
Waktu berlalu begitu cepat, semua yang merasa kecewa akan sembuh dengan sendirinya. Belajar ikhlas dan merelakan membuat hidup menjadi tenang. Begitupun Kimmy, ia berusaha menerima kenyataan bila Farhan telah mengkhianati dirinya dan kini ia berusaha untuk melanjutkan hidup dengan menciptakan kebahagiaan nya sendiri.
Vania pun begitu, ia kini menjadi sangat dekat dengan keluarganya. Ia melanjutkan kuliahnya dengan bersungguh-sungguh. Vania bertekad untuk menebus kesalahannya dengan menjadi manusia yang sebaik-baiknya.
Tante Naya pun sudah pulang kerumah. Karena perhatian dan kasih sayang keluarga, Tante Naya pulih dengan cepat. Terutama karena hatinya senang dan semangat hidup pun menghampiri dirinya.
Om Andreas pun memilih pensiun dan menyerahkan perusahaan kepada anak pertamanya. Om Andreas mencoba menepati janjinya untuk setia disamping istri dan anak-anaknya di masa tua ini.
Farhan, sudah keluar dari rumah orang tuanya. Ia kini hidup menyendiri di Singapore. Ia melanjutkan hidupnya dengan bekerja di perusahaan besar sesuai dengan bidang yang ia miliki.
Sedangkan Tante Rara, wanita paruh baya itu kini menjual perusahaan milik Om Fathur dan ia hidup di Villa miliknya dan membuka peternakan juga membeli beberapa bidang kebun untuk di kelola sebagai aset dimasa tua. Sedangkan Boutique nya, ia melelang nya dan Boutique itu jatuh ke tangan Queen yang memang akan berhenti bekerja dan memilih untuk membuka usaha boutique dan hotel berbintang tiga.
Queen pun sudah dekat dengan Ricky, semua itu karena Kimmy yang menjodohkan Queen dan Ricky. Saat pertemuan pertama, tanpa disangka-sangka, Ricky adalah teman Queen saat duduk disekolah dasar. Jadi, keakraban di antara mereka langsung tercipta dan mengalir begitu saja.
Bagaimana dengan Athar? Seperti biasa, lelaki itu masih berusaha mengejar cinta Kimmy. Di sela kesibukan nya menyusun skripsi, ia tidak pernah absen untuk memberikan perhatian untuk Kimmy.
Sedangkan Ayah Fajar, berencana menikahi Ibu Atikah. Berita baik itu disambut bahagia oleh Athar dan Kiki. Akhirnya, Kiki memiliki orang tua yang utuh.
Ayah Fajar pun berubah total menjadi lebih baik. Ia menjadi lebih dekat dengan Tuhan. Kesempatan yang Tuhan berikan kepadanya adalah anugerah yang tak terkira. Sangat bodoh, bila ia menyianyiakan kesempatan itu. Maka, ia memutuskan untuk menebus kesalahannya dan bertaubat dengan bersungguh-sungguh.
Semua orang pernah berada di masa kelam. Tetapi, memutuskan untuk menjadi lebih baik, itu adalah pilihan. Keputusan apa yang kita buat hari ini mempengaruhi masa depan kita. Maka, berubah lebih baik adalah pilihan yang sangat tepat. Belum terlambat, kecuali kita sudah menghadap sang pencipta.
..
Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Ayah Fajar duduk di depan penghulu yang akan menikahi dirinya dengan Ibu Atikah. Sambil menunggu Ibu Atikah selesai berdandan, Ayah Fajar yang terlihat grogi pun tampak terus menatap pintu kamar Ibu Atikah. Ayah Fajar merasa takut, bila wanita bak malaikat itu berubah pikiran untuk menikahi dirinya.
Sedangkan didalam kamar, Ibu Atikah duduk berhadapan dengan Kiki. Tangan gadis itu menggenggam tangan Ibunya dengan erat, sesaat setelah Ibu Atikah selesai di dandani oleh penata rias.
Ibu Atikah menatap Kiki, lalu ia tersenyum dengan manis.
"Ibu cantik sekali," Ucap Kiki sambil menatap kagum kepada Ibunya.
"Terima kasih Ki, do'akan Ibu ya," Ucap Ibu Atikah.
"Kiki selalu mendo'akan Ibu dan Ayah. Do'a-Do'a Kiki kini terjawab. Ibu dan Ayah disatukan kembali tanpa ada halangan sedikitpun. Kiki sangat berterima kasih kepada Allah, yang telah mengabulkan segala permintaan Kiki Bu," Ucap Kiki.
__ADS_1
"Alhamdulillah," Ucap Ibu Atikah. Lalu, mereka pun berpelukan dengan erat.
Tok..! Tok..! Tok..!
Athar membuka pintu kamar itu dan memberitahukan bila acara akan segera dimulai. Ibu Atikah tersenyum menatap Athar. Lalu, ia memeluk calon anak tirinya itu.
"Terima kasih Athar," Ucap nya.
