
"Farhannnn...! Farhan....!"
Ting ! Ting! Ting ! Ting!
Vania memanggil-manggil Farhan dari luar gerbang kediaman Mama Rara.
"Farhan...! Keluar lu !" Teriak gadis itu lagi.
"Eh, Neng Vania ! Aya naon Neng?" Tanya seorang satpam yang menjaga rumah keluarga Farhan.
"Pak buka Pak ! Saya mau bertemu dengan Farhan !" Ucap Vania dengan wajah yang emosi.
"Sebentar Neng, aya naon Neng? Biar saya sampaikan ke A'a Farhan,"
"Aya naon aya naon ! Buka saja ! Buruan !"
"Sabar atuh Neng, saya hubungi ke dalam dulu ya," Ucap Mang Kosim, lelaki yang sudah berpuluh tahun bekerja dengan keluarga Mama Rara.
"A' Farhan, ini Neng Vania mencari A'a," Ucap Mang kosim lewat sambungan telepon dengan Farhan yang berada di dalam rumah.
"Usir," Perintah Farhan.
"U-U-usir?" Mang Kosim berusaha mengulangi apa yang baru saja ia dengar.
"Iya usir, jangan biarkan dia masuk. Bikin rusuh ! Mulai sekarang, jangan pernah terima dia sebagai tamu !" Perintah Farhan.
Mang Kosim yang sedang berada di dalam pos, terdiam dan menaruh gagang telepon itu kembali ke tempatnya. Ia memandangi Vania yang terus mengetuk gerbang rumah itu. Sebenarnya ada rasa iba kepada gadis itu. Tetapi, karena perintah dari sang pemilik rumah, mau tidak mau, dia harus mentaati peraturan dari yang punya rumah tersebut.
Mang Kosim menghela nafasnya dan berjalan menghampiri Vania yang terus berteriak memanggil Farhan.
"Maaf Neng, A'a Farhan nya gak ada di rumah atuh..."
"Bohong ! Iyu ada mobil dia !" Ucap Vania yang terlihat seperti macan yang sedang mengamuk.
"Ng... Anu Neng, itu teh memang mobil nya si A'a, tapi teh si A'a sedang pergi pakai mobil yang lain Neng," Ucap Mang Kosim.
"Mama Papa nya ada kan? Panggil keluar sini ! Cari gara-gara sama gue, gue injek leher lu Farhan !" Teriak Vania.
"Anu Neng, Tuan dan Nyonya teh sedang pergi ke Puncak untuk beristirahat." Ucap Mang Kosim.
"Puncak?" Gumam Vania.
Perlahan gadis itu tersenyum puas.
"Terima kasih ya Mang," Ucap Vania sambil beranjak masuk kedalam mobilnya.
"I-iya Neng..." Sahut Mang Kosim.
"Aduh, saya teh salah bicara apa bener ya?" Gumam Mang Kosim.
Vania memasang sabuk pengamannya dan tersenyum puas.
"Kalau lu gak berani hadapin gue, gue yang akan hadapi Emak sama Bapak elu ! Biar pada tahu kelakuan elu Farhan ! Seenak nya saja meninggalkan gue kayak kotoran ! Seakan gue gak ada harga diri sama sekali ! Selama ini gue coba setia sama elu ! Hanya elu laki-laki di dalam hidup gue selama ini. Sekarang habis manis sepah dibuang ! Biadab !"
Vania melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia berniat menyusul Tante Rara dan Om Fathur yang sedang berada di perjalanan menuju Villa milik Tante Rara.
__ADS_1
Farhan tersenyum melihat Vania pergi dari depan rumahnya. Sambil menghirup aroma kopinya, Farhan pun bergumam.
"Gak akan gue biarkan elu merusak mimpi gue Van. Gak akan pernah...!" Gumam nya.
.....
Mama Nia dan Bunda Farah akhirnya sampai di Polsek yang di maksud oleh Kimmy dan Athar. Lalu, dua wanita paruh baya yang masih cantik tersebut pun langsung melangkahkan kaki mereka masuk kedalam gedung itu untuk mencari anak-anak mereka.
"Permisi Pak, kami mencari anak kami Kimmy dan Athar. Dia baru saja di bawa ke sini sama Bapak Polisi," Ucap Bunda Farah kepada salah satu petugas yang sedang piket di depan.
"Oh, yang terciduk berbuat mesum di mobil?" Ucap petugas itu.
"HAH...!" Mama Nia dan Bunda Farah sama-sama terkejut mendengar ucapan petugas piket itu.
"Ibu-ibu silahkan masuk saja, nanti belok ke kanan. Mereka berada di ruang sebelah kiri nomor tiga," Ucap petugas itu.
"Ba-ba-baik Pak, terima kasih," Ucap Bunda Farah.
Bunda Farah menatap Mama Nia dengan tatapan bingung.
"Ada apa Nia?" Tanya Bunda Farah.
"Mesum Far.... Astaghfirullah !" Mama Nia menepuk-nepuk dadanya sambil mengatur nafasnya yang terasa sesak.
"Nia... Nia... Ya Allah, sabar Nia. Ayo kita cari tahu !" Ucap Bunda Farah sambil menuntun Mama Nia menuju ke ruangan yang disebutkan oleh petugas piket itu.
"Pak, saya bener kok gak ngapa-ngapain," Ucap Kimmy sambil mengangkat kedua jarinya.
