
Mungkin aku adalah orang bodoh yang mencintai begitu dalam. Tetapi, aku mencoba untuk memilih dia yang sudah lama aku pilih. Mengambil hatinya, memantaskan diri dan akan menaklukkan nya dengan cara yang terhormat.
Athar.
Setelah selesai menjalankan sholat Isya, Athar membuat kopi dan duduk di teras rumahnya. Ia menatap rembulan yang bersinar begitu terang pada malam itu. Wajah Kimmy kembali menari di pelupuk matanya. Athar masih memikirkan tentang keputusan Kimmy yang akan menikahi Farhan.
Ayah Andra yang baru saja pulang dari musholla menatap Athar yang terlihat sedang termenung di bangku teras. Lelaki yang kini sudah memiliki pangkat yang tinggi itu, membuka gerbang dan masuk ke pekarangan rumah peninggalan orang tuanya itu.
"Assalamualaikum," Ucap nya.
Athar tersentak dan menatap Ayah Andra yang tiba-tiba sudah berada di depannya.
"Wa-wa-waalaikumsalam," Ucap Athar dengan terbata-bata.
Ayah Andra tersenyum dan menatap Athar yang terlihat murung.
"Kenapa? Kok kamu bengong?" Tanya Ayah Andra.
"Ti-tidak apa-apa Yah.." Ucap Athar.
"Lagi memikirkan Kimmy?"
Athar tersenyum salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa Kimmy?" Tanya Ayah Andra lagi.
"Gak apa-apa Yah,"
"Bohong... kalau tidak ada apa-apa, kamu tidak akan seperti ini," Ucap Ayah Andra sambil beranjak duduk disamping putranya itu.
Senyum di wajah Athar memudar, ia menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Kimmy akan menikah Yah," Ucap Athar.
"Menikah?" Terdengar suara Bunda Farah yang tiba-tiba saja muncul dari dalam rumah mereka. Athar dan Ayah Andra menoleh dan menatap Bunda Farah yang terlihat panik.
"Bunda... ngaget-ngagetin aja," Ucap Athar.
"Kamu yang ngaget-ngagetin aja.. itu Kimmy beneran mau menikah? Sama siapa?" Tanya Bunda Farah sambil beranjak duduk dan bergabung dengan Athar dan Ayah Andra.
"Katanya sih begitu,"
"Kata siapa?" Cecar Bunda Farah.
"Kata Kimmy lah Bun," Ucap Athar.
Bunda Farah terdiam, ia merasa tidak rela bila Kimmy menjadi milik orang lain.
"Sama siapa?" Tanya Bunda Farah lagi.
__ADS_1
"Sama Farhan Bun," Ucap Athar sambil tertawa kecil.
"Kok Kimmy memilih Farhan sih..." Ucap Bunda Farah dengan wajah yang kecewa.
"Ya, mau gimana lagi, memang itu jodohnya," Ucap Ayah Andra.
"Gak bisa dong sayang.. Ayo buruan, malam ini juga kita lamar Kimmy untuk Athar !" Ucap Bunda Farah sambil menyanggul rambut nya yang tergerai dengan ala kadarnya.
"Bunda...." Ucap Athar yang terlihat malu melihat sikap panik Bundanya.
"Kimmy itu hanya untuk Athar, mereka itu sudah cocok banget, lahir bareng, gede bareng, sekolah bareng ! Lagian si Nia kenapa gak ngabarin aku sih !" Ucap Bunda Farah dengan emosi yang terlihat diwajahnya.
"Kan baru akan, belum benar-benar menikah kan?" Tanya Ayah Andra.
Bunda Farah menatap Ayah Andra dengan tak percaya, begitupun dengan Athar.
"Dulu, waktu Ayah mendapatkan Bunda mu. Aduhhh... susah sekali," Bunda Farah terdiam, sedangkan Athar terlihat bersemangat mendengar sepenggal cerita yang baru saja akan dimulai oleh Ayah Andra.
"Terus Yah?" Tanya Andra penasaran.
"Bahkan Bunda Farah akan memilih lelaki pilihan nya. Bahkan sempat akan menikahi lelaki itu." Sambung Ayah Andra.
"Terus?" Athar semakin penasaran.
"Dikala kita serius dan dapat mendapatkan hati seorang wanita, maka wanita itu akan tetap menjadi milik kita. Tidak harus berbuat banyak, hanya ambil saja hatinya dan berusaha untuk tetap setia kepadanya. Tidak perlu bertengkar dengan lelaki pilihannya, tetapi buat dia memikirkan kita, maka dia akan berpaling kepada kita," Ucap Ayah Andra.
Bunda Farah tersipu malu mendengar ucapan Ayah Andra.
Bunda Farah tersenyum dan menepuk lengan Ayah Andra.
"Baru akan menikah kan? Belum benar-benar menikah. Jadi, kamu punya waktu untuk itu," Tegas Ayah Andra.
Athar terdiam, ia memikirkan apa yang telah dikatakan oleh Ayah Andra.
