
Mama Nia termenung di cafe milik Bunda Farah. Di mejanya terlihat segelas capuccino yang masih mengeluarkan uap panasnya. Mama Nia sudah setengah jam duduk disana sendirian. Ia menunggu Bunda Farah yang mengajak nya bertemu di cafe milik Bunda Farah itu.
Setelah tadi pagi Kimmy meminta maaf kepada Mama Nia, mereka sudah saling memaafkan. Hanya saja, Mama Nia masih merasa mengganjal, karena Mama Nia bingung bila keluarga Tante Rara datang pada hari Sabtu depan untuk melamar Kimmy secara resmi.
Di saat keadaan bingung, Bunda Farah menghubungi Mama Nia dan mengajak Mama Nia untuk bertemu. Walaupun dengan alasan melepas penat mereka sebagai Ibu rumah tangga. Sebenarnya, Bunda Farah mengerti kegelisahan Mama Nia. Ia pun berinisiatif untuk menghibur sahabatnya itu, sekaligus untuk membahas hubungan Kimmy dan Farhan.
Setelah empat puluh menit menunggu, akhirnya Bunda Farah tiba di cafe itu. Dengan tergesa-gesa, ia menghampiri meja di mana Mama Nia sedang menunggu dirinya.
"Lama amat sih lu Far," Ucap Mama Nia dengan wajah kesal nya.
"Gue terjebak macet Nia...., masa iya gue kudu mesen helicopter di tengah-tengah kemacetan jalan Ibukota kita yang tercinta ini?" Seperti biasa, Bunda Farah berbicara dengan gaya kocak nya.
Mama Nia tersenyum kecut dan menyeruput capuccino nya dengan perlahan.
"Andi..., sini..!" Panggil Bunda Farah kepada salah satu pegawainya.
"Ya Bu,"
"Bikinkan saya capuccino panas juga ya," Pinta Bunda Farah kepada pegawainya itu.
"Baik Bu," Ucap lelaki berusia dua puluh tahun itu. Lalu, ia bergegas memberitahukan kepada barista untuk membuatkan capuccino panas untuk owner cafe mereka.
"Are you ok?" Tanya Bunda Farah saat melihat wajah murung Mama Nia.
"Ya, gue baik-baik aja kok," Sahut Mama Nia.
"Si Bobby di restoran?" Tanya Bunda Farah lagi, hanya untuk berbasa-basi sebelum ia membahas masalah Kimmy.
Mama Nia mengangguk dan mencoba tersenyum.
Bunda Farah membalas senyuman Mama Nia dan mengusap punggung tangan Mama Nia yang berada di atas meja.
"Nia, kayak nya elu lagi banyak pikiran ya? Apa masalah Farhan dan Kimmy?" Tanya Bunda Farah.
Mama Nia menatap Bunda Farah dengan seksama. Lalu, ia menjatuhkan pandangan nya.
"Nia, lu cerita ya sama gue. Gue tau, gue gak bisa bantu apa-apa. Hanya saja, mungkin gue bisa menjadi pendengar yang baik untuk elu Nia,"
Mama Nia kembali menatap Bunda Farah, lalu ia menghela nafasnya dalam-dalam. Selama ini, tidak ada yang lebih baik dari Bunda Farah. Hanya sahabatnya itu lah yang bisa membuat dirinya menjadi tenang walaupun Bunda Farah hanya mendengarkan saja keluhan Mama Nia.
"Far, gue harus apa ya?" Tanya Mama Nia kepada Bunda Farah yang terus menatap Mama Nia dengan tatapan kasihnya.
"Harus apa, apa nya Nia?" Ucap Bunda Farah berpura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Mama Nia.
"Sabtu ini, Rara dan keluarganya mau datang kerumah, untuk membicarakan tentang lamaran Farhan untuk Kimmy."
Bunda Farah menghela nafasnya dan menatap Mama Nia dengan seksama.
__ADS_1
"Nia, kalau memang lu gak mau anak lu nikah dulu, lu tolak aja udah..." Ucap Bunda Farah.
"Gue pengen sih nolak Far, tapi... ini masalah persahabatan yang sudah hampir empat puluh tahun kita rajut Far !" Ucap Mama Nia dengan panik.
Bunda Farah terdiam, ia menghela nafas panjang.
"Iya sih," Gumam nya sambil mengerutkan dagunya.
"Serba salah kan? Nah, sebenarnya Kimmy juga gak yakin sama Farhan. Dia juga belum siap menikah. Hanya saja, Farhan terus mendesak nya. Nah, Kimmy sendiri merasa takut bila selama ini dia hanya buang-buang waktu. Pacaran lama tapi gak jadi menikah. Yah, lu tau lah gimana. Apa lagi Farhan itu pacar pertamanya, Kimmy kan anak yang gak pernah mau macem-macem kalau dengan lawan jenis," Terang Mama Nia.
"Iya sih, yah... gimana sih, pacaran lama eh, ending nya gak ada. Gue paham sih kenapa Kimmy begitu," Ucap Bunda Farah.
