Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
43# Perkenalan dan pertemuan


__ADS_3

"Pincang !" Panggil seorang mahasiswa di kampus Athar.


Athar tidak menoleh, ia membiarkan semua orang memanggilnya dengan sebutan "Pincang", walaupun Athar sudah dapat berjalan sedikit lebih baik dari pada terakhir ia mendaftar kuliah.


Enam bulan sudah Athar berkuliah di Universitas impian nya. Dirinya kerap di olok oleh mahasiswa yang merasa dirinya sempurna. Walaupun sebenarnya hati Athar merasa sakit, tetapi ia mencoba fokus dengan impian nya. Tidak semua omongan orang harus ia layani atau ia tanggapi dengan emosi. Kenyataan nya, dirinya memang tidak dapat berjalan dengan baik. Tetapi, Athar yakin, suatu saat, ia akan dapat berjalan dengan normal lagi.


"Pincang ! Mau kemana lu? Di panggil diem aje !" Ucap Mahasiswa itu lagi, sambil mengiringi Athar yang berjalan ke arah kantin.


Athar menghentikan langkah kakinya, lalu ia menatap mahasiswa itu dengan tatapan yang datar. Lalu, ia menghela nafasnya dan kembali berjalan. Sebenarnya, hal itu Athar lakukan hanya untuk mengontrol emosinya.


"Ye.. pincang belagu ! Sombong lu !" Celetuk mahasiswa itu lagi.


Athar kembali menghentikan langkah kakinya dan menatap mahasiswa itu lagi.


"Kenapa orang yang merasa dirinya sempurna, kerap kali melakukan bullying kepada orang yang tidak sempurna seperti saya?"


Mahasiswa itu terdiam, ia menatap Athar dengan tatapan emosi.


"Tau gak karena apa?" Tanya Athar lagi.


Mahasiswa itu masih diam dengan sikap tubuh yang salah tingkah.


"Karena dirinya sombong. Jadi, yang sombong itu bukan saya, tapi Anda," Ucap Athar sambil tersenyum kecil.


"Heh ! elu ya..!" Ucap mahasiswa yang mulai emosi dengan ucapan Athar.


"Apa? Anda dikuliahkan orang tua Anda, agar Anda menjadi manusia terdidik. Bukan manusia yang mengikuti insting rimba. Ingat, Anda dapat dihargai bila Anda menghargai diri Anda sendiri," Ucap Athar.


Mahasiswa itu pun emosi, ia langsung mendaratkan kepalan tangannya ke wajah Athar. Athar pun terjungkal di atas tanah. Beberapa orang menertawakan Athar, sebagian lagi, mencoba mencerna dan merasa malu dengan apa yang Athar ucapkan.


"Bajingan !" Ucap mahasiswa itu lagi dan ia pun kembali mendaratkan kepalan tangan nya di wajah Athar. Darah segar pun mengalir dari sudut bibir Athar.


"Hei ! Ada apa ini !"


Tangan mahasiswa yang akan memukul Athar kembali pun tertahan, ia menoleh ke arah sumber suara yang meneriaki dirinya.


"Eh, Kiki, jangan ikut campur deh !" Ucap mahasiswa itu.


"Gak ada otak memang ! Beraninya sama orang yang gak bisa melawan elu ! Jangan asal pukul ya ! Disini ada CCTV, gue laporin lu ke polisi !" Ucap Kiki, mahasiswi yang mengambil jurusan yang sama dengan Athar. Kiki adalah teman seangkatan Athar. Gadis itu manis itu gadis yang pendiam, kutu buku dan sering menyendiri. Namun, pada hari ini Athar tidak menyangka bila gadis itu mampu membela dirinya dengan gagah berani.


Mahasiswa yang baru saja memukul Athar terdiam, ia memungut tas nya yang terjatuh di atas tanah, lalu ia pun pergi tanpa sepatah katapun.


Kiki membantu Athar untuk berdiri, ia juga mencoba membersihkan noda tanah di baju dan celana jeans Athar.


"Terima kasih," Ucap Athar.


"No problem," Sahut gadis itu sambil memungut tas milik Athar yang terjatuh di atas tanah, lalu menyerahkan nya kepada Athar.


"Athar," Ucap Athar sambil menyodorkan tangan nya untuk berkenalan dengan Kiki.


"Kiki," Ucap Kiki sambil tersenyum ramah.


"Sudah enam bulan, baru ini kita berkenalan," Ucap Athar sambil berjalan disamping Kiki.


"Eh, iya.. Maaf ya, gue agak introvert gitu," Ucap Kiki.

__ADS_1


Athar tersenyum mendengar jawaban Kiki.


"Ayo ke kantin, gue traktir bakso deh," Ucap Athar.


"Hah ! Gak usah kali, gue bantuin lu ikhlas kok, gue gak suka dengan penindasan," Ucap Gadis itu.


"Sudah gak apa-apa. Lagi pula, disamping elu, gue merasa ada Bodyguard,"


Kiki tertawa geli, ia tidak menyangka Athar yang pendiam sama seperti dirinya, ternyata sangat asik diajak berbicara.


"Ya sudah, next time gue yang teraktir ya," Ucap Kiki.


