Manusia Masa Depan

Manusia Masa Depan
Bab 28 (Akhirnya Patung Budha Giok Didapatkan)


__ADS_3

 Sementara itu Mark dan teman-temannya telah tiba di bukit kapur, di mana patung Budha Giok itu berada. Mereka lalu berhenti, 10 meter di belakang patung itu.


Nampak Jean Kecil memperhatikan layar monitor layar radarnya.


"Tidak salah lagi, itu patung Budha Giok asli. Tidak mungkin radar ini bereaksi dengan patung Budha Giok tiruan. Karena pelacaknya tidak mungkin dapat ditiru," ucap Jean Kecil, sambil duduk di pundak kiri Clark.


"Tidak bisa ditiru, bukan berarti tidak bisa dipindahkan, bukan?" kata Clark.


"Bisa saja kemungkinan itu terjadi. Tapi masalahnya pelacak itu hanya dapat dilihat oleh kami, para peramal dengan ketapatan 100%," jawab Jean Kecil.


Terlihat Mark tak sabar, ia ingin segera mengambil patung itu. Ia tidak ingin kehilangan patung itu untuk yang ke 3 kalinya.


"Kalian bicara saja, asli atau hanya tiruan. Kita buktikan saja, setelah kita ambil patung itu!"


Mark lalu melangkahkan kakinya dengan mantapnya untuk mengambil patung itu. Tapi tiba-tiba saja cambuk Franco bergerak dan mengikat lengan dan tubuhnya. Untuk menahan Mark agar tidak bergerak lebih jauh lagi.


"FRAN!, APA YANG KAU LAKUKAN?. Lepaskan aku, aku ingin mengambil patung itu. Aku tidak ingin kehilangan patung itu untuk yang ketiga kalinya. Pertama kau yang ambil patung itu di kuil misterius, kedua patung itu direbut oleh Master Waktu, di Kota Angkasa Khatulistiwa," teriak Mark, meronta berusaha untuk melepaskan diri dari belenggu cambuk Franco.


"Aku mengerti dengan apa yang kau inginkan itu. Tapi pertanyaannya, tidak mungkin patung itu tergeletak begitu saja. Pasti ini ada sebab dan akibatnya. Atau jangan-jangan ini hanya sebuah jebakan dari Master Waktu. Dia tidak mungkin melepaskan patung itu begitu saja, kecuali jika patung itu sudah dapat ia gunakan. Maka patung itu sudah tidak berguna baginya, dan kita semua," timpal Franco.


Mark tampak mengerti dengan ucapan Franco itu, ia terdiam. Pikirannya mulai jalan, seperti sifat aslinya.


"Kau benar, aku terlalu bernafsu untuk mendapatkan patung itu. Pikiranku jadi tertutup, tidak berpikir dengan segala kemungkinan yang akan terjadi," mendengar ucapan Mark. Franco lalu melepaskan belenggu cambuknya. Lalu berjalan mendekati Mark. Yang berada 1 meter di depannya.


"Baguslah jika pikiranmu sudah terbuka kembali," ucap Franco singkat. Lalu berdiri di samping Mark yang diikuti oleh Nack.


Mereka bertiga menatap patung itu dengan tajamnya.


 


Jika seperti ini, musuh tidak mungkin dapat kita ketahui keberadaannya. Lebih baik hal ini kita serahkan kepada Jean," Mark lalu berbicara kepada Jean.


"Jean, coba kau deteksi ada atau tidaknya musuh di sekitar kita. Gunakan jurus mata langitmu," mendengar ucapan Mark itu. Jean yang berada di belakang mereka bertiga, lalu berjalan yang diikuti oleh Clark. Lalu berhenti di samping Nack.


"Baiklah Mark, jika itu yang kau inginkan," timpal Jean.


"Mata langit!" tiba-tiba saja mata cokelat Jean berubah menjadi biru terang. Lalu menatap tanah di bawahnya. Ia lalu tersenyum, karena telah mengetahui keberadaan musuhnya itu.


