Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
30# Kamu pasti bisa Athar !


__ADS_3

"Happy Birthday Kimmy !" Seru Mama Nia, Papa Bobby dan Abian saat mereka berada diruang makan untuk sarapan bersama.


Senyum manis membingkai di wajah Kimmy. Delapan belas tahun sudah usianya. Usia yang sudah bisa dibilang dewasa. Gadis mungil yang kerap merengek untuk sesuatu yang ia minta, kini tumbuh menjadi seorang wanita muda yang sangat cantik.


Selain umur yang bertambah, kedewasaan yang bertambah, gerbang Universitas pun akan terbuka untuk Kimmy.


Hari ini juga, Kimmy mendapatkan email, bahwa dirinya diterima di Universitas incaran nya di Jerman. Rasa bahagia berlipat ganda saat Kimmy memberitahukan kepada seluruh anggota keluarganya.


"Jadi, kapan kaku akan berangkat?" Tanya Mama Nia.


"Setelah terima ijazah lah Ma,"


"Kenapa terburu-buru?" Tanya Mama Nia.


"Ah, Mama kayak gak pernah kuliah di luar Negeri aja. Disana kan, kita harus mempersiapkan tempat tinggal dan lain-lain Ma," Ucap Kimmy.


"Oh iya, Mama sampai lupa," Ucap Mama Nia sambil tersenyum.


"Kamu mau hadiah apa?" Tanya Papa Bobby.


"Hadiah? Hmmmm... Sewain Flat aja yang murah di Jerman ya.." Ucap Kimmy.


"Itu mah bukan hadiah, tapi memang tanggung jawab Papa," Ucap Bobby yang disambut tawa oleh Kimmy.


"Aku.... aku butuh apa ya?" Ucap Kimmy sambil berpikir.


"Sudah, nanti belanja yang banyak untuk kebutuhan di Jerman, baju-baju, mantel dan lain-lain. Disana ada musim salju, jadi, kamu harus stock mantel yang banyak. Biar gak sakit," Ucap Mama Nia.


"Ok lah kalau begitu," Sahut Kimmy.


Seperti biasa, kebiasaan di keluarga Kimmy tidak jauh berbeda dengan keluarga Athar. Papa Bobby memanjatkan do'a dan diaminkan oleh seluruh anggota keluarga.

__ADS_1


Didikan itu sudah jadi turun menurun daei keluarga Mama Nia. Yang membuat Papa Bobby juga terbiasa saat ia memulai hidup dengan Mama Nia dan mertuanya, Engkong Mamat dan Nyai Romlah.


Sedangkan Didikan yang Athar dapat, itu adalah kebiasaan turun menurun dari keluarga Ayah Andra.


Sedikit cerita, keluarga Papa Bobby dan Bunda Farah, bukanlah keluarga yang taat. itu semua karena didikan dari Kakek Papa Bobby yang merupakan kewarganegaraan Jerman. Didikan kebarat-baratan sudah mendarah daging bagi Bunda Farah dan Papa Bobby. Hanya saja, mereka bertemu dengan orang yang tepat, sehingga mereka bisa merubah gaya hidup mereka menjadi lebih taat dan baik.


Setelah selesai sarapan, Kimmy bergegas membantu Mama Nia untuk membereskan meja makan. Hal itu disempatkan oleh Kimmy, karena ia cukup tahu diri, kalau Mama Nia tidak ada yang membantu di rumah.


Sikap mandiri dan tolong menolong juga diterapkan dirumah itu. Semua orang mempunyai tugas untuk membantu Mama Nia, termasuk Abian. Walaupun Abian anak laki-laki, ia juga diwajibkan untuk mencuci piring dan melakukan tugas 'yang katanya' itu tugas wanita. Disini tidak ada tugas Pria ataupun Wanita. Semua harus bisa mengerjakan apapun.


Mama Nia pernah berkata,


"Kalian harus bisa bertanggung jawab dengan diri sendiri. Harus bisa mandiri dan mengerjakan apa saja tanpa melihat itu tugas siapa dan bagaimana. Karena bila orang tua kalian meninggal dunia, kalian harus bisa hidup menjadi manusia yang dapat diterima oleh lingkungan baru kalian. Atau, menjadi orang yang bertanggung jawab atas diri sendiri. Tidak ada orang yang mau menerima seorang pemalas dan orang yang tidak bisa mengerjakan hal yang sederhana. Semua berawal dari rumah, hingga kebiasaan itu dapat dibawa keluar dari rumah."


