
Chen Lalu bangkit, dan langsung saja mengeluarkan kekuatan aslinya. Lelaki dari abad ke 10 Masehi itu menggunakan mode dasarnya. Yang berada pada level H. Tubuhnya pun segera diselimuti oleh aura hitam yang begitu pekat.
"Akhirnya kau menggunakan kekuatan aslimu. Baiklah, kami pun akan mengeluarkan kekuatan asli kami," ucap Ded lalu mengeluarkan shen berwarna biru terang yang menyelubungi tubuh gendutnya itu, dengan level shen mencapai S+++.
"Hanya dengan shen level seperti itu. Apakah kau sedang bermimpi ingin mengalahkanku!" ejek Chen lalu tertawa terbahak-bahak. Seakan sedang menonton sebuah lelucon yang dibuat oleh pasangan gendut itu.
"Kita coba sekarang!" sahut Ded, tersenyum penuh arti.
Ded lalu melesat dan bergoyang seperti gansing ke arah Chen. Hingga membuat pusaran angin berwarna biru terang yang menyerang ke arah Chen. Angin biru terang jelmaan dari Ded itu lalu menghantam Chen dengan begitu kerasnya. Akan tetapi Chen tak bergeming sama sekali dari tempatnya berdiri. Ia lalu menghentakan kakinya ke tanah. Hingga terciptalah gelombang kejut. Yang membuat angin biru jelmaan Ded terpental ke arah Hay yang segera menahannya. Agar suami gendutnya itu tak terpental lebih jauh lagi.
"Kau tidak apa-apa suamiku yang tampan?" tanya Hay dengan penuh perhatiannya. Saat pusaran angin berwarna biru terang sudah kembali ke wujud Ded.
"Aku tidak apa-apa, istriku yang cantik. Ternyata menghadapi orang dengan mode dasar shen H sulit juga. Dengan kekuatan shen maksimal yang aku miliki ini," sahut Ded, lalu berdiri sejajar dengan istri gendutnya itu.
"Bagaimana kalau kita menyerangnya bersama-sama?" ajak Hay, untuk menyerang Chen secara bersama-sama.
"Baiklah kita serang dengan jurus tarian bola kematian," sahut Ded, lalu tersenyum ke arah istri gendutnya. Seakan memberi kode untuk menggunakan jurus perubahan bentuk mereka menjadi bola raksasa.
Ded dan Hay lalu bergoyang dengan cepatnya. Dari tubuh mereka berdua keluarlah asap biru terang yang langsung menyelimuti tubuh mereka berdua dengan pekatnya. Hingga Chen pun tak dapat melihat tubuh mereka lagi. Karena saking pekatnya asap berwarna biru terang yang menyelimuti pasangan suami-istri gendut itu.
__ADS_1
"Mereka berdua itu sebenarnya sedang apa?. Dasar pasang gendut yang aneh...," ucap Chen di dalam hatinya.
Penjahat dari abad ke 10 Masehi itu terus memperhatikan asap berwarna biru terang yang akhirnya berangsur-angsur memudar. Saat hal itu terjadi. Tiba-tiba saja, melesatlah sebuah bola raksasa berdiameter 3 meter yang meluncur ke arah Chen yang segera melesat ke angkasa. Chen tak ingin terpental oleh bola raksasa jelmaan Ded. Seperti kejadian sebelumnya.
Melihat targetnya melarikan diri ke angkasa. Bola jelmaan Ded ikut melesat ke angkasa untuk mengejar Chen. Yang diikuti oleh bola raksasa berukuran sama, yang merupakan jelmaan Hay.
"Sial! kenapa mereka memiliki jurus yang aneh-aneh?" gerutu Chen, sembari menengok ke arah belakang di mana dua bola raksasa jelmaan Hay dan Ded sedang mengejarnya dengan kecepatan tinggi.
Belum sempat Chen berpikir lebih panjang di dalam hatinya. Kedua bola raksasa jelmaan dari Hay dan Ded itu. Melesat lebih cepat, hingga berhasil menghantam tubuh Chen dengan kerasnya. Hingga Chen pun meluncur ke arah bawah dengan kecepatan tinggi.
"Bola Tarian Kematian!!" seru Hay dan Ded secara bersamaan.
