
Pesawat yang ditumpangi Farhan mendarat di Bandar udara Soekarno-Hatta, di Cengkareng. Lelaki tampan, dengan tinggi 170 sentimeter itu terlihat keluar dari pintu kedatangan Internasional. Farhan yang memakai kaos dan jaket kulit, serta celana jeans dan kaca mata hitam pun melangkah menuju jejeran orang yang menjemput sanak saudaranya yang baru saja pulang dari luar Negeri.
Tante Rara merentangkan kedua tangannya saat Farhan mendekati dirinya.
"Anak Mama..." Ucap Tante Rara sambil memeluk Farhan dengan erat.
"Apa kabar Ma? Aku rindu," Ucap nya sambil membalas pelukan Tante Rara.
"Baik sayang, Mama juga rindu banget."
"Keadaan Papa bagaimana?" Tanya Farhan lagi.
"Papa sudah agak mendingan, ini Mama dari rumah sakit, langsung menjemput kamu."
"Di sana, Papa sama siapa?"
"Sama Tante Nia dan Tante Naya," Ucap Tante Rara.
"Oh, ya sudah, kita langsung saja ke rumah sakit ya Ma. Biar Farhan yang menyetir," Ucapnya.
Tante Rara tersenyum dan mengangguk dengan cepat.
...
"Nia, gue mendadak ada klien yang mau ketemu, lu gue tinggal gak apa-apa?" Tanya Tante Naya sambil meraih tas tangan nya yang tergeletak di atas meja.
Mama Nia menatap Tante Naya dengan seksama. Lalu, dengan ragu Mama Nia menoleh ke arah Om Fathur.
"Ya Nia, ini kasus penting, gue gak bisa gak tangani. Kasihan calon klien gue, jadi dia itu masih seusia anak gue, Vania. Dia ini dapat pelecehan seksual dari anak sahabat Ibunya. Keluarga tidak terima, anak ini mengalami stress gitu setelah kejadian itu. Nah, sedangkan pelaku masih aman-aman saja, dia cuma jadi tahanan kota. Masalahnya, hal itu sudah lama terjadi, si anak gak bisa membuktikan semuanya sebelum hasil visum keluar," Terang Tante Naya.
Mama Nia tercengang, ia merasa iba dengan calon klien Tante Naya.
"Ya sudah, cepetan sana. Kasihan, semoga berhasil ya," Ucap Mama Nia.
"Makasih ya Nia," Ucap Tante Naya sambil mengecup pipi Mama Nia. Lalu, ia berpamitan dengan Om Fathur yang masih terbaring lemah karena serangan jantung.
"Tur, gue cabut dulu ya. Cepetan sehat, jangan banyak pikiran, kami kangen bisa kongkow sama lu lagi," Ucap Tante Naya.
"Terima kasih ya Nay,"
Tante Naya tersenyum dan mengusap punggung tangan Om Fathur dengan lembut.
"Gue pergi dulu ya,"
__ADS_1
"Iya Nay."
Tante Naya beranjak dari ruangan itu dengan tergesa-gesa. Kini, di ruangan itu hanya Mama Nia dan Om Fathur saja. Mama nia meraih sebuah apel dan pisau dari ranjang buah. Lalu, ia mulai mencari kesibukan dengan mengupas buah apel itu.
Om Fathur menatap Mama Nia yang masih cantik dimatanya. Mama Nia yang awet muda, seperti tidak jauh berbeda dengan dengan Mama Nia waktu bertemu kembali dengan Om Fathur dua puluh tiga tahun yang lalu, saat Mama Nia baru saja pulang dari Inggris setelah menyelesaikan program pendidikan S2 nya.
"Nih," Ucap Mama Nia sambil menyodorkan sepotong buah apel kepada Om Fathur.
Dengan ragu, Om Fathur meraih potongan apel tersebut sambil menatap wajah Mama Nia yang tak memandang dirinya sama sekali.
"Makasih Nia," Ucap Om Fathur.
Mama Nia hanya tersenyum dan kembali mengupas buah apel untuk Om Fathur.
Ini adalah pertama kalinya mereka berdua di satu ruangan. Setelah Om Fathur tahu, cinta Mama Nia tidak memudar untuknya setelah sebelas tahun lamanya Mama Nia menyimpan perasaan kepada dirinya saat duduk di kelas satu SMA dan cinta itu harus rela Mama Nia lepaskan demi Tante Rara yang saat itu akan menikahi Om Fathur.
"Nia," Panggil Om Fathur.
Mama Nia mengangkat wajahnya dan menatap Om Fathur.
"Apaan.." Sahut Mama Nia sambil kembali mengupas apel yang ada di tangannya.
"Kenapa sih, sikap lu berubah sama gue?" Tanya Om Fathur.
Mama Nia terdiam, pisau ditangannya pun berhenti. Lalu, ia kembali menatap Om Fathur dengan seksama.
"Iya, lu berubah. Setelah lu pergi tanpa pamit ke Inggris dan begitu lu pulang, lu gak kayak dulu lagi sama gue Nia," Ucap Om Fathur.
Mama Nia tersenyum getir, lalu ia kembali mengupas apel itu.
"Kenapa sih Nia? Apa gue ada salah sama elu?" Tanya Om Fathur lagi.
