
Ting tong ! Ting Tong !
Bunyi bell di rumah Mama Nia terdengar sampai halaman belakang rumah peninggalan Engkong Mamat itu. Mama Nia yang sedang membersihkan makam Emak dan Bapak nya itu beranjak dari posisi jongkok nya dan mengusap peluh yang menetes di dahinya.
"Siapa ya?" Gumam Mama Nia.
Mama Nia pun bergegas kearah dapur untuk mencuci tangannya terlebih dahulu.
Saat Mama Nia baru saja selesai mencuci tangannya, ia pun melangkah menuju pintu depan rumah itu. Saat itu juga terlihat Kimmy berlari menuju pintu depan, melewati Mama Nia yang terheran-heran melihat anak gadisnya yang tampak sudah rapi dengan celana jeans dan kaos berwarna putih, serta tak ketinggalan jaket Hoodie yang seleting nya dibiarkan terbuka begitu saja.
"Itu anak mau kemana ya? Apa si Athar menjemput? Tapi kok tumben semangat banget?" Gumam Mama Nia sambil menyusul Kimmy ke ruang tamu.
Saat Mama Nia tiba di ruang tamu, Mama Nia melihat sosok Farhan disana yang sudah terlihat tampan dengan setelan pakaian yang sama temanya dengan Kimmy.
"Farhan?" Sapa Mama Nia yang masih terheran-heran dengan hadirnya Farhan di rumahnya.
"Tante," Sapa Farhan dan mencium tangan Nia.
"Tumben kamu kesini? di suruh Mama mu?" Tanya Mama Nia lagi.
"Hmmmmm, anu Tante, sa-saya ma-mau mengajak Kimmy jalan-jalan," Terang Farhan dengan terbata-bata.
"Oh... begitu...." Ekspresi wajah Mama Nia yang tadi berkerut saat menunggu penjelasan Farhan, kini kembali tersenyum menatap anak dari sahabatnya itu.
"Memang kalian mau kemana?" Tanya Mama Nia lagi.
"Ngggg... anu Tante, saya mau ajak Kimmy jalan-jalan saja, sudah lama saya gak jalan-jalan di Jakarta," Ucap Farhan.
Mama Nia tersenyum, lalu mengangguk tanda ia mengizinkan Farhan membawa anak gadisnya itu.
"Ya sudah, kita jalan dulu ya Ma," Ucap Kimmy sambil mencium tangan dan pipi Mama Nia.
Mama Nia pun mengangguk dan berpesan kepada kedua insan tersebut untuk jangan pulang malam-malam dan berhati-hati saat dijalan.
__ADS_1
Setelah Kimmy dan Farhan pergi, Mama Nia termenung di ambang pintu rumahnya. Mama Nia teringat ke puluhan tahun yang lalu, saat dirinya dekat dengan Om Fathur, Papanya Farhan. Walaupun hanya sebatas sahabat, rasa cinta Mama Nia kepada Om Fathur begitu menggebu saat itu. Tetapi, Mama Nia tetap menyembunyikan perasaannya dari Om Fathur.
Kisah masa lampau yang sudah terkubur, kini kembali menyeruak kepermukaan. Kedekatan Kimmy dan Farhan membuat sedikit banyaknya ada rasa khawatir di hati Mama Nia. Apa lagi selain Mama Nia takut, bila cinta Kimmy akan berakhir seperti cintanya kepada Om Fathur.
Menahan cinta belasan tahun dan endingnya orang yang kamu cintai akan menikah dengan sahabatmu sendiri?
Ah... hanya Mama Nia yang tahu rasanya bagaimana. Rasa itu seperti membekas di relung hatinya yang paling dalam. Bukan belum ikhlas atau merelakan itu semua. Tetapi, wajar saja bila ia takut anak gadisnya akan mengulang sejarah nya, hingga terlambat menikah.
Mama Nia menikah di usia yang bisa dibilang sangat mepet bagi kebanyakan orang. Karena menunggu sebelas tahun tanpa bisa berbuat apa-apa dan mengungkapkan perasaan membuat Mama Nia tidak mampu berpindah hati dengan lelaki manapun.
Tetapi, setelah perasaannya terungkap, Mama Nia tidak lantas dapat bersama dengan pujaan hatinya itu. Justru, Mama Nia harus menelan pil pahit pernikahan Om Fathur dengan Tante Rara. Nyatanya, perasaan tidak bisa berdusta, Om Fathur lebih memilih Tante Rara sebagai labuhan hatinya.
