
Lantunan musik rock memenuhi ruang kamar Athar. Kini, Athar sedang menikmati kesendiriannya. Mamet sudah berangkat ke Yogyakarta, Mamet diterima di Universitas terbaik di daerah istimewa itu.
Athar termenung di meja belajarnya. Di jarinya, terselip sebuah pulpen, sedangkan di hadapannya terdapat selembar kertas yang masih terlihat kosong, tanpa goresan sama sekali. Entah apa yang ada dipikirannya. Ia hanya termenung tanpa melakukan apa-apa.
Tok Tok Tok !
Terdengar bunyi ketukan yang nyaris tidak terdengar karena bersaing dengan bisingnya lantunan musik rock yang sedang Athar putar di tape nya. Athar menoleh ke arah pintu kamarnya dan melihat sang Bunda yang baru saja membuka pintu kamarnya. Lalu, Athar tersenyum dan beranjak mengecilkan tape nya.
"Ya Bun?" Tanya Athar sambil menghampiri Bunda Farah.
Bunda Farah melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang Athar.
"Kamu sedang apa?" Tanya Bunda Farah.
"Gak ada, lagi mencari kost-kostan aja di daerah Depok," Ucap Athar sambil memperlihatkan ponselnya yang baru saja ia raih dari atas meja belajarnya.
Bunda Farah tersenyum dan menepuk tepian ranjang, tanda ia meminta Athar untuk duduk disampingnya.
Athar pun beranjak duduk tepat di samping Bundanya dan menatap wajah Bunda Farah yang terlihat sangat serius.
"Kamu kenapa sih sama Kimmy? Bunda perhatikan, selama satu tahun ini, Kimmy tidak pernah mampir kerumah kita lagi," Tanya Bunda Farah.
Athar tersenyum getir, lalu ia menundukkan wajahnya.
"Jujur sama Bunda, kalian ada apa?" Tanya Bunda Farah.
"Dia menjauh Bun," Ucap Athar.
"Menjauh?" Tanya Bunda Farah dengan wajah yang tampak terkejut.
Athar hanya mengangguk dan kembali menatap Bunda Farah.
"Alasannya?" Tanya Bunda Farah yang tampak sangat penasaran.
Athar terdiam sejenak, lalu ia kembali tersenyum getir sambil beranjak dari duduknya. Lalu, ia menarik kursi meja belajarnya dan duduk menghadap Bunda Farah.
"Alasannya, karena aku ingin dia menjadi pacarku," Ucap Athar sambil menundukkan kepalanya.
Bunda Farah terdiam, ia menghela nafasnya dengan berat. Lalu, ia menyentuh pundak putranya itu.
__ADS_1
"Tapi, ya sudahlah Bun. Athar juga gak bisa memaksakan perasaan orang lain untuk mencintai Athar. Mungkin, Athar saja yang salah menaruh perasaan kepada Kimmy. Sedangkan dirinya......"
"Kenapa Kimmy?" Cecar Bunda Farah.
"Kimmy mencintai Farhan Bun, tampaknya mereka sudah berpacaran."
Bunda Farah tampak kecewa. Di pungkiri atau tidak, ia sangat menginginkan Kimmy menjadi pendamping hidup Athar kelak. Selain ia sangat mengenal Kimmy dan keluarganya, ia juga merasa sangat menyayangkan bila Kimmy jatuh di tangan keluarga lain. Karena selain cantik, Kimmy adalah anak yang cerdas dan tahu sopan santun. Berbeda sekali dengan beberapa teman wanita Athar yang terlihat manja menggoda anak laki-lakinya itu.
Bagi orang Jawa, pentingnya bibit bebet dan bobot ada benarnya. Agar pendamping anaknya kelak, akan melahirkan cucu-cucu yang cerdas dan baik secara sikap dan Agamanya. Bunda Farah kembali menghela nafasnya dan menatap wajah Athar yang terlihat murung.
"Jadi, dia sudah berpacaran dengan Farhan?" Tanya Bunda Farah.
Athar hanya mengangguk sambil menyelipkan senyuman lukanya.
"Sudahlah Bun, tidak usah ditanya bahas tentang Kimmy. Athar mau fokus kuliah dulu dan menyelesaikannya tepat waktu. Lalu, Athar akan bekerja dan membuat bangga Bunda," Ucap Athar sambil memeluk Bundanya.
Dengan hati yang luka, Bunda Farah membalas pelukan Athar. Bunda Farah paham betul perasaan hancur yang di alami Athar, karena cinta pertamanya tidak seindah cinta pertama pada umumnya. Tidak hanya Athar, Bunda Farah pun merasakan patah hati. Ia patah hati saat mendengar Kimmy lebih memilih anak sahabatnya, yaitu Rara.
"Ya sudah, kamu istirahat. Bunda mau bersiap-siap untuk mendampingi Ayah di acara kantornya," Ucap Bunda Farah sambil beranjak dari duduknya.
