
Athar mengendarai mobil milik Kimmy dengan kecepatan sedang entah kemana. Ia hanya mengendarai mobil itu mengikuti jalanan Ibukota begitu saja. Kimmy yang duduk disebelahnya masih diam membisu. Kimmy bagaikan Sebuah boneka yang duduk diam tanpa kata.
Athar melirik Kimmy yang terus menatap lurus ke jalan, hingga Athar pun berinisiatif untuk menepikan mobilnya ke sisi kiri jalan. Ia menarik tuas rem dan menatap Kimmy yang masih diam membisu.
"Kim," Panggilnya sambil menyentuh lengan Kimmy.
Kimmy menoleh dengan tatapan kosong. Yang membuat Athar menjadi salah tingkah.
"Thar,"
"Ya?"
"Boleh gue gamparin elu?" Tanya Kimmy dengan wajah yang datar.
Athar mengangkat kedua alisnya dan terdiam menatap wajah Kimmy yang tanpa ekspresi.
"Elu jahat, itu ciuman pertama gue Thar," Ucap Kimmy dengan nafas yang sesak.
"Hah? Ciuman pertama?" Tanya Athar tek percaya.
Kimmy mengangguk dengan mata yang memerah.
"Alhamdulillah... barokah," Ucap Athar sambil mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sedang berdo'a.
"Gak lucu Athar !" Bentak Kimmy yang kini menangis.
"So-sorry Kim, gu-gue bukan lagi becanda. Gue hanya bersyukur," Ucap Athar.
Plakkkkk !
Kimmy mendaratkan sebuah tamparan keras ke wajah Athar.
Athar terdiam sambil mengusap pipinya yang tampak memerah.
"Gue merasa berdosa tau !" Kimmy menangis tersedu-sedu.
"Kim, gue... gue gue akan tanggung jawab. Yuk Nikah biar gue bisa tanggung jawab dan menebus dosa gue," Ucap Athar sambil berusaha membuat Kimmy tenang.
"Jahat elu ! Main sosor aja ! Di depan Farhan lagi ! Nanti dia anggap gue gimana?" Ucap Kimmy sambil menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya dan menangis tersedu-sedu.
"Maaf ya Kim, habisnya dia nuduh lu sama gue yang enggak-enggak. Ya sudah, kalau dia tuduh sekalian aja."
"Athar ! Huaaaaa Athar Jahat !" Kimmy memukul-mukul dada Athar.
Lelaki itu pun langsung memeluk Kimmy, agar gadis itu dapat tentang kembali.
"Ya sudah, yuk kita temui Om Bobby, aku akan buat pengakuan dosa. "Aku telah mencium anak gadisnya"." Ucap Athar.
"Ih sebel banget gue sama elu !" Kimmy mendorong tubuh Athar.
Tok ! Tok ! Tok !
Terdengar ketukan dari kaca jendela mobil Kimmy.
Mereka berdua menoleh kearah jendela di samping Athar.
"Polisi Thar..." Ucap Kimmy.
"Eh iya, sebentar ya," Ucap Athar sambil membuka pintu mobil itu.
"Selamat siang Mas, ini ada apa ya kok parkir di pinggir jalan terus Mas nya peluk-pelukan begitu? Mau berbuat mesum ya Mas?" Tanya polisi itu.
__ADS_1
"Hah? Bu-bu-bukan begitu Pak," Ucap Athar dengan gugup.
"Saya melihat sendiri, gadis itu menangis dan anda berusaha untuk memeluknya. Ayo, ikut ke pos polisi," Ucap Polisi itu.
"Tapi Pak,"
"Anda bisa jelaskan di kantor polisi ya," Ucap Polisi itu sambil menggiring Athar menuju ke mobil polisi.
"Pak, terus itu pacar saya gimana?" Tanya Athar.
"Nah, kan... pacaran terus peluk-pelukan di pinggir jalan. Dasar anak jaman sekarang !"
"Bu-bu-bukan begitu Pak. Duh gue salah bicara dah," Ucap Athar sambil memukul-mukul bibirnya.
"Sudah, nanti pacar kamu sama mobilnya di bawa ke kantor polisi. Mohon segera hubungi kedua orang tua kalian," Ucap Polisi itu sambil mendorong Athar masuk kedalam mobil Polisi.
"Aduh...! Mampus gue !" Gumam Athar.
"Pak, itu teman saya mau diapakan Pak?" Tanya Kimmy yang terlihat khawatir dengan Athar yang dimasukkan ke mobil Polisi.
"Mau di bawa ke kantor polisi, Mbak nya juga. Saya yang bawa mobilnya ya, maaf saya masuk ya Mbak," Ucap rekan polisi yang membawa Athar.
"Tapi Pak, kenapa ya?" Tanya Kimmy.
"Kalian berbuat mesum di pinggir jalan."
"Tapi saya gak begitu Pak !" Ucap Kimmy panik.
"Oh, jadi Mbak dipaksa sama lelaki itu?" Tanya Polisi itu sambil menyalakan mesin mobil Kimmy.
"Bukan begitu.. duh gimana sih jelasinnya !" Ucap Kimmy sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah, sekarang tolong hubungi kedua orang tua Mbak, untuk di sidang di polsek ya Mbak,"
....
