
"Hai sayang," Sapa Farhan saat Kimmy menemuinya di ruang tamu di kediaman orang tua Kimmy.
"Hai, akhirnya Abang datang. Aku pikir, Abang gak datang," Ucap Kimmy sambil duduk di depan Farhan.
"Datang dong, demi kekasih tercinta."
Kimmy tersenyum menanggapi ucapan Farhan yang terlihat sangat meyakinkan.
"Kamu sudah beristirahat? Capek gak? Kalau gak capek, kita keluar yuk," Ucap Farhan dengan mata yang berbinar.
"Hmmm..."
"Mau ya Kim, aku rindu berat loh..." Farhan memohon untuk meluluhkan hati Kimmy.
Kimmy tersenyum dan mengangguk.
Setelah meminta izin kepada kedua orang tua Kimmy, mereka pun jalan-jalan berdua mengelilingi Kota Jakarta. Sudah empat tahun lamanya Kimmy merindukan suasana malam di Kota kelahirannya itu. Kimmy memandang keluar jendela, sedangkan Farhan menggenggam tangan kanan Kimmy dengan erat sambil menyetir.
"Aku rindu kamu Kim, gimana kalau kita ke puncak?"
Kimmy menatap Farhan dan tersenyum.
"Semalam ini?" Tanya Kimmy tak percaya.
"Yah, menginap disana, di Villa Mama Ku, kamu masih ingat kan?" Tanya Farhan.
"Aku rasa next time kali ya Bang, soal nya kan aku baru tiba. Jadi, lumayan capek sih," Ucap Kimmy yang menolak ajakan Farhan secara halus.
Farhan sempat terlihat kecewa, ia sudah lama menginginkan malam yang romantis dengan Kimmy. Tetapi, gadis ini terlalu berprinsip. Bila tidak, ya tidak. Begitulah kira-kira.
"Maaf ya Bang, aku benar-benar bukan selalu membantah atau menolak semua yang abang katakan atau ajak. Hanya saja, bila aku tidak bisa, ya aku tidak mau menipu hatiku." Ucap Kimmy.
Farhan menghela nafasnya, lalu ia menepikan mobilnya di sisi kiri jalan. Ia menatap Kimmy dengan seksama dan lalu ia pun tersenyum kepada gadis itu.
"Tidak apa-apa, lain kali kan bisa," Ucap Farhan.
Kimmy tersenyum lebar, kini ia mampu bernafas lega. Karena, kekasihnya dapat mengerti dengan apa yang ia ucapkan.
"Kim, kamu mencintai aku gak?" Tanya Farhan sambil menggenggam kedua tangan Kimmy.
"Kalau gak cinta, masa bertahan selama empat tahun?" Tanya Kimmy.
"Cinta apa enggak?" Tanya Farhan lagi.
Kimmy menghela nafasnya, sebenarnya ia sangat tidak suka dengan pertanyaan ke kanak-kanakan dari Farhan.
"Cinta... memang kenapa?" Tanya Kimmy.
__ADS_1
"Kim, nikah yuk. Aku tidak mau kehilangan kamu Kim," Ucap Farhan.
Kimmy mengerutkan keningnya...
"Tapi Bang... aku kan sudah pernah bilang....."
"Kim, kalau gak mau punya anak, kamu bisa KB dan kamu tetap bisa berkarir Kim !"
Kimmy terdiam, ia benar-benar merasa masalah ini sudah selesai. Tetapi, mengapa Farhan membahasnya kembali.
"Aku akan melamar kamu dalam waktu dekat ini. Aku sudah sangat ingin menikahi kamu. Bagaimana pun, tolong... mengerti aku."
Kimmy masih terdiam, ia bingung akan mengatakan apa kepada Farhan yang terlihat sangat serius dengan dirinya.
"Biar aku bebas mengajak kamu kemana saja, biar kamu bisa tinggal bersama dengan ku. Tidur dan bangun disamping ku Kim..."
"Aku berjanji, aku tidak akan melarang kamu bekerja. Kamu bebas melakukan apa saja. Mau bisnis? Aku akan mendukung, mau bekerja di kantor atau pabrik? Aku mendukung. Mau kuliah lagi? Aku pun mendukung. Aku akan tetap nafkahi kamu, mencintai kamu seumur hidup ku. Kamu menunggu apa lagi? Dua tahun terlalu lama bagi aku yang sudah menunggumu selama empat tahun Kim !"
Kimmy masih terdiam membisu, apa yang dikatakan oleh Farhan memang benar. Lelaki itu sudah cukup lama dan sabar menunggu dirinya. Lelaki itu pun terbukti sangat mencintai dirinya dengan mematuhi segala keinginan Kimmy dan pula, lelaki itu sudah terbukti setia selama empat tahun menjalin hubungan asmara dengan dirinya.
"Bolehkah aku berpikir dulu Bang?" Tanya Kimmy.
"Pikir apa lagi sih Kim? Ok, begini saja, dalam waktu dekat, aku akan melamar mu. Kita bertunangan selama tiga bulan dan menikah enam bulan dari sekarang. Bagaimana?" Tanya Farhan yang terlihat sangat bersungguh-sungguh.
