Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
44# Dan aku... Masih tidak merasa malu


__ADS_3

Bunyi kapal wisata dan kapal nelayan terdengar samar di telinga. Angin kencang menerpa wajah Mama Nia yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan Papa Bobby menuju restoran apung yang berada tak jauh dari bibir pantai tempat wisata di Jakarta.


Restoran itu memiliki arti tersendiri bagi Mama Nia dan Papa Bobby. Disana, pernah terjadi hal yang sangat memalukan bagi Mama Nia. Yaitu, Papa Bobby pernah melamar Mama Nia dengan cincin yang ia buat dari sedotan. Segala kenangan indah dan konyol selalu mereka ciptakan sejak pertama kali mereka bertemu.


"Aku sangat beruntung memiliki kamu Bobby," Batin Mama Nia.


Papa Bobby menarik kursi dan mempersilahkan Mama Nia untuk duduk. Setelah itu, Papa Bobby pun duduk di depan Mama Nia. Seorang pegawai restoran datang untuk membantu mereka untuk memesan menu yang mereka inginkan. Setelah itu, Papa Bobby menatap wanita yang sangat ia cintai itu.


"Apakah kamu bahagia selama dua puluh tahun ini hidup denganku?" Tanya Papa Bobby.


Mama Nia membalas tatapan Papa Bobby. Lalu, Mama Nia tersenyum malu-malu dan mengangguk.


"Sayang, terima kasih sudah bertahan untuk ku. Terima kasih sudah melalui suka dan duka bersamaku. Terima kasih sudah melahirkan anak-anak yang terbaik untuk ku," Ucap Papa Bobby.


"Bob, tumben romantis?" Tanya Mama Nia.


"Lah, giliran aku romantis di tumbenin," Papa Bobby tertawa geli.


"Lagian, romantis nya kebangetan. Aku kan jadi kepengen nangis, karena terharu," Ucap Mama Nia.


"Siniin tangan nya," Ucap Papa Bobby sambil menadahkan tangan nya kehadapan Mama Nia.


Dengan ragu, Mama Nia mengulurkan tangan nya yang kini sudah digenggam oleh Papa Bobby. Lalu, Papa Bobby beranjak dari duduknya dan bertekuk lutut di hadapan Mama Nia yang sedang duduk di kursi restoran itu.


"Nia, maukah kamu menjadi istriku selamanya? Maukah kamu tetap berjuang disamping ku hingga maut memisahkan, seperti Bapak dan Emak?" Tanya Papa Bobby.


Mama Nia terlihat gugup, ia menatap kesekiling nya, semua orang memperhatikan dirinya dan Papa Bobby.


"Bobby apaan sih ! Sudah tua tau gak?" Ucap Mama Nia dengan pipi yang memerah.


"Biarin, gak ada orang yang berani begini di depan umum sama istrinya. Aku satu-satunya. Dulu aku melakukan hal yang sama dan aku tidak merasa malu. Setelah puluhan tahun, aku lakukan lagi dan aku masih tidak merasa malu. Aku cinta kamu," Ucap Papa Bobby sambil memasangkan cincin berlian di jari Mama Nia.


Mama Nia terkejut dan matanya mulai berkaca-kaca.


"Sayang, dulu aku tidak mempunyai apa-apa, tetapi kamu mau menerima cincin sedotan dari aku. Sekarang, aku mempersembahkan yang terbaik untukmu, walaupun itu gak sepadan dengan perjuangan mu untuk tetap tinggal di sisiku selama ini," Ucap Papa Bobby dengan mata yang memerah, menahan tangis.


Mama Nia terharu, air mata terjatuh di pipinya. Tanpa kata, Mama Nia memeluk lelaki terbaik yang Tuhan pilihkan untuk dirinya itu.


"Terima kasih Bobby..." Ucap Mama Nia sambil terisak.

__ADS_1


"Happy Anniversary ke dua puluh sayang ku," Ucap Papa Bobby.


Tatapan haru, iri, kagum menyelimuti restoran itu. Semua orang ingin menjadi pasangan Bobby dan Nia. Semua orang bermimpi dan berharap bisa seperti mereka berdua.


...


"Umur mu berapa?" Tanya Farhan kepada Vania yang sedang menyeruput kuah sop yang baru saja ia sendok kan.


"Enam belas tahun Mas," Ucap Vania.


