
Satu jam berlalu, terlihat pintu ruang operasi berbuka. Dokter senior yang baru saja menangani operasi Athar keluar dengan wajah yang lelah. Saat itu juga, keluarga Athar dan Keluarga Kimmy menyerbu Dokter itu.
"Bagaimana Dok anak saya?" Tanya Bunda Farah yang terlihat sangat khawatir.
Dokter itu terlihat menghela nafas panjang dari balik masker medis yang sedang ia kenakan.
"Alhamdulillah, Athar baik-baik saja. Dia sedang berjuang dengan masa kritisnya. Setelah ini ia harus masuk ke ruang ICU." Terang Dokter tersebut.
"Apa yang terjadi dengan anak saya Dok?" Tanya Ayah Andra.
"Athar mengalami patah tulang tangan dan kaki kirinya. Wajahnya sebelah kiri juga sepertinya harus di operasi plastik. Saya sedang membicarakan hal ini kepada Dokter bedah plastik. Untuk bagian kepala, ada trauma yang sedikit serius. Kita tidak tahu apakah Athar mengalami amnesia. Hal ini akan ketahuan saat Athar sadar nanti. Nah untuk organ dalam sendiri, tidak terjadi apa-apa. Semua baik, hanya saja tubuhnya penuh luka yang mungkin dalam satu bulan akan kembali normal, tentunya dengan perawatan yang rutin," Ucap Dokter itu.
"Athar !" Bunda Farah menangis, hingga nyaris saja terjatuh. Papa Bobby langsung memeluk Bunda Farah dengan erat. Semua terdiam, hanya suara tangis Bunda Farah saja yang terdengar hingga ke ujung lorong tersebut.
"Masalah kaki dan tangan nya apakah normal-normal saja Dok?" Tanya Ayah Andra.
"Normal kok Pak, kami sudah memasang pen di tungkai kaki kiri Athar. Sedangkan tangan nya hanya cukup diberikan gips. Untuk berjalan normal, nanti Insyaallah bisa. Tentunya dibantu dengan terapi yang rutin."
Ayah Andra menghela nafas panjang. Ia terduduk di bangku tunggu dengan genangan air mata yang membendung di pelupuk matanya.
"Tenang saja Pak, Athar adalah anak yang kuat. Tinggal sekarang kita berdo'a untuk kesembuhan Athar."
Ayah Andra mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Dokter tersebut.
....
Kimmy baru saja mendarat di Bandar udara Merzbrück yang berada di kota Aachen, Jerman. Kimmy mendarat tepat pukul tujuh pagi waktu setempat. Tujuh belas jam perjalanan dari Jakarta ke Kota tersebut, membuat Kimmy sedikit merasa lelah. Ia pun keluar dari Bandara tersebut dengan menumpangi sebuah taksi yang akan membawanya ke Flat yang sudah ia sewa melalui sebuah jasa online.
Satu jam perjalanan dari Bandar udara Merzbrück ke Flat yang sudah Kimmy sewa dan sudah Kimmy lunas kan biayanya tepat seminggu sebelum hari keberangkatan nya kemarin.
Kimmy disambut oleh seorang petugas penjaga gedung dengan ramah. Lalu, lelaki berusia enam puluh delapan tahun itu, mengantarkan Kimmy ke Flatnya yang berada di lantai tiga. Setelah ia memberitahukan semua peraturan dan biaya tambahan yang sudah menjadi kebijakan gedung tersebut kepada Kimmy. Lelaki bernama Baren tersebut pun meninggalkan Kimmy untuk beristirahat.
Flat sederhana dengan ukuran studio room, lengkap dengan kamar mandi dan dapur mini didalamnya terasa sangat nyaman bagi Kimmy. Tidak banyak orang yang beruntung dapat tinggal di Flat yang bersih dan terlihat nyaman seperti itu.
Kimmy membuka jendela kamarnya yang langsung menghadap jalan. Pepohonan yang sengaja di tanam untuk penghijauan tampak tumbuh dengan baik. Sinar matahari yang sudah terbit sejak pukul tiga dini hari pada musim panas ini, langsung menerobos masuk melalui jendela kamar Kimmy.
Musim panas di eropa, merupakan musim penghematan listrik. Disana, saat musim panas, matahari lebih lama tenggelam dibandingkan di Indonesia. Kimmy harus menyesuaikan waktu dan kebiasaan nya di Indonesia dengan Jerman. Saat musim panas seperti ini, di Jerman hanya mengalami malam selama kurang lebih lima jam saja. Matahari akan terbit pukul tiga dini hari dan tenggelam pukul sepuluh malam.
Kimmy meraih ponselnya, ia belum bisa menghubungi kedua orangtuanya. Kimmy harus mencari kartu telepon seluler lokal terlebih dahulu. Kimmy pun memutuskan untuk beristirahat untuk melepaskan penatnya.
