
Adzan Subuh berkumandang dengan indahnya. Athar terbangun dari tidurnya dan mengusap kedua matanya yang terasa lengket karena masih mengantuk. Athar melirik Mamet yang masih mendengkur dengan ritme yang tak beraturan. Athar menyenggol bahu Mamet untuk membangunkan sahabat barunya itu.
"Gorila, bangun lu..." Ucap Athar sambil menggoyangkan tubuh Mamet.
"Hmmmm, apaan sih Thar,"
"Bangun, sudah Subuh, kagak sholat lu?"
"Gue lagi mens, lu sholat aja sendiri," Ucap Mamet.
"Ya Allah, asal ngomong ini manusia ! Kalau lu di rubah jadi cewek beneran sama Allah, baru tau rasa lu ! Mens, mengandung, melahirkan, menyusui, baru tobat lu !" Ucap Athar.
"Hah ! lu nyumpahin gue Thar !" Ucap Mamet sambil beranjak duduk di atas ranjang dan menatap Athar dengan wajah yang cemas.
"Lagian, alasan lu banyak bener ! Di suruh sholat susah amat !" Ucap Athar sambil beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi.
"Bocah, lama-lama jadi ustad lu !"
"Aamiin !" Sahut Athar dari kamar mandi.
Dengan malas, Mamet beranjak dari ranjang dan berdiri di depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar Athar.
"Thar, gimana semalam?" Tanya Mamet.
Athar tidak menjawab pertanyaan Mamet, yang terdengar hanya gemericik air yang Athar gunakan untuk berwudhu.
"Thar...!"
"Thar..!" Panggil Mamet lagi.
Athar mematikan keran air dan beranjak keluar dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Lu di tanyain bukan nya nyahut !" Keluh Mamet sambil menatap Athar dengan wajah yang kesal.
"Gue lagi wudhu Met ! Masa mau jawab pertanyaan lu yang gak penting itu. Gimana cara gue berdo'a sama konsentrasi sama wudhu gue?"
Mamet mencebikkan bibirnya dan beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Athar meraih sajadah yang berada di atas kursi, lalu ia membentangkan sajadah itu menghadap kiblat. Lalu, ia berniat untuk sholat Subuh dan melakukan kewajiban dua rakaat pertama untuk hari ini.
Setelah ia selesai sholat Subuh, Mamet yang masih belajar sholat pun bergegas untuk sholat di sajadah yang sama. Semenjak Mamet tinggal dirumah Athar, mau tidak mau, Mamet harus mengikuti aturan yang ada dirumah itu, termasuk kebiasaan-kebiasaan sang pemilik rumah.
Lelaki bertubuh tambun, yang usianya sama dengan Athar pun, lama-lama menjadi terbiasa untuk menunaikan sholat. Walaupun, awal mulanya ia merasa malas.
Sementara Mamet sholat, Athar pun melakukan olahraga ringan di beranda kamarnya, sambil menghirup udara pagi yang masih minim polusi.
Tingkat polusi di Ibukota begitu tinggi. Bahkan, dua puluh empat jam, kendaraan bermotor beroperasi di jalan Ibukota. Kesempatan yang baik bagi warga Ibukota adalah waktu Subuh. Karena masih sedikit polusi udara yang dikeluarkan dari kenalpot segala macam jenis kendaraan.
Setelah selesai berolahraga ringan, Athar pun beristirahat sejenak sambil menikmati fajar yang masih malu untuk menampakkan dirinya.
Saat itu, Ayah Fajar baru saja keluar dari penjara. Ya, Ayah kandung Athar adalah mantan seorang pesakitan yang didakwa dengan pasal menstubuhi gadis dibawah umur dan juga pelaku aborsi atas benihnya yang di rahim gadis yang ia setubuhi itu.
Gadis itu tak lain adalah pengasuh Athar dan kakaknya, Queen. Saat itu, Bunda Farah memiliki seorang pengasuh yang lugu yang Bunda Farah dapatkan dari tetangga Desa mantan pengasuhnya yang sebelumnya. Hal itu jugalah yang menjadi salah satu penyebab Bunda Farah mengakhiri pernikahannya dengan Ayah Fajar.
Beruntung, Bunda Farah bertemu dengan Ayah Andra yang saat itu menjadi Ajudan dari Ayah Gunawan, Ayah kandung Queen. Benih-benih cinta tumbuh begitu saja. Hingga akhirnya Bunda Farah memilih untuk menikahi Ayah Andra.