Athar tersenyum bahagia, ia pun berjalan dibelakang Ibu Atikah yang tampak cantik pada hari bahagianya.
Ini adalah pernikahan pertama Ibu Atikah. Walaupun sudah tidak muda lagi, rasa grogi dan syukur hinggap dihatinya. Ayah Fajar menatap kehadiran Ibu Atikah dengan mata yang berbinar. Seolah ia merasa lega, karena wanita yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul dan siap untuk bersanding dengan dirinya dihadapan penghulu.
Ibu Atikah menatap Ayah Fajar, saat ia duduk disebelah Ayah Fajar. Lalu, wanita itu tersenyum dengan tulus.
"Sudah siap?" Tanya Bapak penghulu.
Ibu Atikah dan Ayah Fajar pun mengangguk tanpa keraguan sama sekali.
Ijab Kabul pun dimulai, saat itu juga mereka sah menjadi sepasang suami istri di mata hukum dan Agama. Semua orang tersenyum bahagia.
Bunda Farah yang tidak hadir pun ikut mendo'akan dan berbahagia saat Athar memberitahukan kepadanya, bahwa Ayah Fajar sudah sah menjadi suami dari Ibu Atikah.
Bunda Farah merasa salut karena Ibu Atikah yang mau menunggu Ayah Fajar selama puluhan tahun. Begitulah cinta yang tanpa syarat. Kadar kebahagiaan orang berbeda-beda, saat ia yakin dia berbahagia dengan orang yang pernah melukai dirinya. Maka segala kesalahan pun terhapus. Ada juga orang yang tidak mau melanjutkan rasa cinta, karena sudah merasa cukup dan ia bisa berbahagia dengan kesendirian nya, atau mencari kebahagiaan pada lain hati.
Kita tidak bisa ngejudge pilihan orang lain, karena kebahagiaan itu abstrak dan tidak terduga. Hanya orang yang menjalani lah yang tahu, apa yang ia butuhkan dan apa yang ia tidak butuhkan.
...
"Si Fajar nikah Nia," Ucap Bunda Farah saat berada di cafe nya bersama dengan Mama Nia.
"Oh ya? Lu kok gak datang?" Tanya Mama Nia.
"Ngapain juga gue datang, kan sudah ada si Athar disana." Tegas Bunda Farah.
"Iya sih. Terus lu cemburu gak?" Tanya Mama Nia sambil tersenyum menggoda.
__ADS_1
"Idihhh.... gue lepas dari dia aja sudah Alhamdulillah. Kalau sekarang itu si Andra yang nikah, baru gue ngamuk," Ucap Bunda Farah sambil mengerutkan dagunya.
Mama Nia tertawa geli dan menatap Bunda Farah dengan seksama.
"Far, terima kasih ya."
"Makasih buat apaan?"
"Lu sudah menjadi teman yang paling tulus yang gue punya. Gue gak tahu gimana kalau gue gak punya elu Far," Ucap Mama Nia.
Bunda Farah menatap Mama Nia dengan mata tuanya. Lalu, ia tersenyum tulus dan menggenggam tangan Mama Nia dengan erat.
"Lu lebih dari sekedar sahabat bagi gue Nia. Lu itu sahabat, keponakan, teman, musuh, partner in crime, calon besan, orang tua, dan lain-lain Nia."
Mama Nia tersenyum dan membalas genggaman tangan Bunda Farah.
"Far, kita tua bersama ya Far. Pokoknya anak kita harus menikah. Biar makin seru Far."
"Insyaallah Nia, Athar dan Kimmy Insyaallah berjodoh. Tinggal anak lu nih, mau gak mau sama si Athar. Dasar jinak-jinak merpati !" Ucap Bunda Farah sambil tertawa.
"Iya, justru yang begitu yang asik bukan?"
"Bener...!" Ucap Bunda Farah. Mereka pun tertawa bersama. Lalu, mereka melanjutkan cerita tentang betapa bahagianya melihat cucu saat dimasa tua. Mereka merasa tidak sabar akan menjejaki status sebagai seorang Nenek.
"Nanti lu mau dipanggil apa sama cucu kita Far?" Tanya Mama Nia.
"Gue mau dipanggil Oma Aja," Ucap Bunda Farah sambil tersenyum bangga.
"Kalau elu?"
"Gue, gue mau dipanggil Nenek aja ah," Ucap Mama Nia sambil tersenyum semringah.
"Hahahaha ! Kita ini ngawur, anak nya saja belum menikah, sudah membayangkan kehadiran cucu !" Ucap Bunda Farah.
Mereka tertawa cekikikan, entah bagaimana melukiskan kebahagiaan dua orang yang sahabat itu. Dua orang yang memiliki ketulusan yang sama, dua orang yang memiliki kedewasaan yang sama dan dua orang yang memiliki keluarga yang bahagia.
__ADS_1
Masa tua dengan keluarga yang bahagia, adalah usaha kita saat di masa muda.
Mau seperti apa masa tua kamu? Hanya kamu yang bisa memutuskan nya.