"Kau sudah ketahuan, keluarlah kau dari dalam tanah. Percuma saja, jika dirimu itu terus bersembunyi," ucap Jean, lalu matanya pun berubah menjadi cokelat kembali.


Dan tiba-tiba saja dari dalam tanah di bawah patung itu, muncullah makluk jelmaan dari rambut Mosa.


"Sudah ketahuan ya, ternyata kehebatan mata langit suku peramal sangat mengagumkan. Bisa melihat dan menembus tanah, pohon dan awan. Tapi aku rasa kemampuan mata langitmu masih di bawah Nenek dan Ibumu, mungkin kau hanya mampu melihat hingga radius 10 km," katanya, lalu membalikan tubuhnya. Hingga ia pun berhadapan dengan Mark dan kawan-kawannya. Yang membuat mereka semua terkejut, kecuali Clark. Yang memang belum pernah bertemu dengan Mosa, sang Master Waktu.


"MASTER WAKTU!!!!" ucap Mark, Nack, Franco dan Jean kecil serentak.


"KAU!. KEMBALIKAN IBU!" ucap Jean tegas.


"Wah..., Wah...!, kalian semua sudah salah duga. Perhatikan aku dengan lebih seksama lagi. Aku bukanlah dirinya, aku hanyalah bagian dari kekuatannya. Aku hanyalah sehelai rambut dari orang yang kalian sebut Master Waktu itu. Tubuh dan wajahku ini jauh lebih muda, dan tentu saja aku tidak sehebat dirinya," jelasnya dengan tegasnya.


Tangan kanannya lalu memanjang dan mengambil patung Budha Giok itu, lalu menggenggamnya erat-erat.


"Jean, apakah kau yakin orang seperti dirinya. Yang telah mencuri jasad Ibumu?" tanya Mark kepada Jean.

__ADS_1


"Walaupun hanya sekilas, aku yakin. Orang seperti dirinyalah yang telah mencuri jasad Ibuku," jawab Jean, dengan keyakinanya itu.


"Kalian terlalu banyak bicara, bertanya dan menduga. Baiklah akan kujelaskan semua tentang Tuanku."


"Tuanku yang kalian sebut sebagai Master Waktu sebenarnya bernama Mosa, ia adalah ksatria dari masa lalu. Yang menembus masa depan sejak 100 tahun yang lalu. Tepat saat pasukan robot menguasai Mars dan Bulan, dan membuat kekacauan hebat di Bumi. Andai saja tidak ada para Guru dari 5 Gura-Gura Lama. Bumi pun sudah dapat mereka kuasai," ucapnya, lalu menelan patung itu ke dalam mulutnya, yang membuat Mark sedikit emosi.


"AKU TIDAK PEDULI, SIAPA DAN DARI MANA TUANMU BERASAL!. AKU HANYA PEDULI DENGAN PATUNG YANG SUDAH KAUTELAN ITU. DAN KEBERADAAN JASAD IBUNYA JEAN, YANG DICURI OLEH TUANMU!" ucap Mark dengan kerasnya.


"Jangan khawatir, Jeni telah dihidupkan oleh Tuanku. Dan sekarang ia telah menjadi peramal pribadi Tuanku. Jika kalian hebat, ambillah patung Budha Giok dari dalam perutku ini," ucapnya, dengan penuh keangkuhannya itu. Yang membuat Mark langsung, maju menyerangnya dengan penuh hawa nafsu.


"Nack, Fran. Kita tunjukan kerjasama kita sebagai team trio!" ujar Mark, sambil menyerang ke arah jelmaan Mosa yang diikuti oleh Nack dan Franco, yang ikut menjadi panas seperti Mark.


Mereka bertiga menyerang jelmaan Mosa dengan kompaknya dengan kekuatan shen penuh. Tetapi jelmaan Mosa itu masih terlalu kuat bagi mereka bertiga. Kekuatannya di atas kekuatan gabungan Raja Robot Mars dan Bulan. Tapi masih sedikit di bawah Er Well.


