Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
37# Penyesalan Kimmy


__ADS_3

Ting Tong Ting Tong !


Bell di kediaman Tante Rara berbunyi berkali-kali. Farhan yang sedang berada di ruang keluarga memanggil Asisten rumah tangganya. Namun, wanita paruh baya itu tak kunjung datang. Farhan pun beranjak dari atas sofa dan berjalan menuju kamar Asisten rumah tangganya. Ternyata, wanita paruh baya itu sedang melaksanakan sholat Maghrib.


Farhan pun kembali menutup pintu kamar Asisten rumah tangga itu dan lalu beranjak menuju pintu depan rumahnya. Dengan malas, Farhan yang sedang bertukar pesan dengan teman-temannya di Belanda, membuka pintu rumahnya.


Farhan menatap gadis manis dengan lesung pipi di pipi kanan nya. Gadis itu tersenyum kepada dirinya.


"Permisi, ada Tante Rara?" Tanya gadis itu.


"Ng...Tan...Tante.. Rara?"


Gadis itu mengangguk dengan wajah yang terlihat imut dimata Farhan.


"Ng... sebentar ya," Ucap Farhan sambil mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Setelah gadis itu masuk dan duduk di ruang tamu, Farhan pun masuk kedalam dan mencari Mama Rara.


Setelah mencari kesana kemari, Akhirnya Farhan bertemu Mamanya yang sedang berbincang diruang kerja Papa Fathur.


"Ada apa Han?" Tanya Mama Rara.


"Itu, ada yang mencari Mama," Ucap Farhan sambil menunjuk ke arah ruang tamu.


Mama Rara beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Farhan.


"Mencari Mama? siapa?" Tanya Mama Rara.


"Farhan gak tahu, Farhan gak kenal," Ucapnya.


Mama Rara pun beranjak menuju ruang tamu, untuk mencari tahu siapa yang datang untuk mencari dirinya. Farhan menyusul Mama Rara dengan berjalan dibelakang Mamanya itu.


"Selamat malam Tante," Sapa gadis manis yang mungkin usianya baru saja menginjak lima belas tahun.


"Eh, Vania...Sama siapa kamu kesini?" Tanya Mama Rara sambil menghampiri gadis itu.


"Vania?" Gumam Farhan sambil menatap wajah gadis mungil itu.


"Sama supir Tante, kebetulan, Vania mau kerumah teman Vania, untuk belajar kelompok di blok sebelah. Terus Mama minta Vania untuk mampir kerumah Tante. Katanya, nitip bungkusan ini untuk Tante," Ucap Vania.

__ADS_1


"Oh iya, ini yang buat Athar bukan?" Tanya Mama Rara sambil meraih bungkusan yang berada di dalam paper bag.


"Iya Tante, untuk Abang Athar. Kata Mama, Mama tidak bisa datang ke rumah sakit. Karena ada sidang beberapa hari kedepan. Jadi, Mama minta tolong Tante untuk memberikan bungkusan ini untuk Bunda Farah," Terang gadis itu.


"Oh iya, terima kasih ya. Kamu mau minum apa Vania?" Tanya Mama Rara dengan ramah.


"Tidak usah Tante, soalnya Vania mau langsung kerumah teman Vania."


"Oh begitu, baiklah. Kamu hati-hati ya. Jangan pulang malam-malam loh."


"Iya Tante, Vania permisi dulu ya..." Ucap Vania sambil meraih tangan Mama Rara dan mengecup punggung tangan Mama Rara.


"Iya, hati-hati," Ucap Mama Rara.


Gadis itu melirik Farhan dan mengangguk sambil tersenyum kepada Farhan. Farhan pun membalas senyuman gadis imut itu.


Setelah gadis itu pergi, Farhan mulai bertanya kepada Mama Rara.


"Ma, itu Vania siapa ya?" Tanya Farhan penasaran.


"Oh, itu... Vania, anak Tante Naya. Masa kamu lupa?" Tanya Mama Rara sambil berjalan ke ruang keluarga dan menaruh bungkusan itu di atas meja, agar tidak lupa membawanya saat ia berangkat ke rumah sakit untuk mendampingi Bunda Farah.


Mama Rara mengangguk dan tersenyum kepada Farhan.


"Kenapa? Sudah besar ya sekarang? Kamu pasti pangling," Ucap Mama Rara.


Farhan hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah, Mama mau siap-siap dulu. Mau menjenguk Athar," Ucap Mama Rara sambil berjalan menuju ke kamarnya.


