
Kimmy terlihat berkeringat saat berusaha melepaskan gaun pengantin yang melekat di tubuhnya. Beberapa kali ia mencoba meraih ujung resleting yang berada di punggung nya. Tetapi, ia tak kunjung menemukan kepala resleting yang ia cari.
Kimmy bersandar di dinding kamar mandi dengan wajah yang terlihat putus asa. Sudah lebih dari setengah jam ia berusaha melepaskan gaun tersebut. Tetapi, ia tak kunjung menemukan cara untuk melepaskan gaun itu dari tubuhnya.
"Kim?" Panggil Athar dari balik pintu kamar mandi.
"I-iya," Sahut Kimmy dengan gugup.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Athar lagi.
"Ba-ba-baik," Sahut Kimmy.
"Kok lama?"
"I-iya, oh iya, ka-kamu bisa mengambilkan ponsel ku?"
Athar mengerutkan keningnya,
"Ponsel?" Tanya Athar tak percaya.
"I-iya, tolong ya, ada di tas ku," Ucap Kimmy.
"Ok," Athar melangkah menuju meja nakas yang berada di samping ranjang. Lalu, ia meraih tas tangan Kimmy dan mencari ponsel milik istrinya itu.
Ponsel pun ia dapati, lalu ia bergegas mengancing kembali tas tangan Kimmy dan membawa ponsel itu ke depan kamar mandi.
"Kim, ini ponselnya," Ucap Athar.
Dengan perlahan, Kimmy membuka pintu kamar mandi dan mengulurkan tangannya keluar.
Athar terkejut saat melihat tangan Kimmy yang masih terbalut lengan dari gaun pengantin itu.
"Loh, belum mandi?" Tanya Athar penasaran.
"Belum, siniin ponselnya.." Pinta Kimmy.
Athar pun menyerahkan ponsel itu ke tangan Kimmy. Dengan cepat, Kimmy pun menutup pintu kamar mandi itu kembali.
Kimmy yang masih terlihat panik, segera menghubungi Queen saat itu juga.
..
Queen yang baru saja selesai mandi dan memakai piyama nya pun, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia pun meluruskan tubuh nya yang terasa kaku sambil menatap langit-langit kamar nya. Tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Queen pun meraih ponsel nya yang ia taruh di meja nakas, tepat di samping tempat tidurnya.
Queen mengerutkan keningnya saat mendapati nomor Kimmy tertera di layar ponselnya.
"Kimmy? Ngapain?" Gumam Queen.
Dengan cepat, ia pun menerima panggilan dari Kimmy.
"Assalamualaikum," Sapa Queen.
Terdengar suara setengah berbisik dari ujung sana.
"Waalaikumsalam, kak, cara melepaskan gaun nya gimana ya kak? Kimmy agak susah ngelepasin nya," Ucap Kimmy.
"Hah?" Queen tak percaya dengan apa yang di pertanyakan oleh Kimmy. Malam-malam begini, Kimmy masih bertanya tentang bagaimana cara melepaskan gaun pengantin nya.
Queen sempat berpikir bila Kimmy dan Athar sedang menikmati malam pengantin mereka. Tetapi, nyatanya Kimmy masih berusaha untuk melepaskan gaun pengantin nya.
"Ya Allah Kim, di samping kanan itu kan ada resleting nya. Masa kamu gak ingat?"
Kimmy menyelipkan ponselnya di antara bahu dan telinganya. Lalu, ia mencoba mengecek resleting yang berada di bawah ketiak tangan kanan nya.
"Ya Allah, iya kak..! Akhirnya ketemu juga!" Ucap Kimmy yang terdengar begitu lega.
"Ampunnnnn deh si Kimmy ini!" Gumam Queen di dalam hati.
"Ya sudah Kak, Kimmy mandi dulu ya... Terima kasih kakak ku... Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
__ADS_1
Queen menatap layar ponselnya dengan kerut di kening nya. Ia menaruh ponselnya dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ada-ada saja sih," Ucap nya sambil tersenyum.
Angan nya kembali teringat dengan kejadian tadi, saat Raka berjanji akan meminang dirinya minggu depan.
