
Aku mencintaimu tanpa batas. Kesaktian mu adalah, membuat aku luluh tanpa mampu mengatakan tidak.
Maaf ku untukmu tidak terkira, itulah yang membuat ku tampak bodoh dimata orang lain. Tetapi, aku hanya ingin bahagia. Melihat mu berubah, melihat mu mencintai aku lagi, melihat mu menua bersama ku, melihat mu terbangun dari tidur nyenyak mu di sisiku.
Aku, tetap mencintaimu karena aku percaya, doa ku akan didengar. Tuhan pasti akan mengubah hatimu untuk menyadari kekeliruan mu. Bahwa, hanya akulah yang mampu mencintaimu begitu tulus.
Vania.
Vania menggenggam erat tangan Farhan, saat berada di dalam mobil yang melaju ke kediaman nya.
Farhan menoleh kepada Vania dan tersenyum kepada gadis itu. Lalu, ia mengusap pipi Vania dengan lembut.
Bahagia itu sederhana, duduk disamping orang yang kita cintai, itu sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kita. Terlebih, saat orang itu benar-benar mencintai kita.
Vania merebahkan kepalanya di pundak Farhan. Doa nya selama ini terkabulkan. Selama ini, walaupun ia merasakan kekecewaan yang mendalam kepada Farhan, tetapi hatinya tetap berkhianat kepadanya. Hatinya selalu mengatakan, bila ia tetap mencintai Farhan dan akan bahagia bersama lelaki itu.
Keyakinan mampu mengubah keadaan. Kini, Farhan benar-benar ingin bersama dengan dirinya. Mimpi-mimpi yang sempat hancur, kini kembali tertata. Harapan pun muncul kembali dan melanjutkan apa yang pernah terpaksa berhenti.
Farhan menghentikan laju mobilnya di pekarangan rumah Vania. Lelaki itu beranjak keluar dan membuka pintu bagasinya. Ia mengeluarkan koper milik Vania dan membawanya ke beranda rumah gadis itu sambil menggandeng tangan Vania. Om Andreas dan Tante Naya muncul dari dalam rumah dan menyambut kedatangan Vania.
Vania sempat merasa takut karena ia datang bersama Farhan. Tetapi, ternyata Papanya dan Mamanya menyambut kedatangan Farhan dengan baik.
Kembali ke beberapa bulan yang lalu..
Sejak berdamai di acara pertunangan Kimmy, secara jantan, Farhan mendatangi rumah Vania dan meminta maaf sekali lagi kepada kedua orang tua Vania, serta Abang kandung Vania.
Farhan tahu, kesalahannya tidak akan termaafkan. Maka dari itu, ia berusaha sekali lagi untuk meminta maaf secara baik-baik kerumah Vania.
Tidak disangka olehnya, kedatangannya kesana, disambut baik oleh keluarga Vania, terutama Om Andreas. Walaupun ada sikap yang tidak biasa di antara mereka, tetapi Om Andreas dan Tante Naya berusaha untuk berkomitmen tetap memaafkan, meskipun tidak bisa dipungkiri hati mereka sebagai orang tua merasa hancur.
Om Andreas percaya, semua orang akan berubah pada waktunya. Maka ia dengan tulus memaafkan dan menganggap semua tidak pernah terjadi. Karena, bagaimana pun, dirinya pernah berada di posisi Farhan.
Justru, hal itulah yang membuat Farhan semakin malu dan mulai menyadari bila tidak ada keluarga yang setulus ini menerima dirinya.
Diam-diam ia mulai terusik dengan kebaikan keluarga Vania. Hal itu membuat dia semakin menyadari bila dirinya bersalah dan keluarga Vania terlalu baik, hingga mau memberikan kesempatan kedua untuk dirinya.
Sejak saat itu ia pun mulai sering bertandang kerumah Vania, walaupun ia tahu, Vania tidak sedang berada di rumah. Suatu ketika, ia bertamu kerumah Vania dan disambut oleh Om Andreas. Mereka berdua pun duduk di beranda rumah itu dan berbincang ringan.
"Om, Farhan ingin bertanggung jawab atas Vania," Ucap Farhan.
__ADS_1
Om Andreas menatap Farhan dengan wajah yang tampak terkejut.
"Bertanggung jawab?" Tanya Om Andreas.
"Iya Om," Sahut Farhan.
"Apa yang membuat mu ingin bertanggung jawab kepada Vania?" Tanya Om Andreas.
Farhan menatap Om Andreas,
"Karena saya menyadari, saya mencintai Vania dan saya menyadari kesalahan saya dengan nya. Saya laki-laki, sudah sepatutnya saya bertanggung jawab dengan apa yang telah saya lakukan."
Om Andreas terdiam, ia membuang pandangannya ke arah pepohonan di depan rumah nya.
"Kamu yakin mencintai anak saya? Saya tidak akan melepaskan anak saya dengan orang yang hanya sekedar tanggung jawab. Saya tidak pernah meminta pertanggung jawaban dari kamu," Ucap Om Andreas.
"Saya yakin Om, saya yakin seyakin-yakinnya," Ucap Farhan.
"Apa membuat kamu yakin? Sedangkan selama ini kamu berniat mencampakkan anak saya." Tanya Om Andreas.