Setelah banyaknya lelaki yang salah di temui oleh Bunda Farah, akhirnya Bunda Farah berhasil mendapatkan lelaki yang soleh dan baik. Buah dari kesabaran Bunda Farah yang telah banyak bersabar dengan segala cobaan hidupnya.
Athar beranjak dari duduknya, lalu ia bergegas untuk mandi dan berangkat ke sekolah untuk melaksanakan Ujian Nasional hari terakhir. Yang artinya, Athar akan segera lulus dari pendidikan tingkat Sekolah Menengah Kejujuran yang sedang ia jalani.
Setelah mandi dan mempersiapkan segala kebutuhan sekolah, Athar dan Mamet pun turun untuk sarapan bersama dengan keluarga bahagia itu. Di atas meja makan, sudah tersedia berbagai macam menu sarapan yang dihidangkan untuk para anggota keluarga, termasuk Mamet.
Athar disambut oleh Ayah Andra, yang tidak pernah absen memberikan senyuman penuh kasih sayang untuk Athar. Kakak Queen yang terlihat selalu sibuk dengan gadgetnya untuk mengurus keperluan kantor yang masih kurang menurutnya. Serta Bunda Farah yang terlihat selalu cantik dengan daster batiknya sambil sibuk menyiapkan segala kebutuhan untuk sarapan bersama.
__ADS_1
Athar dan Mamet duduk di kursi meja makan dan mereka pun berdo'a bersama sebelum sarapan dimulai.
Mamet yang bukan termasuk anggota keluarga merasa damai dan sangat menikmati saat ia bergabung dengan keluarga Athar. Bagaimana tidak? Keluarga bahagia dan mempunyai rutinitas yang sehat dan taat. Suatu saat, Mamet pasti akan merindukan keluarga ini, saat ia harus berkuliah di Yogyakarta nanti.
"Aamiin," Seru seluruh anggota keluarga saat do'a baru saja selesai dipanjatkan oleh Ayah Andra.
"Selamat ulang tahun, anak ku sayang," Ucap Bunda Farah.
Athar terlihat bingung dengan ucapan Bunda Farah. Ia tidak mengingat hari ini dirinya telah berulang tahun ke delapan belas.
"Selamat ulang tahun ya Anak Ayah, semoga kamu panjang umur, sehat selalu dan menjadi lelaki hebat seperti yang pernah Ayah katakan kepadamu," Ucap Ayah Andra.
"Selamat ulang tahun ya, adik ku yang konyol," Ucap Kakak Queen.
"Wuihhh mamennnn... ultah lu yak ! Happy birthday yak. Selamat menua ! Jangan lupa traktir gue mie ayam di depan sekolahan, ok !" Ucap Mamet.
Athar tersenyum, tatapan nya penuh haru saat menatap satu persatu orang yang berada di ruang makan itu.
"Terima kasih, Ayah, Bunda, Kakak Queen, Met," Ucap Athar.
"Kita semua sayang Athar," Ucap Bunda Farah.
Athar menahan tangisnya. Ia begitu terharu, di usianya yang ke delapan belas tahun, tidak ada yang berubah. Semua masih sama, ia masih mendapatkan ucapan selamat dari orang terkasih, yaitu keluarganya.
Mereka pun mulai menyantap sarapan pagi mereka bersama. Diselingi dengan pembahasan akan kemana Athar dan Mamet akan melanjutkan sekolah mereka.
Dikesempatan itu, Athar mengungkapkan bila dirinya tidak akan kuliah diluar Negeri. Semua ini ia lakukan hanya untuk dapat terus dekat dengan keluarganya. Selain, ia ingin menghadiri pernikahan Kakaknya, Queen, Athar juga percaya, bila kuliah di Negeri sendiri juga tidak kalah bagus dari berkuliah diluar Negeri.
Universitas di dalam Negeri juga banyak yang berkualitas dan Athar percaya, tolak ukur kesuksesan seseorang bukan dari titel dan dimana ia pernah berkuliah. Tetapi, bagaimana ia memanage kehidupan dan berapa giat dia berusaha untuk kemakmuran hidupnya dan keluarga.
Apa yang Athar ungkapkan, mendapat dukungan dari Bunda Farah dan Ayah Andra. Mereka bangga dengan pola pikir Athar yang lebih dewasa dari pada umurnya.
__ADS_1
Berbagai do'a baik pun mengalir dari bibir Ayah dan Bunda untuk Athar. Dengan harapan, Allah akan mengabulkan segala keinginan baik dari kedua orang tua Athar.