Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
73# Family is family


__ADS_3

Prang...!


Brug...!


Brakkkkkkkkkk!


Vania melemparkan sejumlah barang yang berada di dekatnya saat ia melihat Farhan datang dengan perasaan tak bersalah, setelah meninggalkan dirinya sendirian di Villa milik orang tua Farhan.


"Vania ! Kamu apa-apaan sih !" Bentak Farhan yang terlihat emosi dengan Vania.


"Mas ! Tega banget kamu ya ! Penipu ! Pembohong !" Hardik Vania.


"Ma-maksud mu?" Tanya Farhan.


"Kamu bilang mau kembali lagi ke sini, nyatanya aku tunggu sampai menjelang pagi, kamu tidak juga datang. Mana janji mu ! Dasar bajingan !" Hardik nya lagi.


Farhan menghela nafas lega, ia mengira Vania tahu bila semalam ia melamar Kimmy.


"Tapi, jangan begini juga Van ! Ini guci antik kesayangan Mama ku. Ini harga nya ratusan juta ! Kamu mau menggantinya !" Ucap Farhan sambil menunjuk guci milik Tante Rara yang hancur berkeping di atas lantai.


Vania terdiam, ia tidak menyangka guci tersebut begitu mahal harganya.


"Ma-maaf Mas," Ucap Vania yang tampak bersalah.


"Kaku itu kekanak-kanakan ! Egois dan mau menang sendiri ! Kamu tidak cocom menjadi pendamping hidup ku Van. Aku sudah cukup bersabar selama ini mengikuti mau mu ! Mulai saat ini, kita putus dan jangan pernah ada hubungan lagi. Hapus semua tentang ku di memori mu!" Ucap Farhan dengan emosi yang meledak-ledak.


"Mas !" Vania tidak menyangka Farhan mengatakan hal pahit seperti itu pada dirinya.


"Apa ! Sekarang kamu pergi dari Villa ku dan jangan pernah hubungi aku lagi !" Ucap Farhan sambil menyeret tubuh Vania ke luar Villa.


"Mas ! Jangan begini juga Mas, aku minta maaf," Ucap Vania dengan wajah memelas dan memohon.


"Sudah cukup ! Aku sudah tidak kuat dengan mu dan hubungan kita berakhir sampai disini !" Ucap Farhan sambil mengunci pintu Villa nya dan ia pun beranjak masuk kedalam mobilnya.


"Mas, aku pulang sama siapa Mas?" Ucap Vania sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil Farhan.


Farhan, lelaki yang tak punya hati itu pun tak peduli. Ia terus melajukan mobilnya dan pulang ke Jakarta sendirian.


"Masssssssss !" Panggil Vania dengan air mata yang mengalir di pipinya.


...


"Kim.." Sapa Mama Nia saat Kimmy bergabung dengan keluarganya di ruang makan, untuk sarapan bersama.


"Ya Ma," Ucap Kimmy sambil beranjak duduk di kursi makan nya.


"Bagaimana kabarmu pagi ini?" Tanya Mama Nia.

__ADS_1


Kimmy tersenyum tipis, ia menatap Mama Nia dan Papa Bobby.


"Alhamdulillah lebih tenang," Ucap Kimmy.


"Mama mau membahas masalah semalam. Tetapi, nanti setelah sarapan ya," Ucap Mama Nia dengan lembut.


Kimmy tersenyum dan mengangguk dengan perlahan.


Setelah sarapan selesai. Kimmy menyusul kedua orang tuanya keruang keluarga. Lalu, ia duduk di sofa, tepat di depan kedua orangtuanya yang sudah menunggu dirinya.


"Apa, Mama dan Papa tidak apa-apa membahas tentang kejadian semalam?" Tanya Mama Nia.


"Tidak apa-apa Ma," Sahut Kimmy.


"Baiklah, semalam, Kimmy kenapa menangis?" Tanya Mama Nia lagi.


Kimmy menundukkan wajahnya dalam-dalam dan tak bersuara sedikitpun. Ia hanya terdiam membisu saat mendengar pertanyaan dari Mama Nia.


"Kim.."


"Ya Ma?"


"Kok gak dijawab?"


Kimmy mengangkat wajahnya dan menatap kedua orang tuanya.


"Memang Athar ngomong apa sama kamu?" Tanya Papa Bobby.


"Tidak apa-apa," Ucap Kimmy dengan suara yang tercekat.


"Kim, apa kamu mencintai Farhan?" Tanya Papa Bobby.


Kimmy kembali terdiam. Kini, ia sudah tidak tahu lagi bagaimana perasaannya kepada lelaki itu.


"Jujur, Papa tersinggung dia mengambil alih acara kita. Harusnya dia membicarakan itu dahulu kepada Papa, setidaknya dia harus meminta izin terlebih dahulu untuk meminta waktu di acara kita," Ucap Papa Bobby dengan sinis.


Mama Nia mencoba menenangkan Papa Bobby yang masih merasa kesal dengan Farhan.


"Kim, mengapa kamu menerima lamaran Farhan? Apa memang kamu mencintai dia dan ingin menikah dengan nya!" Tanya Mama Nia lagi.


"Ma, masa Kimmy harus mempermalukan Farhan di keramaian seperti semalam?"


"Maksudmu?" Tanya Mama Nia.


