
Sementara itu Kasandra yang sedang menuju ke Bulan. Akhirnya tiba juga di Bulan. Di sana banyak berserakan rongsokan robot-robot Mars dan Bulan yang hangus terbakar. Asap hitam membumbung di segala arah, menyebar di langit Bulan yang gelap.
Kasandra hanya terdiam, berpikir tentang kejadian di depan matanya itu.
"Sepertinya ada yang terlebih dahulu datang ke Bulan, daripada diriku ini. Tapi siapa?, selain kami berlima yang mampu pergi ke Bulan. Tanpa bantuan teknologi apapun?" tanya Kasandra di dalam hatinya, ia lalu membalikan tubuhnya. Matanya menatap ke arah Bumi. Yang berada di depan penglihatannya.
Otaknya pun terus berpikir tentang siapa orang yang datang terlebih dahulu daripada dirinya di Bulan.
"Or Well tidak mungkin, dirinya terlalu menikmati hidupnya di Gunung Well. Dran lebih tidak mungkin lagi, ia sibuk untuk merektrut anggota baru Gura-Gura Baru. Apalagi para robot itu, bawahan dari anak buahnya. Pasti dia tidak akan peduli dengan masalah ini. Clerk juga tidak mungkin, ia pasti sibuk dengan penelitian racunnya. Tinggal Pusia kemungkinannya, tapi aku tidak tahu kabarnya sedikit pun," ucap Kasandra di dalam hatinya.
"Jika kau merindukan aku, aku pasti akan selalu ada untukmu, Dewi Peramal...."
Tiba-tiba saja di depan Kasandra muncul seorang lelaki sangat tampan dengan tato bulan sabit merah di dagunya. Bibirnya merah, matanya cokelat kemerahan, rambutnya sebahu dengan poni hingga alis. Dengan jambang terurai panjang hingga dadanya. Warna rambutnya hitam, alisnya tebal hitam bagai bulan sabit dan hidungnya mancung. Ia memakai baju biru lengan pendek dengan dua cambuk menempel di lengannya yang putih mulus dan berbulu tipis, dengan celana panjang biru yang terbuat dari sutera.
Ia adalah Pusia, anggota Gura-Gura Lama paling tampan. Dan lelaki paling indah dari Bulan.
"Pusia!" ucap Kasandra, melepaskan keterkejutannya itu.
"Sudah 50 tahun kita tidak bertemu, seperti baru kemarin saja kita berpisah," sahut Pusia lalu memeluk Kasandra dengan eratnya.
"Ke mana saja kau selama ini, Pusia. Aku benar-benar merindukanmu?" ujar Kasandra, dengan lirihnya.
"Sesuai dengan janjiku, aku tidak akan menemui atau menghubungi kalian hingga 50 tahun. Hari ini adalah tepat 50 tahun aku mengucapkan janji itu, jadi janji itu telah berakhir hari ini," timpal Pusia lembut, lalu melepaskan pelukannya itu.
"Kau memang orang yang tepat janji. Hal itu adalah nilai lebih dari dirimu," sahut Kasandra lalu tersenyum manis.
"Kau itu terlalu memuji diriku, aku jadi ingin terbang melayang...!" jawab Pusia, dengan riangnya, sambil merentangkan kedua tangannya ke angkasa.
"Selama 50 tahun ini, aku tidak pernah melihat kloninganmu?. Kloningan Or Well dan Clerk telah aku lihat. Sedangkan Dran tidak mengkloning dirinya, ia takut kekuatannya akan menurun jika ia melakukan hal itu. Apakah kau sama dengan Dran, tidak mengkloning dirimu?" tanya Kasandra.
__ADS_1
"Ya, aku tidak mengkloning diriku. Tapi alasanku berbeda dengan Dran. Aku sebagai anggota Suku Bulan Sabit Merah murni yang tersisa, tidak dapat melakukan hal itu. Ada dua kemungkinan buruk yang akan terjadi jika aku sampai mengkloning diriku. Pertama bisa saja aku menjadi tua, jika aku melakukan hal itu. Dan hal itu adalah yang paling aku benci. Kedua, kemungkinan aku bisa saja mati. Karena secara tradisi, jika sesama Suku Bulan Sabit Merah murni menikah. Maka si lelaki akan mati, jika istrinya mengandung anaknya. Sedangkan si wanita akan mati setelah melahirkan anak yang dikandungnya itu. Intinya memperbanyak keturunan dengan sesama Suku Bulan Sabit Merah murni, risikonya adalah mati. Mungkin termasuk jika aku mengkloning diriku," jelas Pusia dengan panjang lebarnya, lalu duduk di tanah Bulan yang diikuti oleh Kasandra.
"Pantas saja begitu sulit menemukan Suku Bulan Sabit Merah murni di Bumi, jika ceritanya seperti itu. Ini seperti sebuah kutukan saja, cepat atau lambat Suku Bulan Sabit Merah murni dapat musnah. Apalagi seluruh koloni manusia di Bulan dan Mars telah musnah di serang oleh pasukan robot, 100 tahun yang lalu. Sepertinya kau adalah generasi terakhir dari Suku Bulan Sabit Merah murni, Pusia. Sayang sekali kemampuanmu hanya dapat diwariskan oleh satu sukumu saja. Jika kau mati, maka punahlah suku Bulan sabit merah murni dengan kemampuan cambuknya itu," ucap Kasandra tanpa melihat ke arah Pusia, matanya hanya menatap Bumi di angkasa dengan pikirannya yang melayang jauh.
"Jangan terlalu dipikirkan masalah itu. Aku bukanlah generasi terakhir dari Suku Bulan sabit Merah murni. Aku memiliki murid dari keturunan murni Suku Bulan Sabit Merah murni, dengan tanda lahir tato Bulan sabit merah di dagunya," ucapan Pusia itu membuat Kasandra terkejut.
