
Berpikir lah sebelum melakukan sesuatu. Itu sangat benar sekali. Om Andreas yang dulu gagah perkasa, dengan gampang mempermainkan banyak hati wanita. Kini, ia menangis karena anak gadisnya menerima hal yang sama dengan apa yang pernah ia lakukan kepada banyak hati.
Dulu Tante Rara mempermalukan Om Andreas di acara pernikahan nya dengan Om Fathur, kini anak nya akan dicampakkan oleh Kimmy.
Om Fathur yang begitu angkuh mengabaikan Mama Nia dulu, semasa hidupnya ia tidak pernah menemukan kebahagiaan dengan Tante Rara yang ia anggap lebih pantas untuk dirinya.
Terkadang, kita selalu mengikuti ego tanpa bisa berpikir apakah itu baik untuk kita saat ini dan dikemudian hari.
Hidup bukan hanya tentang hari ini, esok atau lusa. Tetapi, hidup adalah tentang diri kita, keluarga, anak, cucu dan seterusnya. Siapa yang menanamkan kebaikan hari ini, mungkin tidak saat ini kita rasakan. Bisa jadi, yang merasakan adalah, anak kita atau cucu kita.
Hiduplah dengan baik, kurangilah menyakiti dan membalas rasa sakit. Terkadang, orang sabar terlihat lemah dan bodoh. Tetapi, orang sabar sedang menanamkan kebaikan untuk dirinya sendiri dan keturunannya dikemudian hari.
Tak jarang, kita selalu menertawai orang yang kita anggap bodoh atau terlalu menerima rasa sakit. Tanpa kita sadari, harusnya kita meniru sikap terpuji itu. Tidak ada manfaatnya dari sebuah dendam, tidak ada manfaatnya dari membalas, tidak ada manfaatnya dari perbuatan buruk itu sendiri. Tidak..... tidak ada manfaatnya.
Bila ada rasa yang teramat sakit yang pernah kita rasakan, maafkan lah dan tak perlu membalas.
Bila ada yang menghina, atau merendahkan, hindarilah dia.
Ikhlaskan lah walaupun berat, sangat berat... bahkan terlalu berat.
Tuhan akan memberikan suatu yang baik dari sebuah tragedi, sebuah hinaan, sebuah kebohongan dan lain sebagainya. Diam, bila memang harus diam. Berkatalah bila memang harus berkata-kata tanpa harus menyinggung orang lain. Karena konsekuensi dari melukai hati, itu sangat berat yang harus di tebus dengan harga yang mahal.
..
Om Andreas menghentikan laju mobilnya di depan rumah Tante Rara. Ia menatap Vania yang matanya terlihat sembab dan ketakutan. Gadis itu menggigil saking takutnya.
Om Andreas menggenggam tangan gadis itu dengan erat. Seakan ia memastikan semua akan baik-baik saja.
"Ayo kita turun," Ucap Om Andreas.
Vania mengangguk pelan dan melepaskan safety belt nya. Lalu, ia menyusul Om Andreas yang sudah terlebih dahulu turun. Om Andreas menggandeng tangan Vania sambil berjalan menuju teras rumah Tante Rara.
Bunda Farah yang masih setia menemani Tante Rara pun keluar saat mendengar suara mobil yang datang. Ia menatap Om Andreas yang sedang menggandeng tangan Vania.
"Vania ! Alhamdulillah..." Ucap Bunda Farah sambil menghampiri gadis itu.
Vani hanya sanggup menundukkan wajahnya, tanpa mampu menatap Bunda Farah. Bunda Farah merangkul gadis itu dan mengajaknya masuk kedalam rumah Tante Rara. Sedangkan Om Andreas sudah terlebih dahulu masuk dan menemui Tante Rara di ruang keluarga.
Wanita paruh baya itu terlihat terkejut saat melihat kehadiran Om Andreas. Tante Rara yang sejak tadi merebahkan dirinya di kursi malas pun beranjak duduk dan tidak menyapa Om Andreas.
"Boleh aku duduk?" Tanya Om Andreas.
Tante Rara pun mengangguk dengan sikap yang dingin.
"Ra, sebelumnya aku mohon maaf atas dosa yang pernah aku perbuat dimasa lalu," Ucap Om Andreas dengan suara yang tercekat.
__ADS_1
Tante Rara masih bersikap dingin tanpa mau menatap lawan bicaranya.
"Aku tahu, perbuatan ku dan Naya tidak akan pernah termaafkan. Tetapi, aku sungguh sangat menyesal dengan semua yang terjadi. Aku mohon, maafkan aku. Aku mohon, buang dendam di hatimu Ra. Maki lah aku sesuka hatimu, pukul aku bila kamu mau," Ucap Om Andreas sambil menangis tersedu-sedu.
Tante Rara menatap Om Andreas dengan seksama. Selama ini, mungkin Om Andreas pernah meminta maaf dari Tante Rara. Tetapi, belum pernah terlihat sungguh-sungguh seperti saat ini.
"Mana anak mu?" Tanya Tante Rara.
"Ada, dia sedang bersama dengan Farah di ruang tamu," Ucap Om Andreas.
