
Farhan merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi lampu berwarna kuning temaram. Ingatan nya kembali ke beberapa jam yang lalu, tentang pertemuan dirinya dan Kimmy.
Dua tahun yang lalu, Kimmy masih terlihat seperti bocah kecil yang sangat lucu dimatanya. Tetapi kini, Kimmy tumbuh menjadi gadis cantik yang membuat dirinya terpesona.
Pertemuan nya dengan Kimmy di lorong toko buku itu, membuat jantung nya berdetak lebih kencang. Entah mengapa gadis itu seakan memutar haluan nya yang semula menganggap Kimmy adalah bocah kecil kini menjadi wanita dewasa yang patut dicintai.
"Kimmy, Kimmy," Ucap nya dengan lembut.
Angan Farhan kembali ke belasan tahun yang lalu, Saat itu Kimmy masih anak kecil yang masih ingusan. Bocah kecil yang tomboy itu selalu mendekati dirinya. Sedangkan Athar memandang cemburu kepada dirinya dan Kimmy.
Farhan pun tertawa sendiri saat mengingat kejadian ia pernah mencium Kimmy di depan Athar. Athar menangis karena cemburu.
"Ternyata tatapan itu tidak pernah berubah. Athar selalu cemburu dengan ku dan Kimmy," Gumam Farhan.
Tetapi tatapan Kimmy, juga tak berubah. Ia masih memandang kagum kepada Farhan. Ia selalu mencuri pandang dan selalu tersenyum saat Farhan memergoki Kimmy yang sedang asik memandang dirinya.
"Bocah itu, apa dia menyukai aku dari kecil?" Gumam nya.
"Ah, aku kok jadi galau?" Gumam nya lagi sambil menepuk-nepuk dadanya. Suara detak jantung nya sendiri dapat ia dengar dengan jelas. Betapa jantung nya berdetak lebih cepat dan kencang saat ia mengingat Kimmy.
"Apa aku sebenarnya sudah jatuh cinta dengan nya dari dulu?"
"Ah, tidak mungkin. Dia masih bocah dan belum genap tujuh belas tahun," Gumam nya.
Farhan membenamkan wajahnya di atas bantal. Wajah Kimmy tidak mau hilang dari ingatannya.
"Arghhhhhh...!" Keluh Farhan.
Sebenarnya, Farhan memiliki kekasih di Negeri kincir angin. Wanita itu bernama Amber. Amber gadis berdarah Belanda dan Indonesia. Ayah Amber orang asli Belanda, sedangkan Ibu Amber berdarah Jawa - Indonesia. Amber gadis manis berwajah Indo. Tetapi, Kimmy jauh lebih cantik dari Amber. Lebih asik dan lebih energik.
Seketika iman Farhan goyah, janji setia dengan Amber dengan gampang terhapus kan oleh ingatan nya tentang senyuman Kimmy.
Drettt..! Dreeet..! Dreett..!
Lamunan Farhan tentang Kimmy mendadak buyar, karena suara dering dari ponselnya yang mengejutkan dirinya. Farhan meraih ponselnya dari dalam saku celana dan menatap layar ponsel itu dengan seksama.
"Amber?" Gumam nya.
Lalu, ia buru-buru mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1
"Sudah tidur? mengapa lama sekali mengangkat telepon dariku?" Tanya Amber.
Amber yang cemburuan, langsung memberondong pertanyaan yang penuh dengan curiga.
"Aku baru sampai rumah," Ucap Farhan.
"Dari mana? sama siapa?" Tanya Amber yang memang lancar berbahasa Indonesia. Karena Ibu nya selalu berbahasa Indonesia dengan dirinya sehari-hari.
"Sendirian, ke toko buku," Ucap Farhan yang mulai merasa pertanyaan Amber begitu mengganggu dirinya.
"Tidak dengan perempuan kan?" Tanya Amber lagi.
"Amber, aku lelah. Disini pukul sebelas malam, aku tidur dulu ya," Ucap Farhan. Lalu, ia mengakhiri percakapan itu dengan mematikan ponselnya.
Farhan memberikan rasa kecewa untuk Amber malam ini dan ia kembali tenggelam dalam angan nya tentang Kimmy.
...
Malam minggu tiba, Mama Nia sudah berdandan cantik. Mama Nia menggunakan celana bahan berwarna hitam, model pipa lurus dan kemeja berwarna cream yang tampak semakin cantik membalut kulit nya yang putih.
