
"Tapi Mas, pernikahan kita harus ditunda. Adik ku sedang sakit.... Bunda juga masih di Singapore, kalau pernikahan tetap dilaksanakan, masa Bunda dan Athar tidak hadir Mas?" Ucap Queen yang sedang berdebat dengan calon suaminya di salah satu restoran Jepang.
"Tapi Queen, orang tua ku juga tidak bisa menunggu lama. Kita nikah saja ya, tanpa kehadiran Bunda dan Adik kamu, kan masih ada Ayah kamu Queen.." Ucap Antoni, tunangan Queen.
Queen menatap Antoni dengan tak percaya.
"Segampang itu kamu mengatakan hal itu? Kamu hanya membutuhkan apa yang kamu inginkan, tetapi kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan ku?" Ucap Queen.
"Tapi Queen..."
"Mas, lebih baik gagal menikah daripada menikah dengan orang egois kayak kamu !" Ucap Queen sambil beranjak dari kursinya.
"Queen !" Panggil Antoni.
Queen tidak peduli, ia terus berlari keluar dari restoran itu.
Antoni mengejar Queen dan menarik lengan gadis itu.
"Queen, dengarkan aku dulu !"
"Apa? Apa lagi yang harus aku dengarkan?"
"Queen Please, jangan seperti ini !"
"Lalu apa? Kamu mau memaksakan kehendak mu kepadaku? Gak bisa Mas ! Keluarga bagiku nomor satu. Kalau kamu tidak bisa menerimanya, aku tidak keberatan untuk mengakhiri hubungan kita !" Ucap Queen sambil melepaskan tangan Antoni dengan kasar.
Antoni terdiam, ia sudah sangat tua untuk menunggu lebih lama lagi. Walaupun Queen sudah menyampaikan dari enam bulan yang lalu, bila Queen sepertinya tidak bisa menikah pada tahun ini, Antoni tetap tidak bisa menerimanya. Pasalnya, segala kebutuhan pernikahan sudah dipersiapkan. Orang tuanya sudah mendesak dirinya untuk cepat menikah, bila tidak menikah, ia harus siap untuk dijodohkan dengan gadis lain.
Sebagai anak satu-satunya, Antoni di tuntut untuk segera memiliki keturunan. Sedangkan dirinya yang sudah menginjak usia tiga puluh lima tahun, belum juga menikah karena harus menunggu Queen lulus kuliah dan bekerja terlebih dahulu. Setelah impiannya sudah di depan mata, tragedi kecelakaan adik nya Queen pun menghambat impiannya. Ia terpaksa harus menerima pil pahit dari Queen yang tidak bersedia untuk menikah pada waktu yang sudah disepakati. Queen tetap bersikukuh untuk menunda hingga adiknya bisa sembuh total.
Antoni terlihat risau, ia menendang botol plastik yang berada didepan nya dengan kesal.
.
Air mata menetes di tebing pipi Queen, gadis cantik itu terlihat kesal dengan keadaan. Bagaimana tidak, calon suaminya terlalu memaksakan kehendak. Padahal, ia sudah memberitahukan kepada Antoni, bila mengundur pernikahan enam bulan lagi saja. Tetapi, keputusan nya itu di tentang habis-habisan oleh Antoni.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan," Gumam Queen.
...
"Apa?" Bunda Farah terduduk lemas di atas sofa apartemen yang ia sewa selama dirinya dan Athar tinggal di Singapore. Air mata mulai menetes di pipinya yang sudah mulai muncul garis-garis halus, tanda penuaan.
"Kok bisa Queen?" Tanya Bunda Farah.
"Tidak apa-apa kok Bun, mungkin belum jodoh," Ucap Queen melalui sambungan telepon.
"Ini semua gara-gara Bunda ya Queen?" Tanya Bunda Farah.
"Enggak kok Bun, ini hanya takdir," Ucap Queen yang menahan tangisnya.
"Maafkan Bunda ya nak... gara-gara Bunda kamu jadi gagal menikah," Ucap Bunda Farah sambil terisak.
"Ini hanya takdir Bunda, tidak apa-apa. Mungkin Queen akan bertemu dengan lelaki yang lebih baik," Ucap Queen.