Kimmy menatap langit-langit kamarnya, ia masih teringat tentang mimpinya. Athar, ya.. lelaki itu memintanya untuk datang.
__ADS_1
"Ada apa dengan Athar?" Gumam Kimmy.
Kimmy mencoba memejamkan kedua matanya. Tetapi, rasa kantuk nya pun hilang. Maka, Kimmy pun memutuskan untuk membilas tubuhnya terlebih dahulu.
...
Bunda Farah menatap Athar yang terbaring di ICU lewat kaca jendela. Alat bantu pernapasan, serta beberapa kabel yang terhubung ke Electrocardiogram, melekat di dada putra bungsunya itu.
Terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa menggema di lorong itu. Tante Rara, om Fathur, Farhan dan Tante Naya sekeluarga datang untuk memberikan kekuatan untuk Bunda Farah. Bunda Farah hanya bisa menangis tanpa mampu berkata-kata.
Dirinya sangat terpukul dengan keadaan Athar. Tetapi, ia tidak bisa menyalahkan siapapun. Hal ini terjadi karena memang kecerobohan Athar sendiri. Justru ia menyesali dirinya yang membiarkan Athar pergi dengan tergesa-gesa.
"Sabar ya Far," Ucap Tante Rara yang tampak sangat bersimpati dengan sahabatnya itu. Farhan menatap tubuh Athar dari balik jendela. Di pungkiri atau tidak, ia juga merasa sedih saat melihat lelaki muda itu terbaring disana.
"Gue yakin, Athar pasti kuat Far," Ucap Tante Naya.
"Terima kasih ya.." Ucap Bunda Farah kepada para sahabatnya.
Mereka saling berpelukan untuk memberikan kekuatan kepada Bunda Farah.
...
Dreetttt...! Dreettt...!
Ponsel Mama Nia berdering beberapa kali. Mama Nia yang sedang mendampingi Bunda Farah, bergegas meraih ponselnya dari dalam tasnya. Lalu, ia tersenyum saat mengetahui nomor asing tengah menghubungi dirinya. Ia tahu betul bila itu adalah Kimmy. Putri sulungnya itu pasti akan berkabar kepada dirinya.
Mama Nia menggeser logo Video Call di layar ponselnya.
"Assalamualaikum Mama.." Sapa Kimmy saat ia melihat wajah Mama Nia di layar ponselnya.
"Kimmy, kamu sudah sampai.. Bagaimana disana nak?" Tanya Mama Nia.
"Alhamdulillah baik Ma, Mama Apa kabar? Papa, Abian Juga?"
"Alhamdulillah baik, bagaimana Flat mu?"
"Nyaman kok Ma," Kimmy langsung memutar ponselnya dan memperlihatkan kondisi didalam Flat nya.
"Alhamdulillah, Mama senang sekali. Mulai sekarang kamu harus mandiri, jangan lupa sholat harus jalan terus. Baik-baik jaga diri sendiri, karena kamu jauh dari Mama," Nasihat Mama Nia.
"Iya Ma, Insyaallah Kimmy akan patuhi nasihat Mama. Eh, ngomong-ngomong Mama lagi dimana? kok kayak rumah sakit begitu? Mama Sakit?" Tanya Kimmy penasaran.
__ADS_1
Deggggg..!
Mama Nia terdiam, raut wajahnya pun berubah menjadi murung.
"Ma... ada apa?" Tanya Kimmy.
"Hmmm, Mama gak sakit kok Kim," Ucap Mama Nia.
"Terus, siapa yang sakit? Papa? Abian?" Tanya Kimmy yang semakin penasaran.
"Sebenarnya...."
Mama Nia melirik Bunda Farah yang berdiri terpaku di depan jendela ruang ICU.
Mama Nia menghela nafasnya, lalu ia menatap wajah cantik putri sulungnya itu.
"Ma..." Panggil Kimmy.
"Athar.... Athar yang sakit," Ucap Nia.
Deggggg..!
Jantung Kimmy berdegup kencang. Nafasnya tertahan persekian detik.
"Athar?"
"Iya Kim, Athar kecelakaan kemarin, saat dalam perjalanan menuju rumah kita Kim. Sekarang kondisinya masih kritis."
Kimmy terdiam, nafasnya sesak, pandangannya mulai nanar. Ternyata, itulah arti mimpinya saat ia berada didalam pesawat.
"Mama gak bercanda kan?" Tanya Kimmy.
Mama Nia beranjak dari duduknya. Lalu, ia memperlihatkan Athar yang sedang terbaring di ranjang pasien di ruang ICU itu dari balik jendela.
"Itu Athar Kim...."
Brakkkkkkkkkk..!
Ponsel Kimmy pun terlepas dari genggamannya.
"Athar !" Pekik Kimmy.
__ADS_1