Rambut Mama Nia di kuncir kebelakang dengan kunciran sederhana. Beberapa perhiasan sederhana ia pakai, seperti sepasang giwang bulat berukuran medium dan kalung etnik manik-manik yang tergantung di lehernya yang jenjang.
Begitupun dengan Papa Bobby yang sudah tampak tampan dengan kaos berjenis polo yang ia gunakan. Dengan celana jeans yang menambah ketampanan lelaki yang sudah matang itu. Mama Nia dan Papa Bobby sudah siap untuk bertandang ke rumah Mama Rara yang mengundang mereka beberapa hari yang lalu.
"Loh, kamu kok belum ganti baju Kim?" Tanya Mama Nia yang sedang bersiap-siap memakai sepatu pantofel flat milik nya.
Kimmy yang sedang meminum segelas air di dapur melirik Mama dan Papa nya. Setelah air yang di dalam gelas ia minum habis tanpa tersisa, ia menaruh gelas itu di atas meja dan kembali menatap Mama dan Papa nya.
"Emang mau kemana?" Tanya Kimmy.
"Ya ampunnnn, kan Mama sudah bilang Kimmmm... kita mau kerumah Tante Rara, si Farhan ulang tahun loh, dia sekarang ada di Indonesia." Terang Mama Nia dengan wajah kesal nya.
Kimmy mencoba mengingat-ingat ucapan Mama nya beberapa hari yang lalu.
"Oh iya," Ucap Kimmy sambil menepuk dahinya.
"Tapi Kimmy belum beli hadiah !" Seru Kimmy.
"Tenang, Mama sama Papa sudah membelikan hadiah buat Farhan, kamu tinggal ikut dan ganti baju mu. Oh iya, bilangin sama si Abian, cepetan !"
__ADS_1
"I-iya..." Ucap Kimmy sambil berlari ke kamar Abian.
Mama Nia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak gadisnya itu. Sedangkan Papa Bobby hanya tersenyum melihat kelakuan anak kesayangannya itu.
Porsi sayang Bobby dengan Kimmy mungkin lebih besar. Karena Kimmy adalah anak pertama dan juga anak perempuan. Anak perempuan selalu dekat dengan Papanya. Papa Bobby yang masih berjiwa muda, menjadi sosok yang sangat menyenangkan bagi Kimmy, sehingga mereka berdua sangat dekat sekali.
Papa Bobby tidak pernah melarang apa pun yang Kimmy lakukan, asal itu masih normal-normal saja. Sosok Papa Bobby persis seperti sosok Engkong Mamat bagi Kimmy. Sedangkan Mama Nia, menjadi orang tua yang persis seperti Nyai Romlah, Ibunya.
Mama Nia menjadi Ibu yang sering mengomel, tetapi demi kebaikan anak-anaknya. Bijak dan pengertian, namun juga sedikit konyol, yang terkadang anak-anak nya, geleng-geleng kepala melihat tingkah Mama nya yang sedikit bar-bar.
Tidak lama kemudian, Kimmy dan Abian keluar kamar mereka dan bergabung dengan Mama dan Papa nya. Abian tampak cemberut saat keluar dari kamarnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Mama Nia sambil mengerutkan keningnya kepada Abian.
"Mama, Abian tuh sudah besar, males tau ikutan kumpul-kumpul sama orang tua," Ucap Abian.
Nia menatap Abian dengan seksama.
"Bian, kita itu semua sudah seperti saudara. Apa salahnya silaturahmi dengan teman-teman Mama?" Tanya Nia.
"Tapi Abian mau main game, enakan dirumah kali.." Ucap Abian lagi.
Mama Nia hanya menghela napasnya dengan putus asa.
"Pokok nya ikut, lagian ngapain kamu dirumah sendirian !" Ucap Mama Nia sambil melirik Kimmy yang tampak cantik dengan menggunakan dress warna pink.
Mama Nia mengerutkan keningnya dan memandangi Kimmy dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
"Kamu pakai dress?" Tanya Mama Nia sambil terheran-heran.
Kimmy mengulum senyumnya dan memainkan rambutnya yang panjang tergerai dengan indah.
"Tumben !" Ucap Mama Nia yang masih terheran-heran.
"Cantik kok," Puji Papa Bobby sambil berjalan menghampiri Kimmy dan merangkul Kimmy dengan erat.
Kimmy hanya tersenyum bangga, saat mendapatkan pujian dari Papanya.
"Ya sudah, ayo berangkat. Nanti kita terlambat," Ucap Papa Bobby.
__ADS_1
Mereka pun berangkat kerumah Tante Rara.