
Aku pernah berceloteh panjang dengan Tuhan. Aku menceritakan betapa aku sangat mencintai salah satu makhluk nya, yaitu Kimmy.
Tetapi Tuhan mengatakan kepadaku, untuk mendapatkan gadis yang tidak biasa, harus ada pengorbanan yang tidak biasa juga.
Sampai saat ini Tuhan juga belum mengabulkan permintaan ku, bila aku sangat menginginkan gadis itu.
Apa yang kurang?
Mungkin Tuhan memintaku untuk lebih berusaha untuk memantaskan diri. Ternyata benar, aku harus memantaskan diri.
Sekarang aku baru paham, mengapa terjadi kecelakaan itu. Tuhan ingin aku lebih baik. Bila saja kecelakaan itu tidak terjadi, aku tidak akan melambung setinggi ini, saat ini.
Semoga.... semoga saja aku memang sudah pantas untuk Kimmy.
Tuhan, aku minta tolong... Sisipkan aku kedalam hatinya. Gantikan mimpi-mimpinya tentang Farhan menjadi mimpi tentang ku. Gantikan harapan nya tentang Farhan, menjadi harapan baru bersamaku. Gantikan keinginannya untuk bahagia dengan Farhan, menjadi ingin bahagia dengan ku...
Aku tahu, kau maha membolak-balikkan hati makhluk ciptaan mu. Selalu ada keajaiban bila kau berkehendak.
Tuhan... aku mohon, dengarkanlah permintaan dari makhluk yang tak tahu diri ini.
Athar.
"Bang Farhan melamar ku Ma, Pa," Ucap Kimmy saat dirinya sedang sarapan bersama dengan keluarganya.
Saat itu juga suasana menjadi hening. Mama Nia, Papa Bobby dan Abian berhenti menguyah dan menatap ke arah Kimmy.
"Maksudnya?" Tanya Papa Bobby.
"Iya, melamar. Dia ingin aku menjadi istrinya dalam waktu dekat ini," Ucap Kimmy dengan wajah yang tampak serius.
Mama dan Papanya pun saling berpandangan. anak mereka baru saja berusia dua puluh tiga tahun, apa tidak terburu-buru?
"Maaf Kimmy, kamu hamil?" Tanya Mama Nia.
Kimmy berhenti mengunyah, ia menatap Mama Nia dengan tatapan tak percaya.
"Semurah itukah?" Tanya Kimmy.
Mama nia kini dapat bernafas lega.
"Maaf, Mama hanya memastikan," Ucap Mama Nia.
"Ma, aku baru saja sampai di Jakarta. Selama ini aku kan LDR sama Bang Farhan. Terus gimana hamilnya? Dikirim lewat Email? Chat? Atau WhatsApp?" Tanya Kimmy yang menganggap pertanyaan Mama Nia begitu konyol.
"Ya.. maaf, Mama kan tidak tahu. Bisa saja dia pernah datang ke Jerman Kim.."
"Iya dia pernah ke Jerman, tetapi Kimmy tidak semurahaan itu Mama... Kimmy menghargai diri Kimmy sendiri dan Kimmy takut sama Allah."
__ADS_1
Mama Nia tertunduk malu. Sebagai orang tua, ia merasa berhasil mendidik anaknya. Tetapi, ia merasa malu karena menuduh Kimmy yang tidak-tidak.
"Sudah... jangan ribut. Mungkin maksud Mama mu, mengapa begitu terburu-buru Kim," Ucap Papa Bobby.
Kimmy menghela nafasnya, ia sempat merasa emosi dengan pertanyaan yang cenderung menuduh dirinya.
"Maafkan Kimmy ya Ma, Kimmy tidak bermaksud..."
"Mama yang salah Kim, harusnya Mama tidak bertanya seperti itu. Seakan-akan Mama meragukan iman mu," Ucap Mama Nia dengan wajah penuh penyesalan.
Kimmy tersenyum dan menggenggam tangan Mama Nia.
"Wajar Ma, itu karena Mama sangat menyayangi Kimmy. Mama tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepada Kimmy. Tapi, Kimmy mohon Mama percaya ya sama Kimmy. Kimmy tidak akan merugikan diri sendiri. Kimmy punya cita-cita yang banyak Ma, Kimmy tidak mau bertindak bodoh," Ucap Kimmy.
Mama Nia tersenyum dan membalas genggaman tangan Kimmy dengan tangan nya yang satu lagi.
"Terima kasih sudah mempertahankan kepercayaan kami," Ucap Mama Nia.
Kimmy membalas senyuman Mama Nia dengan senyum tulusnya.
"Jadi, bagaimana ceritanya," Tanya Papa Bobby.
"Kimmy tidak tahu, tiba-tiba dia meminta Kimmy untuk menjadi istrinya. Dia merasa sudah siap untuk menjadi seorang suami," Ucap Kimmy.
"Tetapi, apa kamu sudah siap untuk menjadi seorang istri Kim?" Tanya Papa Bobby.
