
Deru nafas dan erangan kenikmatan terdengar jelas di salah satu kamar di Villa Tante Rara. Sesekali Vania menjerit nakal dan menjambak rambut Farhan yang sedang berada di atas tubuhnya. Farhan mencoba mengontrol nafas yang seirama dengan gerakan nya yang terlihat lugas dan berpengalaman.
Siang itu, Farhan sengaja menjemput Vania dari kampusnya dan membawa gadis itu ke Villa Mamanya, tempat yang tadinya indah, kini dijadikan tempat terkutuk langganan membuat dosa dengan Vania, gadis yang dulu polos dan kini sudah mengenal arti kenikmatan dari berhubungan badan.
Farhan membungkam mulut Vania dengan Bibirnya. Ia terus bergerak maju mundur untuk mencapai kepuasan yang ia inginkan.
Hari ini, Farhan begitu stress dengan pekerjaan yang belum siap untuk ia tangani sendirian tanpa sempat diajarkan oleh Papanya. Kesehatan Papa Fathur dalam setahun ini sangat sedikit mengalami kemajuan. Yang artinya, Papa Fathur harus terus beristirahat dan tidak boleh mengurusi pekerjaan kantor. Bila tidak, penyakit jantung Papa Fathur bisa kumat kapan saja. Jadi, Farhan harus rela terpenjara dengan pekerjaan yang begitu menjenuhkan.
Papa Fathur yang seorang arsitek, kini memiliki perusahaan yang menangani pembangunan atau tender untuk membangun gedung atau perkantoran di Ibukota dan luar Kota. Papa Fathur terkenal sangat profesional dalam mengikuti kemauan kliennya. Sedangkan Farhan sendiri, tidak sama sekali berminat dengan itu semua. Ia yang berkuliah bukan jurusan arsitektur pun merasa pusing dan stress saat menghadapi dunia kerja yang begitu menyita waktu dan pikiran nya.
Erangan kenikmatan akhir nya keluar dari bibir Farhan. Farhan yang berpeluh pun menjatuhkan diri di atas Vania.
"Ih berat sayang.." Ucap Vania sambil mendorong tubuh Farhan.
Lelaki itu pun bergeser dan telentang di samping Vania. Vania yang manja dan merasa puas memeluk tubuh Farhan dengan erat. Gadis itu mengecup pipi Farhan dengan lembut.
"Kamu hebat banget sih, aku jadi gak bisa jauh dari kamu," Ucap Vania.
Farhan merasa geli mendengar kata-kata Vania. Ia pun menyingkirkan tangan Vania yang sedang melingkar di tubuhnya. Lalu, ia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
"Mas, mau kemana?" Tanya Vania. Kok udahan sih, lagi...." Ucap Vania dengan manja dan nakal.
Farhan mengabaikan ucapan Vania. Ia menutup pintu kamar mandi dan membersihkan bagian tubuhnya yang terasa lengket.
Tak lama kemudian, Farhan keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya. Vania yang masih di atas ranjang dan terbalut selimut menatap Farhan yang terlihat gelisah.
"Mas, kamu kenapa sih?" Tanya Vania.
"Gak apa-apa." Sahut Farhan sambil meraih gelas kopinya yang berada di atas meja di samping ranjang.
Vania beranjak dari ranjang dengan tubuh yang polos, lalu ia memeluk Farhan dari belakang. Farhan langsung melepaskan tangan Vania yang melingkar di perutnya yang ramping, lalu ia menghadap Vania dan menatap gadis itu.
"Besok, kamu datang kerumah Tante Nia?" Tanya Farhan.
"Aku? Hmmm, tidak."
"Kenapa?" Tanya Farhan.
"Aku malas bertemu dengan Kimmy. Orang nya belagu dan sombong. Aku tidak menyukai dia, apa lagi acara itu memang acara dia. Aku tidak mau munafik, bila aku tidak suka, aku tidak akan datang." Terang Vania.
"Yessss...!" Batin Farhan yang begitu senang mendengar bila Vania tidak akan datang.
"Kenapa Mas, kamu mau datang? Kalau Mas datang, aku juga akan datang," Ucap Vania.
__ADS_1
Deggggg..!
Rasa senang di hati Farhan mendadak buyar, ia menjadi khawatir bila dirinya tidak bisa menghadiri acara Kimmy, sudah dipastikan bila Kimmy akan marah kepada dirinya. Karena itu acara spesial bagi kekasihnya itu.
"Ng-enggak kok, ngapain datang, aku kan sibuk. Lagian aku tidak begitu kenal dengan Kimmy," Ucap Farhan.
Vania tersenyum lebar, lalu ia memeluk tubuh Farhan dengan erat.