"Bawa dia kesini," Ucap Tante Rara.
"Ra, aku mohon.. dengarkan dia sebelum kamu memaki anak ku. Beri dia kesempatan untuk berkata jujur kepada kamu," Ucap Om Andreas.
"Berkata jujur? Apa kamu anggap, anak mu itu sudah berkata jujur?" Tanya Tante Rara.
"Aku mengenal anak ju Ra, dia tidak akan berkata bohong bila ia merasa benar Ra," Ucap Om Andreas.
"Apa kamu pikir anak ku yang berbohong?" Tanya Tante Rara.
"Tidak, bukan begitu. Setidaknya, coba dengar dari kedua belah pihak. Dari situ, kita bisa paham duduk perkaranya. Kamu mau kan Ra?"
Tante Rara terdiam, dadanya terlihat naik turun karena menahan emosi.
"Ya sudah, panggil anak mu !" Ucap Tante Rara.
"Farhan sedang tidak ada di rumah," Ucap Tante Rara dengan ketus.
"Ok, kamu dengarkan anak ku dulu, sambil kita menunggu kedatangan Farhan," Ucap Om Andreas.
Tante Rara membuang tatapannya dan diam membisu.
"Vania..." Panggil Om Andreas.
Dari arah ruang tamu, Vania muncul bersama dengan Bunda Farah. Gadis itu terlihat memegang lengan Bunda Farah dengan kuat, seakan ia tidak mau jauh dari Bunda Farah.
"Duduk kamu !" Ucap Tante Rara dengan ketus.
Vania pun duduk dihadapan Tante Rara, di dampingi oleh Bunda Farah.
"Katakan pada saya, kalau kamu memfitnah anak saya ! Katakan kepada orang tuamu bila kamu sudah membunuh suami saya!" Ucap Tante Rara.
"Ra ! Kasih kesempatan dong, gue heran sama elu Ra ! Kemana elu yang dulu?" Ucap Bunda Farah.
Tante Rara terdiam, ia menatap Bunda Farah dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Tante, saya bersalah dengan apa yang terjadi dengan Om Fathur. Saya juga mengucapkan, saya turut berdukacita." Ucap Vania.
"Ya jelas kaku salah ! Kamu membunuh suami saya !" Ucap Tante Rara sambil menunjuk wajah Vania.
"Ra..." Tegur Bunda Farah.
"Diem lu Far ! Ini urusan gue sama dia !Lu gak tahu rasanya anak lu di fitnah, suami lu jantungan gara-gara mulut busuk anak ini !" Ucap Tante Rara dengan emosinya.
"Mulut saya memang busuk Tante, tetapi setidaknya saya tidak pernah berkata bohong," Ucap Vania.
Tante Rara terbelalak dan menatap Vania dengan seksama.
"Kamu sadar gak sih apa yang kamu katakan?" Tanya Tante Rara.
"Saya sadar sesadar-sadarnya Tante. Saya dan Farhan memang berpacaran selama tiga tahun ini. Kami sengaja menyembunyikan hubungan kami, karena Farhan memaksa saya untuk menyembunyikan nya. Tanpa saya sadari, ternyata dia ingin menutupi hubungan kami, karena dia telah menjadikan satya selingkuhan nya dari Kimmy," Ucap Vania.
Tante Rara mengerutkan keningnya, ia benar-benar merasa gemas dengan Vania.
"Saya dan Farhan memang sudah melakukan hubungan layaknya suami istri. Wanita mana Tante, yang mau di tinggalkan setelah kami melakukannya selama ini?" Tanya Vania.
"Fitnah mu keterlaluan Vania ! Kamu tahu kan Farhan akan menikah dengan Kimmy?" Tanya Tante Rara.
"Saya baru tahu Tante, waktu itu dari Tante sendiri saat di Villa. Selama ini saya tidak tahu menahu hubungan mereka.." Ucap Vania.
"Untuk apa saya memfitnah dia dengan cara seperti itu?" Sambung Vania lagi.
"Mungkin karena kamu tidak bisa mendapatkan Farhan!"
"Astaghfirullah Tante..." Vania benar-benar sudah hilang akal berbicara dengan Tante Rara.
"Sudah, kita tunggu Farhan dan kita undang Kimmy juga orang tuanya. Bagaimana?" Tanya Om Andreas.
Tante Rara menatap Om Andreas dengan seksama.
"Jadi kamu mau Nia tahu masalah ini?" Tanya Tante Rara.
"Kenapa tidak, bila ini semua fitnah. Aku dan keluargaku bersedia menjauh dari kalian semua," Tegas Om Andreas.
Tante Rara menghela nafas panjang, ia menantang tatapan Om Andreas.
"Baik, pergilah dari hidup ku, bila semua ini memang fitnah. Kamu, istrimu dan anak mu ini. Kita tidak usah berpura-pura lagi. Kalau kita memang tidak bisa kembali berbaikan seperti dulu lagi !" Ucap Tante Rara.
"Baik, asal anak mu mau hadir disini," Ucap Om Andreas.
"Ok,"
__ADS_1
Tante Rara pun bersedia menerima tantangan itu.