"Tidak mungkin, kau dan aku sama. Sama-sama generasi terakhir dari suku kita. Yang telah dimusnahkan oleh pasukan robot 100 tahun yang lalu," sergah Kasandra memandang ke arah Pusia.
"Aku juga tadinya tidak percaya, Jika ia itu keturunan murni Suku Bulan Sabit Merah, tapi itulah kenyataannya. Aku menemukannya saat aku diminta datang oleh Jhon Swett, Gubernur Kota Angkasa khatulistiwa. Untuk menjadikan anak angkatnya itu, sebagai muridku," ucapnya, lalu mengingat tentang Franco.
"Pertama aku melihatnya, aku seakan melihat masa laluku, di mana aku juga ditemukan oleh Guruku di dunia bawah. Seakan tidak percaya, aku ternyata tidak sendirian. Masih ada keturunan Suku Bulan Sabit Merah murni selain diriku. Aku lalu membawanya dan melatihnya selama 10 tahun ini. Tapi ia tidak tahu jika, ia adalah keturunan Suku Bulan Sabit Merah murni. Hal ini sengaja aku rahasiakan dari dirinya hingga saat ini. Biarlah ia hidup sebagai manusia Bumi, bukan manusia Bulan seperti aku," Pusia lalu tersenyum tipis.
Penjelasan dari Pusia itu, telah membuat Kasandra teringat akan sesuatu hal.
"Oh, aku jadi ingat. Anak muda yang sedang menuju ke Gunung Well, salah satunya memiliki tato Bulan sabit merah di dagunya. Jadi ia muridmu?" tanya Kasandra, mengingat tentang sosok Franco dari jarak 1000 km. Saat dirinya tengah menolong Jean dari sergapan Nel.
"Kau benar, Kasa. Dialah muridku," timpal Pusia.
"Wah...!, ada sepasang manusia yang sedang kasmaran. Tidak mungkin kalian manusia biasa, pasti kalian berdua manusia yang luar biasa?" ucap salah satu dari 8 Jenderal Robot itu.
Mendengar ucapan itu. Pusia dan Kasandra pun menoleh ke arah belakang.
"Biar aku saja yang membereskan mereka. Kau cukup menyaksikannya saja," ucap Pusia, lalu berdiri dan menghampiri 8 Jendral Robot itu.
"Ternyata kalian robot yang independen, tidak terikat oleh pusat komando Mars dan Bulan, yang telah aku hancurkan itu" kata Pusia, dengan sinisnya ke arah mereka.
"Tentu saja, kami tidak terikat oleh pusat komando itu. Karena kami adalah 8 Jenderal Mars dan Bulan. Kekuatan kami hanya 1 tingkat di bawah 2 Raja Robot Mars dan Bulan. Dan kami akan menghabisimu, karena telah menghancurkan pusat komando Mars dan Bulan," mendengar akan hal itu. Pusia pun tertawa lepas.
"Ha....ha...!, kalian pikir diri kalian itu hebat. Bergabung pun kalian semua, aku itu hanya memerlukan 5% dari kekuatanku, untuk menghancurkan kalian semua."
__ADS_1
" JUMAWA!" ujar Jenderal Robot Bulan yang berwarna perak.
Pusia lalu melipatkan tangannya. Dengan memandang para robot itu dengan sinisnya. Seakan ia sangat dendam dengan mereka. Dendam yang dibawanya sedari dulu.
"Kalian tahu siapa aku?, aku adalah Pusia. Salah satu dari 5 legenda Gura-Gura Lama. Dan dia adalah Kasandra, Dewi Peramal dari Gura-Gura Lama," mendengar pengakuan dari Pusia itu. 8 Jenderal Robot Mars dan Bulan nampak terkejut.
"Mereka berdua adalah anggota Gura-Gura Lama, sebaiknya kita pergi dari sini!!" ucap salah satu dari mereka.
" Aku malah ingin bertarung dengannya. Bagiku, 5 legenda gura-gura lama tetaplah legenda usang!" salah dari 4 Jenderal Mars yang berwarna merah melesat maju ke arah Pusia. Yang dengan senang hati melawannya.
Dengan menggunakan cambuk yang ada di tangan kirinya. Pusia mencabik-cabik tubuh robot itu. Hingga hancur berkeping-keping. Dan berserakan di tempat itu.
"Lebih baik kalian maju semua. Agar semuanya cepat selesai..." kata Pusia dengan nada yang dingin.
"Sepertinya kita sudah tidak memiliki pilihan lainnya. Kita serang si tampan itu!" ujar salah satu Jenderal Robot Bulan.
Ketujuh jenderal robot itu lalu melesat menyerang Pusia dari segala arah. Namun dengan cambuk di kedua tangannya yang fleksibel. Dengan begitu cepatnya. para jenderal robot itu pun telah tercabik-cabik menjadi rongsokan tak berguna sama sekali di hadapannya.
"Dan kini kalian sudah tamat!," selesai membantai 7 Jenderal Robot Mars dan Bulan itu. 2 cambuk itu pun kembali keukuran semula. Dan lalu, Pusia pun kembali duduk di sisi Kasandra.
"Sepertinya kau masih sangat dendam dengan mereka?" tanya Kasandra.
"Masa itu sudah lewat, Kasa. Aku hanya membenci mereka yang telah membuat kekacauan di Bumi," jawab Pusia.
"Syukurlah jika kau tidak mendendam lagi. Lebih baik kita nikmati keindahan Bumi dari Bulan, daripada harus memikirkan hal lain," ujar Kasandra, memandangi Bumi di angkasa dengan segala kenangannya. Yang diikuti oleh Pusia kekasih lamanya itu.
__ADS_1