Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
38# Bukankah mencintai itu tidak harus menuntut lebih?


__ADS_3

Enam bulan berlalu...


"Kimmy...!" Seru Farhan saat ia keluar dari terminal kedatangan di Bandar udara Merzbrück, Aachen.


Kimmy tersenyum dan berlari menghampiri Farhan. Mereka pun berpelukan dengan erat, setelah enam bulan tidak pernah bertemu kembali. Mereka hanya dapat berkomunikasi lewat media sosial atau chat di ponsel mereka, karena jarak dan kesibukan masing-masing.


Selama enam bulan di Jerman, Kimmy berkuliah sambil bekerja di sebuah coffe shop yang tak jauh dari Flat nya. Bukan karena kekurangan biaya hidup, melainkan Kimmy memang tidak suka berdiam diri tanpa melakukan apapun.


Selain itu, alasan Kimmy bekerja, bukan hanya demi membunuh waktu. Kimmy berusaha untuk mengalihkan perasaan sedihnya tentang Athar. Terakhir, Kimmy mendengar Athar dipindahkan ke Singapore untuk berobat. Sejak itu, ia tidak lagi pernah mendengarnya cerita tentang Athar.


Sedangkan saat ini, Farhan datang mengunjungi Kimmy ke Jerman, hanya untuk menemani gadis itu di musim salju. Karena, Kampus Farhan sedang libur dan ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan Kimmy.


"Kangen..." Ucap Farhan sambil mempererat pelukannya.


Kimmy tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka bila Farhan benar-benar menepati janjinya untuk mengunjungi Kimmy.


Kimmy membawa Farhan pulang ke Flatnya. Disana juga lah, Farhan menginap untuk sementara waktu. Setelah mereka sampai di Flat Kimmy, Kimmy pun menyeduh teh untuk mereka berdua. Lalu, mereka berdua duduk berdampingan menatap keluar jendela yang mulai diterpa oleh buliran salju yang halus.


"Flat mu bagus," Ucap Farhan, mengawali obrolan mereka.


"Terima kasih," Ucap Kimmy sambil tersenyum.


"Bagaimana kuliahmu?" Tanya Farhan lagi.


"Baik, lancar," Ucap Kimmy.


"Kerjaan?" Tanya Farhan lagi.


Kimmy menatap wajah Farhan yang terlihat semakin tampan dari pada terakhir mereka bertemu. Lalu, ia tersenyum dan menundukkan wajahnya.


"Kok senyum?" Tanya Farhan.


"Gak, gak apa-apa. Kerjaan ku yah begitulah. Harus berbagi waktu dengan kuliah," Ucap Kimmy sambil membuang pandangannya ke pepohonan yang mukai berselimutkan salju.


"Sebentar ya..." Ucap Kimmy sambil beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" Tanya Farhan.


"Menyalakan pemanas," Sahut Kimmy sambil berlalu dari hadapan Farhan.


Farhan menatap punggung Kimmy dan ia pun tersenyum semringah.


Kimmy kini terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. Tepatnya, Kimmy benar-benar terlihat sebagai wanita dewasa saat ini. Jantung Farhan pun berdegup kencang. Mereka hanya berdua di dalam Flat ini dan ia akan stay untuk beberapa minggu disini.


Farhan kembali menatap Kimmy yang kembali menghampiri dirinya setelah menyalakan mesin pemanas ruangan.


"Kamu semakin cantik," Ucap Farhan sambil menatap kedua mata Kimmy dengan tatapan yang tak bisa Kimmy artikan.


Kimmy menundukkan pandangan nya dan tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih," Ucap Kimmy.


Farhan pun mulai menggenggam tangan Kimmy yang terasa dingin. Tentu saja hal itu membuat Kimmy sedikit gugup dan menatap Farhan dengan seksama.


"Kim..."


"Ya.."


"Aku rindu..." Ucap Farhan.


Kimmy kembali tersenyum dan melepaskan genggaman tangan Farhan. Lalu, ia meraih sweater nya dan memakainya untuk melindungi dirinya dari ganasnya udara dingin di musim salju.


Farhan menghela nafasnya, lalu ia melemparkan pandangannya ke hamparan pepohonan. Farhan yang lebih dewasa, tahu mengapa sikap Kimmy tidak sama sekali merespon kata rindunya. Ia mengerti saat ini Kimmy sedang gugup karena hanya mereka berdua disana.


"Sebentar lagi aku akan wisuda," Ucap Farhan.


Kimmy menoleh dan menatap kedua mata Farhan.


"Lalu?" Tanya Kimmy.


"Ada kemungkinan, aku akan kembali ke Indonesia dan melanjutkan S2 disana," Ucap Farhan.


