Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
97# Terima kasih Papa


__ADS_3

"Kimmy, tunggu!" Ucap Athar sambil berlari dibelakang gadis cantik itu.


Kimmy tidak mempedulikan Athar yang sedang memanggil dirinya. Ia terus berlari keluar gerbang rumah Tante Rara di malam yang mulai sepi itu.


"Kim!" Athar meraih tangan Kimmy dan menarik Kimmy kedalam pelukannya.


"Lepasin gue Thar !" Ucap Kimmy sambil menangis pilu.


"Kim, ada gue disini. Lu mau kemana, bila lu mau meluapkan emosi sini sama gue, pukul gue juga gak apa-apa Kim. Ayolah, jangan seperti itu," Ucap Athar sambil mempererat pelukannya di tubuh Kimmy.


Perlahan Kimmy tenang dan membalas pelukan Athar yang terasa hangat di tubuhnya. Gadis itu tenggelam dalam tangisnya di dada Athar.


"Empat tahun Thar !" Ucap Kimmy penuh penyesalan.


"Iya gue tahu," Ucap Athar yang terus mengusap punggung Kimmy dengan lembut.


"Kenapa dia lakukan ini semua Thar ! Padahal gue mati-matian untuk setia!" Ucap Kimmy.


Athar hanya diam membisu. Ia terus berusaha membuat gadis itu merasa tenang.


"Gue benci sama Farhan Thar ! Gue benci !" Ucap Kimmy sambil memukul dada Athar.


"Sabar ya," Hanya itu yang mampu Athar katakan kepada gadis yang sedang merasa sakit hati dan emosi itu.


Sedangkan di ruang keluarga, Tante Rara menangisi dan merasa kecewa dengan kelakuan anak semata wayangnya itu. Ia terus memukuli Farhan yang hanya diam membisu. Hingga akhirnya Bunda Farah menghampiri Tante Rara dan memeluk wanita paruh baya itu.


"Ra, sabar..." Ucap Bunda Farah.


"Gue kecewa sama dia Far !" Ucap Tante Rara sambil menunjuk Farhan.


"Iya gue paham," Ucap Bunda Farah sambil mengusap punggung Tante Rara dengan lembut. Ia berusaha menenangkan Tante Rara yang tampak shock dengan kenyataan yang ada.


Selama ini ia selalu mendengarkan apa yang Farhan katakan tanpa mau mencari tahu apa yang dikatakan Farhan itu benar atau tidak. Ia merasa kecewa, karena kepercayaan nya di khianati oleh anak semata wayangnya itu.

__ADS_1


"Saya tahu Tante tidak suka dengan saya. Saya tidak akan meminta pertanggung jawaban dengan Farhan. Saya sadar, Farhan pun sebenarnya tidak benar-benar mencintai saya. Lagi pula, saya sedang tidak mengandung darah daging Farhan. Lebih baik, hubungan ini kami akhiri dan saya pergi dari kehidupannya," Ucap Vania.


Tante Rara terdiam, ia menatap Vania. Gadis yang ia benci itu sungguh berhati lembut dan tangguh. Hal itu membuat Tante Rara merasa malu dengan Vania.


"Betul, kami kesini bukan untuk meminta tanggung jawab. Bukan kami bodoh, tetapi percuma bila Farhan menikahi Vania. Anak saya masih bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik dari Farhan. Oleh karena itu, kami permisi dulu. Yang terpenting dari pertemuan ini adalah, anak saya bebas dari fitnah yang sudah Rara berikan kepadanya. Anak saya memang sudah berbuat kesalahan, tetapi... setidaknya dia sudah berani menghadapi kenyataan dan berniat untuk hidup lebih baik," Ucap Om Andreas.


"Vania, ayo kita pulang nak," Ucap Om Andreas sambil menggandeng tangan Vania.


Vania tersenyum dan mengusap air matanya. Ia meraih tangan Papanya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.


Hikmah yang didapat dari kejujuran Vania adalah, secara tidak langsung, hubungan dirinya dan Om Andreas menjadi lebih dekat. Om Andreas juga dapat mengambil hikmah dari apa yang terjadi saat ini. Om Andreas mulai menyadari, kesalahan dimasa lalu, cepat atau lambat akan menjadi giliran bagi dirinya yang kini merasakan hal yang sama dengan apa yang pernah ia lakukan kepada banyak wanita dan para orang tua wanita yang sudah ia kecewakan.


Om Andreas juga mulai menyadari, betapa berharganya buah hati yang ia punya. Betapa pentingnya kedekatan emosional dan waktu untuk keluarga.