"Nah itu...!"
Kini, Bunda Farah ikut termenung dengan Mama Nia di meja itu.
...
"Loh, Van... kamu kenapa?"
Tanya Tante Naya saat melihat Vania menyelonong masuk kedalam rumah nya dengan wajah dan penampilan yang tampak berantakan.
Vania diam saja dan masuk kedalam kamarnya. Ia membanting pintu kamar dan menguncinya.
Tin..! Tin..!
Saat melihat Tante Naya keluar, supir taksi itu pun membuka kaca mobilnya.
"Bu... tadi anak nya belum bayar Bu.." Ucap supir taksi itu.
"Hah? Belum bayar?" Tante Naya tampak terkejut saat mendengar Vania belum membayar tagihan taksi nya.
"Iya Bu,"
"Sebentar ya Pak," Ucap Tante Naya sambil bergegas masuk untuk mengambil dompetnya.
Tak lama kemudian, ia pun kembali dan berdiri di samping taksi itu.
"Berapa Pak?" Tanya Tante Naya.
"Satu juta, Bu,"
"Hah ! Kok mahal sekali?" Tanya Tante Naya yang tampak terkejut mendengar nominal tagihan yang disebutkan supir tersebut.
"Iya Bu,"
"Pak ! Jangan main-main deh ! Masa dari bandara Soekarno Hatta sampai kesini satu juta !" Ucap Tante Naya yang merasa supir tersebut mau menipu dirinya.
__ADS_1
"Mana lihat argo nya!" Sambung nya lagi.
"Bu, yang bilang dari bandara siapa? Saya bawa Eneng itu dari Puncak Bu. Jauhhhhh...!"
"Puncak?" Tanya Tante Naya dengan wajah yang tak percaya.
"Iya, Ibu gak lihat plat mobil saya itu "F" bukan "B". Masih untung saya mau nganterin si Eneng nya karena kasihan, tadinya saya mah gak mau karena terlalu jauh. Si Eneng sendiri yang menjanjikan satu juta. Jadi saya teh gak masang argo nya," Ucap supir taksi itu.
"Bapak tunggu disini ya !" Ucap Tante Naya yang tampak emosi. Lalu, ia berjalan dengan cepat menuju ke kamar Vania.
Duk ! Duk ! Duk ! Duk !
Tante Naya tidak lagi mengetuk pintu kamar anak gadis nya itu. Melainkan menggedor-gedor dengan kasar.
"Apa sih Ma......!" Seru Vania dari dalam kamar nya.
"Keluar kamu Vania !"
"Apaaaaaa !" Seru Vania lagi, tanpa meu membuka pintu kamarnya.
"Itu tagihan sampai satu juta beneran apa dia mau menipu Mama?" Tanya tante Naya dengan nafas sesak nya.
"Iya, kasih aja satu juta. Satu juta gak ada artinya juga kan? Dompet ku hilang Ma... jadi aku gak ada duit." Ucap Vania dari balik pintu kamarnya.
"Astaga Vania !"
Tin..! Tin..! Tin..!
Supir taksi kembali menyalakan klakson mobilnya agar sang pemilik rumah keluar dan membayar tagihannya.
"Vania keluar !" Seru Tante Naya sambil kembali menggedor-gedor pintu kamar vania.
"Ada apa sih?" Tanya Om Andreas yang mendengar keributan itu.
"Anak mu ini, lama-lama aku bisa jantungan lihat kelakuannya !" Ucap Tante Naya sambil bergegas menuju ke luar rumah untuk membayar tagihan taksi itu.
"Nih ! Sekarang pergi !" Ucap Tante Naya sambil menyerahkan uang satu juta itu kepada supir taksi tersebut.
"Orang kaya teh kasar," Gumam supir taksi itu sambil melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Tante Naya.
"Vania ! keluar !" Tante Naya terus berteriak di depan pintu kamar Vania. Sedangkan Vania saat ini sedang menangis dan menutupi telinganya dengan bantal. Ia merasa frustasi dan kecewa dengan keadaan dan juga kekasihnya, Farhan.
Setelah tiga tahun merajut asmara dan semua nya sudah Vania berikan untuk Farhan. Tetapi, tidak disangka, bila ternyata Farhan memperlakukan dirinya seperti ini. Meninggalkan dirinya tanpa sempat membawa barang-barang nya, ponsel, dompet dan koper milik nya. Farhan mendorong dan mengusir dirinya dari Villa bagaikan seekor binatang yang sudah tidak diminati lagi oleh tuan nya.
Vania menangis tersedu-sedu, ia menjerit sekuat tenaganya. Hingga membuat kedua orang tuanya yang masih berada di depan pintu kamarnya terdiam dan saling bertatapan.
"Farhan, lu gak bisa bikin gue kayak gini. Lu bajingan banget ya ternyata. Gue akan buat lu menyesal dan minta maaf sampai bersujud di kaki gue," Bisik Vania lirih.
__ADS_1