
Tiga bulan sebelum kelulusan.
Pesawat yang ditumpangi Farhan, mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta di Cengkareng. Farhan yang sedang libur kuliah, menyempatkan diri untuk pulang ke tanah air hanya untuk menemui Kimmy seperti janjinya satu tahun yang lalu.
Farhan bergegas untuk turun dari pesawat setelah ia mengambil tas ranselnya dari bagasi cabin. Setelah itu, ia ikut mengantri di terminal kedatangan untuk mengambil kopernya besarnya dari bagasi. Setelah itu ia melangkah keluar dari terminal tersebut dan menemui Papa Fathur dan Mama Rara yang sudah menunggu dirinya sejak dari tadi.
"Farhan....!"
Mama Rara melambaikan tangannya ke arah Farhan.
Farhan menoleh dan mencari sumber suara yang memanggil namanya. Ia pun tersenyum saat melihat kedua orangtuanya yang berdiri dibalik pagar pembatas pintu keluar terminal kedatangan Internasional di Bandara itu.
"Ma, Pa," Sapa Farhan sambil menyalami dan memeluk kedua orangtuanya.
Sebagai anak satu-satunya, kedatangan Farhan begitu di tunggu-tunggu oleh Mama Rara dan Papa Fathur. Rasa rindu selama satu tahun membuat pertemuan itu sangat mengharukan. Mama Rara menangis karena rindu yang akhirnya dapat ia lepaskan dari dadanya.
"Apa kabar kamu nak?" Tanya Mama Rara sambil menatap Farhan dengan penuh cinta.
"Alhamdulillah baik Ma," Ucap Farhan.
"Anak Papa Makin tampan ya," Ucap Papa Fathur dengan bangganya.
Farhan hanya tersenyum manis mendengar pujian dari Papanya itu.
Dua puluh satu tahun kini usia Farhan dan dirinya kini sudah menginjak dua semester terakhir di Universitas nya. Berarti, ia butuh satu tahun lagi untuk dapat selesai berkuliah di Belanda. Farhan yang mengambil program S1 jurusan Ekonomi dan Manajemen berniat akan melanjutkan pendidikannya di Indonesia saja. Karena ia merasa jauh dari orang tua begitu tidak enak. Rasa rindu dan hidup terpaksa mandiri di Negeri orang membuat ia sedikit merasa berat.
"Ayo kita pulang, barang-barang kamu sudah semua kan?" Tanya Mama Rara.
"Sudah Ma," Ucap Farhan sambil tersenyum.
Mereka pun melangkah menuju parkiran mobil dan pulang dengan hati yang riang.
...
Kimmy yang kini sedang mengikuti tryout sebelum menghadapi Ujian Nasional bulan depan tampak sangat serius. Ia ingin sekali lulus dengan nilai-nilai yang sangat memuaskan hanya demi mendapatkan kuliah gratis di Jerman.
__ADS_1
Ya, Kimmy ingin melanjutkan pendidikan di Rhine-Westphalian Technical University di Aachen, Jerman. Kimmy hanya ingin sekali mengambil jurusan tehnik disana. Universitas yang berusia kurang lebih 100 tahun itu adalah Universitas terbaik di Jerman. Maka, Kimmy tidak akan mau menyianyiakan kesempatan itu.
Kimmy juga sudah mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan beasiswa di Jerman. Kini, ia hanya tinggal menunggu pengumuman yang akan merubah hidupnya. Semua keputusan Kimmy selalu di dukung oleh Papa Bobby dan Mama Nia. Mereka sangat bangga dengan Kimmy yang berniat untuk sekolah di Jerman.
Begitupun dengan Athar, walaupun ia tidak berniat untuk kuliah diluar Negeri, ia sudah mendaftarkan dirinya untuk mengikuti ujian penerimaan mahasiswa baru di Universitas ternama di Jakarta. Baginya, kuliah dimana saja, tidak akan menghalanginya untuk sukses. Lagi pula, ia tidak ingin jauh dari Bunda dan Ayahnya. Lagi pula, enam bulan lagi, Kakak satu-satunya akan menikah. Ya, Queen akan menikah di usianya yang ke dua puluh lima tahun.
