
Tok ! Tok ! Tok !
Berkali-kali sudah Mama Nia mengetuk pintu kamar Kimmy. Tetapi, gadis itu tidak kunjung membuka pintu kamarnya.
"Kim..." Panggil Mama Nia berulang kali. Namun yang terdengar hanya isak tangis Kimmy dari dalam kamarnya.
Di kamar, Kimmy meringkuk di atas ranjangnya sambil memperhatikan foto dirinya dan Athar. Kimmy sendiri tidak tahu menangis karena apa. Ia hanya ingin menangisi lelaki itu.
Kimmy mengusap foto Athar dari balik pigura. Lalu memeluk foto itu dengan erat.
"Elu kenapa begitu sih sama gue Thar?" Ucap Kimmy lirih.
...
"Gimana? Kimmy kenapa?" Tanya Bobby saat Mama Nia muncul di ruang keluarga dengan wajah yang lesu.
"Dia tidak mau membukakan pintu kamarnya," Ucap Mama Nia.
"Gue permisi pulang dulu ya Nia," Ucap Bunda Farah sambil beranjak dari duduknya.
"Kok buru-buru Tante?" Tanya Papa Bobby.
"Kimmy menangis gara-gara Athar Om," Ucap Farhan.
Semua mata menatap Farhan yang berbicara begitu lancang.
"Farhan.." Ucap Tante Rara dengan perasaan yang tidak enak dengan teman-teman nya.
Bunda Farah tidak menanggapi ucapan Farhan, ia menarik tangan Ayah Andra dan berpamitan dengan Mama Nia dan Papa Bobby.
"Far, maafkan anak gue ya," Ucap Tante Rara yang ikut mengantar Bunda Farah menuju ke mobilnya.
"No problem lah Ra," Ucap Bunda Farah dengan senyuman tipis di sudut bibirnya.
"Gue akan mengajarkan anak gue lebih baik lagi Far," Ucap Tante Rara dengan wajah yang salah tingkah.
Bunda Farah hanya menepuk lengan Tante Rara sambil kembali tersenyum. Lalu, bunda Farah dan Ayah Andra pergi meninggalkan rumah itu.
Tante Rara kembali ke dalam ruang keluarga bersama Mama Nia. Di ruangan itu tampak sedikit kaku suasananya.
"Kamu serius dengan anak saya?" Tanya Papa Bobby di depan Mama Nia, Tante Rara, Om Fathur, Om Andreas, Tante Naya dan Abian.
"Saya serius Om, justru saya ingin sekali menikah secepatnya," Ucap Farhan.
Sebenarnya Papa Bobby sedikit tersinggung dengan aksi Farhan yang memotong acara demi melamar Kimmy di depan para tamu undangan tanpa seizin dirinya. Tetapi, karena ia merasa tidak enak dengan keluarga Tante Rara dan Om Fathur, Papa Bobby pun tidak bisa bereaksi banyak.
"Apa kamu sudah membicarakan dengan serius kepada Kimmy masalah ini?" Cecar Papa Bobby.
__ADS_1
"Bobby," Ucap Mama Nia sambil memegangi tangan Papa Bobby dengan lembut untuk menenangkan Papa Bobby.
"Hmm, gue pribadi mohon maaf ya Bob. Tetapi, Farhan lakukan itu semua demi Kimmy Bob," Ucap Tante Rara membela anak nya.
Papa Bobby menghela nafasnya, ia merasa Tante Rara terlalu membela anaknya.
"Om, saya sangat mencintai Kimmy Om. Saya mohon restui saya dengan Kimmy," Ucap Farhan.
"Hmmm, gue rasa pembahasan ini bukan di waktu yang tepat deh," Ucap Tante Naya sambil beranjak dari duduknya dan meraih tas tangan nya untuk bersiap-siap pulang ke kediamannya.
"Lu mau kemana?" Tanya Tante Rara.
"Pulang gue, mau lihat anak gue si Vania sudah pulang atau belum. Sudah dua hari dia pergi liburan ke Bali katanya bersama teman-temannya. Tetapi, gak mau ngabarin gue, padahal ponselnya aktif. Kesal gue sama itu anak !" Ucap Tante Naya.
Farhan terlihat salah tingkah saat mendengar ucapan Tante Naya.
"Hati-hati loh Nay, anak jaman sekarang panjang akal nya. Takut nya anak lu kemana gitu," Celetuk Tante Rara.
Tante Naya mengerutkan keningnya dan menatap Tante Rara dengan seksama.
"Maksud lu anak gue di bawa sama laki-laki gitu?" Tanya Tante Naya tang terlihat tersinggung.
"Bukan begitu Nay, gue cuma ngasih tahu aja, lebih baik hati-hati. Tanyain dengan baik-baik. Masalahnya anak lu itu perempuan dan cantik lagi. Gue saja khawatir sebagai Tante nya," Ucap Tante Rara dengan wajah yang tak merasa bersalah.
Tante Naya mendengus kesal, lalu ia pergi meninggalkan ruang keluarga itu.
"Nay," Panggil Mama Nia.
