Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
58# Permintaan putus


__ADS_3

"Ma.... Pa.... Kimmy berangkat dulu ya, do'akan Kimmy di terima di perusahaan itu ya," Ucap Kimmy. Ia memeluk dan mencium punggung tangan kedua orangtuanya.


"Aamiin..." Ucap Mama Nia dan Papa Bobby. Mereka menatap Kimmy dengan tatapan haru.


Buah cinta pertama mereka sudah dewasa dan akan wawancara kerja pertamanya. Ada rasa haru yang luar biasa di hati orang tua Kimmy.


"Kamu hati-hati ya Kim, jangan mengebut. Jangan lupa nanti waktu turun dari mobil, rapikan rambutnya. Jangan lupa bawa sisir kecil dan kaca di dompetmu. Belajar rapi mulai sekarang, sini Mama tambahkan lipstik biar gak terlalu pucat bibirnya, ini juga pipi nya kudu harus di kasih blush-on tipis biar ada rona nya sedikit."


"Duh Mama....." Keluh Kimmy.


"Sudah, menurut saja sama Mama, sini sedikit, mana bibirnya..." Ucap Mama Nia sambil membuka tutup lipstik miliknya.


"Ini ketuaan Ma warnanya.." Keluh Kimmy.


"Ih, di oles tipis kan bisa.."


"Gak mau ah Ma, nanti aja Kimmy mampir ke toko kosmetik buat beli yang sesuai dengan warna yang cocok untuk Kimmy yang masih usia dua puluh tiga tahun," Ucap Kimmy.


"Ih, ini anak... Kalau tipis kan warna nya gak begitu menyala Kim.."


"Gak mau..."


"Ya sudah lipgloss aja, Mama perasaan punya lipgloss deh, mana ya..." Mama Nia kembali ke kamarnya dan mencari lipgloss yang ia cari.


"Duh Pa, Mama bawel banget ih," Keluh Kimmy.


Papa Bobby yang dari tadi memperhatikan anak dan istrinya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudah ah, Kimmy berangkat dulu," Ucap Kimmy sambil beranjak menuju ke pintu depan.


"Kim, turuti apa kata Mama mu, kalau kamu tidak suka, kamu bisa menghapusnya nanti di dalam mobil. Hormati apa yang dia inginkan, itu hanya sebagai bentuk rasa bahagia dia karena kamu mau wawancara kerja," Ucap Papa Bobby.


Kimmy berhenti melangkah, ia terdiam.


"Nah, ini ada lipgloss nya sama blush-on yang warna peach. Cocok untuk kulit kamu Kim.." Ucap Mama Nia sambil berjalan menghampiri Kimmy.


Kimmy menatap Mama nya dengan seksama saat menyapukan lipgloss dan blush-on diwajahnya. Ia melihat betapa bersemangat nya Mama Nia saat itu.


Apa yang dikatakan Papa Bobby benar, terkadang ada hal yang tidak kita sukai dari pendapat orang tua kita. Tetapi, apa salahnya menghormatinya hanya membuat orang tua kita merasa senang. Toh, apa yang orang tua katakan terkadang walaupun menurut kita tidak baik, ternyata itu adalah yang terbaik untuk kita.

__ADS_1


"Terima kasih Mama," Ucap Kimmy sambil menatap wajah Mama nia dengan genangan air mata haru.


Mama Nia terpana saat melihat genangan air mata penyesalan Kimmy karena sempat menentang Mama Nia.


"Mama pernah bekerja nak, penampilan termasuk penilaian saat wawancara kerja. Walaupun skill itu yang utama," Ucap Mama Nia.


Kimmy tersenyum, lalu ia memeluk Mama Nia dengan erat.


"Dengan restu dan do'a Mama, semoga Kimmy di terima ya Ma..."


"Aamiin... Mama selalu mendo'akan yang baik dan terbaik untuk anak-anak Mama."


Mama Nia mengecup kedua pipi Kimmy dan melepaskan kepergian anak gadisnya itu untuk meraih mimpi dapat bekerja di perusahaan asing.


Segala do'a dan harapan mengiring Kimmy pada pagi hari itu. Dengan santai, ia mengendarai mobil barunya, hadiah dari Papa Bobby yang bersyukur karena Kimmy dapat menyelesaikan kuliahnya dengan tepat waktu. Awalnya Kimmy menolak untuk dibelikan mobil, sebenarnya ia sudah memiliki tabungan hasil kerja kerasnya selama di Jerman dan bisa membeli mobil sendiri. Tetapi, Papa Bobby memaksa dan sudah memesan mobil tersebut untuk dirinya.