Kimmy mengigit bibirnya. Kini, ia merasa bimbang dengan prinsip nya sendiri.
"Bang, aku bicarakan dulu ya sama Papa dan Mama ku," Ucap Kimmy.
"Iya Kim, aku tunggu kabar baiknya ya... Aku sayang kamu," Ucap Farhan sambil mengusap pipi Kimmy.
..
Malam itu, Kimmy tidak bisa memejamkan kedua matanya. Ia merasa semua sangat terburu-buru. Entah karena Farhan yang memang takut akan kehilangan dirinya atau Farhan yang memang sudah siap untuk menikah. Kimmy beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju ke kamar mandi di kamarnya.
Kimmy menempati kamar bekas Mama Nia saat masih muda. Tidak banyak yang berubah dari kamar itu. Hanya beberapa perabotan seperti lemari pakaian dan sofa saja yang terlihat modern. Selebihnya, masih perabotan milik Mama Nia dahulu.
Kimmy mengambil wudhu dan menjalankan sholat isya yang tertunda. Setelah ia sholat, ia menceritakan kepada Tuhan tentang kegelisahan nya. Kimmy meminta petunjuk atas keputusan yang akan ia ambil untuk memulai masa depan yang baru bersama dengan Farhan.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menerima dirinya? Beri aku petunjuk-Mu Ya Allah... Bila dia yang terbaik, aku rela menikah dan mengabdi kepada dirinya. Namun, bila dia tidak yang terbaik bagiku, aku mohon.. beri petunjuk-Mu," Ucap Kimmy di dalam do'a nya.
Setelah selesai sholat dan berdo'a, Kimmy melipat sajadah dan mukenanya. Lalu, ia pun beranjak kembali ke ranjangnya. Kimmy merebahkan dirinya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.
Tok Tok Tok..!
Terdengar bunyi ketukan dari balik pintu kamar Kimmy. Kimmy pun beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu. Kimmy menatap Papa Bobby yang tersenyum kepada dirinya.
"Papa.. Kok belum tidur?" Tanya Kimmy.
__ADS_1
"Papa takut kamu belum pulang, jadi tadi selesai tadarusan Papa langsung kesini," Ucap Papa Bobby.
"Hmmm, Kimmy sudah pulang kok dari tadi, sudah sholat Isya juga," Ucap Kimmy.
"Hmmm.. bagus. Boleh Papa masuk?" Tanya Papa Bobby.
Kimmy tersenyum dan mengangguk dengan cepat. Lalu, ia dan Papa Bobby duduk di sofa kamar Kimmy. Lelaki yang kini sudah berusia 42 tahun itu menatap anak gadisnya itu dengan tatapan penuh kasih sayang. Sedangkan Kimmy terlihat salah tingkah karena ia merasa dirinya sudah dewasa dan sedangkan Papanya masih saja menatapnya sama dengan saat dirinya balita.
"Ada apa sih Pa?" Tanya Kimmy penasaran.
"Kemana tadi sama Farhan?" Tanya Papa Bobby.
"Hmmm, keliling Kota aja kok Pa."
"Oh..., Kamu gak ada niat mau bertemu dengan Athar Kim?" Tanya Papa Bobby.
"Besok Kimmy kerumahnya kok Pa, sekalian mau mengantarkan oleh-oleh untuk Bunda."
Papa Bobby menghela nafasnya, lalu ia tersenyum dan membelai rambut indah anak gadisnya itu.
"Athar ganteng loh sekarang, jangan kaget ya kalau ketemu dia," Ucap Papa Bobby.
"Oh ya? Seganteng apa?" Tanya Kimmy.
"Hmmmm... seganteng artis gitu," Ucap Papa Bobby sambil tersenyum.
"Bagiku yang paling ganteng itu hanya Papa dan Engkong."
Papa Bobby tersenyum geli mendengar ucapan Kimmy.
"Oh, iya.. kata Mama, Mama mau mengadakan acara syukuran untuk kelulusan kamu. Jadi, semua keluarga sahabatnya dan keluarga kita di undang."
"Kapan Pa?" Tanya Kimmy penasaran.
"Minggu depan. Kalau dalam waktu dekat ini belum bisa, Papa sama Mama masih terlalu capek. Maklum, sudah tua."
Kimmy tersenyum lebar dan menggenggam tangan Papa Bobby.
"Ya sudah, Papa istirahat ya," Ucap Kimmy.
Papa Bobby mengangguk dan mengusap puncak kepala Kimmy.
"Selamat tidur anak Papa."
"Selamat tidur Pa..." Sahut Kimmy.
Sebenarnya, itu adalah kesempatan terbaik untuk menceritakan niat Farhan untuk menikahi dirinya kepada Papa Bobby. Tetapi, entah mengapa Kimmy tak sanggup untuk mengatakan hal itu. Ia berencana, ia akan mengatakan itu pada esok hari, saat sarapan bersama dengan keluarganya.
__ADS_1