
5 legenda Gura-Gura lama yang sedang memulihkan diri mereka akibat pertarungan panjang dengan Chen akhirnya pulih. Bersamaan dengan pulihnya Matahari yang menghitam di penglihatan mereka. Mereka berlima lalu berdiri dengan menatap ke arah matahari senja yang nyaris tenggelam di langit barat.
"Benar, mata langitmu tak bisa melihat keanehan pada Matahari, tadi?" tanya Dran dengan penuh penasarannya.
"Tidak, tapi aku merasakan. Itu adalah hal buruk," sahut Kasandra.
Mereka berlima lalu merasakan shen dari dua orang dari arah selatan. Yang merupakan shen dari Jeni dan Syam, yang sedang melesat ke arah mereka dengan kecepatan tinggi.
"Sepertinya, ada orang yang sedang menuju ke sini dari arah selatan," kata Or Well. Lalu mengarahkan pandangannya ke arah selatan yang diikuti oleh teman-temannya.
"Kasa, coba kau aktifkan lagi mata langitmu. Agar kita dapat berbagi penglihat, dan tahu siapa yang datang."
Mendengar perkataan dari Pusia. Dewi Peramal dari Gura-Gura itu langsung saja mengaktifkan mata langitnya. Di mana teman-temannya sudah bersiap untuk berbagi penglihatan dengan dirinya.
Mereka berlima pun segera melihat siapa yang sedang menuju ke tempat mereka dengan jarak 10 km. Mereka berlima terkejut melihat Jeni, terutama Kasandra. Tetapi mereka tak mengenal Syam, kecuali Or Well. Yang melihat Syam, melalui rekaman jim well Mark. Saat Syam membantu Nack dan kawan-kawannya mengaktifkan Patung Budha Giok beberapa waktu yang lalu.
"Jeni benar-benar hidup lagi? Tapi siapa lelaki yang bersamanya?" kata Kasandra dengan penuh kebingungannya.
"Lelaki itu adalah Syam, dialah pencipta Patung Budha Giok, yang berasal dari abad ke 10 Masehi," tutur Or Well.
"Darimana kau mengenalnta?" tanya Clerk.
"Dari laporan Mark," jawab Or Well.
Hanya dalam waktu singkat. Jeni dan Syam akhirnya tiba dan mendarat di tempat itu. Jeni langsung saja menghampiri Kasandra dan memeluknya dengan sangat erat sekali.
__ADS_1
"Kau benar-benar hidup lagi, Jen. Aku sungguh bahagia ...," kata Kasandra dengan suara lirih.
"Aku juga bahagia bisa bertemu dengan dirimu lagi. Namun sayang, waktuku sudah hampir habis di dunia fana ini," jawab Jeni dengan nada sih.
"Maksudmu?" tanya Kasandra dengan penuh selidik.
"Biar Tuan Syam, yang menjelaskannya nanti." Jeni lalu merogoh kantung celananya lalu mengambil kantung berwarna jingga. Yang berisi 5 pil shen dari Dewa 5 warna.
"Aku ingin memberikan titipan dari guru kalian. Ini warisan dari mereka ...," ujar Jeni, yang langsung di genggam oleh Kasandra.
Terlihat tubuh Jeni pun semakin dirasakan dingin. Dan terlihat semakin samar, seperti bayangan. Yang membuat 5 anggota Gura-Gura Lama heran.
"Sebenarnya kau ini kenapa?" tanya Kasandra.
"Orang yang menghidupkanku sudah mati, Bu. Jurusnya pun akan segera musnah ...," jelas Jeni.
"Kenapa ini yang terjadi? Takdir memang kejam ...," kata Kasandra lirih.
"Sudahlah, kalian jangan bersedih. Dewi Peramal Gura-Gura, lebih baik kau buka kantung berwarna jingga itu. Telanlah pil shen dari guru kalian, sesuai dengan warna shen kalian. Agar kekuatan kalian meningkat, walaupun tetap akan kalah dari penjahat itu," tutur Syam.
Kasandra langsung saja membuka kantung milik Marandra yang diberikan kepada Jeni, sebagai warisan mereka untuk murid\-murid mereka.
Kasandra langsung mengambil pil shen berwarna jingga, Lalu memberikan kantung kain berwarna jingga itu kepada Or Well yang mengambil pil shen berwarna merah, Dran mengambil pil shen berwarna kuning, Clerk mengambil pil shen berwarna hijau dan Pusia mengambil pil shen berwarna biru sebagai yang terakhir. Lelaki terindah dari bulan itu lalu memberikan kantung berwarna jingga kepada Kasandra, yang langsung menaruhnya di kantung celananya sebagai sebuah kenangan dari gurunya, Marandra.
__ADS_1
"Sekarang telanlah pil warisan dari guru kalian, lalu bermeditasilah. Biar aku yang menjaga kalian di sini," ujar Syam. Seakan dirinya itu guru mereka.
Mereka menuruti, apa yang sudah dikatakan oleh Syam. Tanpa ada yang membantah sedikit pun.
Matahari pun, akhirnya tenggelam di langit barat. Membiarkan mereka menyatu dengan malam.
***
Sementara Chan yang terbang ke arah selatan dengan kecepatan tinggi. Akhirnya tiba di atas pondok kayu miliknya yang sudah berantakan. Dirinya pun sudah menduga kalau tahanannya sudah kabur.
"Gara-gara menggunakan jurus itu. Mereka dapat kabur!" teriak Chan dengan kerasnya. Lalu menciptakan bola shen hitam di tangan kanannya, yang langsung ia hempaskan ke arah pondok kayu itu.
Bola shen berwarna hitam itu. Langsung menghantam pondok kayu itu dengan begitu kerasnya. Hingga terjadilah ledakan besar, yang membuat kebakaran hebat di hutan itu.
"Walaupun aku tidak suka merusak. Tapi saat ini aku benar-benar kesal!" kata Chan berbicara sendiri. Lalu melesat ke arah barat dengan kecepatan tinggi.
Selepas kepergian Chan. Gadis bertopeng emas muncul di tempat itu.
"Kalau dibiarkan, kebakaran ini akan menjadi kebakaran besar. Lebih baik aku padamkan saja ...," ujarnya dengan melayang di atas kebaran hutan itu.
Gadis misterius itu lalu menjentikan jari telunjuk kanannya ke arah kobaran api itu. Api setetes air yang melesat ke arah kobaran api itu, yang mendadak padam begitu saja.
__ADS_1
"Aku akan terus mengawasi mereka. Sampai gadis itu turun tangan ...," katanya, lalu menghilang dari tempat itu. Bersamaan dengan matahari yang masuk ke dalam peraduannya.