Mengejar Cinta Kimmy

Mengejar Cinta Kimmy
12# Kalau kamu suka, katakan suka


__ADS_3

Semua orang pernah jatuh cinta, tetapi sangat sedikit orang yang bertahan dengan pikiran rasional. Cinta memang buta, tapi apa kamu mau menjadi orang buta? Menjadi orang buta itu tidak enak, meraba, terjatuh dan dibully oleh sebagian orang yang bisa melihat, begitulah kira-kira.


Kimmy tidak sebodoh itu. Beruntung, ia memiliki orang tua yang seperti teman baginya. Mama dan Papanya selalu memberikan dirinya tentang pendidikan kehidupan. Tidak hanya itu, Papa Bobby yang sangat dekat dengan Kimmy, sering menasihati anak perempuannya untuk tidak terlalu gampang di gapai.


"Menjadi bunga memang cantik, tetapi jadilah bunga di dalam hutan dan di tepi jurang. Semua orang harus berjuang untuk mendapatkannya. Tantangan-tantangan untuk mendapatkan bunga itu, harus melalui semak belukar yang berduri, binatang buas dan membutuhkan perjalanan yang panjang dan terjal. Bila kamu mau menjadi bunga yang hidup di pinggir jalan, semua orang tidak akan melirik mu. Justru orang dengan gampang memetik dan merusak mu," Begitulah kata-kata dari Papa Bobby yang selalu terngiang di telinga Kimmy saat mereka berdua sedang asik memperbaiki motor vespa milik Kimmy di garasi rumah mereka.


Dilain kesempatan, Mama Nia juga pernah mengatakan hal yang sangat berkesan bagi Kimmy.


"Mencintai itu, berarti kamu siap dengan kenyataan pahit. Mencintailah sewajarnya, jangan terlalu menyerahkan seutuhnya hatimu."


"Berarti, Mama tidak mencintai Papa seutuhnya?" Tanya Kimmy saat ia berusia lima belas tahun.


"Cinta yang utama, tetap untuk Tuhan. Cinta kedua, untuk diri sendiri, cinta ketiga baru pasangan kita. Dengan begitu, apa pun yang kamu hadapi, kamu akan siap," Ucap Mama Nia.


Kimmy tertegun, saat itu dia belum mengenal cinta. Hanya perasaan suka saja dengan lawan jenis. Tetapi, dengan nasihat-nasihat yang selalu diucapkan kedua orang tuanya, Kimmy tumbuh menjadi anak yang dapat mencintai Tuhan nya dan dirinya sendiri terlebih dahulu dan tetap berpikir jernih tanpa mau diperbudak atau dibutakan oleh cinta monyet yang mungkin tidak akan berakhir di pelaminan.


Kimmy menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memandangi langit-langit kamarnya yang terlihat banyak coretan-coretan dari cat pilox karyanya sendiri.


Disana terdapat gambar matahari dan awan yang cerah. Kimmy sangat menyukai matahari. Matahari baginya, adalah lambang kedua orangtuanya. Ya, matahari itu adalah Papa Bobby dan Mama Nia yang selalu menyinari hidupnya.


Kimmy memiringkan tubuhnya dan memeluk bantal guling yang berada di atas ranjang itu.


"Bagaimana bisa?" Gumam nya.


"Bagaimana bisa dia meminta gue menunggu dia, sedangkan disana dia punya pacar?"


Dreeettt...! Dreeettt...!


Dering ponsel Kimmy membuat lamunan Kimmy tentang Farhan buyar seketika. Ia pun meraih dan merogoh kedalam tasnya untuk mencari ponsel miliknya itu.


Setelah mendapatkan ponselnya, Kimmy menatap layar ponsel itu dengan seksama. Disana tertulis,


"Kutu air"


Dengan bersemangat dan senyum diwajahnya, Kimmy pun menerima panggilan tersebut.


"Woi..! gue beliin lu gelang nih ! Lu kesini deh," Ucap Kimmy dengan bersemangat.

__ADS_1


"Sudah dirumah?" Tanya suara dari seberang sana.


Kimmy terdiam beberapa saat, ia pun mulai menyadari bila tadi Athar datang kerumahnya untuk menjemput dan mengajaknya ke arena ice skating, seperti janji mereka beberapa hari yang lalu.


"Eh, Thar, sorry...."


"Sudah dirumah?"


Athar hanya menanyakan keberadaan Kimmy tanpa mau membahas masalah yang lain.


"I-iya, gue ada dirumah," Jawab Kimmy terbata-bata.


"Syukurlah. Ya sudah, gue cuma mau memastikan kalau lu baik-baik aja," Ucap Athar sambil mematikan sambungan telepon itu.


Kimmy tertegun, ia tahu bila Athar marah kepadanya. Bagaimana tidak? Dengan gampang Kimmy melupakan janjinya hanya demi Farhan. Kimmy pun merasa bersalah, ia hanya mampu menatap gelang yang sengaja ia beli untuk Athar, yang kini sudah berada ditangannya.


"Gue jahat amat sih," Ucap Kimmy sambil menepuk-nepuk dahinya.


"Maafin gue ya Thar," Kimmy benar-benar merasa bersalah.


