Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
57# Ibunda..


__ADS_3

"Bunda, Kimmy pulang dulu ya," Kimmy mencium punggung tangan Bunda Farah.


"Iya Kim, hati-hati, salam sama keluarga mu ya,"


"Iya Bun," Sahut Kimmy.


"Thar gue pulang dulu ya.."


"Iya, sering-sering ya kesini. Kalau kangen bilang aja ya," Ucap Athar.


"Athar !" Bunda Farah terlihat malu dengan sikap anak nya.


Kimmy hanya tersenyum dan beranjak naik kedalam mobilnya.


Setelah Kimmy pergi, Bunda Farah mulai menjewer telinga Athar.


"Kamu ini ya... hhhhhh... gemes deh Bunda sama kamu !"


"Aduh... aduh... aduh... Bun sakit....!" Ucap Athar.


"Ngapain kamu pura-pura amnesia? Kalau Kimmy cerita sama Tante Nia gimana? Apa yang harus Bunda bilang?" Tanya Bunda Farah.


"Bilang aja, kan ada tuh amnesia hanya kepada orang tertentu," Ucap Athar sambil mengusap telinganya yang terasa sakit.


"Dasar tukang bohong !" Ucap Bunda Farah sambil bergegas masuk kedalam rumah.


"Atharr..!"


Brugggggg..!


Kiki menabrak tubuh Athar dan menangis di pelukan Athar. Athar yang terlihat bingung melirik ke arah Bunda Farah yang tidak jadi masuk kedalam rumah.


"Ki, lu kenapa?" Tanya Athar sambil mengusap punggung Kiki.


"Athar, bawa Kiki masuk," Ucap Bunda Farah. Ia merasa tidak enak bila ada tetangga yang salah paham saat melihat Athar berpelukan di depan gerbang rumahnya dengan seorang gadis.


Athar menuruti ucapan Bunda Farah, ia menuntun Kiki masuk kedalam rumahnya. Kiki masih menangis tersedu-sedu. Gadis itu sedang di tenangkan oleh Athar di ruang tamu. Sedangkan Bunda Farah ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk menenangkan Kiki.


"Lu sudah bicara dengan Ibu lu?" Tanya Athar.


Kiki mengangguk sambil terisak.


"Jawabannya?" Tanya Athar.


"Gue gak dapat jawaban. Tapi, tidak juga mendapatkan bantahan dari Ibu. Gue yakin, Ayah kita adalah orang yang sama," Ucap Kiki.

__ADS_1


Athar tertegun, ia menatap Bunda Farah yang baru saja datang dengan segelas teh hangat yang ia berikan kepada Kiki.


"Minum dulu Ki, biar tenang," Ucap Bunda Farah.


"Terima kasih Bun," Ucap Kiki sambil meraih gelas itu dan meminum teh nya. Setelah itu gadis itu menaruh gelas itu ke atas meja kembali. Dengan mata yang sembab, ia menatap Bunda Farah dengan tatapan malu. Selama ini, Bunda Farah adalah wanita yang baik kepada dirinya. Apa mungkin Bunda Farah lah yang merebut Ayah Fajar dari Ibunya. Atau sebaliknya? Ibunya lah orang yang jahat, yang telah mengambil suami orang, lalu melahirkan tanpa suami?


Kiki menundukkan wajahnya, ia benar-benar bingung dengan keadaan ini.


"Ki..." Panggil Bunda Farah dengan lembut.


Kiki mengangkat wajahnya dan menatap Bunda Farah dengan seksama.


"Ya Bun..?"


"Bunda tahu kamu emosi, tetapi mengapa kamu meninggalkan rumah?" Tanya Bunda Farah.


Kiki terdiam, ia tidak menemukan jawaban yang tepat untuk ia katakan kepada Bunda Farah.


"Jadi benar, Ayah Fajar Ayahnya kamu juga?" Tanya Bunda Farah.


Kiki mengangguk pelan, lalu ia menangis tersedu-sedu.


Bunda Farah merasa iba dengan gadis itu. Ia tahu cerita tentang Kiki dari Athar. Ia mengerti bagaimana dibohongi Ibu sendiri yang mengatakan bila Ayah kandungnya sudah meninggal Dunia itu, ternyata masih hidup dan sialnya, Kiki mengetahui bila dirinya adalah anak hasil perselingkuhan yang tidak dinikahi.


Bunda Farah memeluk gadis itu dengan erat dan mengusap punggung Kiki dengan lembut.


"Sudahlah, Bunda walaupun baru mengetahuinya, Bunda tidak marah dan dendam. Nyatanya, Bunda pun sudah tidak bersama dengan Ayah Fajar. Ibumu juga pasti punya alasan yang tidak bisa ia katakan kepadamu. Maafkanlah Ayah dan Ibumu. Sekarang, kamu pulang dan dengarkan Ibumu. Bunda yakin, Ibumu hanya korban disini."


Kiki melepaskan pelukan Farah dan menatap Farah dengan tatapan yang bingung.


"Mengapa Bunda bisa berpikir seperti itu? Mengapa Bunda tidak marah?" Tanya Kiki.


"Buat apa marah? Bunda sekarang sudah hidup bahagia. Lagi pula, itu semua sudah berlalu," Ucap Bunda Farah.


"Tapi Bunda.. Mengapa Bunda membela Ibu saya? Bukankah harusnya Bunda marah dan mencari tahu?" Tanya Kiki.