Malam ini, Om Andreas dan Vania meninggalkan kediaman Tante Rara dengan hati yang tenang, ikhlas dan tanpa dendam. Mereka memaafkan dan menutup lembaran yang kelam itu.


Vania pun menyadari, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepada dirinya. Bila saja, ia tidak terperdaya dengan bujuk rayu Farhan. Semua kesalahan itu, terjadi karena dirinya juga yang merasa tidak berdosa saat melakukan kesalahan. Oleh karena itu, Vania mengikhlaskan dan bertekad untuk lebih baik kedepannya.


Vania akan menebus segala kekecewaan yang ada di hati orangtuanya dengan prestasi, hidup dengan baik dan terhormat.


"Kita temui Mama ya, Mama habis di operasi. Lagian kasihan Tante Nia yang menjaga Mama dari tadi siang. Abang mu sedang di luar kota karena tugas kampus nya," Ucap Om Andreas sambil tersenyum kepada Vania.


"Iya Papa, Vania juga rindu sama Mama. Vania mau meminta maaf sama Mama dan menjaga Mama dengan baik mulai sekarang," Ucap Vania.


Om Andreas kembali tersenyum dengan tulus, lalu ia mengusap puncak kepala Vania dengan lembut.


"Jangan pergi lagi. Jadilah putri Papa yang baik. Jangan segan-segan membicarakan apa pun kepada Papa. Selama Papa masih hidup, Papa orang pertama yang mencintai kamu Vania," Ucap Om Andreas.


Air mata kembali mengembang di pelupuk mata Vania. Ia memeluk Om Andreas dengan erat.


"Terima kasih Papa." Bisik Vania.


...

__ADS_1


"Ya Allah.. pada kemana sih," Gumam Mama Nia yang sedang mondar-mandir di lorong rumah sakit dimana Tante Naya sedang dirawat.


Sejenak, mata Mama Nia tertuju kepada Tante Naya yang terlihat menggerakkan tangannya. Mama Nia yang tak percaya dengan apa yang ia lihat, beranjak mendekati jendela kaca dan memperhatikan Tante Naya yang terbaring di ruang ICU.


"Naya lu sadar?" Tanya Mama Nia sambil menerobos masuk kedalam ruangan itu.


"Nia.." Ucap Tante Naya dengan suara yang tak begitu jelas.


"Alhamdulillah..!" Seru Mama Nia. Lalu, ia berlari menuju ke meja piket para perawat, untuk mengabarkan bila sahabatnya itu sudah siuman.


Para petugas medis pun berlari menuju ruangan Tante Naya. Mereka langsung menghubungi Dokter yang menangani Tante Naya untuk memeriksa keadaan Tante Naya.


Mama Nia pun menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas. Ia terus menggigit kukunya sambil berjalan mondar-mandir di lorong itu.


Tak lama kemudian, Om Andreas dan Vania datang. Saat itu juga Mama Nia mengabarkan kondisi terkini Tante Naya. Semua mengucapkan syukur atas keajaiban yang Allah berikan kepada keluarga mereka. Vania dan Om Andreas berpelukan, tampak air mata bahagia menetes di pipi mereka.


Setelah Dokter datang dan memeriksa keadaan Tante Naya, mereka pun diperbolehkan untuk bertemu dengan Tante Naya. Tetapi, Om Andreas dan Mama Nia mempersilahkan Vania terlebih dahulu untuk bertemu dengan Mamanya.


Vania melangkah masuk menemui Tante Naya. Tante Naya menatap Vania yang menangis menatap dirinya.


"Ma.." Panggil Vania.


Tante Naya yang masih belum jelas berbicara karena mengalami stroke pun tersenyum dan berbicara tidak jelas.


"Ma, maafkan Vania ya Ma..." Ucap Vania sambil mengecup punggung tangan Tante Naya.


Air mata bergulir di sudut mata Tante Naya. Ia menyentuh kepala Vania yang terbenam di punggung tangan nya.


"Vania menyesal, Vania berjanji akan menjadi anak yang baik, mulai saat ini. Mama, Vania cinta sama Mama. Mohon maaf maafkan Vania ya Ma.." Ucap Vania dengan derai air matanya.


Tante Naya pun tersenyum dan mengangguk dengan pelan.


...

__ADS_1


“I know every family has it's problems. But I admire those that stick together.” –Anonymous


(Aku tahu setiap keluarga memiliki problemanya masing-masing. Namun, aku kagum pada mereka yang tetap menyatu.)


__ADS_2