
Enam bulan berlalu...
Musim panas kembali dimulai, sudah satu tahun Kimmy tinggal di Negeri Panzer ini. Hari ini, hari ulang tahun Kimmy, yang juga menjadi hari ulang tahun Athar.
Kimmy dengan gelisah menatap ponselnya saat ia sedang di kampus. Hari ini, Farhan berjanji bila dirinya akan datang sebelum ia berangkat ke Indonesia. Tetapi, kabar itu belum kunjung Kimmy dapatkan.
Kimmy membuka histori chat dari Farhan, lelaki itu tampak online beberapa menit yang lalu. Tetapi, tak kunjung menyapa Kimmy.
Kimmy meneguk kopi yang ia beli di coffe shop sekitar kampusnya sebelum ia ke kampus. Lalu, ia menatap pepohonan yang daunnya mulai menghijau.
"Kok gak ada kabar sih?" Keluh Kimmy sambil beranjak dari duduknya.
Dreeettt...! Dreeettt...!
Baru saja Kimmy beranjak dan bergegas masuk kedalam kampus, ponselnya pun berbunyi.
Kimmy menghentikan langkahnya dan membaca pesan tersebut.
"Maaf sayang, aku tidak bisa ke Jerman. Aku langsung pulang ke Indonesia karena ada sesuatu yang mendesak. Papa sakit, jadi aku harus langsung memegang perusahaan. Aku harap kamu dapat mengerti. Aku mencintaimu.. dan selamat ulang tahun sayang."
Kimmy mengerutkan dagunya, ada perasaan kecewa yang hinggap di benaknya. Tetapi, ia tidak mungkin marah dengan Farhan. Karena, ini menyangkut kesehatan Om Fathur, Papanya Farhan.
"Hai, terima kasih ucapannya. Iya, gak apa-apa. Kapan Abang berangkat ke Indonesia?"
Balas Kimmy.
"Malam ini aku berangkat ke Indonesia. Terima kasih atas pengertiannya ya sayang."
"Hati-hati dijalan ya, salam buat Om Fathur dan Tante Rara."
"Baik sayang, kamu juga jaga diri disana. Aku janji, aku akan memilih waktu untuk segera menemui mu."
__ADS_1
Balas Farhan.
Kimmy tersenyum dan kembali membalas pesan Farhan.
"Aku menunggumu."
Lalu, ia beranjak masuk kedalam kampusnya.
....
Athar berdiri di depan cermin di dalam kamarnya. Ya, sejak dua bulan yang lalu, Athar sudah kembali ke Indonesia. Ia
sudah dapat berjalan. Tetapi, masih sedikit kurang sempurna. Menurut Dokter, Athar harus rajin-rajin terapi jalan, agar dirinya semakin lancar berjalan, layaknya orang normal yang lainnya.
Hari ini, Athar kembali mendaftarkan dirinya untuk kuliah, setelah satu tahun harus tertunda. Hari ini, Athar sudah siap untuk meraih lagi masa depannya yang harus tertahan karena keadaan yang tidak bisa ia hindari.
Athar sudah tampak rapi untuk mengurus segala sesuatu yang dibutuhkan untuk ia bawa ke calon kampusnya.
"Aturannya, gue sudah semester tiga sekarang," Gumam Athar sambil menatap dirinya sekali lagi di depan cermin.
Athar yang sudah rapi, kembali masuk kedalam kamar mandi. Ia meraih pisau cukur dan membalurkan foam lembut ke sekitar bibirnya. Lalu, Athar mulai bercukur agar wajahnya terlihat lebih bersih.
Kini, wajah tampan itu terlihat lebih menarik. Athar membilas wajahnya dan menggapai handuk yang tersangkut di sebelah wastafel. Ia mengeringkan wajahnya dan tersenyum di depan cermin.
"Ganteng banget sih lu Thar?" Ucap nya kepada diri sendiri.
Begitulah Athar, dirinya tidak pernah kecil hati dengan keadaan. Ia selalu optimis dengan hidupnya. Bahkan, saat dirinya duduk di kursi roda pun ia tidak pernah pesimis. Ia selalu menganggap, itu semua karena Tuhan sedang mencintai dirinya. Diberi kesempatan hidup sekali lagi, adalah anugerah yang tak terkira. Ia bisa menikmati dunia ini dan menghabiskan waktu untuk orang-orang yang tercinta.
