
Tiga tahun berlalu...
"Chesee..." Ucap Farhan, saat hendak mengabadikan momen kelulusan Kimmy bersama keluarga Kimmy.
Kimmy yang memakai toga dan memegang sertifikat kelulusannya diapit oleh Papa Bobby dan Mama Nia. Sedangkan Abian berada di samping Mama Nia. Mereka sekeluarga tersenyum bahagia. Karena hari yang mereka nantikan akhirnya tiba jua.
Farhan berangkat ke Jerman bersama keluarga Kimmy, ia sengaja datang untuk ikut merayakan kelulusan kekasih nya itu.
"Ayo, gantian... foto berdua," Ucap Abian.
Dengan malu-malu, Farhan menyerahkan kamera yang sedang ia pegang kepada Abian. Lalu, adik dari Kimmy itu mengabaikan momen kelulusan Kimmy dengan kekasihnya, Farhan.
Farhan tersenyum bahagia, ia melingkarkan tangannya di pinggang Kimmy.
Setelah berfoto-foto, Farhan menatap wajah Kimmy yang kini sudah berusia 22 tahun lebih. Gadis itu terlihat jauh lebih dewasa dan menarik.
"Hmmm Kim, apa kamu mau langsung kembali ke Indonesia?" Tanya Farhan.
"Hmmm, sepertinya iya. Aku sudah bosan disini. Sepertinya aku akan mengambil S2 di Jakarta saja," Ucap Kimmy.
"Oh, bagaimana bila kita langsung menikah?" Ucap Farhan.
Kimmy menatap Farhan dengan tak percaya.
"Menikah?" Tanya Kimmy.
Farhan mengangguk dengan pasti.
"Hmmm.. sepertinya aku harus bekerja dulu, mencari pengalaman di dunia kerja dan memakai ijazah ku ini," Ucap Kimmy.
Senyum di bibir Farhan pun memudar. Sebagai kekasih, ia selalu merasa di tolak oleh Kimmy.
"Terus? Usia ku sudah matang loh Kim, aku juga sudah memegang perusahaan Papa," Ucap Farhan yang saat ini sudah menjelang 26 tahun.
"Bang, kasih kesempatan aku untuk bekerja dulu ya." Pinta Kimmy dengan wajah yang memohon.
Farhan menghela nafasnya dan membuang pandangannya ke segerombolan para mahasiswa yang sedang berfoto di halaman Universitas itu.
"Ya sudah, tetapi jangan lama-lama. Hanya satu tahun. Setelah itu kita menikah," Ucap Farhan.
"Dua tahun deh..." Pinta Kimmy lagi.
Farhan terlihat kesal, ia merapatkan bibirnya dan kembali membuang pandangannya.
Sebagai anak satu-satunya, segala keinginan Farhan, selalu di turuti oleh kedua orang tuanya. Farhan hidup bagaikan raja dari kedua orang tua yang memang sudah kaya dari jaman nenek moyangnya. Sehingga, penolakan membuat Farhan merasa tersinggung dan hanya Kimmy yang mampu menolak apa saja yang ia pinta.
"Kenapa sih, kamu selalu membantah apa saja yang aku minta?" Ucap Farhan dengan kesal.
Kimmy terdiam, ia terkejut saat mendengar ucapan Farhan.
"Kok begitu Bang?" Tanya Kimmy.
"Kok begitu apanya? Tidak kah kamu mau sekali saja menuruti permintaan aku? Aku selama ini selalu merasa tidak kamu hargai sebagai kekasih Kim !" Ucap Farhan.
__ADS_1
Kimmy menghela nafasnya, lalu ia melirik keluarganya yang sedang asik berbincang di taman kampus nya.
"Bang, ini bukan saat yang tepat untuk bertengkar," Ucap Kimmy sambil meninggalkan Farhan.
"Kimmy !" Panggil Farhan sambil menarik lengan Kimmy dengan kasar.
"Bang !" Ucap Kimmy yang merasa kesakitan karena cengkraman tangan Farhan.
"Ma-maaf Kim," Ucap Farhan sambil menundukkan wajahnya di hadapan Kimmy.
"Maaf, aku mungkin sangat capek setelah perjalanan dari Jakarta ke sini. Aku minta maaf ya sayang.."
Kimmy menelan saliva dan menatap kedua mata Farhan.
"Abang cinta gak sih sama Kimmy?"
"Cinta lah, masa enggak," Ucap Farhan dengan wajah yang serius.
"Bang, kalau cinta tidak akan memaksakan kehendak. Aku hanya meminta dua tahun lagi saja. Setelah itu, kita akan menikah."
Farhan terdiam, ia merasa menyesal karena telah membentak dan memaksa Kimmy.
"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf," Ucap Farhan.
Kimmy masih terdiam dan menatap lelaki yang ia cintai itu.
"Aku hanya takut kehilangan kamu Kim, aku takut penantian ku sia-sia selama ini. Empat tahun Kim, empat tahun aku menunggu," Ucap Farhan.
Kimmy menghela nafasnya dan memeluk Farhan dengan erat.
