
"Thar," Panggil Bunda Farah dengan lembut kepada putra bungsunya yang sedang termenung di halaman belakang rumah mereka.
Athar menoleh dan mencoba tersenyum kepada Bundanya itu.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Bunda Farah.
Athar hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil.
Saat itu juga muncul Ayah Andra dengan secangkir kopi nya dan bergabung dengan mereka.
"Kalau jodoh gak akan kemana-mana. Kita sebagai lelaki, buat apa menangis d memaksakan kehendak?" Celetuk Ayah Andra.
Athar dan Bunda Farah hanya terdiam mendengar ucapan Ayah Andra.
"Terkadang wanita susah dimengerti. Terkadang ia tidak menyadari mana yang baik dan mana yang buruk untuknya. Bahkan ada wanita yang memutuskan hubungan dengan seorang Pria hanya dengan alasan "Pria itu terlalu baik untuknya". Tetapi, saat bertemu dengan lelaki brengsek, ia mengatakan semua lelaki sama saja,"
"Apaan sih..." Ucap Bunda Farah sambil menatap Ayah Andra dengan kerut di keningnya.
"Lah memang iya kok sayang," Ucap Ayah Andra sambil tertawa.
"Bener itu Yah !" Seru Athar.
"Ini lagi, Ayah sama anak sama saja," Ucap Bunda Farah.
"Ayah rasa, Kimmy mencintai kamu, hanya saja dia tidak menyadari perasaan nya sendiri. Bisa jadi, karena dia terlalu lama menjalin hubungan dengan Farhan dan terlaku terpaku dengan nya, maka ia mencoba mengingkari semua perasaan nya hanya dengan alasan setia dengan satu pasangan saja. Kimmy perempuan baik, jadi wajar dia seperti itu. Kita berpikiran positif saja, jangan sepenuhnya menyalahkan Kimmy," Ucap Ayah Andra.
"Bagaimana Ayah bisa menyimpulkan itu semua?" Tanya Athar yang terlihat tertarik dengan pendapat Ayah Andra.
"Perempuan tidak terlalu cerdas menghadapi dilema. Karena mereka makhluk yang selalu mengutamakan perasaan. Semua itu terbukti pada Bunda mu ini," Ucap Ayah Andra.
"Kok aku?" Ucap Bunda Farah sambil mencubit lengan Ayah Andra.
Ayah Andra tersenyum lebar, lalu ia merangkul Bunda Farah dan mengecup pipi wanita yang ia cintai itu.
"Andai kata, Ayah tidak berbicara dari hati kehati kepada Ayah Gunawan. Mungkin saat ini bukan Ayah lah yang menjadi Ayah mu Thar," Ucap Ayah Andra.
"Mengapa Ayah berani berbicara dengan jantan kepada atasan Ayah yang mau Ayah tikung calon istrinya? Karena Ayah yakin, Bunda mu ini mencintai Ayah. Hanya saja dia merasa dilema dan tidak bisa berbuat apa-apa."
Bunda Farah menundukkan wajahnya. Apa yang dikatakan Ayah Andra seratus persen benar. Andaikan Ayah Andra tidak berusaha berbicara kepada Ayah Gunawan. Entah bagaimana kehidupan pernikahan dirinya kini bersama Ayah Gunawan yang kini sudah bercerai lagi dengan istri barunya.
"Masud Ayah, aku harus berbicara dengan Farhan?" Tanya Athar.
"Yah, lihat dulu lawan bicaranya sih. Kalau Farhan.... Ck... Ayah gak yakin anak itu dewasa,"
"Lalu?" Tanya Athar.
__ADS_1
"Siapa yang lebih dewasa, dekati dia. Kalau kasus mu ini, kaku dekati Om Bobby mu. Ngapain susah-susah? Bukan nya anak perempuan itu hak Bapak nya ya?" Ucap Ayah Andra dengan santai sambil meraih gelas kopinya dan menyeruput nya dengan perlahan.
"Ah, tapi Athar sudah mundur Yah, biarkan deh Kimmy dengan pilihan nya," Ucap Athar.
"Kamu mau Kimmy menderita? Kamu mau Kimmy menikah dengan Farhan begitu saja?" Tanya Bunda Farah yang terlihat panik.
"Kayaknya Bunda mu yang jatuh cinta sama Kimmy, Thar," Ucap Ayah Andra sambil tertawa.
"Iya lah, anak cerdas, cantik dan tahu sopan santun begitu mau di cari dimana sekarang? Apa ada calon istri yang lebih baik dari dia dan keluarganya yang dari keluarga baik-baik dan setia seperti itu?" Tanya Bunda Farah yang terlihat sedikit emosi.
Athar terdiam, ia menghela nafasnya dengan berat. Bunda Farah memang benar, selama ini ia tidak pernah menemui wanita yang lebih dari Kimmy. Kimmy yang mempunyai prinsip sangat menyita hati Athar hingga kini.
"Sudah, jangan sedih. Baru di lamar begitu Thar, belum naik pelaminan. Buat apa kita meratapi dan mundur kalau kita yakin? Apa kita meragukan kekuatan Tuhan yang maha membolak-balikkan hati?" Tanya Ayah Andra.