Clark dan jean terlihat hanya diam saja menyaksikan pertarungan itu. Padahal Mark, Nack dan Franco tampak sudah kewalahan menghadapi jelmaan Mosa itu.


"Kenapa kau tidak membantu mereka, Clark?" tanya Jean kepada Clark.


"Biarkan saja mereka merasakan, bagaimana rasanya jika emosi kita terpancing dan tidak dapat dikendalikan oleh kita. Kau juga pasti pernah merasakan di saat seperti itu, kan?. Tidak semudah kita berucap, kita mampu mengendalikan diri kita di saat emosi," jawab Clark.


"Kau benar, biar mereka rasakan. Bagaimana sulitnya mengendalikan diri kita di saat emosi. Lagipula mereka mendeklarasikan diri mereka bertiga sebagai trio, bagaimana kalau diri kita ini kita sebut duo," ucap Jean.


"Idemu boleh juga, setelah trio mereka kalah. Maka duo kita ini yang akan mengalahkan jelmaan itu," ucap Clark.


Terlihat Mark, Nack dan Franco semakin terdesak, hingga Jean Kecil merasa sangat khawatir. Ia nampak gelisah di atas pundak Clark.


"Clark, bantu mereka bertiga. Atau mereka akan mati!" ucap Jean Kecil.


"Dia tidak memiliki niat untuk membunuh mereka bertiga. Jika mau, pasti sudah ia lakukan daritadi. Ia itu hanya menuruti keinginan majikannya itu. Entah kemauan apa yang ada di dalam pikiran majikannya itu. Kita tidak tahu sama sekali?" sahut Clark.


"Dasar payah, sebaiknya kalian maju bersama untuk menghadapi aku, jangan hanya bertiga seperti itu. Dasar trio yang payah, ternyata kekuatan para anak muda terkuat di Bumi hanya seperti ini. Benar-benar sangat payah dan mengecewakan diriku saja," ucapan itu membuat Mark panas mendengarnya.


"Diam!, dan jangan remehkan kami," ucap Mark, berusaha untuk bangkit tapi terjatuh kembali.


"Bukannya meremehkan kalian, tapi ini kenyataannya, kalian benar\-benar payah, bukan?. Lihatlah keadaanmu itu, sudah begitu masih saja tetap keras kepala. Jika kalian hebat, kalahkan aku. Sebagai hadiahnya akan aku berikan patung itu, asal kalian bisa mengalahkan diriku," tuturnya dengan penuh kesombonganya.


"Kau tidak akan aku maafkan...!" ucap Mark, berusaha untuk bangkit kembali, tapi jatuh kembali.


Melihat akan hal itu. Clark akhirnya angkat bicara. Dengan mata menatap tajam ke arah jelmaan rambut Mosa yang berjarak 10 meter dari mereka.


"Apakah kau tidak bisa diam Mark, lihat dirimu sekarang. Apa yang bisa kau lakukan saat ini dengan keadaanmu, yang seperti itu?. Tidak ada sama sekali, jadi lebih baik kau diam saja!. Serahkan dirinya, kepadaku dan Jean saja," mendengar ucapan Clark, Mark pun hanya terdiam.


"Begitu lebih baik, Mark. Jean Kecil, coba kau pulihkan mereka bertiga," kata Clark, Jean Kecil lalu melompat dari pundak Clark. Dan lalu mulai melakukan teknik pengobatan dengan jarumnya itu, dimulai dari Mark. Sedangkan Clark mulai melangkahkan kakinya bersama Jean.


"Aku akan menggunakan seluruh kemampuanku dan shenku, aku harap kau juga begitu, Jean. Karena untuk menghadapi makhluk seperti itu, kita harus begitu dan serius. Kita tunjukan kerjasama kita," ucap Clark.


"Tentu saja akan kulakukan hal itu, aku tidak ingin dipermalukan seperti mereka bertiga," timpal Jean.


"Dan sekarang saatnya, kita habisi dirinya," Clark melesat, yang diikuti oleh Jean. Yang langsung menyerang jelmaan Mosa secara agresifnya. Hingga pada suatu kesempatan, Clark berhasil menendang tubuh jelmaan Mosa itu, hingga terhuyung beberapa langkah.