Athar terlihat santai saja sambil menikmati es teh manis yang ia pesan dari kantin polsek itu.
"Athar, bantuin ngomong apa sih ! Ini semua gara-gara elu ! Malah enak-enakan minum es teh !" Ucap Kimmy yang terlihat kesal kepada Athar.
"Saksi apa sih Thar ! Kita gak ngapa-ngapain !" Ucap Kimmy.
"Athar, Kimmy !" Seru Bunda Farah dan Mama Nia.
Masing-masing dari mereka memeluk anak mereka yang berada di ruangan itu.
"Ada apa Pak, apa yang dilakukan anak saya?" Tanya Mama Nia dengan wajah khawatir.
"Jadi begini Bu, Ibu tenang dulu,"
"Aduh Bapak....Gimana mau tenang ! Buruan ngomong Pak, anak saya salah apa?" Tanya Mama Nia.
"Mereka bermesraan di pinggir jalan Bu, berpeluk-pelukan dan berpotensi untuk melakukan tindakan asusila di area umum," Ucap Bapak Polisi.
"HAH !"
Mama Nia shock dan menatap Kimmy yang sedang berada di pelukannya.
"Kimmy !"
"Bu-bu-bukan be-be-be-gitu Mama !" Ucap Kimmy terbata-bata.
Mama Nia melepaskan pelukannya dan menatap Kimmy dengan tak percaya.
__ADS_1
"Maaf nih ya Pak, mereka itu maksudnya Kimmy dan Athar?" Tanya Bunda Farah.
"Iya Bu, mereka ini berdua. Sungguh tidak mencontohkan prilaku yang baik," Ucap Bapak Polisi itu sambil tersenyum sinis.
"Allahu Akbar ! Athar ! Kimmy !" Jerit Bunda Farah.
Athar terlihat santai saja, sedangkan Kimmy terlihat malu dan menangis.
"Salah paham Mama, Bunda.... Ya Allah ya Rabbi.....! Fitnah Ma, Bun, Kimmy gak gitu..." Ucap Kimmy dengan panik.
"Saksi matanya rekan saya Bu, dan beberapa masyarakat yang berada di tepi jalan itu." Tegas Polisi itu.
"Innalilahi..." Ucap Mama Nia sambil terduduk lemas.
"Assalamualaikum," Ucap Papa Bobby dan Ayah Andra yang baru saja tiba.
"Waalaikumsalam," Sahut Bapak polisi. Saat itu juga Bapak Polisi berdiri dan memberikan hormat kepada Ayah Andra yang masih berpakaian dinas.
Ayah Andra tersenyum dengan wibawa nya. Lalu, ia menjabat tangan anggota kepolisian itu dan duduk di hadapan polisi yang sedang menangani kasus Kimmy dan Athar.
"Ada apa ini Pak?" Tanya Ayah Andra dengan tenang.
"Begini Bapak, mohon maaf sebelumnya, Bapak orang tua dari siapa ya? Pihak laki-laki atau perempuan?" Tanya Bapak Polisi.
"Saya Ayah nya Athar," Sahut Ayah Andra.
"Oh baik Pak, tidak ada yang serius kok Pak. Namanya anak pemuda dan pemudi. Jadi, saya harap bisa diselesaikan secara kekeluargaan."
"Iya saya paham, tetapi masalah apa yang membawa anak saya dan keponakan saya sampai dibawa kesini" Tanya Ayah Andra.
Polisi itu menghela nafasnya, lalu ia menatap Kimmy dan Athar.
"Begini Pak, Kimmy dan Athar melakukan tindakan asusila di depan umum," Ucap Bapak Polisi.
"Maksudnya?" Tanya Ayah Andra.
Sementara Papa Bobby mengalihkan pandangannya kepada Kimmy yang langsung menundukkan wajahnya.
"Mereka bermesraan di pinggir jalan, di dalam mobil. Kebetulan dekat dengan pos kami Pak, beberapa warga melaporkan dan kami langsung ke TKP. Warga takut, bila ada pelecehan kepada pihak wanita. Soalnya pihak wanita terlihat menangis dan menolak untuk di peluk. Jadi, kami berinisiatif untuk mengamankan mereka ke kantor kami ini. Agar menghindari hal-hal yang tidak di inginkan Pak," Ucap Bapak Polisi dengan berhati-hati kepada Ayah Andra.
Ayah Andra menghela nafasnya dan menatap Athar yang terlihat tertunduk malu.
"Benar itu Thar?" Tanya Ayah Andra.
Athar mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Ayah Andra.
"Thar?" Desak Ayah Andra.
"Athar hanya berusaha memeluk saja kok. Gak lebih," Ucap Athar.
"Subhanallah...." Ucap Ayah Andra yang tampak malu dengan kelakuan anaknya.
"Athar juga mencium bibir Kimmy kok, ada saksinya Farhan," Ucap Athar dengan polos.
"Innalilahi...!" Ayah Andra mengusap wajahnya.
__ADS_1
Terlihat suasana begitu kacau. Mama Nia mulai menangis, Papa Bobby terlihat malu dengan pengakuan sepupunya itu. Bunda Farah langsung menjewer telinga Athar. Sedangkan Kimmy terduduk lemas dan mulai emosi kepada Athar.
"Atharrrrr kamprettttttt...!" Kimmy berteriak histeris.