
"Mang... Mang..!" Vania memanggil penjaga Villa yang sedang tertidur di pos jaga tepat di samping gerbang Villa.
Lelaki paruh baya itu terbangun dan mengusap wajahnya, perlahan ia menatap Vania yang sedang berada di luar gerbang yang terkunci.
"Eh, Neng Vania, mau ambil barang ya?" Tanya penjaga Villa itu.
"Iya, boleh saya masuk?" Tanya Vania.
"Hmmm, kata A'a Farhan, Neng Vania gak boleh masuk kedalam Neng. Kalau Neng datang, si A'a teh pesan, kalau saya langsung saja berikan barang-barang nya Eneng." Terang penjaga Villa itu.
"Gak boleh masuk memangnya kenapa?" Tanya Vania, kesal.
"Mamang teh kurang tahu atuh Neng. Pokok nya, si A'a teh pesan nya begitu."
"Saya mau bertemu dengan Tante Rara dan Om Farhan. Coba kamu kasih tahu mereka !" Perintah Vania.
"Tapi Neng...."
"Sudah, buruan sana!"
"I-iya Neng," Penjaga Villa itu pun langsung beranjak menuju sepeda motornya yang terparkir di samping pos jaga. Lalu, ia menyalakan sepeda motor itu dan mengendarainya menuju ke Villa yang jarak nya lumayan jauh dari gerbang depan Villa itu. Sementara, Vania terlihat gelisah menunggu di depan gerbang Villa itu.
Tak lama kemudian, penjaga Villa kembali ke pos jaga, lalu ia menemui Vania yang sudah menunggu dengan wajah yang cemas.
"Mangga masuk Neng," Ucap penjaga Villa sambil membukakan gerbang untuk Vania.
Vania tersenyum puas, lalu ia beranjak masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobil itu sampai di depan halaman Villa.
Terlihat Tante Rara duduk di beranda depan Villa bersama dengan Om Fathur yang tampak belum begitu sehat. Lelaki tua itu memakai syal dan jaket yang tebal untuk melawan dinginnya udara pada sore hari itu.
"Tante, Om," Sapa Vania saat ia baru saja turun dari mobilnya.
"Vania, ada apa?" Tanya Tante Rara.
"Saya mau bicara Tante," Ucap Vania.
"Silahkan duduk, Tante pesankan minum ya..." Ucap Tante Rara.
"Boleh Tante," Ucap Vania sambil mengangguk pelan.
"Bibikkkkkkkk...!" Panggil Tante Rara.
"Iya nyonya...." Bik Atun tergopoh-gopoh menuju beranda depan Villa itu.
"Iya nyah," Ucap Bik Atun, saat itu juga ia melirik Vania dengan tatapan tidak suka.
"Tolong buatkan minum untuk Vania ya."
"I-iya nyonya," Ucap Bik Atun sambil beranjak ke dapur.
__ADS_1
"Perempuan itu lagi, perempuan itu lagi, ini Villa penuh dosa sudah !" Batin Bik Atun.
"Ada apa Van?" Tanya Tante Rara membuka obrolan mereka.
"Begini Tante, saya kan sudah tiga tahun berpacaran dengan Mas Farhan.... tetapi..."
"Maaf, bisa diulangi lagi kata-katamu?" Potong Tante Rara.
Vania terdiam, ia dapat menangkap rasa tidak suka dan terkejut dari wajah Tante Rara.
"Hmmm, saya dan Mas Farhan sudah berpacaran selama tiga tahun Tante." Ulang Vania.
"Apa ! Pacaran? Tiga tahun?" Tanya Tante Rara sambil menertawakan ucapan Vania.
Dengan polos, Vania mengangguk memastikan apa yang ia katakan itu benar adanya.
"Maaf ya Van, Tante hanya terkejut. Bukan apa-apa, Tante kok gak percaya apa kata-kata kamu. Farhan itu, sudah mau menikah loh Van dan dia sudah berpacaran selama empat tahun dengan Kimmy, anak nya Tante Nia loh," Terang Tante Rara.
"Pacaran sama Kimmy?" Tanya Vania.
"Iya, memang nya kamu baru tahu? Jadi pacaran tiga tahun sama kamu itu apa? Gak mungkin Vania..." Ucap Tante Rara sambil tertawa.
"Farhan bajingan ! Bisa-bisanya dia menipu aku !" Batin Vania.
"Terus, maksudmu apa kesini Van?" Tanya Tante Rara lagi.
"Tante, terserah Tante mau percaya atau tidak, saya juga di bohongi sama Mas Farhan. Saya dan Mas Farhan sudah berpacaran selama tiga tahun dan itu faktanya. Sekarang, saya mau meminta pertanggungjawaban Mas Farhan terhadap saya Tan. Dia mau mencampakkan saya begitu saja, padahal kami sudah melakukan hal yang dilarang Agama," Ucap Vania.
"Vania maksud kamu apa ya? Kamu menuduh anak saya berzina dengan kamu! Itu tidak mungkin Vania. Kalau kamu di tolak cintanya sama Farhan, ya jangan memfitnah begini dong Vania ! Kamu di didik gak sih sama Mama mu itu? Mama mu itu orang hukum loh, jadi memfitnah ini bisa kena pasal Vania ! Harusnya kamu paham itu !" Ucap Tante Rara yang terlihat emosi.