Mama Nia orang yang sangat tegas dalam mendidik anak-anak nya. Sama dengan dirinya dahulu. Walaupun anak satu-satunya, Mama Nia tumbuh menjadi anak yang tidak manja.


...


Hari ulang tahun kali ini sangat berbeda, orang yang dulu saling bahagia saat mengucapkan 'selamat ulang tahun', kini seperti asing bagi mereka masing-masing.


Tidak ada kata selamat, tidak ada senyum bahagia. Semua menjadi murung dan tidak biasa.


Mamet mencolek lengan Athar saat Athar menaruh helm nya di atas stang sepeda motornya.


"Thar, Kimmy kan juga ulang tahun, lu kagak ngucapin selamat?" Tanya Mamet.


"Lu aja, gue gak," Ucap Athar sambil merapikan rambutnya yang lepek karena helm.


"Gitu amat lu Thar," Ucap Mamet sambil menatap Kimmy yang sedang beranjak masuk kedalam gedung sekolah.


"Biarin, dia aja cuek sama gue. Masa gue sok akrab?" Tanya Athar.

__ADS_1


"Ya gak gitu kali Thar, duh... lagian masalah cinta doang, lu berdua jadi orang asing begini," Ucap Mamet.


"Berisik lu ah, kaga gue traktir mie ayam nih !" Ucap Athar.


"Eh, iya... gue diem deh !" Ucap Mamet sambil merapatkan bibirnya.


"Nah... gitu dong.." Ucap Athar sambil tersenyum dan merangkul Mamet dan mereka pun berjalan memasuki gedung sekolah mereka.


Bell tanda jam pelajaran akan dimulai pun berbunyi. Athar dan Mamet, memasuki kelas mereka. Sedangkan Kimmy, sudah sejak tadi berada didalam kelas. Ini adalah hari terakhir mereka berjuang untuk dapat meninggalkan seragam putih abu-abu mereka.


Segala upaya, mereka lakukan untuk menghasilkan nilai terbaik. Semua tampak sangat serius dalam mengerjakan soal-soal ujian yang kini sudah berada di meja mereka. Tiga tahun di SMK, harus mereka buktikan, bila mereka layak untuk lulus.


...


Dua jam berlalu, ujian pertama sudah selesai. Mereka diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak, sebelum ujian terkahir yang akan di laksanakan satu jam lagi.


Athar duduk di kantin bersama Mamet. Sedangkan Kimmy duduk bersama dengan teman-teman sekelasnya. Dari kejauhan, Athar hanya bisa memandangi tawa yang terukir di wajah Kimmy. Tawa yang sangat ia rindukan.


Ingin sekali Athar menghampiri Kimmy. Tetapi, gadis itu masih tidak ingin berbicara dengan dirinya. Athar pun mengalah, ia tidak ingin memaksakan kehendaknya terhadap Kimmy.


Ia ingin membuat Kimmy merasa nyaman dengan keputusan gadis itu yang lebih memilih menjauh dari dirinya. Ia tidak ingin menggenggam Kimmy, agar Kimmy tidak menghilang dari kehidupannya.


Melihat Kimmy dari kejauhan saja sudah membuat Athar bahagia. Melihat senyuman gadis itu, sudah membuat semangat Athar bertambah. Apapun itu, tentang Kimmy selalu membuat dirinya lebih bersemangat. Hanya cukup begitu saja, tanpa harus berlebihan.


Apa yang dikatakan Ayah Andra pada malam itu, terus tertanam di otak Athar. Bahwa, ia harus bisa menjadi orang yang sukses. Orang yang baik dan orang yang pantas untuk mengejar cintanya.


Yaitu... Mengejar Cinta Kimmy.


Athar yakin, suatu saat, ia akan datang kepada Kimmy, tanpa mampu membuat gadis itu menolak keberadaannya.


"Kamu pasti bisa Athar !" Serunya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2