"Lalu, kalau kamu tidak yakin, mengapa kamu menerima dia?" Tanya Papa Bobby.


Kimmy menghela nafas panjang dan merasa putus asa.

__ADS_1


"Atau kamu hanya takut, setelah sekian lama kamu membuang waktu berpacaran dengan dia tetapi tidak ada hasilnya?" Tanya Papa Bobby lagi.


Kimmy tertegun, apa yang dikatakan Papa Bobby ada benarnya. Kimmy merasa malas untuk memulai hal yang baru setelah ia menjalani sekian lama kisah asmaranya dengan Farhan.


"Kim, bila tidak yakin jangan kamu terima dan memberikan harapan kepada anak orang," Ucap Mama Nia.


"Lalu Kimmy harus bagaimana? Mempermalukan Farhan dan mengatakan aku tidak mau menikahi dia? Setelah empat tahun lebih kami menjalin asmara?" Ucap Kimmy dengan nada suara yang sedikit meninggi.


Papa Bobby dan Mama Nia hanya bisa saling bertatapan.


"Sebenarnya siapa yang kamu cintai?" Tanya Papa Bobby.


Kimmy kembali terdiam, ia tidak tahu perasaan nya sendiri. Satu sisi ia merasa lelah untuk memulai cinta yang baru. Satu sisi ia mulai merasa hambar dengan Farhan.


"Jangan pernah mendustai perasaan sendiri. Bila tidak suka, katakan tidak. Bila tidak siap, katakan tidak siap. Kamu hidup dengan aturan mu sendiri, bukan aturan orang lain yang memaksa kamu harus mengikuti ucapan nya dan keinginannya." Tegas Mama Nia.


Kimmy terdiam, ia merasa benar-benar bersalah atas semua yang terjadi. Air mata mengalir di tebing pipinya. Ia menatap kedua orangtuanya yang kini bersikap tegas dengan dirinya. Selama ini, Mama dan Papanya belum pernah begitu tegas kecuali ia berbuat kesalahan yang fatal. Bahkan, saat Kimmy mematahkan tangan anak tetangga saja, Mama dan Papanya memberitahu dan menasihati dirinya dengan bahasa yang halus. Tetapi kini, Mama dan Papanya terlihat begitu keras dan secara tidak langsung menentang hubungannya dengan Farhan.


"Ma, Pa, Kimmy minta maaf. Kimmy akan memberitahu Bang Farhan untuk....."


"Sudah Kim, walaupun kamu memberitahu dia. Selama kamu tidak tegas, semua percuma," Ucap Mama Nia sambil beranjak dari duduknya dan meninggalkan Kimmy dengan Papa Bobby begitu saja.


Kimmy semakin merasa bersalah, ia tertunduk malu dan diam membisu. Papa Bobby beranjak mendekati Kimmy dan memeluk anak gadisnya itu.


"Terkadang, anak selalu merasa orang tua mengatur dan keras kepala sekali. Tetapi, dibalik itu ada cinta yang tak terbatas Kim. Orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, agar tidak ada penyesalan di lain hari."


"Kamu tahu kehancuran yang begitu parah yang dirasakan orang tua?"


Kimmy menatap Papa Bobby dan menggelengkan kepalanya.


"Kehancuran orang tua saat melihat anaknya hancur dan salah jalan atau memilih pasangan," Ucap Papa Bobby.


Kimmy termenung, mencoba memahami ucapan Papa Bobby.


"Mama, adalah orang yang sangat mencintai kamu. Bagaimana tidak? Dia yang mengandung mu sembilan bulan lamanya. Menahan sakit dan meneteskan air mata bahagia saat kamu lahir dengan selamat ke Dunia ini. Meringis menahan sakit yang luar biasa saat menyusui kamu. Membesarkan kamu dengan kedua tangannya dan mengorbankan karirnya demi anak-anak nya. Jadi, siapa yang harusnya paling kamu hargai? Ya Mama mu itu. Tidak ada Ibu yang ingin anak nya salah memilih pasangan setelah ia membesarkan anak-anak nya dengan penuh pengorbanan."


Kimmy menangis di pelukan Papa Bobby. Ia sungguh menyesal karena berbicara dengan nada yang sedikit meninggi kepada Mama Nia.


"Minta maaf sama Mama ya Kim," Ucap Papa Bobby.


Kimmy mengangguk dan beranjak untuk menemui Mama Nia di kamarnya.


Kimmy dan Mama Nia begitu mirip, mulai dari wajah hingga sifat mereka. Tak jarang bila mereka sering bertentangan dalam segala hal. Beruntung, Papa Bobby terus berusaha untuk mendidik anak dan istrinya untuk saling mengalah atau menahan gengsi dan ego. Sehingga, kata Maaf dan memaafkan, menyadari kesalahan dan mengakuinya, mengoreksi diri dan berusaha lebih baik, sudah menjadi hal yang biasa mereka terapkan didalam rumah ini.


_No family is perfect. We argue, we fight, we even stop talking to each other at times. But in the end, family is family, the love will always be there._ Unknown


(Tidak ada keluarga yang sempurna. Terkadang kami berdebat, berkelahi, bahkan satu waktu berhenti berbicara satu sama lain. Namun pada akhirnya, keluarga tetaplah keluarga, di mana cinta akan selalu ada.)

__ADS_1


__ADS_2