Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
86# Maafkan Ayah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Bunda Farah dan Athar tampak sudah rapi. Mereka berdua menggunakan Coat ala detektif lengkap dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidung mereka. Ayah Andra yang saat itu akan berangkat bekerja memandangi istri dan anak laki-lakinya itu dengan tatapan bingung.


"Kalian mau ngapain?" Tanya Ayah Andra sambil menggunakan sepatu kulit nya.


"Bunda mau mencari kebenaran Yah," Ucap Bunda Farah sambil tersenyum dan menjentikkan jarinya.


Ayah Andra mengerutkan keningnya dan kembali menatap mereka berdua yang terlihat konyol.


"Jadi detektif?" Tanya Ayah Andra sambil tersenyum geli.


"Iya Yah," Sahut Athar.


"Ya Allah...." Ayah Andra menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Bunda Farah.


"Bunda, gak harus begitu kali penampilan nya," Ucap Ayah Andra sambil beranjak mendekati Bunda Farah.


"Lah, terus harus bagaimana?" Tanya Bunda Farah.


"Ya biasa saja, kan kamu mau ke rumah sakit, untuk menjenguk Naya. Terus, mau cari informasi tentang vania. Ya biasa saja lah, ganti ah pakaiannya. Kalian malah seperti orang aneh, panas terik begini kok pakai coat," Ucap Ayah Andra sambil membuka coat Bunda Farah.


"Kan biar keren kayak di film-film Yah," Ucap Athar sambil mengerutkan dagunya.


"Bukannya keren, malah kayak badut kalian berdua," Ayah Andra tertawa geli dan mengacak-acak rambut Athar.


"Sudah, ganti baju kalian. Pakai baju yang pantas saja, jangan aneh-aneh deh. Oh iya, aku berangkat dulu ya sayang," Ucap Ayah Andra sambil mengecup pipi Bunda Farah.


"Iya sayang, kamu hati-hati dijalan ya. Aku mencintaimu sampai tak berdaya," Ucap Bunda Farah sambil bergelayutan manja di lengan Ayah Andra.


Athar menatap Bundanya sambil menahan mual.


"Gombal Bunda mantap ya Thar," Ucap Ayah Andra sambil tersenyum geli.


"Jujur, ngeri lihat orang tua bucin-bucinan begini," Ucap Athar sambil beranjak ke kamarnya.


Ayah Andra dan Bunda Farah terkekeh melihat Athar yang geli dengan mereka. Lalu, Bunda Farah mengantarkan Ayah Andra sampai ke ambang pintu rumah mereka.


"Kamu hati-hati ya," Ucap Bunda Farah sekali lagi sambil mencium punggung tangan Ayah Andra.


Ayah Andra mengangguk dan meraih kedua pipi Bunda Farah.

__ADS_1


"Kamu juga hati-hati nanti di jalan ya sayangku," Ucap nya sambil mengecup kening Bunda Farah.


Bunda Farah mengangguk dan melepas Ayah Andra yang akan berangkat ke kantor.


Setelah Ayah Andra naik kedalam mobilnya, Bunda Farah melambaikan tangannya kepada Ayah Andra.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam.." Sahut Bunda Farah.


Mobil itu pun beranjak pergi meninggalkan halaman rumah itu.


Bunda Farah tersenyum sendiri, ia benar-benar bersyukur memiliki lelaki sehebat dan setia seperti Ayah Andra. Setelah segala badai yang pernah ia lalui di dalam perjalanan hidupnya, kini Bunda Farah sudah dapat menikmati hadiah terindah dari Tuhan.


Sebenarnya siapa saja bisa tidak setia, siapa saja bisa menampilkan sisi kelamnya kepada pasangannya. Tetapi, semua itu pilihan. Bila ingin hidupmu tenang, belajarlah untuk lebih baik dan menjalani hidup dengan tujuan "Kebahagiaan".


Bermain-main saat hidup, tidak ada manfaat nya. Kita pasti mendapatkan penyesalan atau menjadi sasaran penyesalan orang lain. Hiduplah berguna, selagi nyawa masih di badan. Karena bila saat nya tiba, kita pasti menyesal. Segala hal buruk tidak bisa diperbaiki saat kita sudah menghadap Illahi. Yang ada, hanya menebus kesalahan langsung di hadapan yang Maha Kuasa.


Bunda Farah beranjak menuju gerbang rumahnya, ia berniat akan menutup gerbang rumah itu dan menguncinya. Saat itu juga ia melihat seorang lelaki tua dengan baju yang lusuh. Berdiri di samping tembok pagar rumahnya. Bunda Farah menatap lelaki dengan jenggot dan kumis yang hampir menutupi hampir setengah wajah lelaki tua itu.