Kimmy terdiam, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Pernikahan itu tidak seindah anak muda pikirkan Kim. Saat kita menikah, disitulah perkenalan sesungguhnya antara dua insan, dua pikiran dan dua kepribadian. Saat itulah muncul segala macam cobaan yang menguji kesiapan kita dan kedewasaan kita untuk menjalankan biduk rumah tangga. Pengenalan yang sesungguhnya, saat kita menikah. Walaupun kita sudah bertahun-tahun mengenal pasangan, tetapi sifat sebenarnya akan terlihat saat kita menikah." Terang Mama Nia.
Kimmy kembali menundukkan wajahnya. Apa yang dikatakan Mama Nia itu benar. Tetapi, entah mengapa ia takut gagal dan perjuangan selama empat tahun akan berakhir sia-sia saja.
"Pikirkan itu dulu nak, apa kamu siap secara mental. Apa kamu mampu mengemban tugas sebagai seorang istri. Tugas seorang istri itu berat Kim, butuh mental yang luar biasa saat kita terjun menjadi seorang istri, apa lagi menjadi seorang Ibu kelak," Ucap Mama Nia.
"Kimmy akan pikirkan dengan baik-baik masukan Mama dan Papa," Ucap Kimmy.
Kimmy melirik arlojinya, jarum jam sudah menunjukan pukul setengah tujuh pagi. Lalu, ia beranjak dari duduknya.
"Ma, Pa, Kimmy berangkat kerja dulu ya. Ini hari pertama Kimmy, jadi Kimmy takut terlambat."
"Ayo Papa antar kan," Ucap Papa Bobby sambil bersiap-siap untuk mengantar Kimmy.
"Aku jadi merepotkan Papa," Ucap Kimmy.
"Papa juga mau ke suatu tempat, jadi sekalian," Ucap Papa Bobby sambil mencium pipi Mama Nia.
"Aku antar kan Kimmy dulu ya sayang."
__ADS_1
Mama Nia mengangguk dan tersenyum kepada Papa Bobby.
Di susul oleh Kimmy yang mengecup punggung tangan Mama Nia dan pipi Mamanya itu.
"Good luck sayang," Ucap Mama Nia kepada Kimmy.
"Terima kasih Mama," Ucap Kimmy sambil memeluk Mama Nia dengan erat.
...
Di perjalanan menuju kantor Kimmy, Papa Bobby melirik anak gadisnya yang sejak tadi hanya terdiam membisu. Papa Bobby paham, bila saat ini Kimmy sedang banyak pikiran. Papa Bobby pun menyentuh pipi Kimmy dan tersenyum kepada gadis itu.
"Papa..." Ucap Kimmy yang terkejut saat Papa Bobby mencubit pipinya.
"Anak gadis Papa kok murung di hari pertama bekerja?"
"Bukan murung Papa..., Kimmy sedang memikirkan apa yang Mama ucapkan tadi," Ucap Kimmy.
Papa Bobby tersenyum dan melirik Kimmy sekali lagi.
"Kim, apa yang dikatakan Mamamu itu benar. Menikah itu tidak seindah dan semulus yang anak muda pikirkan. Butuh kedewasaan mental," Ucap Papa Bobby.
"Seingat Kimmy, Papa menikahi Mama saat usia Papa dua puluh tahun ya?" Tanya Kimmy.
Papa Bobby mengangguk, membenarkan ucapan Kimmy.
"Apa Papa sudah siap secara mental?" Tanya Kimmy.
Papa Bobby tersenyum dan melirik Kimmy yang terlihat serius dengan pertanyaan nya.
"Memang, kesiapan mental itu tidak memandang usia. Tetapi, lebih banyak orang-orang lupa bila kesiapan mental menjadi syarat utama untuk menikah." Terang Papa Bobby.
"Jadi maksud Papa, Papa saat itu sudah siap mental?" Tanya Kimmy.
"Sudah pasti siap, kalau tidak, tidak mungkin bertahan dengan Mama mu yang aneh itu sampai detik ini," Ucap Papa Bobby sambil tertawa.
Kimmy tertawa mendengar jawaban Papa Bobby.
"Mama aneh gimana?" Tanya Kimmy.
"Dia itu hampir mirip kamu, dia orang yang dominan, cerewet, kelakuan nya agak sedikit gesrek, blak-blakkan. Tetapi, dia orang yang sangat baik, pengertian, penuh kasih sayang, walaupun sedikit ke kanak-kanakan."
"Yah, walaupun Papa terhitung masih kecil saat itu, tetapi karena Papa sudah siap menjadi Imam, ya... Papa harus bersikap seperti Imam, menuntun dan membuat Mama mu tenang. Bertanggung jawab dan mencoba untuk setia dengan Mama di segala kondisi. Itu karena apa? Karena Papa siap dan menerima konsekuensi pernikahan," Sambung Papa Bobby.
Kimmy menatap Papa Bobby dengan tatapan yang terkagum-kagum.
"Iya sih, siapa juga yang tahan sama Mama kalau bukan Papa." Celetuk Kimmy.
__ADS_1
"Hust..!"
Lalu, Papa Bobby dan Kimmy tertawa geli.