"Bila kamu sudah berusaha, tetapi dia masih menikah dengan orang lain, ya... berarti dia memang bukan untuk mu," Sambung Ayah Andra.
"Iya sih.." Ucap Athar sambil mengangguk paham.
"Selamat berjuang nak," Ucap Ayah Andra sambil beranjak dari duduknya dan masuk kedalam rumah.
Athar menatap Bunda Farah yang terlihat salah tingkah.
"Cieeee, Ayah keren ya Bun," Ucap Athar, menggoda Bundanya.
"Apaan sih kamu," Ucap Bunda Farah sambil menyusul Ayah Andra ke dalam.
Athar tersenyum, ia mendapat pencerahan dari Ayah Andra yang berhasil mendapatkan Bunda Farah di detik-detik terakhir sebelum Bunda Farah akan menikahi Ayah Gunawan. Kini kepercayaan diri Athar kembali membara. Ia yakin, bila ia mampu mendapatkan hati Kimmy dan akan mengubah keputusan Kimmy untuk menentukan hatinya hanya untuk Athar.
"Ya Allah ya Rabbi, izinkan aku mengusik hatinya," Gumam Athar.
__ADS_1
Lalu, ia meneguk kopinya yang sudah hampir dingin.
...
"Oh... jadi dia anak Tante Nia..." Ucap Vania saat ia baru saja membicarakan Kimmy kepada Mamanya.
"Iya, kamu lupa ya?" Tanya Mama Naya yang terlihat sibuk dengan laptopnya.
"Wajahnya berubah, jadi aku tidak mengingatnya," Ucap Vania sambil menatap poto Kimmy yang ada di album usang di rumahnya.
"Ya jelas saja berubah, kamu sudah lama tidak melihat dia dan dia juga baru pulang dari Jerman," Ucap Mama Naya.
"Jerman?"
"Iya, dia sekolah di Jerman.
"Keren juga ya," Ucap Vania sambil mengingat gaya santai Kimmy.
"Oh iya, Sabtu ini kita mendapatkan undangan dari keluarganya. Kamu ikut ya," Ucap Mama Naya sambil terus mengetik laporan tentang kasus yang tengah ia tangani.
"Malas ah Ma," Ucap Vania sambil menutup album yang berada di tangannya dan menaruhnya di atas meja.
"Loh, kenapa?" Mama Naya berhenti mengetik dan menatap anak bungsunya itu.
"Pribadinya tidak menyenangkan, jadi aku males aja. Belum di tambah, pertemuan kami di akibatkan karena insiden, aku semakin malas." Tegas Vania.
"Kan kamu bisa meminta maaf dengan dia dan memulai dengan yang baik kedepannya," Ucap Mama Naya.
"No Mama... Aku tidak ingin mengenal dia," Ucap Vania sambil beranjak ke kamarnya.
Mama Naya tertegun menatap anak gadisnya itu. Vania memang manja dan sangat keras kepala. Mama Naya hanya bisa pasrah melihat sikap tegas anak nya itu.
Sebenarnya Vania anak yang manis beberapa tahun yang lalu. Entah mengapa ia menjadi sangat berbeda saat ini. Mama Naya pun sempat menyalahkan dirinya sendiri atas perubahan Vania. Ia menyangka sikap Vania karena protes kepada dirinya dan Papa Andreas, karena selama ini mereka tidak memiliki waktu untuk Vania.
"Sepertinya aku sudah harus pensiun dan menata semuanya lagi dengan baik dari awal," Gumam Mama Naya.
Mama Naya tidak menyadari, waktu begitu berarti bagi anak-anak. Image orang tua yang sibuk dan merasa diabaikan sangat melekat kepada anak-anak. Tidak masalah Ibu bekerja, hanya saja, bagaimana Ibu menyisihkan sisa waktunya dan dioptimalkan untuk putra putrinya. Itu yang terkadang seorang Ibu lewatkan dan jarang menyadarinya.
Seiring berjalannya waktu, anak-anak begitu cepat tumbuh dewasa. Tidak sempat tertanam kebersamaan, tidak sempat tertanam perhatian dan didikan dasar bagi putra-putrinya dan saat sudah salah arah, kebanyakan orang tua baru merasa menyesal.
"Mengapa mereka begitu cepat besar?"
"Mengapa dulu aku tidak ada waktu untuk mereka?"
"Mengapa aku tidak mendidik mereka dengan baik?"
Mengapa dan banyak mengapa yang terucap di benak seorang Ibu saat menyadari, kini anak nya menjadi seorang yang pembangkang dan susah mendengar masukan.
Menyesal? terlambat... dan sangat susah untuk di bentuk lagi, walaupun itu sangat tipis kemungkinannya.
__ADS_1
Saat anak-anak dewasa, ia sudah dapat berpikir dengan otak nya sendiri. Saat kita mengabaikan, suatu hari mereka akan mengabaikan kita juga.
Anak, bagaimana orang tuanya. Itulah yang banyak terjadi dan begitulah hukumnya.