Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
116# Berat, tapi harus di lalui


__ADS_3

"Kimmy, aku jadi Bapak nya ya, kamu jadi Ibu nya," Ucap Athar kecil yang sedang bermain bersama Kimmy dan Farhan di bawah pohon jambu, dihalaman rumah Kimmy, saat para orang tua mereka sedang bersilaturahmi ke rumah Kimmy.


"Gak mau ah, aku sama Abang Farhan aja," Ucap Kimmy sambil meraih tangan Farhan yang tersenyum semringah saat Kimmy memilih dirinya.


Athar mengerutkan dagunya dan menatap Kimmy dan Farhan dengan perasaan yang cemburu.


"Tapi, aku kan mau jadi Bapak nya Kim," Ucap Athar yang matanya mulai memerah menahan tangis.


"Gak mau!" Ucap Kimmy yang sedang memegang sebuah boneka di tangan nya.


"Kimmy jahat!" Ucap Athar sambil berlari ke dalam rumah Kimmy.


"Biarin wekkkkkssss..! Yuk Bang, kita main lagi," Ucap Kimmy sambil menggandeng tangan Farhan.


Kimmy tertawa sendiri saat mengenang masa kecil nya bersama Athar dan Farhan. Kini ia baru menyadari, bila apa yang dikatakan Athar memang benar. Lelaki itu sudah mencintai dirinya sejak kecil.


Kimmy menghela nafasnya dan merebahkan tubuhnya yang terasa pegal di atas ranjang. Kimmy menatap langit-langit kamarnya dan kembali tersenyum kecil.


Esok, ia akan sah menjadi istri dari sahabat nya itu. Tidak pernah ia sangka akan menjadi istri dari lelaki yang sudah menemani dirinya sejak baru saja terlahir di dunia ini.


"Jodoh itu unik," Gumam Kimmy sambil kembali tersenyum dan memejamkan kedua matanya.


Tok! Tok! Tok!


"Ya?"


"Kim," Panggil Mama Nia dari balik daun pintu kamar Kimmy.


"Ya Ma," Ucap Kimmy sambil beranjak dari ranjang dan bergegas untuk membuka pintu kamarnya.


"Kim, Athar sudah datang. Dia jadi menginap disini," Ucap Mama Nia.


"Oh iya?" Ucap Kimmy sambil tersenyum semringah.


"Tapi, kamu jangan bertemu dengan nya dulu ya, ingat... kamu sedang di pingit," Ucap Mama Nia.


"Iya Mama," Kimmy tersenyum manis kepada Mamanya.


"Mama boleh masuk?" Tanya Mama Nia.


Kimmy mengangguk dan mempersilahkan Mamanya untuk masuk kedalam kamar tidur milik nya.


Kamar itu sudah di hiasi layaknya kamar pengantin. Baru saja tadi siang di kerjakan oleh orang Event organizer yang khusus menangani acara pernikahan Kimmy dan Athar.


Kamar pengantin dengan nuansa putih dan merah hati itu pun tampak sangat elegan. Beberapa hiasan tergantung di dinding kamar Kimmy, tepat di atas kepala tempat tidur milik nya.


Walaupun mereka tidak menghabiskan malam pertama di kamar itu, tetapi atas permintaan Mama Nia, kamar Kimmy tetap dihiasi.

__ADS_1


"Biar terasa pengantin barunya," Ucap Mama Nia dengan bersemangat, kepada para personil Event organizer .


Mama Nia duduk di atas ranjang Kimmy dan menatap Kimmy dengan tatapan yang tak bisa Kimmy artikan.


Perasaan Mama Nia bercampur aduk pada malam itu. Perasaan bahagia, haru, sedih dan merasa takut kehilangan bercampur menjadi satu. Mata Mama Nia mulai memerah, Mama Nia mulai tertunduk untuk menyembunyikan air matanya yang akan terjatuh.


"Ma, kenapa?" Tanya Kimmy sambil beranjak duduk disamping Mama Nia.


"Entahlah, mungkin ini yang dirasakan Nyai dan Engkong saat mereka akan melepaskan Mama untuk menikah," Ucap Mama Nia dengan suara yang bergetar.


"Ih Mama, bikin Kimmy sedih deh," Ucap Kimmy, lalu ia memeluk Mamanya dengan erat.


Mama Nia menghela nafasnya dengan berat dan membalas pelukan Kimmy. Air mata tak dapat terbendung lagi. Ia menangis di pelukan Kimmy yang akan segera ia serahkan kepada Athar pada esok hari.


"Kim, kamu tahu kan, kalau Mama sayang sekali dengan kamu," Ucap Mama Nia.


Kimmy melepaskan pelukannya dan menatap Mamanya dengan seksama. Lalu, ia mengangguk dan mengusap air mata di Pipi Mama Nia.


"Bahagia mu adalah bahagia Mama dan Papa juga Kim. Kami berharap, kamu akan bahagia hidup dengan Athar."


"Insya Allah Ma, semoga Kimmy bahagia dan Kimmy yakin, Athar akan membahagiakan Kimmy," Ucap Kimmy dengan wajah nya yang memerah menahan haru dan tangis.