"Ya sudah, kita disini saja sampai hari minggu ya Mas," Ucap Vania.
"I-iya." Sahut Farhan yang tampak gugup.
Vania meraih wajah Farhan dan mengecup bibir kekasihnya itu. Dengan ragu, Farhan membalas kecupan Vania. Suasana pun kembali panas, belaian demi belaian pun mereka berikan hanya untuk mencoba membangkitkan gairah pasangan nya.
Farhan menjatuhkan tubuh Vania di atas ranjang. Ia kembali bergumul dengan dosa, dengan perasaan yang tak bersalah.
...
Sore ini, Kimmy yang baru saja selesai dengan pekerjaan nya pun beranjak dari ruangan nya dan berjalan menuju lift. Saat berada di depan lift, ia bertemu dengan atasan nya yang bernama Ricky. Ricky adalah tangan kanan pemilik perusahaan itu, Bapak Albertus Magnus Soegya.
Lelaki itu tersenyum kepada Kimmy yang juga membalas senyumannya.
"Mau pulang Kim?" Tanya Ricky.
"Jangan panggil Bapak atuh Kim, saya masih lajang," Ucap Ricky.
"Lajang?" Kimmy memperhatikan lelaki itu dari atas sampai bawah. Lalu, ia tersenyum geli.
"Kok malah ketawa Kim?" Tanya lelaki polos itu.
"Beneran lajang?" Tanya Kimmy.
"Iya, masa saya bohong."
Tiba-tiba terlintas nama Queen di benak Kimmy.
"Mau aku jodohkan gak sama saudara aku?" Tanya Kimmy.
Lelaki berusia 35 tahun itu terlihat bersemangat.
Ting !
Pintu lift pun terbuka, Kimmy dan Ricky pun masuk kedalam lift tersebut.
__ADS_1
"Memang ada Kim saudara kamu yang siap menikah?" Tanya Ricky dengan wajah malu-malu.
"Tapi gak semudah itu, aku harus memastikan Bapak benar-benar single. Baru nanti aku jadohkan sama saudara ku," Ucap Kimmy.
"Single kok Kim.. suer !" Ucap Ricky sambil mengeluarkan KTP nya dan memberikan nya kepada Kimmy.
Kimmy meraih kartu tersebut dan memperhatikan kartu itu.
"Iya sih single, tapi bisa saja KTP ini KTP waktu masih bujangan," Ucap Kimmy dengan wajah sinis nya.
"Demi Allah.. ini baru saja ganti dengan yang seumur hidup Kim," Ucap Ricky.
Kimmy tersenyum jahil, ia menatap Ricky dengan seksama. Lelaki, itu cukup tampan, tetapi juga terlihat begitu polos. Lelaki yang terlihat sangat bersungguh-sungguh dalam bekerja itu seperti lelaki kesepian pada umumnya. Terlihat wajah putus asa yang sudah muak dengan kesendirian.
Sebenarnya ada alasan mengapa Kimmy langsung mengingat tentang Queen. Saat Kimmy sedang berada di rumah Bunda Farah, Bunda Farah bercerita tentang Queen yang gagal menikah karena calon suaminya tidak mau mengundur pernikahan saat Athar mengalami kecelakaan. Saat itu juga Kimmy merasa bersalah dengan Queen.
Kini Queen tenggelam dalam pekerjaannya. Calon suaminya itu sudah menikahi gadis pilihan orang tuanya. Lelaki yang akan menikahi dirinya itu benar-benar tidak mau menunggu setengah tahun saja. Hal itu tentu saja membuat Queen merasa sangat kecewa. Maka, kini ia menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja. Agar dapat melupakan rasa kecewanya.
"Gimana Kim?" Tanya Ricky.
"Sabar apa Pak, kita kan baru kenal beberapa hari," Ucap Kimmy.
"Bukan begitu Kim, maksudku, itu saudaramu kayak apa orang nya?"
Ting !
Pintu lift pun terbuka di lantai dasar gedung itu. Lalu, Kimmy melangkah keluar dan di susul oleh Ricky.
"Besok deh, Kimmy bawakan fotonya," Ucap Kimmy dengan gaya mak comblang nya.
"Bener ya Kim !"
"Iya Pak... ya elah kaga percaya amat," Ucap Kimmy.
"Wah mantap ini, besok saya belikan kamu makan siang deh !"
Otak mafia Kimmy mulai bekerja, ia tersenyum lebar.
"Kimmy mau masakan jepang Pak," Ucap Kimmy.
"Siap mah Kim, kamu tenang saja," Ucap Ricky.
"Duh, maaf ya Kakak Queen. Kakak aku karya kan dulu demi makan siang gratis." Gumam Kimmy sambil tersenyum sendiri.
__ADS_1