Queen mengigit sudut bibirnya dan memeluk guling yang ada di atas ranjangnya.
"Aku harap kamu benar-benar serius Raka. Jangan berikan aku harapan palsu," Gumam nya dengan wajah yang penuh harap.
..
Kimmy berhasil melepaskan gaun pengantin nya. Tubuhnya pun terasa pegal dan keringat bercucuran di dahinya. Kimmy terduduk di atas closet dan termenung sambil menunggu suh tubuhnya normal kembali.
"Setelah ini apa yang harus gue lakukan ya?" Gumam Kimmy.
"Ah iya sholat, tadi sholat ketinggalan. Setelah sholat apa yang gue lakukan?" Kimmy mulai kembali berkeringat. Hingga ia mengusap peluh yang meleleh di dahinya.
"Ya ampun, panas banget ini kamar mandi, sudah seperti sauna!" Keluh Kimmy.
Sebenarnya ruangan kamar dan kamar mandi tersebut bersuhu 23 drajat, hanya saja Kimmy yang merasa kepanasan.
"Kim," Panggil Athar lagi.
"Ya!" Sahut Kimmy yang terlihat panik.
"Buruan ya, aku mau ngambil wudhu," Ucap Athar.
"I-iya," Sahut Kimmy.
Ia pun bergegas untuk mandi dan berwudhu.
Setelah beberapa saat, Kimmy pun sudah selesai mandi dan berpakaian. Ia pun dengan perlahan membuka pintu kamar mandi dan menoleh keluar.
"Sudah?" Tanya Athar tepat di samping Kimmy.
"Allahu Akbar!" Ucap Kimmy yang merasa terkejut saat melihat Athar berada di sampingnya.
"Ng-enggak, gak apa-apa. Kamu sudah wudhu? Kita sholat bareng ya," Ucap Athar.
Kimmy hanya mengangguk dan berjalan menuju ke arah ranjang.
Athar menatap istrinya yang terlihat acuh kepada dirinya. Athar pun masuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu. Sebenarnya tadi ia sudah berwudhu, hanya saja, karena tidak sengaja menyentuh Kimmy saat Kimmy terjatuh, hingga ia mempunyai pikiran yang tidak-tidak, maka Athar harus berwudhu kembali.
Saat Athar keluar dari kamar mandi, ia melihat Kimmy yang sudah menunggu dirinya di atas sajadah, lengkap dengan mukena yang menutupi tubuh Kimmy.
Athar tersenyum dan menghampiri sajadahnya. Lalu, ia menoleh kebelakang dan menatap Kimmy dengan mata yang berbinar.
"Sudah siap?"
"Sudah," Sahut Kimmy.
Athar pun mulai menjadi Imam pertamanya saat sholat berjamaah dengan satu-satunya makmum yang akan setia menjadi makmumnya hingga akhir usia nanti.
"Allahu Akbar!" Seru Athar, memulai rakaat pertamanya.
...
Papa Bobby termenung di beranda rumahnya. Matanya berkaca-kaca, kopi yang disuguhkan oleh Mama Nia di atas meja pun, sudah terlihat dingin.
Papa Bobby meremas sarung nya dan menatap bintang yang bersinar terang di langit malam itu.
"Belum mau tidur?" Tanya Mama Nia yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Papa Bobby menoleh dan menatap kekasih halal nya itu. Lalu, ia pun tersenyum dan meraih tangan Mama Nia dengan lembut.
"Duduk sini sayang, disamping ku," Ucap nya sambil menuntun Mama Nia.
Mama Nia pun menuruti suami nya dan duduk disamping Papa Bobby yang terlihat gelisah.
"Kamu kenapa?" Tanya Mama Nia sambil membelai lembut rambut Papa Bobby.
"Aku hanya kepikiran Kimmy," Ucap Papa Bobby.
__ADS_1
"Kepikiran Kimmy? Kenapa?" Tanya Mama Nia, penasaran.
"Dia lagi ngapain ya?" Tanya Papa Bobby sambil menatap Mama Nia.
"Hah? Pertanyaan macam apa itu Bob?" Tanya Mama Nia dengan wajah tak percaya sambil menahan senyum nya.