"Selama tiga tahun saya jalani dengan Vania. Dia adalah orang yang selalu mengisi hari-hari saya dengan tawa dan canda. Dia wanita yang paling tulus yang pernah saya kenal. Setelah kepergiannya, saya mulai menyadari, tidak ada yang lebih baik darinya," Ucap Farhan.
Om Andreas menghela nafasnya, ia menatap Farhan dengan seksama.
"Saya akan membuktikan nya Om, apa pun akan saya lakukan. Apa pun syarat yang Om berikan kepada saya," Ucap Farhan.
Om Andreas mengangguk-angguk sambil berpikir.
"Om, beri saya kesempatan untuk bertanggung jawab dan mencintai anak om hingga maut memisahkan kami Om. Farhan ingin menikahi Vania," Ucap Farhan.
"Kalau begitu ada syaratnya," Ucap Om Andreas.
"Apa Om?"
"Pertama, coba dekatkan dirimu ke Tuhan. Bertobatlah, mohon ampun. Kedua, hargai dirimu sebagai laki-laki. Karena, suatu saat kamu akan memiliki anak perempuan. Baru setelah itu, kamu bisa mencintai anak saya dengan tulus," Ucap Om Andreas.
Farhan terdiam, ia menghela nafasnya. Lalu, dengan penuh keyakinan, ia mengucapkan janji akan memenuhi segala syarat itu.
Om Andreas tersenyum melihat kesungguhan Farhan. Sekaligus merasa haru karena Tuhan begitu cepat membuat Farhan berubah.
__ADS_1
Lantas, tentu saja Om Andreas belum dapat percaya seratus persen kepada Farhan. Diam-diam, Om Andreas menyuruh anak buahnya untuk memata-matai Farhan, tanpa sepengetahuan lelaki itu.
Tak terduga, ternyata Farhan memang benar-benar berubah. Farhan mulai bekerja dengan baik, lelaki itu juga kerap mengunjungi mesjid dan menerapkan kebaikan di dalam hidupnya. Pulang bekerja, Farhan juga langsung pulang ke apartemen nya.
Ya, kini Farhan tinggal di apartemen yang ia beli. Karena rumah orang tuanya di Jakarta sudah di jual. Bahkan, Om Andreas juga mendapatkan laporan bila Farhan tidak pernah sekalipun mengajak wanita kedalam apartemen milik lelaki itu.
Om Andreas merasa lega, ia mulai mempercayai Farhan. Hingga suatu hari, Tante Rara datang secara pribadi kerumah Om Andreas, dengan maksud ingin melamar Vania untuk Farhan.
Tentu saja lamaran itu diterima oleh Tante Naya dan Om Andreas. Sebagai orang tua Vania, Tante Naya dan Om Andreas pun merasa lega. Tidak terbayangkan bagi mereka bila Vania bertemu dengan laki-laki lain dan lelaki itu mengetahui masa lalu Vania. Terutama tentang Vania yang sudah tidak lagi perawan. Hal itu pasti akan menjadi masalah dikemudian hari. Lagi pula, sebelumnya Om Andreas juga tahu cinta Vania tidak akan pudar untuk Farhan.
Semua terbukti saat Om Andreas mengunjungi kamar Vania. Walaupun apa yang sudah terjadi kepada Vania. Gadis itu tetap menyimpan foto Farhan dan menyimpan segala kenangan nya dengan Farhan.
Om Andreas kembali teringat ke puluhan tahun yang lalu. Saat ia berusaha meyakinkan Tante Naya yang sudah terluka karena dirinya. Tante Naya yang sudah menghilang dari hidupnya selama lima tahun lamanya, masih menerima dirinya kembali.
Selalu ada kesempatan kedua, bagi orang yang mencintai diri kita dengan tulus. Itulah yang terjadi kepada Om Andreas. Farhan belum seberapa, masa lalu Om Andreas lebih parah. Tetapi, nyatanya ia mampu berubah karena cinta tulus dari Tante Naya.
..
"Terima kasih ya Han, sudah menjemput Vania," Ucap Tante Naya sambil tersenyum kepada Farhan.
"Sama-sama Tante,"
Vania tampak lega melihat sikap orang tuanya kepada Farhan. Vania pun mulai semakin yakin untuk menghabiskan sisa umurnya bersama Farhan.
"Farhan melamar Vania Ma, Pa," Ucap Vania kepada kedua orangtuanya.
Tante Naya dan Om Andreas pun tersenyum,
"Sebelum dia memberimu cincin, Farhan dan keluarganya sudah datang untuk meminta mu menjadi istrinya."
Vania terkejut dan membulatkan kedua matanya yang tampak berbinar.
"Tante Rara kesini?" Tanya Vania dengan bersemangat.
"Iya sayang, kalian akan segera menikah," Ucap Tante Naya.
Vania terlihat sangat bahagia, ia memeluk kedua orang tuanya dan mengucapkan banyak terima kasih untuk kejutan yang begitu mengharukan ini.
Vania menatap Farhan dengan genangan air mata bahagia di pelupuk matanya. Farhan menatap Vania dengan tatapan yang tak kalah bahagia.
__ADS_1
Di diri Vania, ia menemukan cinta sejati. Cinta yang tak bersyarat, cinta yang memiliki maaf dan makna yang tak terbatas.
"Tidak ada lagi kesalahan, tidak akan terulang lagi. Karena aku niat untuk menjadi manusia yang baik dan terhormat," Janji Farhan didalam hatinya.