"Tante, aku gak fitnah. Aku kesini mau mengambil barang-barang ku yang tertinggal, sekalian menjelaskan duduk masalah aku dengan Mas Farhan. Dia memutuskan hubungan begitu saja, padahal kami sudah tiga tahun bersama dan aku sudah tidak......."
"Vania cukup ! Kamu tidak malu menuduh anak saya begitu? Kamu rendahan sekali."
Vania menatap Tante Rara dengan wajah memerah.
"Rendahan Tante? Disaat orang jujur dan minta pertanggungjawaban itu rendah? Anak Tante yang rendahan ! Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab ! Laki-laki manja gak ada harga diri !" Ucap Vania dengan emosi.
"Jaga ucapan mu Vania !" Bentak Tante Rara.
"Arghhhhhh...!"
"Sayang...!" Pekik Tante Rara sambil menyambut tubuh Om Fathur yang nyaris saja terjatuh di atas lantai.
"Bibikkkkkkk tolong...!" Jerit Tante Rara.
"Tante, saya memang salah sudah mempercayai mulut buaya anak Tante ! Tetapi, saya punya harga diri Tante, saya tidak bisa di perlakukan begini ! Terutama Tante ikut menghina saya, mulut Tante sama saja dengan Farhan. Ngaku kuliah tinggi-tinggi tapi tidak terdidik !" Hardik Vania.
"Kamu....! Pergi kamu ! Anak kurang ajar !" Hardik Tante Rara sambil menunjuk-nunjuk Vania.
__ADS_1
Vania beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja.
Sementara Tante Rara terlihat panik saat Om Fathur sudah tidak lagi bergerak.
"Fat...! Fat...! Bangun Fathur...! Jangan tinggalkan aku Fathur...!" Jerit Tante Rara sambil mengguncang-guncang tubuh Om Fathur.
.....
"Sudah ya Pak, masalahnya sudah selesai. Biar kami yang mendidik anak-anak kami dan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan," Ucap Ayah Andra sambil beranjak dari duduknya.
"Siap Pak, kami mohon maaf sebelumnya. Kami tidak tahu bila adik itu adalah anak Bapak Andra."
"Ah, tidak apa-apa. Bapak-bapak disini sudah benar sekali, Bapak-bapak menjalankan tugas dengan baik sebagai pengayom masyarakat," Ucap Ayah Andra sambil tersenyum.
"Siap Pak, lagi pula, anak Bapak juga tidak mengatakan bila dia adalah anak Bapak Andra. Jadi, kami yah begitulah."
Ayah Andra hanya tersenyum, lalu menepuk-nepuk bahu Bapak polisi dan berpamitan untuk pulang membawa Kimmy dan Athar.
Kimmy dan Athar dilepaskan begitu saja, karena kedua orang tua mereka berjanji akan menindak lanjuti masalah ini secara kekeluargaan dan juga akan mendidik anak-anak mereka untuk berlaku sopan di luar rumah dan menjaga sikap mereka dengan lawan jenis.
Kimmy menundukkan wajahnya saat keluar dari kantor itu. Sedangkan Athar terus tersenyum sambil melirik Kimmy yang terlihat seperti seorang tersangka kriminal di matanya.
"Kita harus membicarakan ini, hari ini juga. Ini masalah serius bagi saya. Bila orang yang belum sah menjadi sepasang suami istri sudah berlaku yang tidak pantas di depan umum," Ucap Ayah Andra dengan tegas.
Mama Nia, Papa Bobby dan Bunda Farah hanya menundukkan wajah mereka karena malu dengan kelakuan anak-anak mereka.
"Sebagai orang tua laki-laki, dengan kerendahan hati, kami mohon masalah ini kita selesaikan di rumah pihak perempuan." Sambung Ayah Andra.
"Ayah, ngomong resmi banget sih? Kayak mau di kawinin aja Kimmy sama Athar," Ucap Kimmy.
"Lah, terus mau ngapain Kim? Kamu gak mau dikawinin sama Athar setelah athar memeluk dan mencium kamu? Apa orang tua mu rela anak nya di cium dan di peluk begitu saja?" Tanya Ayah Andra sambil menatap Kimmy.
Kimmy terdiam membisu, ia menundukkan wajahnya dan menangis.
Ayah Andra melirik Papa Bobby yang ikut tertegun. Lalu, perlahan Papa Bobby tersenyum dan mengangguk kepada Ayah Andra.
"Saya paham Mas," Bisik Papa Bobby.
"Ya ya ya ya..." Ucap Ayah Andra sambil menepuk-nepuk bahu Papa Bobby.
Mama Nia dan Bunda Farah saling bertatapan. Bunda Farah mengangkat kedua alisnya saat menatap Mama Nia.
Mama Nia mengerutkan keningnya sambil berjalan menuju ke parkiran mobil.
"Ini serius mau nikah?" Tanya Mama Nia.
"Mending anak gue apa Farhan?" Tanya Bunda Farah.
Mama Nia menatap Bunda Farah dengan seksama.
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya ada jalan," Ucap Mama Nia sambil cekikikan.
"Nah.... kuy kita rembukan... !" Ucap Bunda Farah dengan bersemangat.