Chen merasakan tubuhnya benar-benar luruh lantak dihantam oleh bola raksasa jelmaan dari Hay dan Ded. Baginya sudah tak ada pilihan lainnya, selain meningkatkan kekuataan shennya menjadi H++. Demi untuk menghadapi pasangan raksasa dengan kekuataan shen S+++.
Bersamaan dengan meningkatkannya kekuataan shennya itu. Chen dapat mengendalikan dan memulihkan tubuhnya kembali dengan begitu mudahnya. Seakan dirinya tak pernah terluka sama sekali, akibat dari serangan dari pasangan suami-istri gendut terkuat dari Sundaland itu.
"Sekarang kalianlah yang akan aku buru!!" teriak Chen, lalu melesat dengan kecepatan tinggi memburu sepasang bola raksasa jelmaan dari Hay dan Ded.
Setelah lama mencari. Akhirnya Chen menemukan buruannya. Yang masih melesat dengan kecepatan tinggi mencari dirinya. Benturan hebat pun terjadi dengan hebatnya, di dua kubu berbeda aliran itu. Chen langsung saja menendang dua bola raksasa jelmaan dari Hay dan Ded dengan kedua kakinya. Hingga kedua bola itu terpental ke arah utara dengan kecepatan tinggi.
Chen segera memburunya kembali. Akan tetapi di tengah jalan, kedua bola raksasa jelmaan itu muncul. Dan langsung saja menyerang Chen dengan agresifnya. Chen melayaninya dengan penuh kesenangannya. Ia permainkan kedua bola raksasa jelmaan itu. Seakan ia sedang bermain bola kaki, dengan sepasang bola yang memiliki jiwa sendiri.
__ADS_1
Tiba-tiba saja bola raksasa jelmaan dari Hay dan Ded itu meledak dengan dahsyatnya. Yang membuat Chen harus mundur 10 meter dari bola raksasa, yang akhirnya kembali ke wujud asli mereka. Yaitu Hay dan Ded dengan napas yang memburu. Karena kelelahan menghadapi Chen, yang seolah memiliki stamina tanpa batas.
"Sial!. Waktunya sudah habis!" teriak Ded. Di antara irama napasnya yang memburu.
"Rupanya waktu kalian untuk menjadi bola sudah habis ya?. Padahal aku masih ingin bermain bola," ucap Chen, lalu tertawa dengan kerasnya.
"Kau itu ingin bermain bola, pergilah ke neraka," ucap Ded sembari menyerang Chen dengan cakram shen yang ia ciptakan di tangan kirinya secara masif, dan tak berhenti sama sekali.
Chen tak melakukan perlawanan apa pun. Ia membiarkan tubuhnya menerima serangan shen dari si gendut Ded. Ia menganggap serangan Chen itu, tak dapat melukainya sama sekali. Terlihat kepulan asap hitam begitu pekat menyelubungi daerah tersebut. Akibat benturan serangan shen Ded dan tubuh Chen yang tetap melayang di udara.
Akhirnya Ded menghentikan serangan shennya itu. Selain bosan karena serangannya tak berarti sama sekali terhadap manusia dari abad ke 10 Masehi itu. Lelaki gendut itu pun sudah merasa kelelahan. Karena serangan yang ia lalukan terhadap Chen sudah menguras staminanya terlalu banyak.
"Tubuh gendut ini, tenyata telah membuatku menjadi lemah seperti ini..," kata Ded seolah bicara sendiri. Akan tetapi disahuti oleh Hay yang telah ada di sampingnya.
"Ya tubuh kutukan ini. Telah membuat kekuatan kita lemah seperti ini. Andai saja, dengan tubuh asli kita. Kita berdua, tak akan kepayahan menghadapinya seperti ini," tutur Hay.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, istriku yang cantik?" tanya Ded. Lalu tersenyum lepas.
"Kita akan menghajarnya habis-habisan setelah itu kita akan kabur dengan cara seperti itu," ujar Hay dengan kata-kata bermakna yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
"Kebetulan aku sudah tak mengeluarkannya begitu lama...," timpal Ded lalu tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kalau begitu kita serang sekarang!" teriak Hay lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Chen yang sudah terbebas dari asap hitam yang menyelubungi dirinya sudah musnah. Tertiup oleh angin yang berhembus kencang di tempat itu.