"Untuk apa? Bunda yakin, Ibu mu hanya korban. Bunda yakin, Ibumu itu wanita baik-baik. Nyatanya, sampai saat ini dia tidak menikah dan hanya mengurus dan mencintai kamu."


Kiki terdiam beberapa saat, air mata kembali mengalir deras. Kali ini bukan karena dirinya kecewa dengan Ayah dan Ibunya. Tetapi, ia merasa haru dengan kebaikan Bunda Farah.


Bunda Farah tersenyum dan mengecup kedua pipi Kiki.


"Sekarang, kamu juga jadi anak Bunda. Karena kamu adik nya Athar."


"Aku berbicara dengan malaikat atau dengan manusia?" Ucap Kiki sambil kembali memeluk Bunda Farah. Ia sangat terharu melihat sikap dan kebijakan Bunda Farah dalam masalah ini. Sebagai manusia, mungkin bila ia berada di posisi Bunda Farah, ia tidak akan sanggup menghadapi kenyataan pahit seperti ini.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Setelah suaminya melakukan kekerasan dan kerap menghina dirinya, lalu suaminya ketahuan melakukan hal yang tidak senonoh dengan pengasuh anak mereka dan kini kenyataan pahit kembali menghampiri Bunda Farah, ternyata selain pengasuh, ada wanita lain yang menjadi korban Ayah Fajar.


"Bun, kami berencana untuk mencari Ayah," Ucap Athar.


Bunda Farah terdiam, ia menatap Athar lekat-lekat.


"Buat apa?" Tanya Bunda Farah.


"Kami ingin bertemu Bun..." Ucap Athar.


"Thar, bila dia sadar memiliki tanggung jawab, dia akan datang. Tidak usah dicari. Maafkan masa lalu dan hiduplah dengan baik. Jangan seperti Ayah mu. Ini pelajaran untuk mu sebagai laki-laki. Jangan sekali-kali mempermainkan perempuan. Karena, karma yang didapat begitu kejam. Paham?"


"Tapi Bun..."


"Athar, Kiki, cukup kalian tahu bila kalian bersaudara. Saling mengasihi dan saling suport, sudah itu saja. Kalian tidak tahu kan kehidupan Ayah kalian seperti apa saat ini? Apakah kalian bisa menerima bila dirinya sekarang dalam keadaan yang lebih brengsek? Apakah kalian tidak akan membencinya dan terganggu pikiran kalian setelah mengetahui dirinya tidak pernah berubah?" Tanya Bunda Farah.


Athar dan Kiki terdiam.


"Ingat yang Bunda katakan. Bila lelaki sadar memiliki tanggung jawab, walaupun di usir dan tidak diperlakukan dengan baik, dia akan sering datang untuk mengantarkan tanggung jawabnya. Bukan lepas dan menghilang. Kalian tahu itu tandanya apa? Dia gak pernah berubah. Jangan dicari, fokus sama masa depan kalian, cintai saudara dan Ibu kalian yang telah membesarkan kalian. Bertekad lah sukses, suatu saat dia yang datang mencari kalian dan meminta maaf kepada kalian. Pegang ucapan Bunda. Kalau salah, kalian boleh protes sama Bunda nanti," Ucap Bunda Farah.


"Kurang dari satu tahun lagi, kalian akan lulus kuliah. Jadilah anak yang tidak mengecewakan orang tua kalian, walaupun Ayah kalian tidak peduli sama kalian. Cukup membangun diri menjadi jauh lebih baik dari pada kedua orang tua kalian. Hanya itu yang bisa Bunda katakan kepada kalian berdua."


Ucap Bunda Farah sambil beranjak pergi meninggalkan ruang tamu.


Athar dan Kiki masih terdiam membisu. Mereka saling bertatapan dan mengerti dengan apa yang Bunda Farah katakan dan mereka pun sebenarnya mengerti, Bunda Farah tidak merasa sakit bila mendengar Ayah Fajar memiliki anak lain saat menjalani pernikahan dengan dirinya. Tetapi, Bunda Farah merasa sakit bila anak nya mencari Ayah mereka.


Athar menghela nafasnya dan menepuk pundak Kiki.


"Pulang sana, minta maaf sama Ibu lu," Ucap Athar.


Kiki mengangguk dan berpamitan dengan Athar. Setelah itu, Athar menyusul Bunda Farah yang duduk termenung ditepi ranjangnya. Terlihat air mata mengalir di pipi Bunda Farah yang mulai terlihat garis halus tanda penuaan disana.


"Bunda," Sapa Athar sambil menghampiri Bunda Farah.


Bunda Farah mengusap air matanya dan menoleh menatap Athar.


"Ya?"


"Bunda, terima kasih sudah membesarkan aku dengan sepenuh cinta dan kasih sayang. Terima kasih sudah berada disamping Athar dalam melewati masa suram. Athar sangat mencintai Bunda," Ucap Athar sambil bersimpuh di pangkuan Bunda Farah.


Tak ada kata-kata yang terucap lagi. Ibu dan anak itu menangis berpelukan. Melepaskan semua rasa yang ada, haru, sedih, bahagia, takut kehilangan, berterima kasih dan rasa cinta yang begitu dalam, yang sangat jarang di ungkapkan antara anak dan banyak orang tua diluar sana.


_Untuk kalian wanita-wanita hebat..


With love "De'rini" ❤️

__ADS_1


__ADS_2