...


Kimmy yang baru saja sampai disekolah bertemu dengan Athar yang sedang duduk berbincang dengan teman-teman sekelasnya. Dari jauh, teman-teman Athar sudah memberikan Athar kode tentang kedatangan Kimmy. Athar melirik Kimmy yang sedang berjalan kearahnya. Lalu, ia berusaha acuh dan kembali mengobrol dengan teman-temannya.


Saat melewati Athar, Kimmy pun menegur lelaki itu. Athar hanya tersenyum dan mengangkat alisnya, lalu ia kembali berbincang dengan teman-teman sekelasnya.


Kimmy paham, Athar sangat kecewa kepada dirinya. Selama ini, Kimmy tidak pernah ingkar janji. Andaikan Kimmy berubah pikiran, ia akan mengabari Athar dan membatalkan janji mereka dengan baik-baik.


Merasa dirinya diacuhkan, Kimmy pun dengan cepat berjalan menuju ke kelasnya.


Pun saat waktu istirahat tiba, Athar tetap berkumpul dengan teman-temannya. Tidak seperti biasanya, Athar sangat bersemangat saat mendengar bell berbunyi. Ia langsung berlari keluar kelasnya dan menjemput Kimmy ke kelas gadis itu. Mereka akan menghabiskan waktu istirahat jam pelajaran dengan berbincang dan makan di kantin sekolah.


Diam-diam Kimmy merasa sepi, ia tidak terbiasa tanpa Athar. Kimmy sudah berusaha untuk berbaur dengan teman yang lain. Walaupun lebih rame dan seru, Kimmy tetap merasakan sepi dihatinya.


Sepulang sekolah, Kimmy sengaja ke kelas Athar. Tetapi, lelaki itu sudah pulang duluan, tanpa dirinya. Sudah beberapa hari Athar mengacuhkan dirinya. Kimmy mulai tidak tahan. Kimmy pun berniat akan kerumah Athar dan meminta maaf kepada lelaki itu.


Sesampainya di rumah Athar, Kimmy tidak dapat bertemu dengan Athar. Karena menurut Bunda Farah, Athar sedang keluar bersama teman-temannya. Kekecewaan Kimmy saat ini, sama dengan kekecewaan yang Athar rasakan beberapa waktu yang lalu. Saat perjalanan nya ke rumah Kimmy terasa sia-sia.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih sama Kimmy?" Tanya Bunda Farah, saat Kimmy baru saja pergi dan ia pun mendatangi Athar yang sedang mengintip dari balik jendela kamarnya.


"Gak apa-apa Bun," Ucap Athar sambil beranjak keatas ranjangnya.


"Musuhan?" Tanya Bunda Farah lagi.


"Enggak kok."


"Lah, terus kenapa kamu minta Bunda berbohong dan kamu tidak mau bertemu dengan Kimmy?" Desak Bunda Farah.


Athar terdiam membisu, ia merebahkan tubuhnya dan memeluk bantal guling kesayangan dengan erat.


"Kamu suka ya sama Kimmy?" Tanya Bunda Farah.


Athar menatap Bundanya dengan seksama. Ia tidak menyangka Bunda Farah bertanya tentang perasaannya dengan Kimmy.


"Ng-enggak kok," Athar mencoba membantah kata hatinya sendiri.


Bunda Farah tersenyum penuh kasih. Lalu, ia mengusap rambut Athar dengan lembut.


"Apa karena Farhan?" Tanya Bunda Farah lagi.


Kali ini, Athar tampak terkejut. Ia pun bergegas duduk dan menatap kedua bola mata wanita yang telah melahirkan dirinya itu. Memang benar, seorang Ibu tidak akan pernah bisa di bohongi.


"Kenapa memangnya dengan Farhan?" Tanya Athar, berpura-pura bodoh.


Bunda Farah kembali tersenyum, ia tahu persis bila anak laki-lakinya itu sedang berpura-pura polos.


"Bunda pernah jatuh cinta saat remaja, cinta itu memang buta, indah dan menyenangkan. Tetapi, kita harus siap-siap kecewa, cemburu, marah, kesal dan sedih. Itu wajar banget kok," Ucap Farah, mengawali ceritanya.


Athar menatap Bunda Farah dengan seksama.


"Tetapi, kamu jangan lupa, sekolahmu tetap yang utama dan satu lagi, kalau kamu suka, katakan suka. Kalau kamu diam saja, bagaimana dia tahu perasaanmu? Bagaimana dia bisa menjaga perasaan mu? Bagaimana kamu tahu kalau dia suka juga dengan kamu atau tidak?"


Athar masih terdiam, mencoba mencerna ucapan Bundanya.


"Setidaknya, bila kamu mengatakannya, kamu bisa tahu, mau maju atau mundur dan tidak ada beban lagi. Bunda bukan menyuruhmu menyerah. Tetapi, bersikaplah seperti laki-laki."

__ADS_1


Athar menghela nafasnya. Bunda Farah memang benar, selama ini, Athar terlalu pengecut bersembunyi dibalik embel-embel persahabatan. Padahal, hatinya sangat ingin memiliki Kimmy lebih dari sekedar sahabat.


__ADS_2