"Gue gak tahu ya Nia, mulut si Rara kok rada tajam ya sekarang. Apa dia belum rela gue nikah sama Andreas? Apa ria masih punya dendam pribadi sama gue !" Ucap Tante Naya yang terlihat kesal.
"Maafkan Rara ya Nay," Ucap Mama Nia yang terlihat serba salah.
"Kenapa elu yang mewakilkan dia? Harusnya dia sadar, ucapan dia nyakitin gue loh ! Anak gue si Vania itu anak polos dan baik, tidak mungkin begitu sama laki-laki Nia !"
Mama Nia menghela nafasnya dan memeluk Tante Naya.
"Sabar ya Nay," Ucap Mama Nia yang mencoba menenangkan Tante Naya.
Tante Naya menghela nafasnya dan mengangguk pelan.
"Maaf ya Nia, gue emosi. Gue cabut dulu." Ucap Tante Naya sambil beranjak masuk kedalam mobilnya bersama Om Andreas.
...
Kini, di rumah Kimmy tinggal Tante Rara dan Om Fathur bersama keluarga Kimmy saja. Abian yang merasa paling kecil sendiri pun menarik diri dari kumpulan orang tua. Ia beranjak masuk kedalam kamarnya dan melanjutkan aktivitas bermain game.
Sedangkan Papa Bobby terlihat tidak nyaman dengan keluarga Om Fathur yang masih belum ingin pulang.
__ADS_1
"Maaf ya, bila keputusan anak gue menjadi situasi disini kacau," Ucap Tante Rara kepada Mama Nia dan Papa Bobby.
"Tapi, anak gue benar-benar mencintai anak lu Nia. Gue harap, kita bisa berbesan ya Nia, Bob," Sambung Tante Rara.
Mama Nia menoleh kepada Papa Bobby yang masih diam membisu.
"Ra, besok kita bahas lagi ya. Sekarang lebih baik kita pulang ya Ra," Ucap Om Fathur dengan lembut kepada Tante Rara.
Mama Nia melirik Om Fathur yang pernah mengatakan cinta kepada dirinya dan menjelek-jelekkan Tante Rara kepada dirinya.
"Bagaimana bisa dia bertingkah lembut seperti itu, disaat ia merasa tidak cocok atau tidak menginginkan Rara dalam hidupnya?" Batin Mama Nia.
"Tapi Thur, ini kesempatan bagus loh, hanya ada kita dan keluarga Nia," Ucap Tante Rara bersikeras untuk tetap membahas tentang Farhan dan Kimmy.
"Hmmm, Ra, gue rasa kita harus mengatur ulang pertemuan. Gue juga harus berbicara banyak dengan anak gue, si Kimmy ya Ra."
Tante Rara tampak kecewa mendengar ucapan Mama Nia.
"Iya sayang, masih ada waktu kok. Ini sudah mau larut malam, kita pulang ya," Bujuk Om Fathur.
"Baiklah, hari Sabtu depan, gue kesini lagi membahas semuanya ya Nia."
Mama Nia mengangguk menyetujui ucapan Tante Rara sambil berusaha tersenyum.
Tante Rara terlihat puas, lalu ia dan keluarganya beranjak dan berpamitan untuk pulang. Mama Nia dan Om Bobby mengantarkan mereka sampai mobil mereka meninggalkan halaman rumah itu. Lalu, Papa Bobby mengunci gerbang dan duduk di teras rumah bersama dengan Mama Nia.
Papa Bobby menatap Mama Nia dengan seksama.
"Apa yang harus kita lakukan agar tidak menyinggung keluarga Rara?" Tanya Papa Bobby.
Mama Nia terdiam membisu. Satu sisi, ini masalah pernikahan yang ia sendiri belum tahu, bila Kimmy benar-benar bahagia atau tidak. Satu sisi lagi, ini menyangkut hubungan baik antara dua keluarga. Keluarganya dan keluarga sahabatnya itu.
"Tetapi menurutku, Farhan benar-benar tidak memikirkan situasi. Ia hanya ingin eksis dan diakui saja tanpa memikirkan banyak perasaan. Termasuk Athar dan Kimmy. Tanpa memikirkan siapa yang mempunyai acara," Ucap Papa Bobby.
Mama Nia menggenggam tangan Papa Bobby. Mencoba menenangkan suaminya kembali.
"Tidak ada yang memakai logika saat seseorang begitu terobsesi dengan orang lain," Ucap Mama Nia.
"Nah itu ! Obsesi ! Cinta dan Obsesi itu berbeda," Ucap Papa Bobby.
Mama Nia menghela nafasnya dan merangkul Papa Bobby.
"Bobby sayang, istirahat yuk. Kita bahas ini lagi besok pagi bersama Kimmy," Ucap Mama Nia.
Papa Bobby menatap wanita yang ia cintai itu dengan seksama. Lalu, ia tersenyum dan mengangguk pelan. Lalu, mereka berdua beranjak dan berjalan menuju ke peraduan mereka berdua.
Malam itu di tutup dengan situasi yang tidak enak, hanya gara-gara ulah Farhan yang begitu tidak memikirkan sebab akibat sebelum beraksi di acara milik orang lain.
__ADS_1