waktu yang lalu.


"Celaka, pil api neraka sudah memberikan efek negatifnya lebih nyata dari yang tadi. Lebih baik aku gunakan serangan jarak jauh saja. Untuk menghindari bentrok fisik dengan dirinya," ucap Dewi Angin di dalam hatinya. Lalu melompat ke angkasa setinggi 5 meter. Dan langsung saja menggunakan kipas shennya ke arah Marandra.


"Tornado Membelah Langit!" teriak Dewi Angin sembari melepaskan serangan dari kipas shennya itu.


Terlihat pusaran angin raksasa keluar dari kipas shen itu yang menyerang ke arah Marandra, yang segera menggunakan jurusnya untuk menghadapi serangan Dewi Angin. Dari kedua tangannya keluarlah cahaya jingga yang menghantam pusaran angin raksasa itu. Hingga terlempar ke arah Dewi Angin yang segera menghindarinya dengan kecepatan angin yang luar biasa.


"Duar...!!" serangan dua kekuatan itu pun pecah saat menyentuh atap dari kubah pelindung pengurung raga, yang membuat area di dalam kubah pengurung raga bergetar dengan hebatnya.


"Aku merasakan kekuataanya semakin menurun. Kalau tidak, aku tak mungkin dapat mengalahkan serangannya, dengan shenku yang belum pulih ini. Apakah efek negatif pil api neraka itu sudah bekerja kepada mereka berdua dengan parahnya?" tanya Marandra di dalam hatinya.


Marandra lalu melesat menghampiri Punka, sambil melepaskan serangan jarum peledaknya ke arah Dewi Api yang langsung meluncur ke angkasa menghindari serangan itu. Perempuan kelaki-lakian itu lalu menghampiri Dewi Angin yang melayang di angkasa. Di antara ledakan yang tercipta dari jarum-jarum peledak yang dilepaskan oleh Marandra yang dapat ia hindari dengan mudahnya.


"Sepertinya, kau sudah merasakannya ya?" tanya Dewi Api lalu tersenyum kecut ke arah Dewi Angin.


"Ya, oleh karena itu kita harus melakukan serangan habis-habisan sampai mati," sahut Dewi Angin lalu merubah kipas shennya dengan naga angin yang muncul dari dalam kedua telapak tangannya. Sedangkan Dewi Api menciptakan naga api dari dalam telapak tangannya.


Tampak pikir panjang lagi. Pasangan sejenis itu menyerang Marandra dan Punka dengan membabi-buta sebagai tanda keputus-asaan mereka dibayangi-bayangi oleh efek negatif pil api neraka yang akan memakan shen mereka sedikit demi sedikit hingga ke titik nol. Dan akan membuat mereka menjadi manusia biasa untuk sementara waktu.


 

__ADS_1


__ADS_2