
"Siapa orang yang paling hebat?" Tanya Engkong Mamat kepada Kimmy yang duduk dipangkuan nya.
"Engkong dong," Ucap Kimmy sambil memamerkan gigi depan nya yang ompong.
"Bukan..."
"Jadi siapa Kong?" Tanya Kimmy penasaran.
"Orang yang hebat, adalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya," Ucap Engkong Mamat sambil menatap kedua mata bundar Kimmy.
Kimmy menatap Engkong Mamat dengan tatapan bingung.
"Apa itu hawa nafsu Kong?" Tanya Kimmy dengan polos.
"Hawa nafsu itu, ada di setiap diri manusia. Hawa nafsu, seperti kita mau makan apa, mau beli apa, mau marah, mau emosi, atau apa saja. Nanti, kamu sudah dewasa ingat kata-kata Engkong ini ya... dan Engkong harap, kamu dan adik mu termasuk salah satu manusia yang hebat itu," Ucap Engkong Mamat.
Kata-kata itu terus terngiang di telinga Kimmy. Engkong Mamat mengatakan hal itu kepadanya, tepat seminggu sebelum Engkong Mamat meninggalkan dunia untuk selama-lamanya.
Kimmy menatap foto Engkong Mamat yang tergantung di dinding rumahnya.
"Kong, Kimmy tidak mengatakan bila Kimmy sudah berhasil mengendalikan hawa nafsu. Tetapi, karena nasihat Engkong, Kimmy berusaha belajar mengamalkan nya," Ucap Kimmy.
Lalu, ia melangkah ke belakang rumah untuk menemui peristirahatan terakhir sahabat pertamanya itu.
"Engkong, Kimmy pulang... Engkong apa kabar? Semoga Engkong beristirahat dengan damai di sisi Allah ya Kong.. Kimmy rindu sama Engkong," Ucap Kimmy sambil menitikkan air mata.
Kimmy baru saja tiba di Indonesia beberapa jam yang lalu. Setelah menata pakaiannya kedalam lemari di kamarnya, Kimmy pun bergegas turun hanya untuk menatap foto Engkong Mamat.
Kisah masa kecil yang begitu seru dengan lelaki tua yang selalu tersenyum. Kisah yang begitu melekat didalam memory otak Kimmy. Engkong Mamat yang kocak, tetapi tetap berwibawa dengan segala ucapannya. Banyak pelajaran yang Kimmy petik dari seorang lelaki tua yang merasa kesepian karena di tinggal cinta sejatinya yang harus terlebih dahulu menghadap Illahi.
Masih jelas dalam ingatan Kimmy, Engkong Mamat selalu mengajak nya jalan-jalan sore dengan sepeda antik milik Engkong Mamat, keliling komplek. Sepanjang jalan, lelaki tua itu selalu bercerita tentang kehidupan dengan caranya yang sangat sederhana dan menyenangkan. Hingga begitu mudah untuk di pahami oleh bocah ingusan seperti Kimmy.
Rasa cinta Kimmy kepada Engkong Mamat, mungkin melebihi rasa cintanya kepada kedua orangtuanya. Bukan mau memperbandingkan, hanya saja ada perasaan yang tidak biasa kepada lelaki tua itu di hati Kimmy.
Lelaki tua itu selalu menemani Kimmy dan mengajak Kimmy kemanapun ia pergi. Terutama saat masa-masa Mama Nia sibuk dengan kelahiran Abian. Engkong Mamat lah yang mengisi rasa kosong di hati Kimmy yang sempat merasa cemburu dengan Abian.
Engkong Mamat segalanya bagi Kimmy. Itulah mengapa Kimmy begitu merasa terpuruk saat lelaki tua itu menghembuskan nafas terakhirnya untuk menyusul sang kekasih Dunia dan Akhiratnya.
"Kim..." Panggil Mama Nia yang kini ikut berjongkok disamping Kimmy.
Kimmy yang sedang membersihkan rerumputan di makam Engkong dan Nyai nya pun menoleh dan tersenyum kepada Mamanya.
"Ya Ma?"
__ADS_1
"Istirahat yuk, nanti Mama yang akan membersihkan makam Engkong dan Nyai," Ucap Mama Nia.
"Kimmy gak capek kok Ma, Kimmy mau disini dulu. Kimmy kangen sama Engkong dan Nyai," Ucap Kimmy sambil menahan tangisnya.
Mama Nia membelai rambut Kimmy. Lalu, ia menepuk lembut punggung anak gadisnya itu.
"Ya sudah, nanti kamu istirahat ya..."
"Iya Ma," Sahut Kimmy sambil kembali mencabut rerumputan yang tumbuh di atas gundukan tanah makan kedua orang yang sangat ia cintai itu.
"Oh iya, Farhan kok gak datang tadi?" Tanya Mama Nia.
Kimmy terdiam sesaat, lalu ia kembali menoleh dan menatap Mama Nia.
