Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
90# Sudahkah Anda mendengarkan anak Anda hari ini?


__ADS_3

"Lu sudah duluan kesini? kenapa kaga ngajak gue Far?" Tanya Mama Nia sambil mengerutkan dagunya.


"Maaf ya.. Tadi gue buru-buru kesini, menghindari Si Fajar."


Mama Nia membulatkan kedua matanya dan menatap Bunda Farah dengan tak percaya.


"Fajar?" Tanya Mama Nia.


"Iya, dia datang. Nanti deh gue ceritain, lu masuk dulu sana," Ucap Bunda Farah sambil mendorong Mama Nia masuk kedalam ruang ICU.


Setelah Mama Nia masuk keruang ICU, Bunda Farah duduk disamping Om Andreas yang baru saja duduk kembali setelah menyambut kedatangan Mama Nia.


"Lu mau ngomong apa Far?" Tanya Om Andreas.


Bunda Farah menatap ruang ICU, lalu ia beranjak dari duduknya.


"Lu ikut gue sebentar," Ucap Bunda Farah sambil menarik lengan Om Andreas.


"Mau kemana? Bini gue gimana?"


"Tenang, ada Nia, buruan ini penting!" Ucap Bunda Farah sambil menarik kembali lengan Om Andreas.


Dengan terpaksa Om Andreas menuruti kemauan Bunda Farah. Ia berjalan di belakang Bunda Farah yang tampak mempercepat langkah kakinya.


Akhirnya mereka berdua sampai di sebuah lorong sepi di samping ruang rawat inap bangsal sebelah. Bunda Farah menatap Om Andreas yang sedang kebingungan dengan sikap Bunda Farah.


"Andreas, si Naya kenapa bisa begitu?" Tanya Bunda Farah.


Om Andreas menundukkan wajahnya, ia tampak bersedih dengan pertanyaan yang dilontarkan Bunda Farah.


"Bukan gue penyebab nya Far," Ucap Om Andreas.


"Jadi siapa?" Tanya Bunda Farah, penasaran.


"Anak gue si Vania," Ucap Om Andreas dengan suara yang tercekat.


Bunda Farah menghela nafasnya. Seperti dugaan Ayah Andra, ternyata penyebab Tante Naya sakit adalah Vania.


"Andreas, gue mau bicara serius. Gue harap, elu mengerti dan jangan marah sama gue, gue hanya membantu anak elu si Vania," Ucap Bunda Farah.


Om Andreas mengerutkan keningnya, ia menatap Bunda Farah dengan seksama.


"Ada apa dengan Vania?" Tanya Om Andreas.

__ADS_1


"Begini, Fathur meninggal dunia, elu sudah tahu?" Tanya Bunda Farah.


Om Andreas mengangguk dan menghela nafasnya.


"Jadi, saat itu Vania datang ke Villa Rara. Disana ada Rara dan Fathur yang sedang beristirahat di Villa mereka."


"Lalu?" Tanya Om Andreas.


"Ya, Fathur serangan jantung gara-gara mendengar ucapan Vania," Ucap Bunda Farah.


Om Andreas tersentak, ia menatap Bunda Farah dengan tak percaya.


"Gak mungkin Far.." Ucap Om Andreas.


"Lu janji gak akan marah sama gue kan? Lu dengerin gue dulu. Anak lu gak sepenuhnya bersalah !" Ucap Bunda Farah.


Om Andreas terdiam, ia terduduk lemas di bangku tunggu pasien.


"Lu tahu, apa yang terjadi dengan Vania? Apa lu sebagai orang tua pernah bertanya tentang masalah pribadi yang sedang dia hadapi?" Tanya Bunda Farah.


Om Andreas menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak pernah bertanya, bahkan tidak pernah ada komunikasi dengan Vania. Sehari-hari, dirinya hanya sibuk di kantor dan pulang dalam keadaan yang lelah. Bahkan, hal itu membuat dirinya menjadi jauh dari anak-anak nya.


"Andreas, Vania bilang, dia sudah berhubungan badan dengan Farhan."


"Lelucon apa ini Far!"


"Andreas, lu tenang dulu apa.. dengerin gue.." Ucap Bunda Farah sambil menarik lengan Om Andreas agar lelaki itu duduk kembali.


Dengan cepat, Om Andreas menepis tangan Bunda Farah. Ia terlihat sangat marah dan matanya memerah.


"Gue sudah cukup menderita dengan melihat istri gue sakit Far. Lu jangan mengada-ada !"


"Gue tanya sekarang, dimana Vania? Bisa kita bicara dengan nya Andreas?" Tanya Bunda Farah.


"Gue gak tahu dimana anak sialan itu ! Sudah, lu gak usah ikut campur sama masalah keluarga gue ! Jangan juga menciptakan gosip yang murahan seperti itu Far !" Bentak Om Andreas.