"Bunda,"
"Terima kasih sudah bertanya," Ucap Athar dengan mata yang memerah.
Bunda Farah menyentuh pipi Athar dengan lembut. Lalu, ia mengecup puncak kepala bayinya yang sudah tidak bayi lagi.
"Oh iya, kamu berarti belum tahu bila Kimmy akan berangkat ke Jerman hari ini?" Tanya Bunda Farah.
Athar terbelalak dan menatap Bundanya dengan tatapan yang tak percaya.
"Berangkat ke Jerman?" Tanya Athar.
Bunda Farah merapatkan bibirnya dan mulai menyadari bila Athar tidak tahu sama sekali, bila Kimmy hari ini akan berangkat ke Jerman.
"Bunda tidak bercanda kan?" Tanya Athar.
Bunda Farah menggelengkan kepalanya. Lalu, ia beranjak keluar dari kamar Athar.
Saat itu juga, Athar menyambar jaketnya dan kunci sepeda motornya. Lalu, ia berlari menuju halaman rumah. Athar langsung bergegas memakai jaketnya dan lalu menyalakan sepeda motornya dan tanpa membuang waktu, Athar pun menjalankan sepeda motornya menuju rumah Kimmy.
__ADS_1
Panas matahari membuat peluh mengalir dari dahi Athar yang terlindungi helm. Berapa kali, Athar menyeka peluhnya. Athar memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Yang ada di pikirannya, ia hanya ingin segera bertemu dengan Kimmy, sebelum gadis itu pergi untuk berkuliah beberapa tahun di Jerman.
Sebenarnya ada yang ingin Athar katakan kepada Kimmy. Bila, dirinya akan terus mencinta dan Kimmy bebas datang kapan saja kepada dirinya, bila Kimmy sedang membutuhkan dirinya. Hanya itu, hanya itu yang ingin Athar sampaikan kepada cinta pertamanya.
Athar menambah kecepatan sepeda motornya saat lampu merah akan segera menyala persekian detik lagi, tanpa memikirkan jarak. Saat beberapa meter lagi, melewati lampu merah, tiba-tiba saja lampu merah menyala. Hal itu membuat mobil yang berada di depan Athar mengerem mendadak.
Athar terlihat grogi saat mobil itu mendadak berhenti dan kecelakaan pun tidak dapat dihindari.
Brakkkkkkkkkk.....!
Tubuh Athar terpental kedepan, melewati badan mobil yang ia tabrak dan terpelanting beberapa meter di depan mobil tersebut.
Bugg....!
Tubuh Athar menabrak aspal yang panas karena sinar matahari yang begitu menyengat. Pipinya melekat di Aspal, tangannya terlipat dan kakinya tidak bisa digerakkan. Tatapan Athar nanar, paru-parunya terasa tidak berfungsi saat ia mencoba menghirup udara, untuk melepaskan sesak di dada.
"Kimmy," Panggilannya.
"Kimmy, tunggu gue akan datang," Ucap Athar.
Lalu, suara itu menghilang, pandangannya pun mulai buram dan gelap. Athar tak sadarkan diri.
Beberapa orang, termasuk pemilik mobil yang Athar tabrak, datang menghampiri Athar yang sudah tak berdaya. Seorang Ibu yang dibonceng suaminya dengan sepeda motor, berteriak histeris saat melihat darah Athar mulai mengalir membanjiri sekitar kepala Athar.
Beberapa dari mereka pun sibuk menghubungi ambulance dan beberapa orang lagi, berinisiatif untuk mengatur lalu lintas saat lampu hijau mulai menyala.
Athar tidak lagi mendengar suara, bagaikan di awang-awang, Athar merasa sedang melayang. Rasa sakit sudah tidak ia rasakan lagi. Semua gelap dan terombang-ambing seperti sedang berada dilautan lepas.
Beberapa menit kemudian ambulance datang, semua orang menyingkir dan menatap lelaki muda yang sedang tidak sadarkan diri itu.
"Kasihan, masih muda. Masih hidup atau sudah meninggal?" Tanya seorang Ibu yang merasa simpati, karena memiliki anak seusia Athar.
"Masih Bu, itu di berikan oxygen sama petugas medis," Ucap Seorang Bapak yang baru saja membantu petugas medis untuk memindahkan tubuh Athar ke atas tandu.
"Tapi tangan sama kakinya patah itu ya, Kepalanya juga banyak mengeluarkan darah. Mungkin, tidak bakal selamat," Ucap Ibu tadi.
Bapak itu hanya menghela nafas dan berdo'a didalam hatinya. "Semoga anak muda itu, diberikan kesempatan dan kesehatan untuk kembali meraih mimpi dan cita-citanya."
Bunyi sirine Ambulance mulai memekakkan telinga, Ambulance itu mulai beranjak menuju rumah sakit terdekat. Untuk memberikan pertolongan terbaik untuk Athar.
__ADS_1