"Tinggal kurang dari dua puluh empat jam, kamu sudah milik Athar. Semoga kamu bisa berbakti dengan suami mu ya Kim. Jadilah istri yang soleha, yang melayani dengan hati. Memberi kasih dan sayang, serta dukungan yang baik untuk suami. Kalau masalah perbedaan, dalam pernikahan itu akan banyak sekali perbedaan. Jangan kaget nanti ya Kim, justru adanya perbedaan itulah yang membuat rumah tangga semakin berwarna. Selalu ada masalah dan cobaan, kita tidak bisa menghindarinya. Mama harap, kamu dan Athar dapat bersikap dewasa dalam menghadapi itu semua nanti."


Kimmy mengusap air matanya dan ia pun mencoba tersenyum kepada Mama Nia.


"Harus Kim. Oh iya satu lagi, kebahagiaan itu diciptakan, bukan di cari. Bahagia itu maindset dan rasa syukur. Jangan pernah lupakan itu ya Kim," Ucap Mama Nia.


"Iya Mama,"


"Ya sudah, sekarang kamu tidur ya Kim, besok kamu harus fit dan harus terlihat segar. Mama Juga mau tidur," Ucap Mama Nia sambil mengecup kening Kimmy.


Lalu, wanita paruh baya itu beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu kamar Kimmy.


"Ma," Panggil Kimmy.


"Ya?" Mama Nia menoleh dan menata Kimmy yang masih duduk di atas ranjang.


"Kimmy sayang Mama," Ucap Kimmy dengan ujung suara yang tercekat.


Mama Nia tersenyum haru,


"Mama juga menyayangi kamu lebih dari apa pun," Ucap Mama Nia.


Lalu, ia pun melangkah keluar dari kamar Kimmy dan menutup pintu kamar anak gadis nya itu.


Mama Nia melangkah dengan gontai di lorong lantai atas itu. Air matanya mengalir dengan deras. Ia menuruni anak tangga dengan perlahan. matanya terlihat sembab, dadanya terasa sesak.

__ADS_1


"Jadi begini rasanya akan melepaskan anak untuk menikah," Gumam Mama Nia.


Mama Nia melangkah menuju halaman belakang. Lalu, ia beranjak menghampiri dua gundukan tanah yang berjejer di pojok halaman belakang rumahnya itu. Sesampainya Mama Nia di depan dua gundukan tanah tersebut, ia pun berjongkok di antara nya dan mengusap dua batu nisan yang berada tepat di sisi atas dua gundukan tanah itu.


"Pak, Mak, besok Nia akan melepas Kimmy untuk lelaki pilihan nya. Semoga Bapak dan Emak ikut bahagia disana ya..."


"Kimmy akan menikah dengan Athar, anak sahabat Nia si Farah Mak, Pak. Dia anak baik, Nia yakin Bapak dan Emak pasti senang dengan Athar. Sama seperti Bapak dan Emak senang dengan Bobby."


"Mak, Pak, jadi begini rasanya akan melepas buah hati kita untuk menikahi orang pilihan nya ya... Sekarang, Nia tahu apa yang dulu Emak dan Bapak rasakan saat melepas Nia dan Bobby."


"Mak, Pak, semoga Kimmy tidak salah pilih ya Mak, Pak. Nia yakin, Athar pasti seperti Bobby. Lelaki yang Bapak pilihkan untuk Nia."


Mama Nia menangis antara makam kedua orang tuanya.


Papa Bobby yang sedari tadi mencari keberadaan Mama Nia pun melihat Mama Nia yang sedang menangis di makam Bapak dan Emak. Saat itu juga, Papa Bobby datang menghampiri Mama Nia.


"Nia," Panggil Papa Bobby.


Mama Nia menoleh dan menatap Papa Bobby.


"Sudah malam, tidur yuk," Ucap Papa Bobby.


Mama Nia mengangguk dan mengusap air matanya. Lalu, ia berdiri dan berjalan mendekati Papa Bobby.


Papa Bobby merangkul Mama Nia dan mengiringi Mama Nia berjalan menuju ke kamar mereka.


"Kamu deg deg an gak Bob?" Tanya Mama Nia.


Papa Bobby tersenyum dan menghentikan langkah kakinya. Lalu, mereka pun berdiri berhadapan tepat di depan pintu belakang rumah itu.


"Lebih dari waktu aku akan menikahi kamu," Ucap Papa Bobby dengan suaranya yang nyaris tak terdengar.


Mama Nia menatap genangan air mata di pelupuk mata lelaki yang sudah setia hampir selama dua puluh enam tahun hidup bersama dengan nya itu.


Mama Nia menghela nafasnya dan memeluk Papa Bobby dengan erat.


"Saat kita menjadi anak, saat menuju ke pelaminan kita hanya memikirkan bagaimana hidup bahagia dengan pasangan. Ternyata, orang tua kita merasakan kehilangan yang luar biasa. Itu bahkan nyaris tidak terpikirkan sama kita. Setelah kita menjadi orang tua, barulah kita tahu apa yang dirasakan orang tua kita dulu saat akan melepas kita ya Bob," Ucap Mama Nia.


Papa Bobby menghela nafas nya, lalu ia melepaskan pelukan Mama Nia dan menatap istri tercinta nya itu.


"Tapi aku tahu, anak kita akan bahagia. Itu yang membuat ku merasa tenang," Ucap Papa Bobby.


Mama Nia mengangguk, lalu tersenyum simpul.


"Ayo masuk, mari kita hadapi kenyataan di esok hari," Sambung Papa Bobby.


Sepasang suami istri itu pun melangkah masuk kedalam rumah dengan bergandengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2