Di perjalanan menuju kantor, Kimmy termenung saat merah menyala. Betapa kedua orang tuanya sangat menyayangi dirinya. Hal seberuntung itu tidak dapat dirasakan oleh banyak anak diluar sana. Kimmy melirik wajahnya yang terlihat semakin cantik karena polesan lipgloss dan sedikit blush-on.


"Mama benar, aku semakin terlihat segar begini," Ucap Kimmy sambil tersenyum.


...


"Kamu kemana aja sih Mas, punya cewek baru ya?" Ucap Vania sambil memandang Farhan dengan penuh tatapan cemburu.


"Lagian, sejak kamu mengantarkan aku pulang kemarin lusa, kamu sulit sekali di hubungi. Pesan-pesan ku tidak kamu balas, telepon ku tidak kamu angkat !"


"AKU SIBUK VANIAAAAAAA...!" Farhan menghentikan mobilnya di tepi jalan. Lalu ia menatap gadis yang dulu sangat menyenangkan itu dengan tatapan amarahnya.


Vania terdiam melihat sikap Farhan yang belakangan ini selalu membentak dirinya.


"Mas... kok gitu?" Tanya Vania.


"Gini aja deh, mendingan kita putus deh Van. Aku tidak sanggup di curigai terus menerus. Aku bosan dengan ucapan ku yang selalu menuduh ku yang tidak-tidak !"


Vania terbelalak dan menatap Farhan dengan tak percaya. Baru kali ini terucap kata putus dari bibir Farhan yang terlihat tidak main-main dengan ucapannya.


"M-m-mas.. a-a-aku minta maaf..." Ucap Vania.


"Aku tidak sanggup dengan kamu lagi Van, hubungan kita sampai disini saja !"

__ADS_1


"Tapi Mas....!"


"Tapi apa? Sekarang kamu turun dari mobilku !"


"Mas ! Kita sudah melakukannya ! Lalu mana tanggung jawab Mas atas aku?" Ucap Vania.


"Vania, aku menyesal sudah melakukan itu semua denganmu. Tapi percayalah, kita berdua tidak jodoh Van. Percuma dilanjutkan..!"


Air mata mengembang di pelupuk mata Vania. Ia tidak menyangka mendengar kata-kata sepahit itu pada pagi ini.


"Tega banget kamu ya Mas, setelah aku tidak perawan..."


"Sudah jangan bahas itu lagi, aku pun sudah tidak perjaka gara-gara kamu ! Kita sama ruginya. Jadi tanggung masing-masing saja !"


"Enak kamu bicara ya Mas ! Kaku tidak ada jejak nya, sedangkan aku !"


"Vania, kamu bisa operasi. Kamu bisa kembali perawan. Jaman sekarang itu gampang Vania. Tinggal kamu bicara sama aku berapa biayanya. Nanti aku transfer. Asal kamu menjauh dari hidup ku !"


Plakkkkk...!


Farhan terkejut saat Vania mendaratkan sebuah tamparan di pipinya.


"Tega kamu !" Ucap Vania dengan bibir yang gemetar.


Farhan menghela nafasnya dan membuang pandangannya jauh ke depan.


"Aku tidak mau putus, kamu harus menikah dengan ku. Aku mencintai kamu lebih dari apa pun ! Tetapi, aku tidak menyangka kamu seperti ini Mas !"


Farhan menatap Vania yang terlihat sangat emosi.


"Aku akan katakan ini semua kepada Tante Rara dan Om Fathur !" Ucap Vania sambil membuka pintu mobil Farhan.


"Van...!" Ucap Farhan sambil menarik tangan Vania.


"Lepasin !" Vania memberontak dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Farhan di pergelangan tangannya.


"Ok... Ok..! Aku minta maaf !" Ucap Farhan.


Vania menatap Farhan dengan wajah yang puas. Ancaman nya sangat tepat sasaran.

__ADS_1


Selama ini, Vania hanya setia dengan Farhan. Begitupun dengan Farhan yang hanya melakukan dengan Vania saja. Jadi, mereka sama-sama terjebak untuk saling mempertahankan. Selain cinta, Vania memang berniat untuk menikah dengan Farhan, lelaki yang sangat ia cintai. Lelaki yang pertama menyentuh dirinya. Tetapi, sayangnya Farhan kini harus terpenjara dengan gadis itu. Niatnya untuk menikahi Kimmy harus terhalang dengan Vania. Farhan harus memutar otak, bagaimana caranya ia harus memutuskan Vania tanpa masalah sedikitpun.


"Gue harus menjebak dia, harus. Biar dia gak bisa menuntut gue pertanggungjawaban. Gue harus bisa bahagia dengan gadis yang gue cintai. Gue hanya untuk Kimmy," Batin nya.


__ADS_2