Farhan melepaskan pelukan Kimmy, lalu kedua tangannya memegangi kedua pundak Kimmy. Ia menatap gadis itu dengan seksama dan ia pun mulai mengangguk.
"Baiklah, dua tahun lagi. Demi kamu orang yang sangat aku cintai," Ucap Farhan.
Kimmy tersenyum bahagia, lalu mereka kembali berpelukan dengan erat.
...
Brum...!
Bunyi mobil tipe sport mengalihkan pandangan para mahasiswi. Mereka sudah hafal siapa pengendara mobil tersebut. Sebagian dari mereka langsung bergegas merogoh kotak bedaknya dari dalam tas dan mengoreksi make-up yang melekat di wajah mereka.
Setelah mobil sport itu terparkir dengan sempurna, seorang pria tampan dengan kaca mata hitamnya turun dari dalam mobil tersebut. Lelaki yang senang memakai jaket jeans itu, menyandang tas nya dan mulai melangkah memasuki gedung kampus.
Semua gadis tampak menyapanya. Semua gadis sibuk mencari perhatian kepada dirinya.
"Athar !" Panggil Kiki sambil berlari ke arah Athar.
Athar menghentikan langkah kakinya dan menoleh kebelakang. Terlihat gadis manis itu tersenyum kepada dirinya. Sedangkan tatapan cemburu dan kesal dari para mahasiswi pun langsung mengarah kepada Kiki.
Sejak Kiki membantu Athar yang dulu terkena bullying, gadis itu menjadi sangat dekat dengan Athar. Karena, saat Athar seperti itu, hanya Kiki lah yang mau menjadi sahabat baiknya.
Walaupun sangat dekat, Kiki dan Athar tidak saling jatuh cinta. Kiki memiliki kekasih dari fakultas ekonomi. Sedangkan Athar masih setia dengan kesendiriannya.
__ADS_1
"Baru datang lu?" Tanya Kiki.
"Iya, nih buat lu," Ucap Athar sambil menyerahkan sebuah bungkusan untuk Kiki.
"Apaan nih?"
"Oleh-oleh dari Papua," Ucap Athar.
Mata Kiki berbinar sambil tersenyum lebar.
"Baik amat sih lu ya, jauh-jauh ke Papua masih aje inget sama gue," Ucap Kiki.
"Ya inget lah, soalnya cuma elu yang mau jadi temen gue disini."
Kiki berhenti tersenyum, ia merasa terharu dengan ucapan Athar.
Walaupun Athar sudah terlihat jauh lebih sempurna saat ini, Athar tidak pernah berubah sedikitpun. Athar tetap Athar yang dulu. Athar yang saat itu masih tertatih saat berjalan. Sekarang, sekarang orang ingin menjadi teman Athar. Tetapi, Athar tidak pernah meninggalkan Kiki.
"Terima kasih ya Thar," Ucap Kiki dengan wajah haru nya.
"Sama-sama, yuk masuk," Ucap Athar sambil merangkul Kiki.
Kiki tersenyum sambil menjulurkan lidahnya kepada para gadis yang menatap dirinya dengan tatapan iri dan sadis.
"Thar, mereka kira kita pacaran kali ya," Ucap Kiki sambil tertawa geli.
"Biarin aja, biar gak ada yang deketin gue."
"Emang kenapa sih Thar, elu kok gak pernah pacaran gue liat?"
"Gak, karena memang gue gak mau," Terang Athar.
"Memang ada apa? Lu masih mengharapkan mantan ya?" Tanya Kiki lagi.
Athar menghentikan langkah kakinya, lalu ia menatap Kiki dengan seksama.
"Gue belum pernah pacaran Ki, gimana gue mau punya mantan?"
"Masa? Seganteng ini lu kaga laku?" Kiki tertawa geli sambil menatap Athar dengan tak percaya.
"Serius gue," Ucap Athar sambil kembali melangkah menuju kedalam kelas.
"Jatuh cinta tapi pernah kan?" Tanya Kiki penasaran.
Athar duduk di bangkunya dan menghela nafasnya dalam-dalam. Sedangkan Kiki duduk di depan Athar sambil menatap wajah tampan lelaki itu, yang entah mengapa ia tidak pernah merasa getaran cinta. Hanya saja, perasaan sayang nya pada Athar begitu besar, seperti layaknya adik dan kakak.
"Pernah, dulu saat STM. Dia sahabat gue, rasa cinta itu sudah ada dari gue kecil dulu. Tapi, dia gak terima karena dia merasa gue menghianati persahabatan kami dengan adanya perasaan cinta dari gue," Ucap Athar dengan senyum yang di paksakan.
"Yah Thar... sorry..." Ucap Kiki sambil mengusap bahu Athar.
"Gak apa-apa kok Ki, makanya gue kuliah sambil buka usaha. Biar suksesnya lebih cepat. Setelah sukses, gue mau buat dia jatuh cinta sama gue."
Kiki mengangkat kedua jempolnya.
__ADS_1
"Gue salut Bro.. cakep bener !" Ucap Kiki sambil tersenyum bangga.
"Terima kasih Ki," Athar tersenyum manis sambil mengacak-acak rambut Kiki.