Selain sikap optimis nya, Athar juga bersyukur, karena keluarganya lah yang mampu membuat dirinya tetap optimis. Perhatian dan do'a daei kedua orang tua dan kakaknya adalah dukungan yang luar biasa bagi dirinya. Maka, Athar tidak ingin bermanja-manja. Ia bertekad untuk dapat sembuh secepatnya. Seperti saat ini, kakinya masih sedikit terlihat cacat. Namun ia tidak peduli. Ia harus tetap bangkit dan menggapai cita-cita. Athar tahu, dirinya akan menjadi pusat perhatian di kampus. Atau bahkan ada kemungkinan di bully oleh beberapa orang disana. Namun itu semua tidak masalah bagi Athar. Omongan orang kelak, tidak akan mampu menumbangkan cita-citanya.
Athar bersiap untuk menemui Bunda Farah yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya.
__ADS_1
"Eh, anak ganteng Bunda. Makan dulu sayang," Ucap Bunda Farah saat melihat anak laki-laki satu-satunya datang menghampiri dirinya.
Athar langsung mendekati Bunda Farah dan memeluk wanita yang telah melahirkannya itu. Kini, kebiasaan baru Athar lakukan setelah dirinya kecelakaan. Yaitu, memeluk Bundanya setiap pagi dan mengucapkan terima kasih dan betapa ia bersyukur memiliki Bunda Farah.
Hampir setiap pagi juga, Bunda Farah menahan tangis haru. Sejak kecelakaan terjadi, ternyata ada makna dibalik semuanya. Athar menjadi lebih dekat dengan Bunda Farah. Hubungan antara Ibu dan anak itu semakin romantis. Peluk dan cium, ucapan terima kasih dan syukur, tidak pernah absen sejak Athar siuman dari komanya.
Setelah sarapan bersama, Bunda Farah mengantarkan Athar yang belum bisa menyetir mobil atau motor sendirian. Ia masih sangat tergantung dengan Bunda Farah. Meskipun begitu, Bunda Farah sangat menikmati itu semua. Sudah lama Athar tidak pernah ia antar dan jemput. Terakhir kali ia menjemput dan mengantar athar, saat Athar masih duduk di bangku kelas dua SMP. Sudah lama sekali memang, tetapi kini Tuhan memberikan kesempatan itu lagi untuk Bunda Farah yang mulai rindu dengan kegiatan mengantar dan menjemput anak ke sekolah.
Bunda Farah menghentikan mobilnya di depan kampus Athar. Lalu, ia menatap Athar yang terlihat begitu bersemangat.
"Nak, raih mimpi mu yang tertunda," Ucap Bunda Farah sambil mengusap lembut pipi Athar.
"Pasti Bunda," Ucap Athar sambil tersenyum.
Bunda Farah tersenyum, ia menahan haru nya. Ia menatap Athar yang beranjak turun dari mobil dan melambaikan tangan kepadanya. Dimata Bunda Farah, terbayang saat Athar masih kecil. Lambaian tangan mungil itu berganti menjadi lambaian tangan pemuda tampan yang sangat baik.
Bunda Athar menahan air matanya. Tetapi, akhirnya air mata itu terjatuh juga di tebing pipinya, saat melihat Athar yang belum bisa berjalan dengan sempurna. Satu hal yang ia khawatirkan, Athar tidak akan bisa lagi berjalan sempurna. Hal itu yang membuat dirinya terus menangis saat melihat Athar berjalan. Walaupun, Dokter mengatakan Athar dapat kembali normal, tetapi sebagai orang tua, ia tetap merasa khawatir.
Ibu mana yang mampu melihat anak nya yang sempurna, kini berjalan dengan kaki yang kurang sempurna?
Tidak ada !
Athar kembali menoleh kebelakang, Bunda Farah buru-buru mengusap air matanya dan tersenyum kepada Athar.
Pemuda tampan itu membalas senyuman Bunda Farah dengan wajah yang bagaikan malaikat.
Walaupun kehidupan begitu kejam dengan Bunda Farah, tetapi Allah tidak pernah kejam kepadanya. Allah menitipkan anak-anak yang berhati malaikat untuk nya.
Sering kali, kita menganggap Tuhan tidak adil. Nyatanya, nikmatnya begitu berlimpah untuk kita semua.
Karena anak yang sholeh dan soleha, berbudi pekerti yang baik, jujur dan santun dengan orang tua, itu adalah nikmat yang sesungguhnya.
__ADS_1
Sering kali kita mengatakan anak adalah anugerah, nyatanya anak adalah termasuk cobaan didalam hidup. Bila kita tidak mendapatkan cobaan itu, bersyukurlah..
Karena hanya anak yang mampu membuat hati kita, sebagai orang tua, menjadi susah ataupun senang.