Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
34# Hati-hati Kimmy


__ADS_3

Prankkkkkkkkk...!


Tidak sengaja, Kimmy menyenggol Snow Ball Music Box. Hadiah ulang tahun dari Athar saat dirinya ulang tahun yang ke lima belas. Snow Ball Music Box itu masih Kimmy simpan dan dijadikan pajangan di atas meja belajarnya.


Kimmy menatap pecahan kaca yang berserakan di atas lantai kamarnya. Ia pun berjongkok dan memunguti satu persatu pecahan kaca tersebut.


"Athar," Bisik nya lirih.


Cklek !


Kimmy terkejut, saat Mama Nia membuka pintu kamarnya dan menatap dirinya dengan tatapan khawatir.


"Ada apa Kim? Kamu tidak terluka kan?" Tanya Mama Nia.


"Enggak kok Ma, cuma gak sengaja menyenggol, jadi pecah deh," Ucap Kimmy.


"Ya sudah, biarkan saja. Nanti Mama yang beresin. Kamu sebentar lagi harus


chek inn pesawat loh."


Kimmy terdiam beberapa saat, sambil terus menatap pecahan kaca tersebut.


"Ayo, Papa sama Abian sudah menunggumu di mobil," Ucap Mama Nia sambil menarik koper Kimmy keluar dari kamar.


Kimmy mengangguk, lalu ia meraih sisa dari Box Music itu dan meletakkannya di atas meja belajar miliknya.


"Thar, gue pergi dulu ya," Ucap Kimmy dengan genangan air mata di pelupuk matanya yang indah. Lalu, Kimmy beranjak keluar kamar dan berjalan menuju mobil untuk menyusul keluarganya yang sedang menunggu dirinya.


"Bismillahirrahmanirrahim, semoga perjalan kita dan Kimmy dilancarkan Allah, Aamiin," Ucap Papa Bobby.


"Aamiin," Sahut Mama Nia, Kimmy dan Abian.


Lalu, mobil milik Papa Bobby pun mulai beranjak meninggalkan pekarangan rumah itu, menuju ke Bandara Internasional Soekarno Hatta.


....


Kringggggg...! Kringggggg..! Kringggg..!


Dering telepon berbunyi dengan lantang di ruang keluarga. Namun, tidak ada satupun yang mengangkat telepon tersebut. Bunda Farah sedang bersama Ayah Andra dalam sebuah acara dari kantor Ayah Andra. Sedangkan Kakak Queen sedang bekerja di kantornya.


Telepon itu terus berdering berkali-kali, hingga yang menghubungi nya pun mulai merasa lelah dan tidak memanggil lagi ke nomor yang ia tuju.


Lalu lalang petugas medis yang terlihat sibuk, menjadi pemandangan di lorong rumah sakit yang terasa suram. Beberapa wajah lelah dan sedih menghiasi lorong Unit Gawat Darurat itu. Sebagian ada yang menangis, saat mendengar anggota keluarganya berpulang ke pangkuan sang pencipta. Ada juga yang tampak bersedih karena bingung dengan biaya yang akan dikeluarkan untuk pengobatan yang baru saja disebutkan oleh seorang petugas administrasi. Sebagian lagi, tampak lelah karena harus mondar mandir ke Palang Merah Indonesia untuk mencari darah yang diperlukan untuk keluarganya yang membutuhkan transfusi darah.

__ADS_1


Suasana itu hampir setiap hari dan menjadi pemandangan biasa untuk para petugas medis yang sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa-nyawa yang sedang membutuhkan pertolongan.


"Bagaimana? keluarganya sudah menjawab?" Tanya seorang Dokter senior yang sedang menangani Athar yang masih tergeletak di ruang Unit Gawat Darurat itu.


"Belum Dok," Sahut perawat yang sudah setia mendampingi dirinya selama hampir sepuluh tahun belakangan ini.


Dokter itu menghela nafasnya dan menatap tubuh Athar yang sudah tak berdaya. Lelaki muda itu bernafas dengan bantuan pernafasan yang melekat di wajahnya.


"Tidak ada waktu lagi, dia bisa meninggal bila tidak ditangani dengan segera. Dia sudah terlalu banyak kehilangan darah !" Ucap Dokter itu. Lalu, ia memerintahkan kepada asistennya untuk membawa Athar ke ruang operasi darurat.


Dokter tersebut pun mulai memakai baju khusus untuk operasi. Berbagai peralatan operasi yang sudah di sterilkan pun, di keluarkan dari dalam lemari pendingin, tempat disimpannya peralatan medis yang sudah steril.


Seorang perawat menatanya di atas sebuah meja dorong yang akan ia bawa ke ruang sebelah, yaitu ruang operasi darurat.


Pakaian Athar mulai di gunting untuk melepaskan nya dari tubuh anak muda itu. Berbagai peralatan, di tempelkan di dada dan beberapa bagian tubuh lainnya. Tangan Athar yang tidak cidera, hanya mengalami lecet ringan pun diinfus. Kakinya di ikat agar tidak mengeluarkan reaksi kejut saraf saat operasi berlangsung.