"Hah ! enam belas?" Gumam Farhan.


"Berarti kamu masih kelas satu SMA?" Tanya Farhan lagi.


Vania pun mengangguk sambil tersenyum. Terlihat lubang indah di pipinya yang memerah.


"Sudah pacaran?"


Vania menghentikan aktivitas makan nya dan menatap Farhan dengan seksama. Lalu, garis polos itu menggeleng dengan cepat.


"Loh, kenapa?" Tanya Farhan lagi.


"Siapa bilang? Tapi, sudah banyak yang naksir?" Tanya Farhan.


Vania tersenyum, lalu ia mengangguk dengan ragu.


Farhan tertawa geli sambil memperhatikan sebutir nasi yang tersisa di sekitar bibir Vania. Lalu, lelaki itu mengusap bibir Vania dengan lembut.


Vania terdiam, tubuhnya terasa kaku. Ia tidak tahu akan bagaimana. Yang ia rasa hanya darah nya mengalir dengan cepat dan jantungnya berdegup kencang.


"Ada nasi sisa," Ucap Farhan.


Vania tertunduk malu, lalu ia kembali melanjutkan makan nya.


"Kamu sekolah di SMA mana?" Tanya Farhan.


"SMA Negeri 7 Mas," Ucap Vania.


"Ohhh... itu sih SMA saya dulu. Ibu Tyas masih mengajar?"

__ADS_1


Vania menatap Farhan dengan mata yang berbinar.


"Masih Mas, oh ternyata Mas itu alumni sekolah saya toh...." Ucap Vania.


Farhan tersenyum dan mengangguk.


"Kapan-kapan kamu aku jemput ya... Sekalian aku mau main dan bersilaturahmi dengan para mantan guruku."


Vania tersenyum dan mengangguk setuju.


Farhan menatap Vania dengan penuh arti. Ia sangat terpesona dengan senyuman Vania yang begitu manis.


..


Kimmy memandangi deretan angka yang berada di layar ponselnya. Tangan nya bergetar begitu hebat. Peluh mengalir di dahinya. Rasa gugup untuk memulai berkomunikasi lagi dengan Athar begitu hebat. Karena Kimmy sangat merasa bersalah atas terjadinya kecelakaan yang Athar alami.


Kimmy memanggil nomor tersebut, nada panggil di ponselnya pun mulai berbunyi. Tetapi, baru saja nada panggil itu berbunyi dua kali, Kimmy buru-buru mengakhiri panggilan tersebut.


"Duh Kim... Hhhhhhhh...!" Keluh Kimmy.


Jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Hingga membuat dirinya nyaris merasa akan pingsan.


"Pengecut banget sih gue," Gumam Kimmy lagi. Lalu, ia menaruh ponselnya di atas meja. Ia memandangi ponsel itu dengan hati yang risau.


Di dalam kamarnya, Athar menatap sebuah nomor asing yang baru saja memanggil dirinya. Athar menatap kode negara yang berada di awal deretan angka-angka nomor ponsel asing itu.


"Jerman?"


"Kimmy?" Gumam nya.


Athar menggenggam ponselnya dengan erat. Entah mengapa, rasa itu tidak pernah hilang dari hatinya. Perasaan cinta itu begitu kuat melekat di dinding hatinya.


Athar menelan saliva nya dan kembali menatap nomor ponsel itu. Ia pun berinisiatif untuk mengirim pesan ke nomor tersebut.


"Kimmy?" Ketik nya dengan cepat. Lalu, saat ia akan menekan tombol 'kirim' jarinya tertahan. Tiba-tiba, nasihat Ayah Andra kembali terngiang di telinganya.


"Tidak," Gumam nya sambil menghapus kembali pesan yang akan ia kirim ke nomor tersebut.


"Tidak, hingga aku sukses nanti Kim," Tekad nya di dalam hati.

__ADS_1


Kali ini, Athar tidak akan lemah. Ia akan mengikuti segala nasihat Ayah Andra. "Bila lelaki sukses, ia akan memilih, buka menjadi pilihan". Ia harus memilih Kimmy dan membuat gadis itu tergila-gila dan tidak mampu untuk menolak dirinya. Athar yakin, saat Kimmy kembali, ia akan membuat Kimmy jatuh cinta kepada dirinya dengan cara yang elegan.


__ADS_2