
"Bu, pesanan tart dari Ibu Susi, sudah saya packing ya Bu," Ucap seorang pegawai di toko kue milik Ibu Atikah.
Ibu Atikah yang sedang termenung di meja kasir menoleh kepada Asri, pegawai yang sudah setia bersama dirinya selama 5 tahun belakangan ini.
"Ah, iya. Kamu taruh di lemari dulu saja, mungkin orang nya datang sekitar pukul dua belas, siang ini," Ucap Ibu Atikah.
"Baik Bu," Sahut Asri, sambil membawa tart itu dan memasukkannya kedalam sebuah lemari kaca yang berada di samping kasir.
Ibu Atikah mengangguk, lalu ia kembali tenggelam dalam kesunyiannya.
Sudah beberapa minggu ini, Ibu Atikah saling tidak berbicara dengan Kiki, buah hati satu-satunya yang ia miliki. Semua terasa berat baginya. Kebohongan yang ia ciptakan kini terungkap dan ia sangat menyesal karena sudah berbohong dengan Kiki dan mengatakan bila Ayah kandung Kiki sudah meninggal dunia.
Tidak ada hal yang baik di dapatkan dari sebuah kebohongan. Seberapa sakit nya itu, baiknya kita selalu jujur dan berani menghadapi kenyataan, agar tidak ada yang mengganjal atau kebencian dikemudian hari.
Ibu Atikah tidak menyangka, kisah masa kelam nya terbongkar saat anak kandung Ayah Fajar ternyata satu fakultas dengan Kiki. Semua ada hikmahnya, saat Athar terpaksa harus menunda kuliahnya selama satu tahun. Pertemuan dengan Kiki lah hikmah dari itu semua. Athar bisa mengetahui bila ia mempunyai adik dari Ayahnya dan Athar bisa melindungi adik satu-satunya itu.
Tring....!
Lonceng yang berada di atas pintu toko milik Ibu Atikah berbunyi. Ibu Atikah menatap kearah pintu tokonya. Ia melihat Kiki berdiri disana dan tersenyum kepada dirinya.
Ibu Atikah mengernyitkan dahinya dan menatap Kiki dengan penuh kerinduan. Bagaimana tidak merindu? Selama berminggu-minggu, gadis itu bersikap dingin kepada Ibunya.
"Bu.." Sapa Kiki sambil melangkah menghampiri dirinya.
Ibu Atikah beranjak dari duduknya dan menghampiri Kiki yang berjalan kearahnya.
Kiki memeluk tubuh kurus Ibunya dengan erat. Ia menangis dan meminta maaf kepada Ibu yang sangat berjasa di dalam hidupnya selama ini.
"Maafkan Kiki Bu," Ucap Kiki dengan tulus.
"Maafkan Ibu juga ya nak.." Ucap Ibu Atikah dengan suara yang tercekat. Air mata meleleh di pipi Ibu dan anak itu.
Saat itu juga, Athar dan Ayah Fajar melangkah masuk kedalam toko itu. Sesaat, Ibu Atikah menatap Athar dan lalu menatap Ayah Fajar. Perlahan, Ibu Atikah melepaskan pelukan nya dari Kiki sambil terus menatap Ayah Fajar.
Kiki menoleh kebelakang dan merangkul Ibunya.
__ADS_1
"Bu, itu Ayah.. Ayah ingin bertemu dengan Ibu," Ucap Kiki.
Ibu Atikah terbelalak, ia sangat terkejut saat melihat penampilan Ayah Fajar yang begitu lusuh dan nyaris tidak dikenali.
"Mas Fa-fa-fajar?" Gumam Ibu Atikah.
"Atikah.." Ucap Ayah Fajar.
Lelaki itu menangis, ia berjalan menghampiri Ibu Atikah yang mematung di samping Kiki, saat melihat dirinya.
Ayah Fajar berlutut dan memeluk kedua kaki Ibu Atikah. Ia menangis tersedu-sedu, segala kata-kata maaf terlontar dari bibirnya. Sedangkan Ibu Atikah, masih diam mematung. Ia benar-benar tidak menyangka bila ia akan bertemu lagi dengan Ayah Fajar. Ia benar-benar tidak menyangka bila lelaki itu kini bersimpuh di kakinya dan memohon maaf dari dirinya.
"Atikah, maafkan aku.. Aku sangat menyesal. Atikah, terima kasih sudah melahirkan dan merawat anak kita," Ucap Ayah Fajar.
Air mata meleleh di pipi Ibu Atikah, entah apa yang ada dibenaknya. Ia ingin sekali memaki dan membenci lelaki itu. Tetapi, rasa rindu dan cintanya begitu besar, hingga akan meledak dihatinya.
Ibu Atikah meraih kedua bahu Ayah Fajar dan membantu lelaki itu untuk berdiri dan menatap dirinya.
"Mas, bangun ya.." Ucap Ibu Atikah dengan lembut.
Perlahan, Ayah Fajar berdiri dan menatap wanita yang berhati malaikat itu.
Ibu Atikah menggapai kedua pipi Ayah Fajar dan membelai lembut pipi lelaki tua itu.
"Mungkin aku bodoh, tetapi... maaf ku tidak terbatas untuk mu. Kembalilah, bersama aku dan anak kita," Ucap Ibu Atikah.
Semua yang berada di toko itu terdiam, mereka terpana dengan ucapan yang baru saja Ibu Atikah lontarkan kepada lelaki brengsek yang telah merenggut kebahagiaan hidupnya selama ini.