Mama Nia menghela nafasnya dan menatap Om Fathur begitu dalam. Lalu, ia menyerahkan sepotong apel lagi kepada Om Fathur. Setelah itu, Mama Nia menaruh sisa potongan apel itu kedalam keranjang, lalu ia beranjak dari duduknya dan membilas tangannya di wastafel.
"Gue gak berubah kok Tur," Ucap Mama Nia sambil mengelap tangan nya yang basah pada selembar tisu.
"Terus? Kok lu gak kayak biasanya?"
Mama Nia kembali duduk di samping ranjang Om Fathur. Mama Nia menatap Om Fathur dengan tatapan yang lembut.
"Tidak ada yang bisa kembali seperti biasanya Tur... Karena, gue harus menjaga perasaan Rara dan suami gue," Ucap Mama Nia.
Om Fathur terdiam..
__ADS_1
"Maaf ya Nia, gue dulu...."
"Sudahlah, dulu ya dulu... sekarang ya sekarang. Gue sudah bahagia dan elu juga sudah bahagia dengan Rara."
"Tapi, ada yang mau gue sampaikan," Ucap Om Fathur.
"Apa?"
"Gue minta maaf dari hati gue yang paling dalam. Mungkin, gue gak pernah bilang sama elu. Gue menyesal telah mengabaikan elu dulu."
"Maksudnya?" Tanya Mama Nia yang terlihat terkejut dengan apa yang di ucapkan Om Fathur.
"Gue baru sadar, ternyata gue juga mencintai elu Nia. Rasa itu gue sadari saat pernikahan gue menginjak usia lima tahun. Saat itu, gue baru sadar, gue sama Rara, hanya terobsesi. Cinta gue ke dia hanya cinta obsesi. Gue sempat ingin menceraikan Rara, saat itu, tetapi... setelah gue tahu elu mau menikah dengan Bobby, gue urungkan niat gue untuk menceraikan Rara. Awalnya gue bahagia, tetapi......"
Cklek...!
Mama Nia dan Om Fathur sama-sama menoleh ke arah pintu ruangan itu. Terlihat Tante Rara dan Farhan memasuki ruangan itu.
"Loh, Naya nya mana?" Tanya Tante Rara.
"Dia ada urusan mendadak Ra. Hmmmm Ra, gue kayaknya juga mau ke restoran laki gue, gue tinggal dulu ya," Ucap Mama Nia sambil menyambar tasnya dengan terburu-buru.
"Loh, kok buru-buru banget Nia?"
"Pelanggan lagi banyak. Lagian, ini akhir bulan. Nyonya mau ngecek keuangan," Seloroh Mama Nia sambil tersenyum lebar.
"Oh.... baik lah nyonya, terima kasih sudah nungguin laki gue," Ucap Tante Rara.
Mama Nia mengangguk dan tersenyum. Lalu, ia menyapa Farhan yang langsung menyalami Mama Nia. Setelah itu, Mama Nia pun pergi meninggalkan keluarga itu.
...
Mama Nia termenung di dalam mobilnya yang terparkir di parkiran rumah sakit itu. Mama Nia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Pengakuan Om Fathur sangat menggangu hatinya. Mengapa Om Fathur tega mengatakan hal itu kepada dirinya. Padahal, sudah menjalankan pernikahan selama dua puluh delapan tahun dengan Tante Rara. Apakah semua lelaki sama? Dengan gampangnya mengubah haluan.
Mama Nia mengusap wajahnya dengan gelisah. Lalu, ia membuka laci yang ada didalam mobilnya dan meraih selembar foto persahabatan dirinya dengan kelima sahabatnya saat memakai seragam putih abu-abu. Lalu, ia tersenyum getir.
"Tur, sebelas tahun gue menyimpan rasa, tapi lu gak mau menyadari. Setelah puluhan tahun, lu mengatakan rasa itu ke gue? Maaf Fathur, gue gak akan tergoda. Cinta gue sama lu sudah selesai. Gue gak akan pernah tergoda dengan siapa pun, karena suami gue begitu sempurna. Gue yang rugi bila harus melepaskan malaikat seperti Bobby," Gumam Mama Nia.
Lalu, wanita paruh baya itu menyalakan mobilnya dan mengendarai mobil itu menuju restoran Papa Bobby. Ia ingin bertemu dengan Papa Bobby dan memeluk lelaki yang mencintai dirinya dengan tulus.
Cinta Papa Bobby sudah terbukti, ratusan wanita mendekati dirinya. Tetapi, dengan bangga Papa Bobby menggandeng Mama Nia dan memperkenalkan Mama Nia dengan para wanita yang mengejar dirinya.
Tidak ada perselingkuhan, tidak ada penghianatan dalam bentuk apa pun.
__ADS_1
Papa Bobby begitu mengagumi kisah cinta Engkong Mamat dan Nyai Romlah. Sesuatu yang dipertahankan dengan baik, akan berakhir dengan kisah yang baik. Bagitulah...
Mungkin, tidak ada cinta sejati bagi orang-orang yang tidak puas dengan hubungan yang sedang ia jalani. Cinta sejati, hanya akan dihadiahkan untuk orang-orang yang merasa beruntung memiliki pasangannya. Untuk orang-orang yang mau lebih baik dengan bersama. Untuk orang-orang yang berniat, bahagia di dunia dan Akhirat.