Queen bertemu dengan seorang pria baik-baik yang sudah menjalin asmara dengan nya sejak duduk di bangku SMA. Nama lelaki itu adalah Richo, anak dari bawahan Ayah kandungnya, Gunawan. Richo adalah lelaki setia, selama mempunyai hubungan dengan Queen, lelaki itu hanya fokus dengan Queen. Hal itu juga yang membuat Ayah Gunawan dan Bunda Farah serta Ayah Andra langsung menerima lamaran orang tua Richo saat mereka melamar Queen.
...
Dreeettt...! Dreeettt...!
Ponsel Kimmy berdering saat Kimmy baru saja keluar dari kelasnya. Ia pun merogoh saku celana sekolahnya dan meraih ponselnya. Ia menatap layar ponselnya sambil berjalan ke parkiran sepeda motor.
Senyum manis terukir di wajahnya yang cantik, satu pesan dari Farhan membuat hari-harinya yang penuh kerinduan bagaikan bunga yang sedang bermekaran.
"Hai, aku sudah di Indonesia, kapan bisa ketemu?"
Begitulah bunyi pesan yang dikirimkan oleh Farhan.
Balas Kimmy.
Dari kejauhan, Athar menatap punggung Kimmy yang sedang berjalan sambil berbalas pesan dengan Farhan.
"Ok, besok aku akan ke rumahmu,"
Balas Farhan.
"Ok,"
Kimmy tersenyum riang saat membalas pesan dari lelaki yang sangat ia kagumi itu.
"Woi !"
Athar terkejut dan menoleh kebelakang. Terlihat Mamet sedang tersenyum lalu lelaki gemuk itu merangkul Athar.
__ADS_1
"Apaan sih,"
"Lu yang apaan... sudah mau setahun belom move on," Ledek Mamet sambil tertawa geli, memamerkan gigi nya yang terlihat kuning.
"Dih, gigi lu kuning amat, gak usah ketawa Met, jelek !" Ucap Athar sambil melepaskan lengan Mamet dari pundaknya.
"Bisa aje lu ngeles nye," Ucap Mamet yang masih terus tertawa geli melihat ekspresi Athar.
"Yuk pulang, gue laper," Ucap Athar.
"Yuk, gue numpang makan ya dirumah lu. Masakan Bunda lu enak banget, gak kayak masakan Emak gue," Ujar Mamet.
"Iye, emang parasit lu,"
Mamet tertawa jahil sambil mengiringi langkah Athar menuju parkiran motor.
Kimmy yang sedang memakai helm, melirik Athar dan Mamet yang berjalan menuju sepeda motor Athar yang terparkir tak jauh dari Vespanya.
"Eh, Kimmy," Sapa Mamet sambil tersenyum kepada Kimmy.
"Hei Met, gue duluan ya," Ucap Kimmy.
"Iya Kim, hati-hati ya,"
Kimmy hanya tersenyum menanggapi ucapan Mamet. Sedangkan Athar terlihat sibuk memakai helm tanpa melirik Kimmy sedikit pun.
Sudah satu tahun mereka tanpa bicara. Keduanya seperti orang asing yang tak pernah saling mengenal. Sebenarnya, dua-duanya merasa tersiksa. Tetapi, keduanya tetap bertahan dengan ego masing-masing.
Tidak saling berbicara, adalah salah satu bentuk pertahanan ego manusia. Banyak hal yang membawa manusia untuk tidak saling menyapa. Rasa sakit hati, rasa benci, rasa kecewa atau rasa cinta.
Cinta? bagaimana bisa orang yang saling mencintai dapat tidak bertegur sapa?
Bisa saja, cinta itu begitu dekat dengan ego dan gengsi. Siapa saja dapat berhenti berbicara saat mereka saling jatuh cinta. Terkadang, tidak saling menyapa adalah cara agar masing-masing tetap merasa nyaman tanpa drama yang cengeng karena perasaan cinta itu sendiri.
Begitulah dengan Athar dan Kimmy. Mereka memilih untuk berhenti menyapa, agar masing-masing merasa nyaman tanpa harus ada drama yang membawa-bawa perasaan, hingga salah satu dari mereka harus menangisi keadaan.
__ADS_1