"A-atikah.." Ayah Fajar benar-benar malu dan menangis sejadi-jadinya. Ia benar-benar merasa dirinya orang hina yang tidak dapat diampuni. Ia berlutut dan mencium kaki wanita yang sudah ia campakkan puluhan tahun yang lalu itu.
"Ya Allah... aku bertaubat..! Setelah aku melakukan semua kejahatan didalam hidupku, aku masih engkau sayang ya Allah..! Engkau memberikan aku banyak orang yang sangat menyayangi aku dan berhati malaikat. Salahku, aku yang terlalu laknat sebagai manusia. Aku malu ya Allah....!" Ucap Ayah Fajar sambil meraung menangis penuh penyesalan.
"Ayo kita pulang, basuh tubuhmu. Beristirahat lah dirumah ku," Ucap Ibu Atikah sambil kembali membantu Ayah Fajar untuk berdiri.
Lelaki itu menundukkan wajahnya, ia tidak kuasa menatap wanita berhati malaikat itu.
__ADS_1
"Aku tidak pantas menerima maaf mu Atikah.." Ucap Ayah Fajar.
"Apa hak ku tidak memaafkan? Sedangkan Tuhan selalu memaafkan kesalahan ku. Bila Mas merasa tidak pantas, mulailah memantaskan diri. Hiduplah bersamaku dan jadilah ayah yang terbaik untuk anak kita," Ucap Ibu Atikah.
Ayah Fajar memeluk Ibu Atikah dengan erat. Ia tidak tahu lagi akan berkata apa. Ia hanya mampu menangisi kebodohannya. Athar dan Kiki ikut menangis, tetapi mereka juga kini dapat tersenyum bahagia. Mereka berharap, kesempatan untuk Ayah Fajar akan di manfaatkan sebaik-baiknya kali ini. Mereka berharap, Ayah mereka akan memulai hidup dari Nol, memperbaiki dan berusaha Istiqomah untuk hidup yang baik.
Ibu Atikah menggandeng tangan Ayah Fajar, mereka keluar dari toko itu dan pulang ke rumah Ibu Atikah.
...
Bunda Farah menatap tubuh Tante Naya yang tampak tak berdaya di ruang ICU. Siang itu, Bunda Farah beruntung dapat masuk dan melihat sahabatnya itu di ruang yang tidak bebas untuk berkunjung. Tante Naya masih belum sadarkan diri. Wanita itu masih tertidur lelap paska operasi yang baru saja ia jalani.
"Nay, bangun..." Ucap Bunda Farah dengan suara yang tercekat.
Perasaan sedih menyelimuti hati Bunda Farah. Sahabat masa remajanya kini sedang terbaring tak berdaya. Masih teringat jelas di ingatan Bunda Farah betapa masa remaja adalah masa-masa energik yang tak akan pernah terulang kembali. Masa-masa yang tidak mengenal lelah dan nyeri sendi. Masa-masa yang bebas kemana saja tanpa mengeluh tentang kesehatan.
Kini, mereka sudah berumur lebih dari setengah abad. Waktu begitu cepat berlalu, seakan-akan tidak mau bertoleransi. Bunda Farah menitikkan air matanya. Separah apapun masa lalu Tante Naya, Bunda Farah pun pernah melakukan hal yang sama. Ia tIdak mau menghakimi Tante Naya yang telah merebut tunangan sahabatnya sendiri, yaitu Tante Rara.
Masa lalu Bunda Farah juga pernah bersama lelaki beristri. Bahkan, karenanya pun rumah tangga Bapak Gunawan, Ayah kandung dari Queen, itu hancur. Ada masanya manusia itu menyesali perbuatannya dan ada saja cara Tuhan menjodohkan manusia satu dengan manusia lainnya. Semua memang salah, tetapi tidak juga bisa disahkan. Bila Tuhan berkehendak, kita manusia bisa apa?
Tugas kita hanya mencari hikmah dari semua yang terjadi. Perselingkuhan memang tidak baik dan akan menjadi jejak yang tak akan bisa terhapus. Hanya saja, bagaimana manusia itu mau memperbaiki hidupnya yang sudah terlanjur basah berkubang di dalam dosa itu.
Bila semua sudah terjadi, Tuhan selalu memberikan kesempatan untuk memaafkan diri yang sudah terlanjur menyakiti orang lain atau memaafkan orang yang sudah menyakiti. Bukan membenarkan perselingkuhan, tetapi terkadang, memang jodoh lah yang sudah berakhir. Hanya saja, cara berakhirnya mempunyai cerita masing-masing dan itu hanya menjadi rahasia sang pencipta.
Bunda Farah mengecup kening Tante Naya. Lalu, ia meninggalkan ruangan itu untuk berbicara dengan Om Andreas yang setia menunggu istrinya di depan ruangan itu.
Om Andreas benar-benar mencintai Tante Naya. Lelaki itu benar-benar sudah bertobat akan dosa dimasa lalunya. Lelaki itu kini menjadi lelaki setia yang mempunyai cinta luar biasa kepada wanita yang sedang terbaring tak berdaya itu.
Om Andreas menatap Bunda Farah yang baru saja keluar dari ruang ICU. Ia tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan Bunda Farah. Bunda Farah mencoba memberikan Om Andreas semangat dan menyakinkan Om Andreas bila Tante Naya akan sembuh dan kembali ke tengah-tengah keluarga dengan segera.
"Andreas, gue mau bicara serius," Ucap Bunda Farah.
"Bicara apa?" Tanya Om Andreas yang tampak penasaran.
Baru saja Bunda Farah akan berbicara, tiba-tiba saja Mama Nia muncul dan menyapa mereka.
__ADS_1
Saat itu juga Bunda Farah mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Om Andreas.
"Kita bicara nanti ya," Bisik nya.