Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
88# Renungan untuk para lelaki


__ADS_3

Suara denting sendok yang terbentur di dasar piring, terdengar begitu nyaring di ruang tamu. Bunda Farah dan Athar menatap Ayah Fajar yang sedang makan dengan lahap di depan mereka.


Bunda Farah sengaja memberikan Ayah Fajar sepiring nasi, lengkap dengan lauk pauk yang bergizi untuk di nikmati Ayah Fajar yang terlihat lapar pada pagi itu.


Dalam beberapa menit saja, nasi dan lauk itu sudah habis di lahap oleh Ayah Fajar. Lelaki tua itu pun meraih segelas air minum yang berada di atas meja, tepat di depannya. Lalu, ia meminum air tersebut hingga tidak tersisa setetes pun. Bunda Farah memandangi mantan suaminya itu dengan tatapan iba.


"Terima kasih Far, biar aku cuci piring nya," Ucap Ayah Fajar.


"Tidak usah, taruh saja disitu. Biar nanti aku yang membawanya kedalam," Ucap Bunda Farah.


Sambil tersenyum sungkan, Ayah Fajar menaruh piring dan gelasnya di atas meja. Lalu, ia menatap Bunda Farah dengan tatapan haru.


"Apa yang membawamu kesini?" Tanya Bunda Farah.


"Ng... aku..." Ayah Fajar menghentikan ucapan nya.


"Kamu kenapa?" Tanya Bunda Farah lagi.


"Aku merindukan anak kita," Ucap Ayah Fajar sambil melirik Athar.


Suasana pun menjadi canggung dan hening.


"Kemana saja kamu selama ini?" Tanya Bunda Farah.


"A-aku tinggal di Kalimantan Far," Jawab Ayah Fajar sambil mengusap peluh yang mulai mengalir di dahinya.


"Kalimantan? Kamu tinggal sama siapa?" Tanya Bunda Farah lagi.


"Aku tinggal di mess, aku bekerja di perkebunan. Setelah Athar tidak ingin berjumpa dengan ku lagi dan keluarga ku menolak kehadiran ku, akhirnya aku pergi ke Kalimantan. Sayangnya, catatan kriminal ku menghambat aku untuk mencari pekerjaan yang layak," Ucap Ayah Fajar sambil menundukkan wajahnya.


Athar menghela nafas panjang saat mendengar curahan hati Ayah Fajar.


"Maaf, tetapi kenapa penampilan mu lusuh sekali?" Tanya Bunda Farah.


"Bun..." Athar menyentuh lengan Bunda Farah yang terlihat tenang tetapi sedikit ketus dengan Ayah Fajar.


"Tidak apa-apa nak..." Ucap Ayah Andra sambil tersenyum tipis.


"Namanya kerja diperkebunan dan jauh dari Kota Far. Aku lebih sering terkena sinar matahari. Lagi pula, aku di tipu oleh orang yang membawaku kesana. Gaji ku tidak sesuai dengan apa yang ia janjikan. Setelah aku merasa tidak ada harapan di perkebunan, aku melarikan diri ke Kota. Ternyata, Kota lebih kejam. A-aku terpaksa turun naik bus dan menyelinap di kapal. Agar aku bisa kembali ke Jakarta." Terang Ayah Fajar.


Athar menelan saliva nya. Ia merasa tidak tega dengan cerita yang begitu menyedihkan dari Ayah Fajar. Sedangkan Bunda Farah membuang pandangannya ke arah dinding rumah itu.


"Far, aku minta maaf atas dosa ku dimasa lalu. Aku harap kamu memaafkan aku ya Far..." Ucap Ayah Fajar.


Bunda Farah menatap Ayah Fajar dengan tatapan kosong. Bibir nya terkunci dan diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Bila kamu tidak memaafkan aku tidak apa-apa, tetapi izinkan aku bertemu dengan Athar kapan pun ya Far," Ucap Ayah Fajar.


"Selain melati, siapa lagi wanita yang menjadi korban mu?" Tanya Bunda Farah.


Ayah Fajar mengerutkan keningnya, ia tampak tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Bunda Farah.


"Ma-maksud mu?" Tanya Ayah Fajar.


"Sudahlah Fajar, kaku memiliki anak dari wanita lain kan?" Tanya Bunda Farah.


Wajah Ayah Fajar terlihat terkejut, ia menatap Athar dan Bunda Farah dengan wajah yang canggung.


"Aku sudah lama memaafkan kamu, bagiku.... apa yang sudah terjadi, ya sudah. Tetapi, kasihan anak yang kamu sia-siakan Jar," Ucap Bunda Farah dengan tegas.


"A-anak yang mana ya Far?" Ucap Ayah Fajar dengan wajah yang bingung.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Sahut Athar dan Bunda Farah.


Ayah Fajar menoleh ke arah pintu dan menatap Kiki dengan seksama.


"A-ayah?" Ucap Kiki yang terlihat terkejut saat melihat Ayah Fajar.


"Dia anak mu, dari seorang wanita bernama Atikah," Ucap Bunda Farah dengan ekspresi wajah yang datar.


Ayah Fajar terlihat terkejut, ia menoleh kepada Kiki dan menatap gadis itu dengan seksama.


"A-atikah?" Gumam nya.


"Tidak kah kamu ingat? Kamu bersamanya saat kamu masih bersama ku bukan?" Tanya Bunda Farah.


"A-aku..."