"Iya dia lagi ngapain? Aku kok rasanya gak rela," Ucap Papa Bobby yang terlihat semakin gelisah.
"Astaga Bobby! Kamu itu kayak gak pernah malam pertama saja sih?" Ucap Mama Nia.
"Ya pernah, tapi itu anak ku Nia," Ucap Papa Bobby dengan wajah yang terlihat serius.
Tiba-tiba saja Mama Nia terkekeh hingga mengeluarkan air matanya.
"Ya Allah..Bobby....Bobby...!" Ucap Mama Nia di sela tawanya.
"Kok ketawa sih?"
"Kamu itu lucu deh! Asli lucu! Anak kita sudah menikah Bob, ya terserah suami nya lah mau ngapain sama Kimmy," Ucap Mama Nia sambil tersenyum tertawa geli.
"Iya aku tahu," Ucap Papa Bobby dengan wajah yang terlihat sedih.
"Kamu itu kenapa sih Bob?"
"Gak apa Nia. Mungkin ini yang dirasakan oleh Bapak dulu ya Nia," Ucap Papa Bobby sambil menatap Mama Nia dengan lekat.
Mama Nia terdiam, ia menghela nafas panjang. Ia ingat betul ketika Bapak duduk termenung sendirian di ruang keluarga, saat Kimmy baru saja menikah.
Lelaki itu membiarkan anak gadis polos nya mulai sekamar dengan lelaki yang baru saja menikahi anak kandungnya.
Raut wajah Bapak, sama persis seperti raut wajah Bobby pada malam ini.
Mama Nia tersenyum getir, lalu ia menggenggam tangan Papa Bobby dengan erat.
"Aku tahu, kamu masih menganggap Kimmy anak gadis mu. Tapi, ingat... dia sudah menikah. Jangan dikhawatirkan, ada Athar yang menjaga dirinya Bob. Sama seperti kamu menjaga aku hingga detik ini," Ucap Mama Nia.
Papa Bobby merapatkan bibirnya dan menatap Mama Nia dengan seksama.
"Berat ya rasanya, perasan ini lebih berat saat aku harus melepas dirinya ke Jerman dulu," Ucap Papa Bobby.
"Pasti berat, tapi... itulah siklus kehidupan. Semua orang berhak bahagia dengan pilihan nya. Doakan anak kita bahagia dan cepat memberikan kita cucu," Ucap Mama Nia sambil tersenyum manis.
Papa Bobby tersenyum, saat mendengar kata-kata 'cucu'. Ia pun membayangkan makhluk kecil dan suci yang akan hadir didalam hidupnya.
"Pasti lucu," Ucap Papa Bobby sambil kembali menatap bintang di langit.
"Pasti lah, Oma nya saja menggemaskan begini kok..! Apa lagi cucu nya..." Ucap Mama Nia.
"Hah?"
"Kenapa? Aku tidak menggemaskan?" Tanya Mama Nia sambil melotot.
"Me-me-menggemaskan kok," Ucap Papa Bobby dengan salah tingkah.
"Sudah, minum kopi mu. Ayo kita tidur," Ucap Mama Nia.
"Langsung tidur?" Tanya Papa Bobby sambil meraih gelas kopi nya dan menatap Mama Nia dengan tatapan yang nakal.
"Mau nya ngapain? Emang gak capek?" Tanya Mama Nia sambil mengulum senyumnya.
"Ngapain kek, main gaple atau main remi." Sahut Papa Bobby.
"Gak sekalian main petak umpet?" Tanya Mama Nia sambil tertawa geli.
Papa Bobby yang sedang menyeruput kopi nya pun nyaris tersedak dan tertawa mendengar jawaban Mama Nia.
"Sudah ah, gak usah minum kopi, mimik susu aja," Ucap Papa Bobby sambil beranjak dari duduk nya. Lalu, ia membopong tubuh Mama Nia dan membawanya masuk kedalam rumah.
Mama Nia tertawa geli dan mengalungkan kedua tangan nya di leher Papa Bobby.
"Dasar brondong!" Seru Mama Nia.
__ADS_1