"Dia sedang sibuk Ma, dia akan menemui Kimmy besok Malam," Ucap Kimmy.
"Oh, begitu... Ya sudah, Mama kedalam dulu ya,"
"Iya Ma,"
Mama Nia beranjak dan meninggalkan Kimmy sendirian. Kimmy mulai mengusap batu nisan kedua orang yang ia sayangi itu. Lalu, ia pun berdo'a untuk keselamatan mereka berdua di akhirat.
..
Athar yang sedang menyendokkan nasi nya pun terdiam dan menatap Bunda Farah dengan seksama.
"Kimmy di Jakarta?" Tanya nya dengan wajah yang tak percaya.
Bunda Farah tersenyum, lalu ia mengangguk.
"Oh, kapan tiba?" Tanya Athar sambil melanjutkan makan malamnya.
"Tadi pagi. Memangnya kamu belum berkomunikasi dengan Kimmy? Perasaan dulu, Kimmy pernah meminta nomor ponsel mu yang baru lewat Tante Nia deh," Ucap Bunda Farah.
Athar kembali terdiam. Ia mengingat sebuah nomor asing yang pernah menghubungi dirinya.
"Ah.. iya, komunikasi kok Bun. Tapi, tidak sering. Mungkin karena kami sama-sama sibuk," Ucap Athar, berbohong.
"Beneran komunikasi? Kok kamu tidak tahu dia bakalan pulang hari ini?" Tanya Bunda Farah.
"Mungkin pernah ngomong, Athar nya saja yang lupa," Ucap Athar sambil meraih gelas minuman nya.
Ayah Andra melirik Athar dan memperhatikan sikap Athar saat itu. Sebagai seorang militer, Ayah Andra tidak dapat di bohongi begitu saja. Ia paham betul bila Athar sedang berbohong.
__ADS_1
"Bagaimana bisnis mu?" Tanya Ayah Andra yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Lancar kok Yah, Alhamdulillah," Ucap Athar.
"Ingat, anak Ayah anak yang tampan. Sukses dan pekerja keras. Kamu harus menyelesaikan kuliah mu yang tinggal satu setengah semester lagi, Ok?" Ucap Ayah Andra sambil tersenyum.
"Ok Ayah..!" Seru Athar dengan wajah yang bersemangat.
"Hebat ! Itu baru anak Ayah !" Ucap Ayah Andra dengan wajah yang terlihat bangga kepada Athar.
Sebenarnya tujuan Ayah Andra mengalihkan topik tentang Kimmy. Ayah Andra ingin Athar kembali mengingat nasihatnya untuk sukses terlebih dahulu.
Beruntung, Athar pun selalu mengikuti segala nasihat yang telah ia berikan kepada anak tirinya itu.
"Ya sudah, Athar mau ke rumah Kiki dulu ya Bun, Ayah.." Ucap Athar sambil beranjak ke wastafel untuk mencuci piring bekas makan malamnya.
"Loh, Kiki siapa?" Tanya Ayah Andra.
"Itu loh, gadis cantik yang menjadi teman dekat Athar," Bisik Bunda Farah.
"Pacar?" Tanya Ayah Andra sambil menatap Athar.
"Bukan Yah, cuma teman di kampus. Dia mengundang Athar untuk merayakan Ulang tahun nya yang ke dua puluh dua tahun." Terang Athar.
"Oh... Ayah kira, kamu sudah pacaran..." Ucap Ayah Andra sambil menghela nafas lega.
"Loh, memangnya kenapa kalau Athar pacaran?" Tanya Bunda Farah.
"Athar harus menyelesaikan kuliahnya dulu. Jangan sampai keluarga perempuan menganggap anak ku tidak mapan dan berpendidikan," Ucap Ayah Andra.
Bunda Farah menatap Ayah Andra dengan tatapan haru. Betapa hati lelaki yang ia nikahi dua puluh tahun yang lalu itu begitu luar biasa. Ayah Andra bukan hanya menjadi suami pengganti untuk Bunda Farah. Tetapi, juga mampu diandalkan menjadi Ayah dari anak-anak nya.
Bunda Farah mengecup pipi Ayah Andra di depan anak-anak nya. Ayah Andra pun terkejut dan menatap Bunda Farah dengan tak percaya.
"Sayang... ada anak-anak loh," Ucap Ayah Andra.
"Kami gak liat kok ya Thar..." Ucap Queen sambil tersenyum geli.
"Iya, Athar juga gak liat," Ucap Athar sambil menyandang tas berisi kado untuk Kiki.
Bunda Farah tersenyum lebar, sedangkan Ayah Andra hanya dapat menggelengkan kepalanya, melihat tingkah anak-anak dan istrinya itu.
"Awas kamu ya, nanti aku bales !" Bisik Ayah Andra ke telinga Bunda Farah.
__ADS_1
"Siapa takut?" Ucap Bunda Farah sambil menantang tatapan nakal kekasih halal nya itu.