"Ayah?" Ucap Kiki sambil memeluk Ayah Fajar dengan erat.


Ayah Fajar diam membisu, ia benar-benar di buat terkejut dengan kenyataan yang baru ia ketahui.


"Ayah Fajar?" Ucap Kiki sambil menangis.


"Kasihan dia, Atikah mengatakan kalau kamu sudah meninggal dunia. Anak ini sangat merindukan sosok Ayah kandungnya. Apakah kamu tidak merasa bila kamu sudah menyakiti banyak hati?" Tanya Bunda Farah.


Perlahan, Ayah Fajar membalas pelukan Kiki. Sorot matanya menerawang jauh. Ia mengingat kembali sosok Atikah, anak magang di kantor Firma nya. Gadis manis yang begitu polos, yang yang ia campakkan saat tahu gadis itu sedang mengandung darah dagingnya.

__ADS_1


Saat ia mencampakkan Atikah, gadis itu menghilang dan tidak pernah mengganggu hidupnya lagi. Ayah Fajar pun merasa tenang, karena ia menganggap Atikah telah mengugurkan buah hati mereka. Ternyata tidak, kenyataan ini begitu membuat ia terkejut dan tidak percaya.


"Aku sudah tidak ada dendam denganmu, rasa sakit hati pun sudah tidak ada. Aku sudah sangat bahagia saat ini dan Athar pun tidak kekurangan kasih sayang dari sosok seorang Ayah. Bila kamu berniat menebus dosa mu, datangi lah Atikah. Dia wanita yang paling tersiksa karena mu. Dia mengandung dan membesarkan buah hatimu sendirian. Bukan kah dia yang lebih pantas kamu cium kakinya untuk meminta maaf?" Ucap Bunda Farah.


Mata Ayah Fajar mulai memerah, ia menahan tangis penyesalan dari masa lalunya.


"Bun.." Lagi-lagi Athar mencoba menenangkan Bundanya.


"Bunda tinggal dulu ya, Bunda mau kerumah sakit. Kamu sama Kiki silahkan berbicara dengan Ayah kalian," Ucap Bunda Farah sambil beranjak dari duduknya.


Athar dan Kiki tidak dapat berkata-kata. Mereka menyadari tidak ada yang salah dengan sikap Bunda Farah. Bunda Farah sudah sangat baik hati mau menerima Ayah mereka, bahkan bersedia memberikan Ayah Fajar sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya.


Untuk wanita yang pernah merasa sangat terbuang dan terhina, Bunda Farah cukup elegan menyikapi situasi seperti ini.


Kini, tinggal lah Ayah Fajar dengan kedua anak kandungnya, Kiki dan Athar. Ayah Fajar menatap Kiki dengan seksama. Ia menatap setiap detil wajah dari gadis yang baru saja ia kenal.


"Kamu, anak Atikah?" Tanya Ayah Fajar.


"Iya Ayah, Ayah kenapa meninggalkan kami Yah? Kenapa Ibu berbohong kepada Kiki Yah? Ibu bilang, Ayah sudah meninggal dunia. Tetapi, ternyata Ayah masih hidup. Kiki rindu Yah... Kiki selalu berharap bisa bertemu dengan Ayah. Ayah jangan pergi lagi ya..." Ucap Kiki dengan derai air matanya.


Ayah Fajar terdiam membisu, perlahan ia pun menangis penuh penyesalan.


"Ayah, ayo temui Ibu. Ibu sampai detik ini masih menunggu Ayah. Ibu tidak pernah menikah dengan lelaki lain Yah..." Ucap Kiki.


Pengakuan Kiki membuat Ayah Fajar semakin merasa berdosa. Atikah, gadis lugu dan tulus itu, tidak pernah menikah dengan lelaki manapun setelah Ayah Fajar meninggalkan dirinya dengan janin yang tumbuh di rahimnya.


Dua puluh dua tahun, Atikah tenggelam dalam kesepian nya. Menyesali dosa-dosanya, mengutuk dirinya sendiri yang terlalu bodoh percaya dengan bujuk rayu lelaki beristri.


Dua puluh dua tahun, Atikah berusaha bangkit dari keterpurukannya hanya demi Kiki, buah hatinya. Mengandung, melahirkan, membesarkan dan menafkahi sendirian. Betapa hebat wanita-wanita yang pernah dikecewakan oleh Ayah Fajar.


...


Wanita, adalah makhluk yang memabukkan.


Wanita, adalah makhluk yang diciptakan begitu sempurna. Hingga membuat mata lelaki begitu silau karenanya.


Wanita, adalah makhluk yang tercipta seperti apa yang lelaki harapkan.


Tetapi jangan lupa wahai lelaki, wanita mampu membuatmu hancur dan juga mampu membuatmu sukses. Wanita bagaikan air dan kamu wadahnya.


Kamu berikan neraka, wanita akan berperan sebagai iblis.


Kau berikan surga, wanita akan berperan sebagai bidadari.


Namun, bila kamu sudah memberikan wanita mu neraka, tetapi dia tetap memilih menjadi bidadari. Percayalah, tidak banyak wanita yang mampu seperti itu. Kamu yang akan menyesal dikemudian hari, karena sudah menyianyiakan bidadari itu di dalam hidupmu.

__ADS_1


Sia-siakan nikmat itu, maka kamu tidak akan pernah bertemu pengganti yang lebih baik dari dirinya. Percayalah...


*De'rini*


__ADS_2