"Loh, tidak jadi melanjutkan di sini atau di Belanda juga?" Tanya Kimmy penasaran.


Farhan menggelengkan kepalanya.


Kimmy menelan saliva nya. Bila Farhan kembali ke Indonesia, sangat kecil kemungkinannya Farhan akan sering datang mengunjungi dirinya.


"Oh, semoga dilancarkan segala urusan Abang ya," Ucap Kimmy.


"Aku janji, sebelum aku ke Indonesia, aku akan mampir dulu kesini untuk menemui kamu," Ucap Farhan.


Kimmy tersenyum dan menatap Farhan dengan mata yang berbinar.


"I love you," Bisik Farhan sambil perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Kimmy.


Jantung Kimmy berdegup kencang, ia menahan nafasnya hingga bibir Farhan nyaris saja mendarat di bibirnya.


"Hmmm, Bang. Aku mau menjemur cucian dulu," Ucap Kimmy sambil beranjak dari duduknya dan berlari kecil menuju ruang Loudry.


Farhan terdiam, ia menghela nafasnya dengan berat.


"Mengapa Kimmy menghindari aku? Apakah Kimmy sudah memiliki kekasih lain disini?" Gumam nya.


Farhan pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Kimmy yang pura-pura sibuk mengeluarkan pakaian yang baru saja selesai di cuci dari tabung mesin cuci.


"Kim, boleh aku bertanya?"


Kimmy menoleh dan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa kaku sudah punya kekasih baru disini?" Tanya Farhan.


Kimmy menghentikan aktivitasnya dan menatap Farhan dengan dahi yang berkerut.


"Maksudnya?" Tanya Kimmy.


"Kim, kita sudah hampir delapan bulan berpacaran. Tetapi, kamu masih...."


"Oh, masalah itu?" Potong Kimmy.


Farhan terdiam dan menatap Kimmy dengan seksama.


"Bang, kita hanya berdua disini. Lebih baik, kita hindari hal-hal begitu. Aku tidak mau kalau....."


"Hanya ciuman Kim..."


Kimmy menghela nafasnya dan meletakkan cucian yang sedang ia pegang kedalam keranjang berwarna biru.


"Ciuman? Hanya ciuman?" Tanya Kimmy.


Farhan terdiam, ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Kimmy.


"Ok, aku tidak mau berdebat. Seharusnya pertemuan kita, menjadi pertemuan untuk mempererat cinta kita," Ucap Farhan sambil berlalu dari hadapan Kimmy.


Kimmy terdiam, ia memegang dadanya yang terasa sesak. Ia pun mulai berpikir, apakah Farhan benar-benar mencintai dirinya atau tidak.


"Bukankah mencintai itu tidak harus menuntut lebih?" Gumam Kimmy.


"Buktinya Athar......" Kimmy berhenti menggumam. Ia terkejut dengan pikirannya sendiri. Mengapa ia mulai membandingkan Farhan dengan Athar?


Kimmy terduduk di sudut meja yang berada di ruang laundry. Ia mengusap wajahnya dengan perlahan. Ia benar-benar merasa kacau. Sesibuk apa pun dirinya, Athar tidak pernah absen dari pikirannya.


"Ah... Athar, dimana elu sekarang?" Batinnya.


.....


Athar termenung menatap senja yang keemasan yang terlihat dari jendela rumah sakit tempat dimana ia terapi berjalan. Ya, kini Athar harus duduk di kursi roda. Semua impiannya harus tertahan karena kecelakaan itu. Kecelakaan saat berjuang untuk dapat bertemu dengan Kimmy, gadis pujaannya.


Setelah enam bulan, tangan Athar sudah kembali normal. Wajahnya pun sudah di operasi plastik dan sudah terlihat mulus kembali. Hanya saja, kakinya belum bisa diajak kompromi, ia harus tetap tergantung dengan kursi roda.


Athar tidak lumpuh, hanya saja ia harus rajin terapi berjalan agar dapat berjalan dengan normal kembali. Setelah berbulan-bulan ia harus bedrest, semua ototnya pun menjadi kaku dan agak susah digerakkan. Itulah mengapa, Athar masih bertahan di Singapura, di dampingi oleh Bunda Farah.


"Athar..." Bunda Farah memanggilnya sambil menyentuh bahu Athar dengan lembut.


Athar menoleh dan tersenyum kepada Bunda Farah.


"Sudah saatnya terapi, yuk..." Ucap Bunda Farah.


Athar mengangguk dan tersenyum kepada Bunda Farah yang membantu dirinya untuk mendorong kursi roda itu.

__ADS_1


__ADS_2