Dengan wajah yang serius, Dokter itu mulai melakukan tidakkan operasi darurat untuk Athar. Butuh waktu berjam-jam untuk melakukan operasi ini. Beberapa Dokter spesialis, berdatangan keruang operasi, setelah diundang oleh Dokter senior yang sedang menangani Athar. Tampak satu persatu dari mereka di bantu oleh para perawat untuk memakai baju hijau untuk ikut dalam operasi tersebut.


Tidak ada wajah santai disana, masing-masing dari mereka terlihat khawatir dan berusaha untuk melakukan yang terbaik demi nyawa anak muda yang sedang tergeletak di meja operasi tanpa daya dan upaya sama sekali.


"Pisau," Ucap Dokter senior itu.


Seorang perawat mengambilkan pisau bedah dan menyerahkan kepada Dokter tersebut.


...


"Kamu hati-hati disana ya Kim," Ucap Mama Nia yang tampak sedang menahan air mata, agar tidak terjatuh di tebing pipinya.


"Iya Ma," Ucap Kimmy sambil mengusap air matanya.


"Ingat, jaga pola hidup, jaga kesehatan disana ya," Ucap Papa Bobby.


"Iya Papa, Kimmy masuk dulu ya."


"Iya, hati-hati nak....." Ucap Mama dan Papa Bobby. Mereka pun berpelukan dengan erat, termasuk Abian yang mulai merasa sepi dan kehilangan saat akan melepas kakak perempuan satu-satunya itu.


"Hati-hati disana ya Kak," Ucap Abian.


Kimmy mengangguk, lalu ia tersenyum dan segera memeluk Abian dengan erat.


"Kalau Mama dan Papa ada kesempatan, Mama dan Papa akan kesana menemui kamu," Janji Papa Bobby.


Kimmy tersenyum dan mengangguk. Ia terus mencoba menahan air matanya. Tetapi, air mata itu terus terjatuh tanpa bisa ia cegah.

__ADS_1


Kimmy mulai melangkah kedalam terminal keberangkatan. Sesekali ia menoleh kebelakang dan tersenyum kepada keluarganya.


Kimmy melambaikan tangannya. Keluarganya pun membalas lambaian tangan Kimmy dengan air mata. Kimmy mencoba memantapkan langkahnya demi masa depan yang cerah, impian-impian yang sudah terlanjur ia gantung setinggi langit untuk masa depan yang ia dambakan.


"Kimmy ! Tunggu !"


Langkah kaki Kimmy tertahan, ia pun tersenyum sambil menoleh kebelakang.


"Athar !" Gumamnya.


Lalu, senyum itu pun memudar saat ia melihat Farhan yang sedang berlari menghampiri dirinya.


"Kim, maaf, aku terlambat. Tadi jalanan macet sekali, karena ada kecelakaan," Ucap Farhan.


Kimmy mencoba tersenyum, ia menatap wajah kekasihnya itu. Entah mengapa, ia merasa kecewa bila yang datang bukanlah Athar, melainkan Farhan.


"Sampai jumpa di Jerman, aku akan menyusul mu," Ucap Farhan.


Farhan pun memeluk tubuh Kimmy dengan erat. Sedangkan Papa Bobby terlihat gelisah saat anak gadis nya di peluk oleh seorang pemuda. Tetapi, ia mencoba untuk memahami, karena ini adalah hari perpisahan Kimmy dengan kekasihnya itu.


"Hati-hati disana ya, bulan Desember, saat liburan aku pasti akan kesana," Janji Farhan.


Kimmy mengangguk dan melepaskan pelukan Farhan.


"Sampai jumpa," Ucap Kimmy. Lalu, gadis itu melangkah masuk tanpa menoleh kembali.


Farhan terlihat sedih, ia sangat mencintai Kimmy sepenuh hatinya dan sekarang, harus terpisah jarak, walaupun hanya sementara.


Farhan pun melangkah dan menghampiri keluarga Kimmy, lalu ia menyalami dan mengecup punggung tangan kedua orang tua Kimmy. Tak banyak kata yang terucap, Papa Bobby hanya menyentuh bahu Farhan dengan lembut. Lalu, ia pun berjalan menuju parkiran mobilnya.


Papa Bobby sebenarnya sangat khawatir dengan Kimmy yang harus berjauhan dengan dirinya. Bagaimana pun, ia merasa sedih tanpa bisa berbuat apa-apa. Ini semua demi masa depan Kimmy, anak gadis kesayangannya.


Sedangkan Mama Nia, berbincang beberapa saat dengan Farhan, sebelum ia menyusul suaminya ke parkiran mobil.


"Salam sama Mama mu ya,"


"Iya Tante," Sahut Athar.


Lalu, Mama Nia dan Abian melangkah menyusul Papa Bobby.


Sedangkan Farhan, tampak masih berdiri menatap pintu terminal keberangkatan itu.


"Hati-hati Kimmy... I Love you," Bisik nya lirih.

__ADS_1


__ADS_2