Bunda Farah terdiam, ia hanya berniat membantu meluruskan masalah diantara kedua keluarga itu. Bunda Farah menghela nafas panjang, lalu menghembuskan nya dengan perlahan.


"Andreas, kalau lu gak mau termakan gosip, kenapa lu gak cari kebenarannya?" Tanya Bunda Farah.


Om Andreas terdiam membisu,


"Andreas, gue yakin Rara gak akan berbohong. Dia mengatakan hal yang sebenarnya saat bercerita tentang ucapan Vania sama gue. Kalau elu merasa itu tidak benar, mari cari kebenarannya! Bukan diam aja !."

__ADS_1


Om Andreas terlihat salah tingkah, lalu ia duduk kembali di kursi tunggu itu.


"Bila ternyata benar, berarti Vania dan Fathur punya hubungan dan sekarang bermasalah karena si Fathur memilih Kimmy. Lu bisa bayangkan kayak apa hancurnya anak elu? Lu gak mikirin anak elu sendirian tanpa ada yang membela? Apa lu gak kasihan sama dia? Iya kalau dia kuat, kalau dia tidak kuat, dia stress dan putus asa, siapa yang rugi? Jelas bukan gue kan? Tapi elu sama Naya !" Ucap Bunda Farah panjang lebar.


"Andreas, anak lu dalam kesulitan dan dia sendirian. Dia butuh elu, elu cinta pertamanya Andreas! Elu pahlawan bagi dia! Tapi dimana elu saat dia butuh elu! Saat dunia tidak berpihak kepada dia !"


Om Andreas menatap Bunda Farah dengan genangan air mata di pelupuk matanya.


"Andreas, lu gak mau anak lu di anggap memfitnah sampai membuat Fathur meninggal dunia kan?"


Om Andreas menundukkan kepalanya, ia pun menggeleng lemah.


"Gue mau membantu elu melakukan pendekatan dengan Vania. Ayo kita temui Vania, kita tanya kebenaran nya. Kita pertemukan dengan Farhan dan Rara. Masalah ini harus diselesaikan. Bila tidak, anak lu yang jadi korban, Andreas! Lu gak kasihan?"


"Vania..." Ucap Om Andreas sambil menangis tersedu-sedu.


Bunda Farah menghela nafasnya, lalu ia merangkul Om Andreas dengan erat.


"Andreas, kita temui Vania ya.. Dia dimana sekarang?" Tanya Bunda Farah.


"Gue mengusir dia Far, kemarin.." Ucap Om Andreas.


"Astaghfirullah Andreas......!"


"Gue gak tahu dia punya masalah Far, gue gak tahu dia berada dimana sekarang." Om Andreas menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Ia menangis menyesali segala perbuatannya dimasa lalu dengan banyak wanita. Namun sekarang hal yang sama menimpa anak gadisnya. Anak perempuan satu-satunya yang dia miliki. Tidak terbayangkan baginya, betapa hancurnya Vania saat ini.


"Kalau gak tahu, ayo kita cari!" Ucap Bunda Farah.


"I-iya Far," Om Andreas mengusap air matanya, lalu bergegas meninggalkan rumah sakit itu bersama Bunda Farah.


..


Mama Nia mengusap lembut tangan Tante Naya. Lalu, ia menatap Tante Naya yang terlihat sungguh memperihatinkan.


"Nay, cepat sembuh ya. Semoga, kita bisa berkumpul lagi.


"Nay, Fathur sudah berpulang mendahului kita semua Nay. Sekarang Fathur sudah tidak ada lagi di antara kita untuk selama-lamanya Nay," Ucap Mama Nia sambil menangis pilu.


Bagiamana pun, kepergian Om Fathur adalah guncangan bagi Mama Nia. Bagaimanapun, lelaki itu pernah sangat ia dambakan. Lelaki itu, lelaki baik yang pernah mengisi hari-harinya dengan tawa dan canda, walaupun berakhir luka. Tetapi, tanpa lelaki itu, mungkin saja masa remaja Mama Nia tidak seindah yang pernah terlewati. Walaupun pada akhirnya Mama Nia sempat merasa kecewa dengan Om Fathur yang baru mengatakan rasa cintanya kepada Mama Nia. Setelah puluhan tahun Mama Nia merasa Om Fathur sudah bahagia bersama Tante Rara.


"Nay, bangun ya.. Gue rindu..." Ucap Mama Nia sambil menenggelamkan wajahnya di atas punggung tangan Tante Naya.


Tetapi, apapun itu. Tiada respon dari Tante Naya yang sedang berjuang melawan masa kritisnya.

__ADS_1


__ADS_2