"Ini sedikit lebih lumayan daripada yang tadi. Hingga dapat membuat aku seperti ini...," ucapnya, sambil berdiri tegak kembali, tetapi sesaat kemudan Jean langsung menyerang jelmaan Mosa dengan bom jarum peledaknya, yang keluar dari telapak tangan kirinya.


"INI PASTI JAUH LEBIH DARI SEKEDAR LUMAYAN!" teriak Jean, mengiringi melesatnya jarum peledaknya. Yang segera menghantam tubuh jelmaan Mosa itu, hingga terjadilah ledakan yang hebat. Dengan asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa.

__ADS_1


TAMATLAH KAU!" ucap Jean, dengan keyakinanya itu.


Akan tetapi setelah asap hitam itu menghilang, ternyata tubuh jelmaan Mosa tetap utuh dan tidak tergores sedikit pun.


"Memang di atas lumayan, tapi lihat aku baik-baik saja. Mungkin jika Ibumu yang melakukan hal ini, aku ini pasti sudah mati. Tapi akan aku tunjukan, apa itu kata di atas lumayan yang sebenarnya," tampak kedua tangannya lalu memanjang dengan tiba\-tiba, yang segera menghantam dada Clark dan Jean, hingga mereka berdua pun jatuh tersungkur di tanah. Lalu kedua tangan itu pun kembali ke ukuran semula, setelah menjatuhkan Clark dan Jean secara bersamaan.


"Tidak aku sangka ia bisa seperti itu, dan bergerak secepat itu. Jika sudah begini, lebih baik aku gunakan racunku saja," ucap Clark, lalu bangkit dari jatuhnya. Yang diikuti oleh Jean.


"Tidak hanya racun, tapi kita juga harus menggunakan otak kita. Bagimana caranya, agar ia tidak dapat bergerak dengan kecepatan seperti itu?" ujar Jean sambil berpikir.


"Kau benar, walaupun aku menggunakan racunku. Dengan kecepatannya itu. Aku tidak mungkin dapat menyentuhnya. Apalagi menorehkan racunku ke dalam tubuhnya. Andai saja ia tidak dapat bergerak, aku pasti dapat mengalahkannya," ucap Clark, sambil berpikir, hingga ia pun teringat akan suatu hal.


"Oh ya, aku pernah dengar dari Kakekku, Jika Nenekmu. Bisa menghentikan aliran shen seseorang, hingga tidak dapat bergerak sama sekali. Apakah kau juga memiliki kemampuan seperti itu?. Jika kau memilikinya, kita akan gunakan cara itu," kata Clark menanti jawaban Jean yang seakan bimbang itu.


"Ya, aku memilikinya. Tapi itu adalah jurus terlarang, hanya boleh digunakan saat aku terdesak," jawab Jean.


"Kita saat ini sudah terdesak, kau bisa gunakan jurus itu Jean," ucap Clark, tersenyum tipis ke arah Jean yang masih nampak bimbang.


"Masalahnya, bukan pada bisa atau tidak bisa, ingin atau tidak ingin. Masalahnya aku hanya bisa menggunakan jurus itu satu kali saja, dan akan menghabiskan seluruh shenku hingga titik nol. Dan aku akan pulih seperti semula 1 jam kemudian secara bertahap. Dan aku hanya bisa melakukan jurus itu dari jarak dekat saja, agar ketepatan mengunci shennya 100%," jawab Jean.


Mendengar penjelasan dari Jean itu. Clark pun lalu berpikir cepat.


"Jika begitu, aku akan menyerangnya sendiri dari arah depan. Sedangkan dirimu, cukup mengamati keadaan saja. Jika ada kesempatan atau dirinya sedang lengah, serang ia dari arah belakang. Biar aku yang menahannya agar dia lebih fokus terhadap seranganku. Aku tidak perlu menggunakan racunku. Percuma saja aku menggunakan racunku, jika sasarannya tidak tepat," jelas Clark, lalu kembali menyerang jelmaan Mosa itu. Yang menganggapnya hanya dengan main-main saja. Hingga kedua tangan Clark pun dapat digenggam erat oleh kedua tangan jelmaan Mosa.