Sifat Queen persis sekali dengan Bunda Farah yang selalu ikhlas dalam segala hal. Walaupun wajahnya persis seperti Ayah kandungnya, tetapi Queen mempunyai hati emas seperti Bunda Farah.
Dari balik pintu, diam-diam Athar mendengar percakapan antara Bunda Farah dengan kakaknya, Queen. Hal itu tentu saja membuat Athar merasa bersalah. Ia tahu, semua ini terjadi karena dirinya yang tidak berhati-hati dalam berkendara. Sehingga kecelakaan tidak bisa dielakkan.
Athar kembali ke kamarnya dengan mendorong kursi rodanya memakai kedua tangannya. Di dalam kamar, ia kembali tenggelam dalam pilunya. Terutama, saat melihat Bunda Farah menangis, pilu dihatinya terasa semakin besar. Athar tak sanggup lagi dengan kondisi cacat seperti ini, ia pun berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dengan menggapai tepian ranjang.
Kini Athar sudah berdiri tegak. Tetapi, ia masih susah untuk melangkah. Rasa nyeri tak tertahankan di bekas tulang kakinya yang patah membuat ia kembali terduduk di kursi roda.
"Ya Allah...." Keluhnya.
...
Kimmy duduk disamping Farhan. Lelaki itu terlihat kesal dan gelisah. Kimmy menoleh kepada Farhan dan menatap wajah kekasihnya itu dengan seksama.
"Abang marah?" Tanya Kimmy.
Farhan menoleh dan tersenyum getir. Lalu, ia menatap hamparan salju yang mulai memenuhi jalan di Kota itu.
__ADS_1
"Abang sebenarnya cinta gak sama aku?"
Farhan kembali menatap Kimmy. Terlihat bendungan air mata di pelupuk mata gadis itu.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Tanya Farhan.
"Aku hanya ingin tahu, Abang cinta apa tidak dengan aku. Seberapa berartinya aku bagi Abang," Ucap Kimmy.
Farhan terdiam, lalu ia meraih tangan Kimmy dan menggenggamnya dengan erat.
"Kalau tidak cinta, gak mungkin aku kesini," Ucap Farhan.
Kimmy menundukkan wajahnya, air matanya menetes di pipinya.
"Kok nangis?"
Farhan mengangkat dagu Kimmy dan menghapus air mata kekasihnya itu.
"Bang, kita memang diluar Negeri, tetapi bisakah kita tetap memegang adat ketimuran kita? Kita saling menghormati diri kita masing-masing? Kalau cinta, bisakah Abang menunggu kita menikah nanti?" Ucap Kimmy sambil menatap Farhan dengan seksama.
Farhan menghela nafas panjang, kini ia merasa bersalah karena membuat Kimmy menangis dan merasa takut dengan dirinya.
"Tapi, ini cuma ciuman Kim. Masa aku gak boleh mencium kekasih ku sendiri?" Tanya Farhan yang masih mencoba mencari pembenaran.
"Bang, semua berasal dari berciuman, lalu kita tidak tahu apa yang terjadi berikutnya. Aku masih ingin kuliah dan bekerja. Aku ingin, menjaga diriku utuh untuk Abang nanti bila saatnya tiba. Setelah menikah aku akan mengabdi sama Abang. Semua untuk Abang. Ini hanya tentang waktu Bang," Ucap Kimmy.
Farhan terdiam, ia merasa malu dengan ucapan nya sendiri. Tidak seperti biasanya, ia kini dihadapi dengan wanita emas. Wanita yang tidak bisa ia kontrol sedikitpun. Wanita yang punya prinsip hidup yang tidak main-main.
Satu sisi, Farhan merasa bangga memiliki Kimmy. Tetapi, otak lelakinya mendorong dirinya untuk menyentuh gadis itu.
"Kalau Abang cinta sama Kimmy, bersabar ya Bang,"
Farhan mengangguk pelan..
Farhan memang mencintai Kimmy, hanya gadis itu yang bisa membuat dirinya harus bersabar. Sebagai anak satu-satunya yang selalu mendapatkan jawaban "Iya" tak terbantahkan, hanya Kimmy yang mampu mengatakan "Tidak" kepada dirinya.
__ADS_1
"Aku akan bersabar," Ucap nya.
Kimmy tersenyum haru, Farhan pun membalas senyuman haru gadis itu dengan merebahkan kepala Kimmy di pundaknya.