Farhan termenung, ia menjatuhkan dirinya di atas sofa ruang keluarga itu. Lalu, ia tersenyum sendiri. Ia tidak menyangka bila Vania yang dulu masih duduk di Sekolah Dasar, kini sudah tumbuh dewasa.


"Cepat banget waktu berlalu, perasaan dulu masih piyik," Celetuk Farhan.


...


Kimmy meringkuk di atas ranjangnya, sinar mentari masih menerobos masuk kedalam kamar yang jendelanya ia biarkan terbuka. Walaupun sudah pukul tujuh malam, sinar mentari masih bertahan dengan angkuhnya di musim panas ini.

__ADS_1


Kedua mata Kimmy terlihat sembab. Ia memandangi foto Athar di layar ponselnya. Kimmy benar-benar merasa khawatir dengan Athar, yang ia tidak tahu kondisinya saat ini.


Dua hari berlalu setelah ia mendengar berita Athar mengalami kecelakaan. Hatinya benar-benar merasa hancur dan bersalah, terlebih saat Mama Nia memperlihatkan Athar yang terbaring tidak berdaya di ruang ICU saat dirinya melakukan Video Call dengan Mama Nia yang kebetulan sedang berada dirumah sakit.


Sejak kemarin, tubuh Kimmy merasa lemas. Ia tidak selera makan, bahkan ia tidak memakan apa pun sejak kemarin.


Terbayang semua masa-masa indah dirinya dengan Athar. Betapa ia sangat merasa bahagia disamping lelaki yang telah jatuh cinta pada dirinya itu.


Air mata kembali mengalir di sudut mata Kimmy. Saat ia mengingat betapa nyamannya saat memeluk Athar waktu malam ulang tahunnya yang ke tujuh belas.


Senyum Athar tidak bisa hilang dari pelupuk matanya. Ingin sekali ia kembali ke Indonesia untuk melihat Athar dan memohon maaf kepada lelaki yang kini ia sadari yang selalu tulus kepada dirinya.


"Athar, bangun..." Bisik Kimmy sambil memandangi foto Athar yang tersenyum semringah di layar ponselnya.


"Athar, kalau lu sayang sama gue, lu bangun ya...., gue janji, saat gue balik ke Indonesia, gue pasti datang dan meminta maaf sama lu. Tapi, please.... lu sehat ya Thar..." Gumam Kimmy.


Air mata kembali membanjiri bantal Kimmy. Ia menangis tersedu-sedu dengan penuh penyesalan. Mengapa ia tidak memberitahu Athar, bila ia akan pergi ke Jerman. Mengapa ia tidak menemui Athar, terlebih dahulu. Mengapa ia tidak melunak, hanya untuk tetap menjadi orang terdekat Athar, hanya karena ia takut dicintai oleh Athar. Takut kehilangan lelaki tulus itu. Bukankah perasan tidak dapat di rekayasa? Mengapa ia begitu kukuh memaksa Athar untuk tidak mencintai dirinya dengan cara yang sangat kejam bagi lelaki itu.


Mengapa dan mengapa... terlalu banyak penyesalan pada diri Kimmy tentang Athar.


"Athar...... bangun....." Kimmy memukul-mukul ranjangnya.


"Bodoh lu Kim.... Bodoh ! Sahabat lu sendiri lu buat seperti ini ! Biadab emang lu Kim ! Lu gak bisa termaafkan Kim ! Lu bukan Manusia Kimmy !" Teriak Kimmy yang mulai merasa frustasi karena rasa bersalahnya.


Andai waktu bisa terulang kembali, ia akan membiarkan Athar mencintai dirinya dan tetap dekat dengan dirinya. Walaupun, ia tidak ada perasaan cinta dengan lelaki itu.


Tidak ada?


Mungkin saja Kimmy tidak pernah menyadarinya. Cinta dan persahabatan itu tipis sekali levelnya. Bahkan, seseorang tidak benar-benar tahu dengan apa yang ia rasakan.


Cinta kah? Sahabat kah? Butuh kah?


Apa itu persahabatan?


Apa itu cinta?


Bukankah setelah kita mencintai juga harus ada unsur "Bersahabat" dengan pasangan?

__ADS_1


Tetapi, ini "Persahabatan tulus !" Apakah Kimmy masih belum menyadari, rasa takut kehilangannya itu bukan karena persahabatan belaka ! Itu lebih dari cinta...


Iya, itu ketulusan yang tak pernah bisa ternilai dengan apapun !


__ADS_2