Mama Nia pun patah hati, ia memilih melanjutkan pendidikan S2 nya di Inggris. Disana, Mama Nia membutuhkan waktu lima tahun untuk belajar ikhlas. Disana pun, ia sempat mempunyai kekasih hati, tetapi perbedaan budaya dan *****-bengeknya pun tak dapat dihindari. Mama Nia menyerah, ia pun kembali ke Indonesia, tanah kelahirannya yang sangat subur. Ia kembali ke pangkuan orang tuanya yang telah lama merindukan dirinya.
Disinilah awal mula titik balik kehidupan Mama Nia. Setelah banyaknya orang-orang yang nyinyir dengan kehidupan pribadinya yang masih betah single, akhirnya ia bertemu dengan Papa Bobby yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
Beruntung, Mama Nia bertemu dengab lelaki sehebat dan setia seperti Papa Bobby. Papa Bobby membuktikan dirinya pantas untuk mencintai dan dicintai Mama Nia. Ia tetap bertahan hingga detik ini dengan penuh kasih kepada Mama Nia dan juga keluarganya.
...
Romansa kisah asmara remaja, hal itulah yang sedang dirasakan oleh Kimmy. Akhirnya, ia bisa jalan berdua saja dengan Farhan, lelaki yang ia sukai sejak dahulu. Sebenarnya apa sih yang disukai Kimmy dari Farhan?
Tampan? sudah pasti. Farhan, yang memiliki tinggi 175 sentimeter itu terlihat menawan dengan tubuh yang atletis dan proporsional. Senyuman yang manis, dua bola mata yang bulat berbinar, serta hidung yang terlihat terukir sempurna. Wanita mana yang tidak gila karenanya? Ditambah dengan gaya Farhan yang sangat santai dan agak pendiam. Farhan lebih senang tersenyum dari pada banyak berbicara.
"Akhirnya..." Begitulah yang terucap di hati Kimmy.
Kimmy melirik Farhan yang terlihat fokus dengan jalanan di depan nya saat ia menyetir mobil keluaran terbaru yang baru saja di beli oleh Om Fathur.
"Kita ke restoran seafood, kamu mau?" Tanya Farhan, saat mencoba memecah keheningan didalam mobil yang masih tercium aroma baru nya itu.
"Hmmm, mau," Ucap Kimmy, langsung menyetujui ajakan Farhan.
Farhan pun tersenyum sambil melirik Kimmy yang terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
"Hmmm, pacarmu marah gak, kalau kita jalan bareng begini?" Tanya Farhan dengan sangat berhati-hati.
Pertanyaan basi memang, tapi nyatanya pertanyaan itu terlalu banyak dipakai oleh para lelaki yang berusaha ingin lebih dekat lagi dengan sang pujaan hati. Padahal, pertanyaan itu bisa saja, di pertanyakan sebelum mereka jalan bersama.
Kimmy tersenyum dan melirik Farhan,
"Aku tidak punya pacar. Tepatnya, aku tidak pernah mempunyai pacar," Tegas Kimmy.
Farhan melirik Kimmy dengan tak percaya.
"Cewek secantik kamu tidak punya pacar?" Tanya Farhan sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya, tanda ia masih tak percaya.
Dengan lugu, Kimmy menggelengkan kepalanya.
"Tidak dan belum pernah." Tegas Kimmy lagi.
"Oh, ok..." Ucap Farhan sambil berhenti tertawa.
"Justru aku yang akan bertanya, Abang sudah ada pacar kah di Belanda?" Tanya Kimmy.
Farhan terlihat salah tingkah, ia menelan saliva nya dan menatap Kimmy sesaat. Lalu, ia kembali fokus ke jalanan yang sedikit lengang.
"Ada," Ucap Farhan dengan suara yang tercekat.
Kimmy mengernyitkan dahinya dan menatap Farhan dnegan seksama.
"Ada?" Tanya Kimmy, mengulangi ucapan Farhan.
Farhan mengangguk dengan pasti dan melirik wajah kecewa Kimmy.
"Aku tidak ingin berbohong, aku ada pacar. Kita baru saja berhubungan beberapa bulan, Ibunya orang Indonesia yang sudah menjadi warganegara Belanda," Terang Farhan.
Kimmy berusaha tersenyum, mendadak ia merasa bodoh karena ia belum mempertanyakan status asmara lelaki yang sedang bersama dengan dirinya.
__ADS_1