Lelaki itu diam mematung dan tatapan nya sedikit aneh. Bunda Farah juga melihat sebuah tas lusuh yang di sandang lelaki itu. Serta sepasang sepatu yang terlihat sudah kumal.


"Pak, ini buat Bapak ya," Ucap Bunda Farah sambil tersenyum dan memberikan uang itu kepada lelaki tua itu.


"Far..." Ucap lelaki itu dengan suara yang serak. Terlihat genangan air mata di pelupuk mata lelaki itu.


"Maaf?" Ucap Bunda Farah sambil mengernyitkan dahinya.


"Far, ini aku Fajar," Ucap lelaki tua itu.


Bunda Farah mundur selangkah, ia terlihat sangat terkejut dengan apa yang dikatakan lelaki tua itu.


"Fa-fa-fajar?"Ucap Bunda Farah dengan terbata-bata.


"Iya Far, ini aku Fajar. Aku datang untuk melihat anak kita Far, Athar," Ucap lelaki itu.


Wajah Bunda Farah terlihat begitu terkejut, ia melihat penampilan Ayah Fajar dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.


"A-apa yang terjadi sama kamu?" Ucap Bunda Farah.


"Far... aku minta maaf Far. Aku mohon maafkan aku. Aku cukup tersiksa dengan semua yabg terjadi. Aku mohon, cabut sumpah mu akan diriku. Aku tahu aku terlaku banyak menyakiti kamu, menyianyiakan kamu dan Athar," Ucap Ayah Fajar sambil bertekuk lutut dan memegangi sebelah kaki Bunda Farah.

__ADS_1


Bunda Farah terdiam membisu, ia tidak pernah mengeluarkan sumpah agar Ayah Fajar menderita. Ia hanya berdo'a agar Tuhan memberikan dirinya kesabaran yang luar biasa, agar ia bisa melanjutkan hidup dengan baik, saat ia menghadapi masalah dengan Ayah Fajar. Tidak sekalipun ia menyumpah serapah untuk Ayah Fajar agar hidup lelaki itu menderita dan terjatuh sejatuh-jatuhnya.


"A-aku..." Bunda Farah merasa lemas dan tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Lelaki itu menangis tepat di kakinya. Lelaki itu menciumi kedua punggung kaki Bunda Farah.


"Farah, maafkan aku sudah membuat kamu dan Athar menderita, maaf kan aku. Aku tahu kamu wanita yang baik. Aku tidak berharap kamu akan me nerima maaf ku. Hanya saja, aku ingin kamu tahu aku sangat menyesal," Ucap Ayah Fajar.


"Bunda, jadi gak perginya?" Tanya Athar yang baru saja muncul di ambang pintu rumahnya.


Bunda Farah menoleh kearah Athar yang terpana saat melihat seseorang sedang memeluk dan bersimpuh di kaki Bundanya.


"Bunda, ada apa? Itu siapa?" Tanya Athar sambil berlari mendekati Bundanya.


"Pak, lepaskan kaki Bunda saya," Ucap Athar sambil berjongkok dan memegang tangan Ayah Fajar.


Lelaki itu mengangkat wajahnya dan menatap Athar dengan seksama.


"Kamu Athar?" Tanya lelaki itu dengan suara yang serak.


Athar membalas tatapan lelaki itu, lalu ia menatap Bundanya. Ia mencari tahu di mata Bundanya siapa sebenarnya lelaki itu.


Bunda Farah meneteskan air mata, lalu ia mengangguk seakan-akan ia mengerti arti dari tatapan Athar.


"Ayah?" Tanya Athar sambil menatap Ayah Fajar dengan tatapan yang tak percaya.


"Iya Athar, ini Ayah..."


Athar melepaskan tangannya dari lengan lelaki itu. Ia terduduk di atas tanah dan terus menatap Ayah Fajar dengan tatapan yang asing.


"Athar, Ayah minta maaf nak," Ucap Ayah Fajar sambil merangkak dan memeluk Athar dengan erat.


Lidah Athar terasa kelu, tubuhnya membeku. Ia tidak menyangka lelaki itu akan kembali setelah ia sudah dewasa. Aroma apak yang bercampur sedikit minyak gosok tercium oleh Athar dari tubuh lelaki tua itu.


"Athar, Ayah sungguh menyesal meninggalkan kalian," Ucap Ayah Fajar sambil melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Athar yang terlihat mulai memerah.


"Athar, maafkan Ayah..." Ucap lelaki itu.


Athar mendongak menatap Bunda Farah yang terlihat hanya diam membisu.


"Bunda..." Ucapnya dengan suara yang tercekat.

__ADS_1


__ADS_2