"Aku tahu, kau pasti akan menggunakan racunmu untuk menyerang diriku. Tapi sayangnya, aku tahu kelemahanmu. Apa kau masih bisa menggunakan racunmu, jika tanganmu kuperlakukan seperti ini," ucapnya, sambil menekan kedua urat nadi di tangan Clark, yang mencoba menahan rasa sakit dari ulah jelmaan Mosa.


"HENTIKAN...!. LEPASKAN TANGANKU!" teriak Clark dengan kerasnya.


"Minta bantuan kepada teman wanitamu itu saja."


"TIDAK MAU!"


"Jika begitu, rasakan. Rasa yang lebih sakit dari yang tadi," katanya, menekan urat nadi Clark lebih keras lagi. Tanpa menyadari keberadaan Jean yang telah ada di belakang dirinya. Yang telah siap untuk menyerangnya, dengan 5 jarum emasnya, yang muncul dari dalam 5 jemari kirinya.


"Jika kau merasakan yang ini, bagaimana rasanya ya?" ucap Jean, lalu melepaskan serangannya itu. Yang tepat mengenai aliran shen jelmaan Mosa. Hingga aliran shen jelmaan Mosa terhenti. Yang membuat dirinya hanya terdiam tak mampu bergerak sama sekali.


"Rupanya ini semua hanyalah jebakan kalian, dasar licik!" ucap Jelmaan Mosa.


"Bukannya kami licik, tapi kami ini cerdik. Lagipula mana mungkin aku berteriak seperti tadi. Jika yang kau lakukan hanya seperti itu. Untung Jean cerdas, ia bisa memanfaatkan kesempatan di saat kau lengah, di mana kau tengah asyik. Mengira diriku kesakitan atas ulahmu itu," jelas Clark, lalu membebaskan tangannya. Dari tangan jelmaan Mosa, yang tak mampu bergerak.


"Kau pernah bilang, jika kami dapat mengalahkan dirimu. Kau akan memberikan patung Budha Giok yang ada di dalam perutmu kepada kami. Bagaimana jika aku mengambilnya sekarang dari dalam perutmu itu," ucap Clark, lalu menikamkan tangannya yang telah berkuku hitam itu ke dalam perut jelmaan Mosa, untuk mengambil patung Budha Giok yang ada di dalamnya.


Saat tangan Clark masuk ke dalam perut jelmaan Mosa. Racun milik Clark pun mulai bereaksi, dan menyebar ke seluruh tubuh Jelmaan Mosa. Hingga perlahan-lahan tapi pasti, tubuh jelmaan Mosa itu pun meleleh menjadi pasir, yang meluruh ke tanah. Dengan patung Budha Giok telah ada di genggaman tangan kanan Clark, yang telah menjadi normal kembali. Dan tak mengandung racun lagi.


Tampak Jean lalu menghampiri Clark.


"Kau memang lelaki yang hebat, Clark" puji Jean.


"Tapi tanpamu, aku tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu. Sekarang lebih baik kita hampiri mereka," sahut Clark, lalu melangkahkan kakinya, yang diikuti oleh Jean. Ke arah Mark dan teman-temannya, yang terlihat sudah pulih, dari luka mereka.


"Aku sudah mendapatkan patung ini, tapi aku tidak tahu. Apakah benar patung ini memiliki kemampuan untuk mengabulkan permintaan kita. Lebih baik patung ini, kau yang pegang saja, Mark," ujar Clark, lalu menyerahkan patung itu kepada Mark, yang langsung diterimanya dengan tangan kanannya.


"Aku yakin patung ini memiliki tuah, tinggal caranya yang harus kita ketahui dan pikirkan. Bagaimana caranya, agar patung ini dapat mengabulkan permintaan kita," ucap Mark, memegang erat patung itu. Sambil bermain dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


 


__ADS_2