"Tapi... Athar sudah berdo'a tiap malam Yah. Tampaknya Kimmy memang berjodoh sama Farhan," Keluh Athar.
Ayah Andra tertawa geli, lalu ia merangkul anak laki-lakinya itu.
"Tuhan itu kadang iseng saja. Dia hanya menguji, seberapa sungguh-sungguh nya kamu? Seberapa kamu menginginkan Kimmy, hingga Tuhan yakin memberikan dia untuk mu," Ucap Ayah Andra.
"Ada-ada saja sih, Tuhan di bilang iseng!" Ucap Bunda Farah.
"Lah, memangnya Tuhan tidak mempunyai selera humor? Kalau Tuhan tidak mempunyai selera humor, mungkin dunia ini kaku loh sayang..." Ucap Ayah Andra.
Athar tersenyum sendiri mendengarkan ucapan Ayah Andra.
"Ayah yakin, Tuhan tidak menjawab do'a mu, karena ada dua kemungkinan."
"Apa itu Yah?" Tanya Athar.
"Pertama, karena Tuhan mau kamu berusaha lebih keras lagi. Kedua karena memang ketentuan takdir yang ia garis kan. Semua ada kemungkinan nya." Tegas Ayah Andra.
Athar merenungi ucapan Ayah sambungnya itu dengan baik-baik. Apa yang dikatakan Ayah Andra selalu mengena dihatinya.
"Besok, Bunda mau bicara sama Om Bobby mu. Pokoknya Bunda bantuin deh,"
Athar tersenyum menatap Bundanya.
"Gak usah Bun, biar Athar saja yang berbicara," Ucap Athar.
"Atau kita cari kesalahan Farhan ya?" Ucap Bunda Farah.
"Bundaaaa.... Jangan begitu, tidak baik menjatuhkan orang lain dengan mencari kelemahan dan kesalahan nya. Jangan mencontohkan begitu kepada Athar," Tegur Ayah Andra.
"Habis Bunda tuh gemes sama anak itu. Ughhhh..!" Bunda Farah meremas daster nya.
__ADS_1
"Sudah, biar anak kita menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia laki-laki loh, laki-laki itu harus fight sama apa yang ia hadapi."
Bunda Farah tertunduk malu, walaupun sudah tua, ia masih merasa seperti jaman SMA saat bersama para sahabatnya yang mengutamakan cara bar-bar ala anak muda.
"Dulu, orang begini mah, selalu aku eksekusi bersama Nia. Ugh... contoh si Roy Boss ku dulu. Tidak pandang bulu, sikat.. hancurkan !" Cerita Bunda Farah dengan berapi-api.
"Bundaaaa..." Tegur Ayah Andra lagi.
Bunda Farah terdiam dan mengerutkan dagunya.
"Sebel !" Ucap Bunda Farah sambil beranjak ke dalam rumah.
Ayah Andra dan Athar hanya bisa saling berpandangan dan lalu menertawai sikap Bunda Farah.
"Bunda mu itu, bar-bar luar biasa," Ucap Ayah Andra.
Athar tertawa geli dan terus menatap Ayah Andra dengan seksama.
Lelaki itu sudah beruban dan terlihat lebih gemuk dari belasan tahun yang lalu. Lelaki itu selalu menjadi pahlawan Athar kapan pun dan dimana pun. Entah mengapa, rasa cinta di hati Athar terus tumbuh kepada lelaki tua itu.
"Yah,"
"Hmmmmm," Sahut Ayah Andra sambil meniup kopi pahitnya.
"Athar makin sayang sama Ayah. Ayah segalanya bagi Athar. Terima kasih Ayah sudah menjadi bagian dari Athar. Athar sangat bersyukur memiliki Ayah."
Ayah Andra menoleh dan menatap Athar. Lalu, ia tersenyum dan menaruh gelas kopinya di atas meja.
"Ayah yang bersyukur memiliki anak seperti kamu Thar. Andaikan Ayah tidak memiliki kamu dan Kakak Queen, dunia Ayah pasti sangat sepi," Ucap nya dengan genangan air mata, di pelupuk mata tuanya.
Athar terharu mendengar ucapan Ayah Andra, hingga lehernya terasa membengkak menahan tangis.
Athar menyentuh tangan Ayah Andra yang tidak sekuat dan sekekar dulu.
"Ayah, yang terbaik," Ucap Athar.
Ayah Andra tersenyum dan menepuk pundak Athar.
"Terima kasih anak ku," Ucapnya.
Walaupun tidak ada hubungan darah setetes pun, tetapi cinta mereka sebagai keluarga, Ayah dan anak begitu kental melebihi apa pun. Mungkin, hubungan darah itu begitu kental. Tetapi, bukankah banyak orang yang sedarah tapi saling menyakiti?
Cinta, perasaan dan kasih sayang, dapat di pupuk. Bila kamu ingin di cintai, berikanlah cinta. Bila kamu ingin di kasihi, terus lah mengasihi. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang merugi.
_Untuk Ayah dan Ibu yang berstatus orang tua sambung_
__ADS_1
With love.
❤️ De'rini ❤️