"Wokehhh...!" Athar tersenyum lebar.


...


"Ma, gimana kabar Athar?" Tanya Kimmy saat mereka berbincang lewat sambungan telepon dengan Mama Nia.


"Ah, Athar baik-baik saja. Dia sudah sembuh kok. Sekarang dia sudah kuliah setelah tertunda kemarin," Ucap Mama Nia.


"Alhamdulillah," Kimmy menghela nafas lega.


"Kamu tidak pernah menghubungi Athar?" Tanya Mama Nia.


Deggggg...!


Jantung Kimmy berdegup kencang.


"Ti-tidak Ma, so-soalnya nomor ponsel Athar yang Kimmy punya, kan sudah tidak aktiv." Ucap Kimmy.


"Hmmmm, bo-boleh deh Ma," Ucap Kimmy.


"Ya sudah, kamu tidak kuliah?" Tanya Mama Nia.


"Sebentar lagi berangkat Ma."


"Ya, siap-siap dulu sana. Mama juga mau pergi," Ucap Mama Nia.


"Mau kemana?" Tanya Kimmy sambil mengerutkan keningnya.


"Pacaran dong sama Papa. Sssttttt... Papa ngajakin Mama Nge-date ke tempat waktu jaman pacaran dulu. Waktu Papa melamar Mama pakai cincin sedotan," Ucap Mama Nia sambil tertawa.


Kimmy ikut tertawa geli, ia pernah mendengar cerita tentang cincin sedotan yang diberikan oleh anak SMA kepada Mama Nia. Anak SMA itu adalah Papa Bobby. Kini, Kimmy paham, mengapa para tetangganya selalu memanggil dirinya dengan sebutan "Anak brondong". Bagaimana tidak? Papa Bobby jauh lebih muda dari Mama Nia yang empat belas tahun lebih tua dari Papa Bobby.


Awalnya Kimmy merasa kesal dipanggil dengan sebutan "Anak brondong". Tetapi, kini Kimmy bangga, keluarganya yang tidak biasa dimata orang lain, mampu membuktikan bila keluarganya adalah keluarga yang penuh dengan cinta. Itu semua terbukti dengan keharmonisan dan kesetiaan Papa Bobby kepada Mama Nia.


"Ok deh Ma, selamat bersenang-senang," Ucap Kimmy.


"Terima kasih anak cantik Mama. Kamu disana hati-hati ya, jangan lupa makan dan sholat," Ucap Mama Nia.


"Siap Nyonya !" Sahut Kimmy.


...


Brukkkkkk...!

__ADS_1


"Duh !" Keluh Vania saat ia tak sengaja menabrak tubuh seseorang.


"Ma-maaf Mas," Ucap Vania sambil memunguti paper bag milik lelaki itu yang terjatuh di lantai sebuah Mall.


"Va-vania?" Ucap lelaki itu.


Vania mengangkat wajahnya dan menatap lelaki itu dengan seksama.


"Mas yang di rumah Tante Rara?" Ucap Vania.


Ya, lelaki itu adalah Farhan.


Farhan tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Saya Farhan, anak Mama Rara. Kamu Vania anaknya Tante Naya kan?" Tanya Farhan kepada Vania.


Vania tersenyum, lalu ia mengangguk.


"Ya ampun.. Kamu ngapain disini? Bukan nya ini jam pelajaran ya?" Ucap Farhan sambil melirik arlojinya.


"Be-begini Mas, ja-ja-jangan bilang sama Mama ku ya Mas...." Ucap Vania dengan gugup.


"Iya.. kenapa?" Tanya Farhan.


"A-aku benci pelajaran Kimia. Ja-jadi aku bolos deh."


Farhan melirik baju seragam yang masih melekat di tubuh Vania yang mulai tampak dewasa. Lalu, ia tertawa kecil.


"Kecil-kecil, ternyata nakal juga ya," Ucap Farhan.


"Ya enggak sih Mas, dikit doang kok."


Vania mengerutkan dagunya.


"Kesini sendirian?" Tanya Farhan sambil menyapukan pandangannya untuk mencari sosok anak yang berseragam putih abu-abu lain nya.


"I-iya, sendirian," Ucap Vania dengan wajah yang polos.


"Ya sudah, ikut saya makan yuk,"


Vania terdiam, ia terlihat gugup. Jari jemarinya tampak memutar-mutar siku bagian bawah kemeja seragamnya.


"Ayo, dari pada bingung mau kemana," Ucap Farhan.


"Ya udah deh... tapi janji ya Mas, jangan bilang-bilang Mama atau Papa ku,"


"Iya... udah ayo.." Ucap Farhan sambil menarik lengan Vania.


Gadis polos itu terlihat setengah berlari mengikuti langkah kaki Farhan.


"Makan dimana Mas?" Tanya Vania.


"Sebelum makan, kita beli baju dulu buat kamu. Aku gak mau disangka menculik anak SMA," Ucap Farhan.


Vania tersenyum, ia menatap tangan Farhan yang memegang lengan kirinya.

__ADS_1


"Ya Allah, sudah baik, ganteng lagi," Gumam Vania.


__ADS_2