Vania yang sudah rapi dengan dress dan tas tangannya, tampak mengendap-endap menuju ke pintu depan rumah nya. Ia sengaja berniat pergi tanpa sepengetahuan Mama dan Papanya. Sejak ia pulang tadi, Vania tidak mau keluar kamarnya. Tetapi, setelah keadaan ia anggap aman, ia pun berniat keluar dan pergi ke rumah Farhan.
"Ehemmm," Terdengar Om Andreas berdeham di ruang keluarga.
Langkah Vania terhenti dan menoleh ke belakang, ia menatap Papa nya yang baru saja melepaskan kaca mata bacanya dan meletakkannya di atas meja bersama dengan koran yang baru saja Papanya baca.
"Mau kemana kamu? Papa ingin bicara," Ucap Papanya.
"Mau ke rumah teman," Ucap Vania.
"Duduk," Ucap Papanya sambil menunjuk sofa yang ada di depan nya.
"Tapi Pa, aku terburu-buru."
"Duduk !" Ucap Papanya dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Nyali Vania pun mendadak ciut, ia melangkah mendekati sofa tersebut dan duduk menghadap ke Papanya.
"Ma....."
"Ya..." Sahut Mama Naya dari dalam kamar.
"Ini Vania sudah keluar..! Sini Ma...." Ucap Papa Andreas sambil menatap Vania dengan tajam.
"Ada apa sih Pa?" Tanya Vania yang terlihat malas meladeni orang tuanya.
__ADS_1
"Diam, jangan bicara kecuali Papa dan Mama tanya !" Ucap Papa Andreas.
Vania terdiam, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
Mama Naya berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang keluarga, ia pun menghela nafasnya saat melihat Vania yang sudah terlihat siap untuk pergi lagi.
"Mau kemana kamu?" Tanya Mama Naya sambil beranjak duduk disamping Papa Andreas.
"Kerumah teman," Ucap Vania dengan acuh tak acuh.
"Mama mau tanya sama kamu ya Vania ! Kamu bilang kamu ke Bali, tapi kenapa kamu naik taksi dari Puncak?" Tanya Mama Naya.
"Ngggg... itu...." Vania mendadak gagu untuk menjawab pertanyaan Mama Naya.
"Kamu membohongi Mama ya Van? Jawab dengan Jujur Vania !"
Vania diam membisu, ia takut sekali untuk jujur kepada kedua orang tuanya.
"Jawab !" Desak Mama Naya.
"Ngggg.. a-aku gak jadi ke Bali. Teman-teman beralih ke puncak," Ucap Vania.
"Jangan pikir Mama mu ini bodoh Van, Mama ini seorang pengacara. Mama tahu bila orang berbohong kepada Mama !"
"Vania gak bohong kok !" Tegas Vania.
"Jadi, kamu memang gak ke Bali dari awal kan? Tidak ada tiket dan lain sebagainya. Kamu memang pergi ke Puncak. Dan yang buat Mama bertanya-tanya, dengan siapa kamu ke Puncak dan kemana barang-barang mu? Dompet? Handphone?" Tanya Mama Naya.
Vania menundukkan wajahnya, ia merasa terpojok dengan pertanyaan dari Mamanya.
"Apa gue jujur saja ya? Biar Mama sama Papa memberikan Farhan pelajaran. Tetapi, gue malu mau jujur. Masa gue bilang kalau gue sudah gak perawan lagi? Gimana ini.....?" Batin Vania yang terlihat risau.
"Vania, jawab ! Bisakah kamu jujur dengan kami? Biar kami tahu masalah mu apa? Kamu pergi dengan siapa? Kemana barang-barang mu? Apa kamu di rampok orang atau bagaimana, biar bisa di proses Vania !" Ucap Mama Naya.
"Rampok? boleh juga... tapi...apa iya aku harus mengatakan yang sebenarnya? Bagaimana ini? Apa memang di rampok adalah alasan yang baik? Tapi, Farhan.. laki-laki itu sudah di luar batas. Apa aku harus memberikan pelajaran dengan membuka aib?" Batinnya.
"Vania !"
"I-iya..M-m-maaaa.."
"Iya? Kamu kena rampok? Siapa yang merampok mu? Teman mu? Atau orang yang gak dikenal? Ini gak bisa di biarkan! Mama harus membuat laporan secepatnya...!"
"Ma, kenapa sih Mama selalu membuat kesimpulan sendiri? Vania belum selesai berbicara Ma !" Ucap Vania.
Mama Naya terdiam, ia menatap Vania dengan tatapan tak percaya.
"Vania..!"
"Kalian hanya sibuk dengan diri kalian. Kalian hanya sibuk dengan asumsi kalian sendiri ! Kenapa sih gak mau mendengarkan penjelasan dulu !" Keluh Vania.
"Vania lancang kamu ya !"
"Lancang? Disaat anak mengungkapkan isi hatinya, itu lancang? Orang tua macam apa kalian !" Ucap Vania sambil beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Vania !" Panggil Mama Naya sambil mengusap dadanya yang terasa sakit.
"Nay... Naya !"
Papa Andreas merangkul tubuh Mama Naya yang nyaris saja terjatuh dan merebahkan nya di atas sofa.
"Nay, sabar Nay..."
__ADS_1
"Sayang.... dada ku sakit...!" Ucap Mama Naya yang tampak kesulitan bernafas.
"Aku akan panggilkan ambulance !" Ucap Papa Andreas sambil meraih ponselnya dan menghubungi ambulance untuk membawa Mama Naya ke rumah sakit.